Penghasil Limbah B3

From: apakabar@clark.net
Date: Fri Sep 23 1994 - 18:13:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>

Forwarded message:
From osari%rumah%indicee@igc.apc.org Thu Sep 22 19:06 EDT 1994
From: "Omar Sari" <osari@rumah.indcee.or.id>
To: env.general@conf.indcee.or.id
Cc: apakabar@clark.net
Subject: IN: Industri-industri Penghasil Limbah B3
Message-ID: <233540@rumah.indcee.or.id>
Date: Thu, 22 May 1994 23:35:40 WIB +7
Organisation: Rumah Ciputat
X-Mailer: WafEdit 0.01 (Simple Mail User Agent)
X-Content-Length: 8196
Content-Type: text
Content-Length: 8583

Industri-industri Penghasil Limbah B3
-------------------------------------
oleh: Achsin Utami, sedang mempersiapkan program doktor untuk pengolahan
      limbah B3 pada TU Muenchen, Jerman, dan ITB Bandung

   Ketika PT Prasadha Pemusnah Limbah Industri (PT PPLI) diresmikan oleh
Presiden Soeharto pada tanggal 23 mei 1994, banyak kalangan industri
bertanya-tanya, apakah industri mereka termasuk dalam kategori penghasil
limbah B3 (Bahan beracun berbahaya). Reaksi mereka wajar saja, karena
batasan tentang limbah B3 belum dipahami sepenuhnya oleh kalangan industri.

   Banyak industri yang tidak menyadari, limbah yang mereka hasilkan
termasuk dalam kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), sehingga
dengan mudah mereka melepaskannya ke air tanpa pengolahan. Ini antara lain
bisa dilihat di akwasan industri tekstil. Pada kawasan tersebut,
sungai-sungainya berwarna-warni, bergantung pada warna limbah yang dibuang
ke sungai. Padahal, zat warna limbah tekstil mengandung unsur B3 yang
membahayakan kehidupan dan karenanya perlu penanganan khusus.

   Dengan demikian pengolahan limbah (waste treatment), bukan berarti suatu
industri terbebas dari limbah B3. Sebab, hasil samping dari waste treatmen
adalah konsentrat, yang berupa lumpur maupun debu, dengan konsentrasi zat
pencemar jauh lebih tinggi dari limbah yang telah diolah.

   Pada hakekatnya, pengolahan limbah adalah upaya untuk memisahkan zat
pencemaran dari cairan ataupun padatan. Walaupu volumenya kecil,
konsentarsi zat pencemar yang telah dipisahkan itu sangat tinggi. Selama
ini, zat pencemar yang sudah dipisahkan itu (konsentrat) ini belum
tertangani dengan baik, sehingga terjadi akumulasi bahaya yang setiap saat
mengancam keselamatan lingkungan hidup. Dengan adanya pengolah limbah B3 di
Cileunsi, Bogor, diharapkan konsentrat hasil samping dari pengolahan limbah
bisa diatasi.

   Di negara-negara industri pun, konsentrat dari hasil samping pengolahan
limbah industri juga menjadi masalah besar. Mahalnya biaya pengolahan
mengakibatkan terjadinya skandal ekspor konsentrat (limbah B3) ke negara
berkembang, seperti Rumania, Bulgaria, atau Amerika Latin dan konon juga ke
Indonesia. Di negara-negara berkembang, konsentrat limbah B3 tersebut
ditimbun begitu saja tanpa proses pengolahan.

   Proses industrialisasi di Indonesia sudah berlangsung 30 tahun. Di
Jabotabek saja terdapat ribuan industri. Selama ini dikemanakan limbah B3
yang dihasilkan? Kalaupun memiliki pengolah limbah, jenis yang ada di
industri-industri saat ini hanyalah jenis biasa, yang produk sampingnya
justru menghasilkan konsentrat berupa limbah B3.

   Berdasarkan studi yang telah dilakukan oleh Bina Lingkungan Hidup DKI,
ada sembilan kelompok besar penghasil limbah B3, delapan kelompok industri
skala menengah dan besar, serta satu kelompok rumah sakit yang juga
memiliki potensi menghasilkan limbah B3.

1. Industri Tekstil dan kulit
Sumber utama limbah B3 pada industri tekstil adalah penggunaan zat warna.
Beberapa zat warna dikenal mengandung Cr, seperti senyawa Na2Cr2O7 atau
senyawa Na2Cr3o7. Industri batik menggunakan senyawa Naftol yang sangat
berbahaya. Senyawa lain dalam kategori B3 adalah H2O2 yang sangat reaktif
dan HClO yang bersifat toksik.

   Beberapa tahap proses pada indusrti kulit yang mneghasilkan limbah B3
antara lain washing, soaking, dehairing, lisneasplatting, bathing, pickling,
dan degreasing. Tahap selanjutnya meliputi tanning, shaving, dan polishing.
Proses tersebut menggunakan pewarna yang mengandung Cr dan H2SO4. Hal
inilah yang menjadi pertimbangan untuk memasukkan industrikulit dalam
kategori penghasil limbah B3.

2. Pabrik kertas dan percetakan
Sumber limbah padat berbahaya di pabrik kertas berasal dari proses
pengambilan kmebali (recovery) bahan kimia yang memerlukan stabilisasi
sebelum ditimbun. Sumber limbah lainnya ada pada permesinan kertas, pada
pembuangan (blow down) boiler dan proses pematangan kertas yang
menghasilkan residu beracun. Setelah residu tersebut diolah, dihasilkan
konsentrat lumpur beracun.

   Produk samping proses percetakan yang dianggap berbahaya dan beracun
adalah dari limbah cair pencucian rol film, pembersihan mesin, dan
pemrosesan film. Proses ini menghasilkan konsentrat lumpur sebesar 1-4
persen dari volume limbah cair yang diolah. Industri persuratkabaran yang
memiliki tiras jutaan eksemplar ternyata memiliki potensi sebagai
penghasil limbah B3.

3. Industri kimia besar
Kelompok industri ini masuk dalam kategori penghasil limbah B3, yang antara
lain meliputi pabrik pembuatan resin, pabrik pembuat bahan pengawet kayu,
pabrik cat, pabrik tinta, industri gas, pupuk, pestisida, pigmen, dan
sabun.

   Limbah cair pabrik resin yang sudah diolah menghasilkan lumpur beracun
sebesar 3-5 persen dari volume limbah cair yang diolah. Pembuatan cat
menghasilkan beberapa lumpur cat beracun, baik air baku (water-base) maupun
zat pelarut (solvent-base). Sedangkan industri tinta menghasilkan limbah
terbesar dari dari pembersihan bejana-bejana produksi, baik cairan maupun
lumpur pekat. Sementara, timbulnya limbah beracun dari industri pestisida
bergantung pada jenis proses pada pabrik tersebut, yaitu apakah ia
benar-benar membuat bahan atau hanya memformulasikan saja.

4. Industri farmasi
Kelompok indusrti farmasi terbagi dalam dua sub-kelompok, yaitu
sub-kelompok pembuat bahan dasar obat dan sub-kelompok formulasi dan
pengepakan obat. Umumnya di Indonesia adalah sub-kelompok kedua yang tidak
begitu membahayakan. Tapi, limbah industri farmasi yang memproduksi
atibiotik memiliki tingkat bahaya cukup tinggi. Limbah industri farmasi
umumnya berasal dari proses pencucian peralatan dan produk yang tidak
terjual dan kadaluarsa.

5. Industri logam dasar
Industri logam dasar nonbesi menghasilkan limbah padat dari pengecoran,
percetakan, dan pelapisan, yang mengahasilkan limbah cair pekat beracun
sebesar 3 persen dari volume limbah cair yang diolah. Industri logam untuk
keperluan rumah tangga menghasilkan sedikit cairan pickling yang tidak
dapat diolah di lokasi pabrik dan memerlukan pengolahan khusus. Selain itu
juga terdapat cairan pembersih bahan dan peralatan, yang konsentratnya
masuk kategori limbah B3.

6. Industri perakitan kendaraan bermotor
Kelompok ini meliputi perakitan kendaraan bermotor seperti mesin, disel,
dan pembuatan badan kendaraan (karoseri). Limbahnya lebih banyak bersifat
padatan, tetapi dikategorikan sebagai non B3. Yang termasuk B3 berasal dari
proses penyiapan logam (bondering) dan pengecatan yang mengandung logam
berat seperti Zn dan Cr.

8. Industri baterai kering dan aki
Limbah padat baterai kering yang dianggap bahaya berasal dari proses
filtrasi. Sedangkan limbah cairnya berasal dari proses penyegelan. Industri
aki menghasilkan limbah cair yang beracun, karena menggunakan H2SO4 sebagai
cairan elektrolit.

9. Rumah sakit
Rumah sakit menghasilkan dua jenis limbah padat maupun cair, bahkan juga
limbah gas, bakteri, maupun virus. Limbah padatnya berupa sisa obat-obatan,
bekas pembalut, bungkus obat, serta bungkus zat kimia. Sedangkan limbah
cairnya berasal dari hasil cucian, sisa-sisa obat atau bahan kimia
laboratorium dan lain-lain. Limbah padat atau cair rumah sakit mempunyai
karateristik bisa mengakibatkan infeksi atau penularan penyakit. Sebagian
juga beracun dan bersifat radioaktif.

   Selama ini sangat sulit mengetahui secara persis, berapa jumlah limbah
B3 yang dihasilkan suatu industri, karena pihak industri enggan melaporkan
jumlah dan akrakter limbah yang sebenarnya. Padahal, kejujuran pihak
industri untuk melaporkan secara rutin jumlah dan karakter limbahnya
merupakan informasi berharga untuk menjaga keselamatan lingkungan bersama.

   Keengganan mereka berawal dari biaya pengolahan limbah yang terlampau
mahal, sehingga yang terjadi adalah "kucing-kucingan" guna menghindari
keharusan melakukan pengolahan. Untuk itu diperlukan kebijaksanaan yang
tidak terlampau menekan industri, agar industri terangsang untuk mengolah
limbahnya sendiri.

                                  (Harian Umum Kompas, 22 September 1994)

---
IndCEE Networks - Indonesian Center for Energy and the Environment Networks
 ...........................................................................
Jalan Danau Tondano A-4                            Tel. (+62-21) 571-9360/1
Pejompongan                                          Fax. (+62-21) 573-2503
Jakarta, 10210                                       BBS. (+62-21) 573-5022
INDONESIA                                        E-mail. osari@indcee.or.id
 ...........................................................................