From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Forwarded message:
From apakabar@access.digex.net Thu Oct 27 18:00 EDT 1994
Date: Thu, 27 Oct 1994 17:59:55 -0400
From: John MacDougall <apakabar@access.digex.net>
Message-Id: <199410272159.AA24226@access1.digex.net>
To: apakabar@clark.net
Subject: Rup
Content-Type: text
Content-Length: 5427
Path: news1.digex.net!news.intercon.com!panix!zip.eecs.umich.edu!newsxfer.itd.umich.edu!sol.ctr.columbia.edu!news.kei.com!eff!news.duke.edu!solaris.cc.vt.edu!uunet!news.delphi.com!usenet
From: Mujaya Hertadi <hertadi@delphi.com>
Newsgroups: soc.culture.indonesia
Subject: Tidak akan ada devaluasi rupiah
Date: Thu, 27 Oct 94 07:04:17 -0500
Organization: Delphi (info@delphi.com email, 800-695-4005 voice)
Lines: 89
Message-ID: <hW4Wy75.hertadi@delphi.com>
NNTP-Posting-Host: bos1e.delphi.com
Menkeu di Pasific Rim Forum '94
Tidak akan Ada Devaluasi Rupiah
Beijing, Kompas
Saat ini tidak terpikir di benak Pemerintah Indonesia untuk melakukan
devaluasi rupiah terhadap valuta asing. Dengan menganut prinsip
"mengambang terkendali", penyesuaian kurs sudah berlangsung setiap
saat. Demikian penegasan Menteri Keuangan Mar'ie Muhammad, kepada
sekitar 600 pengusaha dari berbagai pelosok dunia peserta Pacific Rim
Forum '94 di Beijing, Rabu (26/10).
Tampil bersama Menteri Negara Penggerak Dana Investasi/Ketua Badan
Koordinasi Penanaman Modal Sanyoto Sastrowardoyo, dan dipandu oleh
Managing Partner Prasetio Utomo & Co. John. A. Prasetio, dua hal
dipersoalkan pengusaha. Pertama soal kemungkinan devaluasi rupiah, dan
kedua, masalah kehadiran etnik Cina pada perekonomian Indonesia. Pacific
Rim Forum '94 yang dihadiri pula oleh sekitar 50 pengusaha Indonesia,
dibuka Wakil Perdana Menteri RRC Li Lanqing, Selasa malam (25/10).
Demikian dilaporkan wartawan Kompas Ace Suhaedi Madsupi dari Beijing.
Mar'ie mengatakan, dalam lima tahun terakhir, depresiasi rupiah sudah
berlangsung rata-rata 3-4 persen setahun. Tindakan ini ditempuh guna
mempertahankan daya saing ekonomi Indonesia di percaturan global. Pemerintah
memilih jalan melakukan penyesuaian kurs secara bertahap ketimbang misalnya
secara sekaligus mendevaluasi rupiah, karena jalan tersebut akan lebih
memberikan kepastian bagi dunia usaha dan perekonomian.
Menjawab pertanyaan seorang pengusaha Taiwan atas berbagai kejadian yang
berkaitan dengan etnik Cina, Mar'ie mengatakan, Indonesia tidak membeda-
bedakan setiap warga negara berdasarkan etnis. Indonesia bahkan tidak
mengenal misalnya, apa yang disebut Cina Perantauran. "Kita hanya mengenal
satu bangsa," ujarnya.
Kasus pemogokan buruh besar-besaran di Medan umpamanya, bukan persoalan
antara Cina dengan non-Cina. Hal itu lebih merupakan masalah perburuhan,
masalah antara buruh dengan majikan, yang bisa terjadi di negara manapun.
Diseretnya Eddy Tansil ke pengadilan juga bukan karena Eddy Tansil seorang
Cina. Melainkan karena ia sudah merugikan negara. "Siapa pun yang diketahui
melakukan tindakan seperti itu pasti diperlakukan sama oleh pemerintah,"
tegasnya.
Lima landasan
Tentang kebijakan ekonomi Indonesia, Mar'ie mengatakan, terdapat lima elemen
dasar yang dijadikan pegangan untuk mencapai sasaran mempertahankan laju
pertumbuhan ekonomi, meningkatkan produktivitas dan mengurangi kemiskinan.
Kelima elemen dasar itu, pertama, menjaga stabilitas makro ekonomi mallui
manajemen fiskal dan moneter yang hati-hati. Stabilitas makro ekonomi
ini, kata Mar'ie merupakan salah satu pondasi atas keberhasilan ekonomi
di masa lalu, sehingga apa pun tantangannya di masa depan, akan coba terus
dipertahankan. Cara untuk mencapainya antara lain dengan tetap menerapkan
anggaran berimbang, menganut sistem devisa bebas, menerapkan kebijakan
monter yang hati-hati, serta mempertahankan nilai tukar rupiah pada tingkat
kompetitif.
Kedua, melanjutkan tindakan deregulasi di bidang perdagangan dan investasi.
"Indonesia memiliki komitmen untuk menurunkan tarif, mengubah rstiksi nontarif,
dan melonggarkan investasi,' katanya.
Ketiga, membenahi kerangka legal (legal framework), dengan sasaran untuk
menjamin terciptanya kompetisi yang sehat, melindungi hak-hak perusahaan,
menurunkan risiko bisnis, dan sekaligus menurunkan biaya usaha. Sebagai
realisasi ke arah itu, kini tengah dilakukan reformasi undang-undang
perseroan, dan penyempurnaan UU Penanaman Modal, UU Bea dan Cukai, serta UU
bidang perpajakan.
Keempat, meningkatkan investasi di bidang sumber daya manusia dan
infrastruktur. Salah satu masalah fundamental di bidang SDM sekarang, berupa
upaya peningkatan kemampuan tenaga kerja untuk bisa bekerja efektif di
sektor industri. Di bidang infrastruktur, amat terasa kelangkaan pada energi,
komunikasi, dan transportasi.
Kelima swastanisasi proyek-proyek infrastruktur melalui berbagai cara,
misalnya BBO (built, own, operate), BOT (built operate and transfer, serta
penjualan saham BUMN baik melalui pasar modal domestik maupun pasar modal
internasional.
Sementara Meninves Sanyoto antara lain mengemukakan, dalam beberapa dekade
terakhir, kawasan Asia Pasifik bergerak amat dinamis dibandingkan dengan
kawasan laindi dunia. Pertumbuhan ekonomi di Asia Timur dan Tenggara
berlangsung cepat, rata-rata tujuh persen setahun. Peran Asia Pasifik di
luar Amerika Serika dalam pembentukan Produk Domestik Bruto Dunia, kini
mencapai 24 persen.
Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami dinamika tersebut.
Selama periode 1988-1992 misalnya, penanaman modal asing langsung ke
Indonesia, tumbuh enam kali lipat dibandingkan PMA sebelumnya. Secara lebih
rinci lagi, kata Sanyoto, tahun ini sampai pertengahan Oktober saja,
Indonesia sudah menyetujui investasi asing senilai 20,5 milyar dollar AS
untuk membiayai 336 proyek PMA.
(Kompas, Kamis, 27 Oktober 1994)