Petani Karet

From: apakabar@clark.net
Date: Fri Nov 11 1994 - 07:01:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>

Forwarded message:
From apakabar Fri Nov 11 09:43 EST 1994
Path: news.clark.net!news.sprintlink.net!pipex!uunet!news.delphi.com!usenet
From: Mujaya Hertadi <hertadi@delphi.com>
Newsgroups: soc.culture.indonesia
Subject: Tanpa peremajaan tanaman karet, petani akan bertambah miskin
Date: Wed, 9 Nov 94 18:57:11 -0500
Organization: Delphi (info@delphi.com email, 800-695-4005 voice)
Lines: 52
Message-ID: <pE1XkgH.hertadi@delphi.com>
NNTP-Posting-Host: bos1e.delphi.com
Apparently-To: apakabar
Content-Type: text
Content-Length: 2915

Tanpa Peremajaan Tanaman Karet Petani Akan Bertambah Miskin
 
Medan, 8 November
Sebagian besar dari 12 juta petani karet di Indonesia dikuatirkan akan
bertambah miskin, jika tidak segera mendapat bantuan dana untuk
meremajakan kebun mereka yang kini sudah tua. Dari dua setengah juta hektare
tanaman karet rakyat yang ada, maka dua juta hektare sudah tidak layak
produksi. Sehingga penghasilan petani karet saat ini merosot, walaupun
harga komoditi tersebut di pasaran internaasional cukup baik.
Hal itu diungkapkan Direktur Pusat Penelitian Karet (PPK) Sungei Putih,
Sumatera Utara Dr Ir Basuki dalam acara temu pers (Senin (7/11) siang,
ketika menjelaskan rencana dilaksanakannya Konferensi Nasional Karet III
tahun 1994 di Tiara Convention Hall, Medan tanggal 15-17 November.
 
Dikatakaan, peremajan tanaman karet rakyat di Indonesia berjalan
lamban karena dana yang dapat disediakan pemerintah belum mencukupi.
Sementara dana berupa CESS yang masih diberlakukan di negara-negara
penghasil karet lainnya seperti Thailand yang dikutip dari ekspor karet
alamnya, di Indonesia sudah lama dihapuskaaan. Dengan demikiaan bantuan
dana peremajaan itu hanya mengharapkan dari kemurahan BUMN-BUMN dalam
menyalurkan sebagian dari keuntungannya membantu golongan ekonomi lemah.
 
Petani karet rakyat itu sebagian tergolong kaum ekonomi lemah yang
tidak punya dana untuk meremajakan tanaman karet mereka yang sudah tua.
Dengan kondisi pohon seperti itu, penghasilannya relatif kecil. Tingkat
produksi karetnya antara 450-5000 kg per ha/tahun, menyulitkan mereka untuk
membeli bibit klon unggul yang dibutuhkan untuk peremajaan tanaman mereka
selama ini. Padahal sementara ini produksi karet perkebunan BUMN/swasta
mencapai 1.200-1.500 kg per ha/tahun, dengan luas tanaman 700 ribu ha.
 
Pertahankan Devisa
Menurut Dr Ir BAsuki, tanaman karet rakyat perlu diremajakan secepatnya agar
penghasilan devisa kita sebesar US$ 1,2 miliar setahun dari komoditi karet
alam sebanyak 1,3 juta ton asal perkebunan BUMN/Swasta dan petani dapat
dipertahankan.
 
Dikemukakan, untuk melaksanakan peremajaan tanaman karet rakyat, pemerintah
sebenarnya telah menbentuk sentral-sentral kebun intres di tiap kabupaten
di provinsi-provinsi Sumatera Selatan, Jambi, Aceh dan Kalbar yang tanggung
jawab pelaksanaannya oleh Dinas-dinas Perkebunan setempat dalam pengadaan
bibit unggul yang dibutuhkan untuk peremajaan karet rakyat. Namun,
realisasinya berjalan cukup lamban, akibat kurangnya dana.
 
"Beberapa tahun lalu, semangat petani untuk meremajakan tanaman karet cukup
tinggi, tapai akhirnya mereka dikecewakan karena sulitnya mendapatkan bibit
yang dibutuhkan," ucapnya.
 
Menjawab pertanyaan, Dr Ir Basuki yang didampingi Ketua Konferensi Nasional
Karet III tahun 1994 Dr Ir Usman Nasution itu mengatakan, penggunaan karet
alam di dunia tetap dibutuhkan di samping penggunaan karet sintetis.
 
(Suara Pembaruan, Selasa, 8 November 1994)