Wismoyo: Tak Disukai Soeharto?

From: apakabar@clark.net
Date: Wed Feb 15 1995 - 21:32:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>

Forwarded message:
From geni%nusa@igc2.igc.apc.org Wed Feb 15 09:20 EST 1995
To: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Subject: Wismoyo: Tak Disukai Soeharto?
From: geni@nusa.or.id (Yayasan GENI Salatiga)
Message-ID: <g4aJ1c5w165w@nusa.or.id>
Date: Tue, 14 Feb 95 22:31:39 WIB
Organization: NusaNet, NGOs Networking System - INDONESIA
Content-Type: text
Content-Length: 11704

                               Independen No.11 - 31 Januari 1995
                               ^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

                      MENG-KONI-KAN WISMOYO
                 MENUMBUHKAN GENERASI ANAK MANTU

Masa dinas Wismoyo tak diperpanjang. Konon karena tak selalu bisa
dipegang Soeharto -kendati masih terhitung kerabat dekat Istana.
   Antara lain Wismoyo dinilai lalai membendung Gus Dur di NU.

     Spekulasi tentang akan dihidupkannya kembali jabatan
Wapangab dalam hirarki kepemimpinan ABRI, meleset sama sekali.
Ini pun membuktikan bahwa tak mudah membaca cara pikir Panglima
Tertinggi ABRI, Jenderal (purn) Soeharto. Bahkan oleh pengamat
atau pakar sekaliber apapun.
     Ketika Jenderal Feisal Tanjung memasuki usia pensiun, banyak
pengamat yakin Jenderal Wismoyo Arismunandar segera melepas
posisi KSAD, untuk kemudian segera dipromosikan jadi Pangab. Tapi
yang terjadi, masa dinas aktif Tanjung diperpanjang tanpa batas
waktu. Sebaliknya begitu masuk usia pensiun 10 Pebruari ini, tak
seperti perkiraan pengamat, masa dinas aktif Wismoyo dipastikan
tak diperpanjang. Malah kini ia dijadikan Ketua Umum KONI.
     Tentang "diKONIkan"-nya Wismoyo, dikabarkan bahwa Wismoyo
sudah menolak --sebagaimana ia sebelumnya menolak penugasan
sebagai Dubes. Bahkan pada malam pelantikan ia sudah memutuskan
tidak datang. Sumber INDEPENDEN, seorang perwira tinggi, yang
hadir di pelantikan itu menyebut bahwa ajudan Wismoyo saat itu
menyatakan bahwa "Bapak nggak mau datang". Tapi Wismoyo datang
juga jam 22.30, dua setengah jam melewati jadwal yang mestinya
jam 20.00. Itupun karena Hendropriyono diutus secara khusus
membujuk Wismoyo di rumahnya. Dasar bujukan Hendro adalah, "nanti
ditunduh menentang Bapak".
     Semula banyak diperkirakan, jika Tanjung tak kunjung
digantikan Wismoyo, lembaga Wapangab akan dibentuk lagi untuk
Wismoyo. Lembaga ini pernah aktif difungsikan semasa Pangab M.
Panggabean, bahkan merupakan posisi cukup strategis karena
sekaligus merangkap menjadi Pangkopkamtib. Spekulasi ini semakin
merebak, ketika Wismoyo makin sering tampil bersama Kepala Staf
Angkatan (KSAL dan KSAU), dan Kaporli di berbagai kegiatan ABRI,
tanpa dihadiri Pangab.
     Terlebih pada umumnya para pengamat yakin, bahwa mantan
ajudan presiden akan selalu mendapat promosi karir terus menerus.
Terlebih Wismoyo selain mantan ajudan, juga kerabat dekat
Presiden. Tetapi toh ia "keluar" dari lingkaran mitos itu.
     Hal sama terjadi juga pada Wakasad Letjen Soerjadi (AMN
'64), yang juga mantan ajudan. Malah berbeda dengan tiga
pendahulunya: Try Soetrisno, Edi Sudrajat (AMN '60) dan Wismoyo;
yang setelah menjadi Wakasad otomatis naik jadi KSAD dan
menjungkirkan tradisi jabatan Wakasad selaku pos persiapan
jabatan KSAD. Padahal secara historis, lembaga Wakasad dibentuk
untuk melancarkan langkah Try Soetrisno menuju posisi Kasad.
Seorjadi malah akan didubeskan di London. Ia akan menggantikan
posisi Fanny Habibie --Dubes RI di Inggris sekarang, adik
Menristek BJ Habibie-- yang disebut-sebut akan dipromosikan
menjadi Dirut Pertamina. Artinya, seperti Wismoyo, Soerjadi kini
harus rela berkarir di luar ABRI.
     Dengan ini pula, mitos jabatan KSAD yang selama ini
dimonopoli Korps Infantri, luruh. Pengganti Wismoyo, Letjen
Hartono, semula Kassospol ABRI, berasal dari Korps Kavaleri. Ini
lah kali kedua KSAD dijabat bukan oleh perwira dari Korps
Infantri. Yang pertama adalah Try Soetrisno yang berasal dari
Korps Zeni.
     Kelaziman di dalam mutasi jabatan ABRI yang biasanya berupa
penggantian senior oleh kader pimpinan yang lebih junior, juga
ditanggalkan Hartono (AMN 1962) meski dua tahun lebih muda dari
Wismoyo (AMN 1963) dalam usia, secara angkatan lulus justru lebih
senior dari KSAD yang digantikannya.
     Sesungguhnya jalur perubahan jenjang perubahan promosi di
atas, telah terkuak dalam mutasi jabatan ABRI sebelumnya. Promosi
anggota paguyuban "Altides" (Alumni Tidar Enam Satu) Feisal
Tanjung dari Kasum ABRI menjadi Pangab, sudah mengisyaratkan
bahwa kini tak ada lagi pola baku. Pangab bukan monopoli mantan
KSAD. Hal yagn sama pernah terjadi saat Menteri Perindustrian
Jendral M. Yusuf selaku salah satu dari tiga jenderal Super Semar
sangat kuat.
     Bisik-bisik dikalangan pengamat menyebutkan dilepaskannya
Wismoyo dari dunia kemiliteran, karena ia dianggap bersalah
membiarkan Gus Dur menjadi ketua NU kembali di Cipasung.
     Padahal dalam muktamar tersebut, Presiden --lewat Pangab--
telah menginstruksikan agar jangan sampai Abdurrahman Wahid
kembali terpilih sebagai ketua PB NU. Namun rupanya Wismoyo
sebagai KSAD, khilaf berpesan kepada para Pangdam, sehingga
semuanya macet.
     Melihat situasi seperti ini, akhirnya Kassospol Hartono,
diminta segera meloby pengurus NU di daerah agar tidak memilih
Gus Dur. Dan seperti diketahui, hasilnya ternyata tidak seperti
yang diharapkan. Gus Dur tetap bertahan menjadi Ketua PB NU.
Kendati begitu, upaya Hartono di Muktamar NU, tetap dihargai. Ia
naik jabatan menjadi KSAD.
     Bisik-bisik serupa, terdengar tempo hari, menyangkut alasan
Pengggantian Pangdam Jaya AM Hendropriyono (AMN '67), serta
Danjen Kopassus Agum Gumelar (AMN 68), tatkala Megawati gagal
dijegal untuk mengganti Ketua Umum PDI.
     Yang jelas, ada pula bisik-bisik baru perihal faktor
"keluarga" dalam promosi karir para jenderal. Menurut sumber
INDEPENDEN yang dekat dengan kalangan Istana Merdeka, akhir-akhir
ini Wismoyo dianggap "tak bisa dipegang" lagi. Karenanya Soeharto
mulai menaikkan Prabowo, menantunya. Prabowo dikenal dekat dengan
Hartono dan Habibie.
     Ketidakpercayaan Soeharto kepada Wismoyo, tambah sumber
tersebut, sebagian besar disebabkan oleh Wismoyo sendiri. Di
hadapan para kolonel, suatu ketika Wismoyo pernah mengatakan,
"Kalau rakyat menghendaki Soeharto diganti, saya akan ikut
kemauan mereka". Lebih dari itu menurut sumber-sumber di kalangan
militer, Wismoyo juga sepakat dengan pandangan umum bahwa
Soeharto sudah terlalu lama di kursi kekuasaannya.
     Kata-kata Wismoyo ini ternyata sampai ke telinga Soeharto.
Padahal sudah sejak lama Wismoyo dianggap "suka membuat kekuatan
sendiri". Ia sering keliling daerah dan disanjung-sanjung
pasukannya. Profil militer murni yang ada dalam diri Wismoyo,
dikuatirkan akan membentuk karisma tersendiri. Dan tanda-tanda ke
arah itu, kini mulai tampak. Di lingkungan militer dikenal
istilah "pemakai jam tangan kanan" dan "pemakai jam tangan kiri".
Orang-orang yang memakai jam tangan di sebelah kanan, konon,
adalah kode "orang-orang Wismoyo". Dan itu pun sempat menjadi
lambang militer yang anti Soeharto.
     Adam Schwarz, dalam bukunya "A Nation in Waiting," mengulas
sedikit soal Wismoyo (hal. 289-290). Dikatakannya, loyalitas para
jenderal kepada Soeharto, mungkin akan menjadi tanda tanya bila
situasi kritis muncul. Feisal, Edi Sudrajat, dan Wismoyo, mungkin
harus menjawab: apakah tetap loyal kepada Soeharto, itu sama
dengan loyalitas kepada ABRI.
     Hal menarik, di luar kasus Wismoyo dan Soerjadi, bekas
ajudan presiden lain malah beroleh posisi penting. Promosi
Pangdam Diponegoro Mayjen Soejono (AMN 65) jadi Kasum ABRI
membuktikan itu juga. Juga Kasdam Jaya Brigjen Wiranto (AMN 68)
yang akhir tahun lalu, naik menggantikan Hendropriyono, dan
Wakapolda Metro Jaya Brigjen Dibjo Widodo jadi Kapolda. Mereka
membuktikan bahwa sukses karir semua mantan ajudan, bukan mitos.
Malah menurut seorang pengamat, sudah menjadi pola baku.
     Baik Soejono, Wiranto maupun Widodo, kini menduduki posisi
vital. Soejono mantan ajudan 1985-1989, jadi Kasum Mabes ABRI di
Cilangkap yang membawahi bidang intelejen, operasi dan
personalia. Sementara Wiranto ajudan tahun 1989-1993 jadi Pangdam
Jaya dan Dibjo Widodo ajudan tahun 1986-1992 jadi Kapolda Metro
Jaya.
     Fenomena menonjol yang patut disimak bersama promosi Soeyono
ialah promosi Aster Kasum Mayjen Mochamda Ma'ruf (AMN 65), yang
menggantikan Hartono selaku Kassospol. Dan kelihatannya dua
Tibata (Tidar Bakti Tanpa Akhir --Paguyuban AMN 65) di job
bintang tiga, membuat para pengamat kembali berspekulasi atas
kemungkinan mereka menjadi KSAD dan Pangab. Ini masuk akal, sebab
Wakasad bukan lagi satu-satunya jalur untuk menjadi KSAD. Hartono
sebelum KSAD, adalah Kassospol. Juga Tanjung sebelum Pangab,
adalah Kasum.
     Munculnya Mayjen FX Sudjasmin (AMN 64) yang semula menjadi
Irjenad, juga kurang diperhitungkan. Promosi FX Sudjasmin sebagai
Wakasad sendiri, menurut pengamat, lebih untuk meredam isu SARA,
dan menutupi kedekatan Hartono dan Tanjung dengan BJ Habibie.
     Disamping itu, posisi para tokoh Tibta yang sempat menguasai
8 dari 10 Pangdam (saat Meyjen Theo Syafei masih Pangdam
Udayana), sejumlah asisten MBAD dan Mubes ABRI, Komandan Pusat
Persenjataan maupun Kasdam, dan tampilnya dua rekan mereka yang
menyandang dua jabatan bintang tiga, praktis harus
diperhitungkan. Jika angkatan AMN 65 semula dianggap angkatan
terjepit diantara angkatan AMN 1964 (Soerjadi) dan angkatan 1967
(Hendropriyono), kini dengan perubahan pola promosi, otomatis
perhitungan para pengamat turut berubah.
     Kedudukan Tibta tampaknya menjadi semakin kuat, apalagi
dengan posisi khas Soeyono yang bisa diandalkan sebagai calon
terkuat untuk posisi orang pertama di MBAD maupun Mabes ABRI.
Oleh para pengamat ABRI, Soeyono digolongkan sebagai "generasi
mantu dan anak". Ia menantu Mayjen Soegandhi-Mensos Mien
Soegandhi, sehingga mempunyai jaminan politis dan kejelasan
asal-usul di mata Pangti ABRI.
     Bersama mutasi pada posisi strategis ini, sejumlah alih
tugas juga akan terjadi. Posisi Soeyono akan diganti oleh Kasgar
Jakarga Raya Brigjen Yusuf Kartanegara (AMN 67). Posisi Pangdam
Brawijaya akan diserahkan dari Mayjen Haris Sudarno (AMN 65) pada
Mayjen TNI Imam Utomo (AMN65) yang semula Aspers KSAD. Sementara
Pangdam III Siliwangi Mayjen Muzani Syukur (AMN 65) segera
dialihkan kepada angkatan yang lebih muda, kemungkinan besar
kepada Kasdam Bukit Barisan Brigjen Agum Gumelar (AMN 68).
     Tampilnya Soeyono bersama Agum Gumelar (menantu Ketua Legiun
Veteran dan mantan Menparpostel Letjen Purn. Achmad Tahir), dan
Pangdam Bukit Barisan Mayjen Arie J Kumaat (menantu Letjen Purn
GH Mantik), diperkirakan akan mengawali munculnya generasi anak
dan mantu dalam memegang pos strategis dalam regenerasi.
     Diserahkan job bintang satu Danjen Kopassus dari Agum
Gumelar kepada Subagyo HS, lalu dilantiknya Johny Lumintang jadi
Pangdam Disivi Infantri I/Kostrad pada tahun 1994 lalu, jelas
membuka jalan bagi lulusan Akabri Darat tahun 1970 untuk
berkiprah di pentas kepemimpinan nasional.
     Lalu di belakang kedua alumni Akabri Darat 70 itu, sudah
menunggu generasi anak dan mantu tadi. Antara lain, Assop Kodam
Jaya Kol. Inf. Susilo B Yudhoyono (menantu mendiang Jenderal
Achmad Yani dan anak Mayjen Ahmad Yusuf), Dan Brignif Linud
17/Kostrad Kol Inf Ryamirzard (menantu Wapres Try Soetrisno dan
anak Mayjen Mussanif Ryacudu), Dan Grup 3/Pusdik anak Prof Dr
Soemitro Djojohadikusumo). Danmentar Akmil Kol Inf Erwin Sujono
(menantu mendiang Letjen Sarwo Edi Wibowo), Koordinator Staf Ahli
Dispenad Kol. Inf. Agust Wirahadikusumah (anak mantan Wapres Umar
Wirahadikusumah), dan seterusnya. (YDK/SAF)