Serangga di Indonesia

From: apakabar@clark.net
Date: Wed Feb 22 1995 - 09:53:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>

From apakabar@clark.net Wed Feb 22 09:05:22 1995
Received: (from uuigcmail@localhost) by cdp.igc.org (8.6.9/Revision: 1.192 ) id JAA10892 for indonesia-l; Wed, 22 Feb 1995 09:05:22 -0800
Received: by indcee.or.id (1.65/waf)
        via UUCP; Wed, 22 Feb 95 23:56:15 WIB
        for indonesia-l@igc.apc.org
Received: by rumah.indcee.or.id (1.65/waf)
        via UUCP; Wed, 22 Feb 95 23:22:59 WIB
Received: by rumah.indcee.or.id (WafEdit);
        via WAFEDIT; Wed, 22 Feb 1995 23:22:58
From: "Omar Sari" <osari@rumah.indcee.or.id>
To: indonesia-l@igc2.igc.apc.org
Cc: env.general@conf.indcee.or.id
Subject: IN: Sepertiga spesies serangga ada di Indonesia
Reply-To: osari@indcee.or.id
Message-ID: <1995022203.2322IE3@rumah.indcee.or.id>
Date: Wed, 22 Feb 1995 23:22:58 WIB +7
Organisation: IndCEE Networks, Jakarta - INDONESIA
X-Mailer: WafEdit 0.01 (Simple Mail User Agent)
X-Content-Length: 8541

Sepertiga Dari Spesies Serangga
Di Dunia Terdapat Di Indonesia
-------------------------------

   Sebagai negara tropis, Indonesia mempunyai kedudukan terhormat di dunia
dalam kekayaan keanekaragaman jenis tumbuhan, hewan, dan mikroba. Selain
ada yang membahayakan dan merugikan, sebagian besar serangga justru memberi
keuntungan pada manusia dan ekosistem.

   Staf Ditjen PHPA Dephut, Effendi A Sumardja baru-baru ini mengatakan,
saat ini keragaman ekosistem Indonesia meliputi ekosistem alam. Mulai dari
tipe ekosistem dataran tinggi bersalju dan padang rumput alpin di Irian
Jaya, sampai dengan tipe dataran rendah, hutan basah, danau, rawa, gambut,
mangrove, batu karang serta padang rumput laut.

   Kekayaan alam tersebut menyimpan kurang lebih 17 persen keragaman hayati
yang sudah dikenal di dunia, sehingga Indonesia menduduki peringkat ketiga
dunia sebagai negara megabiodiversity setelah Brazil dan Kolombia. Dalam
hal serangga yang telah dikenal di seluruh dunia, 250.000 diantaranya
terdapat di Indonesia.

   Menurut perkiraan para ahli, jumlah spesies serangga tersebut
diperkirakan masih akan mencapai 5-10 juta. Di samping potensinya,
Indonesia diklasifikasikan sebagai kawasan yang keragaman hayatinya
terancam (threatened hotspots).

   Pada diskusi panel Peluang Bisnis Keanekaragaman Hayati Serangga
Nusantara di Jakarta beberapa waktu lalu, Effendi mengatakan, diantara
ribuan spesies serangga tersebut pemamfaatan secara komersial baru terbatas
pada ulat sutera, lebah, dan kupu-kupu. Diantaranya kupu-kupu sayap burung
(bird wiing butterfly) dari spesies Ornithoptera spp dan Trides spp masuk
dalam lampiran II Konvesi CITES untuk dilindungi.

   Diakui, pemamfaatan serangga pada prinsipnya menjadi masalah konservasi,
yakni jika pemamfaatannya tidak lestari. Namun akan memberikan kontribusi
pada usaha-usaha konservasi bila pemamfaatan tersebut memberikan
perlindungan pada habitat serangga itu, dari konversi menjadi pemukiman
misalnya.

   Untuk menjamin pemamfaatan yang mendukung aspek-aspek konservasi
memerlukan beberapa persyaratan, seperti pemamfaatan serangga yang
menjaga dan merehabilitasi kualitas keragaman ekosistem asli, serta
mengakhiri pemamfaatan serangga yang mengancam kelestarian populasinya atau
keragaman ekosistem asli.

   Dalam penaksiran dampak pemamfaatan serangga, kat Effendi, terdapat dua
aspek penting yang perlu dipertimbangkan, yakni seberapa jauh pemamfaatan
tersebut berpengaruh terhadap demographic sustainability. Yang dimaksud
dalam hal ini adalah perubahan populasi suatu spesies setelah dimamfaatkan.

   Agar pemamfaatan tetap lestari, maka tingkat pemamfaatan harus tetap di
bawah ambang batas kemampuan populasi untuk tumbuh kembali.

   Hal kedua yang penting adalah ecological sustaiability. Pemamfaatan yang
telah lestari dari populasi suatu spesies sangat mungkin masih dapat
merubah kualitas dan keragaman ekosistemnya.

   Setiap spesies, ungkapnya, mempunyai pola ketergantungan tertentu dengan
spesies lain dan dengan habitatnya.

   Kepunahan suatu spesies akan mempengaruhi keseimbangan alami spesies
lainnnya dan seterusnya, sehingga dapat menimbulkan multiplier effects yang
luas terhadap habitat dan ekosistem di sekitarnya.

   Serangga hanya sebagian kecil saja dari rantai ketergantungan
keseimbangan ekosistem dan populasi spesies lainnya, dan sebenarnya masih
banyak yang belum di ketahui dari ribuan jenis serangga yang telah
didentifikasi, mamfaat dan perannya dalam eksosistem, serta mamfaat ekonomi
langsung bagi manusia.

   Oleh karena itu utnuk mendukung pemamfaatan serangga secara lestari,
perlu dikembangkan bukan terbatas pada pendayagunaan bidang ilmu dasar,
seperti entomologi, zoologi, etnobotani, atau biologi saja, namun juga
bidang-bidang ilmu terkait yang lebih luas seperti ekologi, analisis
mengenai dampak lingkungan, peternakan, pertanian, kehutanan, ekonomi,
bahkan hal-hal yang mencakup policy analisys strategi nasional pemamfaatan
dan pengelolaan keragaman hayati.

   "Tantangan yang dihadapi dalam pegembangan pengelolaan di bidang serangga
adalah karakteristik dari spesies ini yang dicirikan dengan perkembangannya
secara cepat, dengan umur relatif pendek, serta populasinya berubah-ubah
dengan cepat, "jelas Effendi.

   Karena posisinya di rantai paling awal, ekosistem ini pula yang membuat
penerapan konsep "sustainability" menjadi lebih sulit. Masih banyak
research question yang harus dijawab oleh iptek, misalnya apakah benar
bahwa pemamfaatan serangga secara komersial dengan breeding maupun
penangkapan langsung di alam akan dapat menimbulkan kepunahannya.

   Namun, menurut Effendi, tugas mendesak yang dirasakan lebih penting
adalah identifikasi serangga-serangga yang belum dikenal dan diketahui
mamfaatnya serta perannya dalam rantai ekosistem yang kompleks.

   Dari segi pengelolaan hutan, peranan serangga ini perlu diarahkan kepada
pendugaan seberapa jauh serangga tertentu atau dalam hubungan simbiose yang
seperti apakah sehingga mereka mempunyai peran sebagai species indicator,
untuk memprediksi tingkat kepunahan spesies lain atau perubahan mikro
lingkungan, habitat, maupun ekosistem tertentu.

   Di bidang konservasi, peran nyata komersial diarahkan pada upaya
pemamfatan serangga ini bisa dijadikan sarana untuk pendidikan konservasi,
bagi masyarakat telah lama dan hangat didiskusikan. Namun hanya sedikit
contoh realisasi ke arah itu.

   Pada dasarnya, Effendi menjelaskan, konservasi bukan saja mengandung
maksud "perlindungan" dan "pelestarian" sumber daya alam saja, tetapi
konservasi juga berarti "pemamfaatan yang berkelanjutan atau lestari".

   Salah satu upaya itu adalah butterfly farming di dekat kawasan Cagar
Alam Pegunungan Arfak, Manokwari, Irian Jaya, yang diperkenalkan oleh WWF
kepada masyarakat suku Hatam. Pada mulanya suku Hatam dilibatkan dalam
penentuan tata batas kawasan Cagar Alam Pegunungan Arfak oleh proyek kerja
sama WWF-PHPA.

   Kemudian agar mereka lebih terlibat dalam usaha-usaha konservasi
tersebut diupayakan penyediaan sumber-sumber pendapatan masyarakat Hatam.
Sumber alam yang dipilih adalah peternakan enam spesies kupu-kupu
Ornithoptera yang memang mempunyai pusat distribusi di Pegunungan Arfak
pada ketinggian 2.820 meter.

   Kupu-kupu betina diarik keluar dari kawasan hutan untuk untuk bertelur
pada daun pakan yang disediakan di kebun masyarakat, dimana ulat kupu-kupu
tersebut menyukai pakan dari Aristolochia Gaudichaudii.

   Untuk selanjutnya peternakan kupu-kupu ini ditangani oleh Yayasan Bina
Lestari Bumi Cendrawasih (YBLBC) sebagai wakli dari pembina masyarakat
peternak. Sejak Februari 1993 sampai Juni 1994 YBLBC telah melakukan ekspor
26 kali, dengan jumlah uang yang disebarkan ke masyarakat sekitar Rp 73
juta.

   Selama kurun waktu tersebut tidak ada tanda-tanda spesies tertentu
terancam kepunahannya.

   Sehingga boleh disimpulkan bahwa secara ekologis kegiatan peternakan ini
lestari, bahkan mampu meningkatkan populasi untuk spesies tertentu,
terutama O. tithnus, O. Goliath dan O. rothscildi.

   Menurut Effendi, di Bali telah pula dimulai penangkapan kupu-kupu, dan
dilakukan studi prakiraan sebaran 123 spesies kupu-kupu di seluruh
Indonesia.

   Kegiatan penagkaran di Bali ini lebih difokuskan pada pencarian pola
penangkaran untuk setiap kupu-kupu, dan pengembangan aspek-aspek bisnis
yang berorientasi ekspor.

   Di kawasan hutan wisata Bantimurung Sulawesi Selatan misalnya, telah
lama dikenal sebagai pusat perdagangan kupu-kupu, yang pada umumnya
ditangkap langsung dari alam oleh penduduk yang tinggal disekitarnya.

   Bahkan kupu-kupulah yang menjadi daya tarik khusus orang datang ke
Bantimurung, bahkan sudah terkenal ke mancanegara.

   Dari kegiatan peternakan kupu-kupu itu, bisa diambil beberapa pelajaran
bahwa upaya-upaya konservasi dapat secara efektif diperkenalkan kepada
masyarakat, serta peningkatan sumberdaya alam hayati yang tersedia di
sekitarnya.

   "Bentuk-bentuk pemamfaatan sumberdaya hayati seperti inilah, yaitu
dengan melibatkan peran serta masyarakat, perlu dikembangkan terus untuk
pola-pola pemamfaatan sumberdaya alam hayati lainnya, terutama serangga
nusantara, di mana pendekatan kesejahteraan (prosperity approach) sudah
tidak dapat ditawar-tawar lagi apabila usaha-usaha konservasi diharapkan
berhasil, "tegas Effendi A Sumardja.

                          (Harian Umum suara Pembaruan, 21 Februari 1995)