Mahasiswa PTIK Dibunuh Preman

From: apakabar@clark.net
Date: Sun Mar 12 1995 - 04:16:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>

Forwarded message:
From apakabar Sat Mar 11 10:27 EST 1995
Path: news.clark.net!rahul.net!a2i!olivea!venus.sun.com!cs.utexas.edu!howland.reston.ans.net!news2.near.net!news.delphi.com!usenet
From: HERTADI@delphi.com
Newsgroups: soc.culture.indonesia,alt.culture.indonesia
Subject: Mahasiswa PTIK Dibunuh Preman di Blok M
Date: 10 Mar 1995 23:49:27 GMT
Organization: Delphi Internet Services Corporation
Lines: 83
Message-ID: <3jqoi7$qbc@news1.delphi.com>
NNTP-Posting-Host: bos1e.delphi.com
Xref: news.clark.net soc.culture.indonesia:22222 alt.culture.indonesia:7437
Apparently-To: apakabar
Content-Type: text
Content-Length: 4449

Mahasiswa PTIK Dibunuh Preman di Blok M

Jakarta, Kompas
Letnan Satu (Pol) Budi Prasetyo, mahasiswa Perguruan Tinggi Ilmu
Kepolisian (PTIK) angkatan XXXI, tewas dikeroyok sekelompok preman
di sekitar Melawai, Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Senin sore
(6/3). Lima tersangka pelaku pengeroyok ditangkap petugas Polda Metro
Jaya bersama Polres Metro Jakarta Selatan dalam waktu tak lebih dari
enam jam setelah kejadian, dalam penyergapan yang dipimpin langsung
Kapolda Metro Jaya Mayjen (Pol) Dibyo Widodo hingga pukul 02.00 dinihari.

Tiga tersangka pelaku, RZ, JM, Nic, disergap di sebuah kios di Jl Panglima
Polim, Kebayoran Baru, Jaksel Senin kira-kira pukul 22.00. Sedangkan ID,
disergap Selasa dinihari pukul 00.30 kemarin. Seorang lagi, FR ditangkap
ketika akan masuk restoran Kentucky Fried Chicken (KFC) di Bogor, Selasa
siang pukul 12.30 kemarin. Mereka berusia 20-30 tahun, tak jelas pekerjaannya
dan sering mabuk-mabukan.

Sementara itu, jenazah Lettu (Pol) Budi Prasetyo Selasa petang kemarin
dimakamkan di TPU Tanah Kusir Jakarta Selatan, dengan inspektur upacara
Gubernur PTIK Mayjen (Pol) Mangatar B Hutagalung, diantar oleh ratusan rekan
almarhum. Hadir pula Dekan PTIK Prof Dr Awaloedin Djamin. Sebelumnya jenazah
Budi Prasetyo disemayamkan di kampus PTIK di Jl Tirtayasa, Jaksel. Suasana
duka dan kesedihan amat terasa di kampus PTIK dan di pemakaman.

Lettu (Pol) Budi Prasetyo, kelahiran Agustus 1965 ini, sebelum jadi mahasiswa
PTIK, bertugas sebagai Kepala Satuan Sabhara Polres Tarakan, Polda Kalimantan
Timur. Budi Prasetyo, anak pertama dari enam bersaudara, putra seorang kepala
desa (pensiunan ABRI) di Madiun ini, meninggalkan seorang istri dan seorang
anak yang masih kecil.

Gubernur PTIK Mayjen (Pol) MB Hutagalung kepada Kompas sore kemarin mengatakan
musibah yang dialami Budi Prasetyo dapat menimpa kepada siapa saja. Namun
demikian, Hutagalung berharap kasus kriminal yang dialami mahasiswanya itu
dapat cepat terbongkar. "Semuanya sudah ditangani Polda Metro Jaya," kata
Hutagalung.

Gara-gara parkir
Sementara itu Kapolres Metro Jakarta Selatan Letkol (Pol) Silvanus Yulian
Wenas kepada pers di sela-sela acara serah terima Kepala Staf Garnisun I
Jakarta di Markas Skogar Selasa pagi menjelaskan, peristiwa itu terjadi hari
Senin sore (6/3) ketika Lettu (Pol) Budi Prasetyo bersama rekannya Kaptel
(Pol) Armand Depari yang berpakaian biasa hendak membeli buku di sebuah toko
di kawasan Melawai, Blok M, Jaksel.

Ketika hendak memarkirkan kendaraannya di tempat parkir dekat Melawai Plaza,
salah seorang pria tak dikenal menegur Armand yang sore itu mengemudikan
kendaraan dan melarangnya parkir di sana. "Kalau tidak boleh parkir di sini,
ya sudah," kata Armand saat itu. Namun beberapa pemuda menghampiri Armand dan
Budi sambil mengepalkan tangan.

Kedua perwira polisi ini pun keluar dari mobil dan menanyakan masalah mereka.
Namun keduanya langsung dikeroyok oleh sekelompok pemuda yang sering mangkal
di kawasan Blok M itu.

Armand Depari yang bertubuh besar tak sanggup melawan sekelompok pemuda
yang mengeroyoknya sehingga terpaksa meninggalkan tempat mencari bantuan.
Wajahnya memar dan tubuhnya terluka kena senjata tajam. Sementara Budi Prasetyo
juga dikeroyok. Ia sempat menendang seorang tersangka, FR, namun pengeroyoknya
berjumlah banyak sehingga ia terjatuh dan diinjak-injak.

Pada saat itulah Budi ditikam tepat di ulu hatinya dengan senjata tajam oleh
FR. Selain itu pada tubuhnya juga ada dua luka lainnya di bawah mata dan di
pundak kiri. Melihat korbannya jatuh tak berdaya, sekelompok pemuda ini pun
kabur.

Kapten (Pol) Armand bersama Serda Surip, anggota Polsek Kebayoran Baru yang
bertugas di sekitar Blok M, mendatangi TKP dan mendapatkan Budi sudah
tergeletak bersimbah darah. Mereka berdua mencoba membawa Budi ke RS Pusat
Pertamina. Namun persis di depan Mabes Polri di Jl Trunojoyo, Budi
menghembuskan napas terakhir pada pukul 18.30.

Kapolda Metro Jaya Mayjen (Pol) Dibyo Widodo yang menerima laporan tewasnya
mahasiswa PTIK itu langsung membentuk tim gabungan untuk mencari pelaku
pengeroyokan itu. Setelah mempelajari TKP (tempat kejadian perkara). Kapolda
Dibyo Widodo memimpin pelacakan bersama Kepala Satuan Reserse Umum Letkol (Pol)
Gories Mere, Kapolres Metro Jakarta Selatan Letkol (Pol) Silvanus Yulian Wenas,
dan Kapolsek Metro Kebayoran Baru, Mayor (Pol) Zebua. Akhirnya pelacakan
berhasil menangkap beberapa pelakunya tersebut.

(Kompas, Rabu, 8 Maret 1995)