Tantangan Keluarga Indonesia

From: apakabar@clark.net
Date: Tue Aug 15 1995 - 14:29:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>

From: HERTADI@idndprin.dprin.go.id
Newsgroups: alt.culture.indonesia,soc.culture.indonesia,alt.sci.tech.indonesian
Subject: Keluarga Indonesia akan hadapi tantangan berat
Date: 15 Aug 1995 15:20:21 GMT

Keluarga Indonesia akan hadapi tantangan berat

Jakarta, Kompas
Menteri Negara Kependudukan/Kepala BKKBN Dr H Haryono Suyono
mengingatkan, keluarga Indonesia akan menghadapi tantangan
lebih berat dengan semakin merenggangnya ikatan kekerabatan
yang akan mempengaruhi ketahanan keluarga. Sementara itu arus
globalisasi pada tahun 2010 tidak dapat dihindarkan, padahal
sebagian besar keluarga Indonesia tingkat kesejahteraannya
masih rendah.

Kecuali itu, masih banyak keluarga khususnya di pedesaan, yang
masih dalam taraf prasejahtera atau masih termasuk tahap ke
luarga sejahtera I, yaitu keluarga yang masih kesulitan atau
baru dapat memenuhi kebutuhan pokoknya.

Penegasan itu disampaikan Haryono Suyono yang dibacakan Wakil
Kepala BKKBN, dr PP Sumbung MPH pada pembukaan lokakarya
Lembaga Sosial dan Organisasi Masyarakat atau LSOM, Senin
(14/8), di Jakarta. Lokakarya diikuti 120 peserta terdiri dari
unit pelaksana gerakan KB, pembangunan keluarga sejahtera dan
kependudukan.

Menteri Negara Kependudukan/Kepala BKKBN menegaskan pula,
untuk mengantisipasi tantangan itu harus dilakukan pembangunan
keluarga sejahtera secara berkelanjutan. Khusus di pedesaan
harus ditingkatkan taraf kesehatannya, terutama kesehatan ibu
dan anak antara lain dengan reproduksi yang sehat.

Secara khusus diingatkan, pengembangan kelompok masyarakat di
pedesaan khususnya kelompok wanita harus semakin menjadi
perhatian. Karena wanita dan kaum ibu dipandang sebagai
kelompok yang "lemah" dalam rangka pembangunan ketahanan
keluarga. Kelompok wanita itu harus dapat dijadikan wahana
belajar kaum ibu untuk memberikan kontribusinya dalam
pembangunan keluarga sejahtera baik dalam pendewasaan usia
perkawinan, reproduksi sehat, kesiapan pengasuhan anak yang
dilandasi dengan agama dan nilai budaya Indonesia yang kuat.

Tumbuh seimbang

Dikatakan, Indonesia berhasil meletakkan landasan yang kuat
bagi pembangunan keluarga sejahtera. Antara lain mampu
menurunkan tingkat kelahiran, meningkatkan kesadaran
masyarakat akan makna keluarga kecil serta meningkatnya peran
serta dan kemandinan masyarakat dalam penyelenggaraan dan
pemenuhan keperluan berKB.

Dari hasil SDKI (Survai Demografi dan Kesehatan Indonesia)
1994 diketahui angka fertilitas total nasional sebesar 2,85,
sementara pada awal Pelita I sebesar 5,6. Malah angka TFR
(total fertility rate) di tujuh propinsi seperti DKI Jakarta,
DI Yogyakarta, Jatim, Bali, Sulawesi Utara, Kalsel dan Kalteng
sudah mencapai penduduk tumbuh seimbang dengan TFR antara 1,9
- 2,3

Secara jujur diakui, keberhasilan itu tidak terlepas dari
peran LSOM, tokoh masyarakat dan para kader, khususnya para
kader PKK yang secara sukarela membimbing masyarakat berperan
serta dalam gerakan KB. Juga arti dwifungsi ABRI dalam gerakan
nyata dengan keluarga besarnya berperan sebagai teladan dan
dinamisator gerakan melalui operasi Bhakti Manunggal KB-
Kesehatan. (sas)

==
Kompas - 15 Agustus 1995