From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Subject: IN: SI - Pram: "... Tutup Buku dengan Kekuasaan"
SUARA INDEPENDEN
No. 03/1,AUGUS 1995
Pramoedya Ananta Toer:
"Saya Sudah Tutup Buku dengan Kekuasaan"
Mutiara asli tetap berkilau, meski ditutupi lumpur kebohon-
gan. Tamsil itu, agaknya, cukup pas untuk menggambarkan sosok
Pramoedya Ananta Toer. Meski karya-karya sastranya dilarang
beredar di negeri ini, toh tetap memancarkan kilauan yang pantas
dikagumi. Diantara sastrawan Indonesia lainnya, karya-karya Pram
merupakan yang paling kerap diterjemahkan ke dalam lebih dari dua
puluh bahasa.
Terakhir, pertengahan Juli lalu, Pram dianugerahi Ramon
Magsaysay Award untuk kategori Jurnalistik, Sastra, dan Seni
Komunikasi Kreatif. Ia tercatat sebagai orang Indonesia kesepuluh
yang pernah menerima penghargaan bergengsi tersebut. Rencananya,
penghargaan Magsaysay itu serta uang sebesar 50 ribu dolar AS
(sekitar Rp. 110 juta) akan diserahkan pada 31 Agustus nanti.
"Tapi, saya belum tahu bisa pergi atau tidak," kata Pram. Maklum,
sudah 30 tahun pengarang yang pernah belasan tahun mendekam di
tahanan Pulau Buru ini dicekal pemerintah. Berikut petikan wawan-
cara Pram dengan Suara Independen:
Bagaimana ceritanya anda mendapat penghargaan Ramon Magsaysay?
Awalnya saya mendapat telfon dari Kuala Lumpur yang menanyakan
apakah saya bisa pergi ke Filipina. Dari situ saya sudah mengira
bahwa hal ini ada kaitannya dengan Ramon Magsaysay. Saya sudah
mendengar kabarnya sejak 3 tahun lalu, dicalonkan dari Malaysia.
Tak lama kemudian saya mendapat fax dari Ramon Magsaysay Award
Foundation yang dikirim oleh Nona B. Javier, Executive Trustee,
tertanggal 19 Juli 1995. Di situ dikatakan bahwa Pram mendapat
Ramon Magsaysay untuk penghargaan dalam kategori Jurnalistik,
Sastra dan Seni Komunikasi Kreatif.
Bagaimana perasaannya?
Yah seneng dong, ternyata apa yang saya kerjakan selama ini ada
yang menghargai. Apalagi kondisi saya sekarang-- yang sudah
banyak mengalami perampasan, difitnah, didakwa macam-macam dan
tidak bisa membela diri--, ternyata setelah 30 tahun ada juga
yang menghargai karya saya. Saya sih nggak ngarep ada penghargaan
seperti itu. Dulu juga ada kabar, sudah banyak yang usulkan untuk
hadiah Nobel, tapi terserah lah....
Hadiah kan lumayan?
Sudah banyak orang tanya: uang sebanyak itu hendak diapakan? Yah
saya sudah tahu karakter Orde Baru ini, jadi saya jaga-jaga
jangan sampai itu dirampas juga . Saya akan pakai uang itu untuk
cadangan hidup saya. Gara-gara pelarangan buku Nyanyi Sunyi
Seorang Bisu kemarin, uang saya tak kembali. Padahal uang untuk
menerbitkan buku itu adalah uang belanja istri saya.
Kemungkinan anda berangkat atau tidak ?
Berangkat tidaknya saya ke Manila tergantung beberapa persyaratan
yang harus dipenuhi. Pertama, faktor kesehatan saya karena saya
baru saja operasi. Namun faktor yang lebih serius adalah masalah
izin berangkat ke luar negeri. Paspor saya sejak tahun 1961
ditahan. Saya menolak diperlakukan berbeda dari warga negara
indonesia lainnya untuk "wajib memohon ijin khusus" pada instansi
pemerintah urusan pengawasan sosial politik. Faktor terakhir,
adalah bahwa dimanapun di luar rumah saya selama 30 tahun ini
saya merasa tidak ada jaminan keamanan yang pasti bagi diri saya.
Saya sendiri pernah mencoba untuk menanyakan apakah mungkin
mendapat paspor lagi. Tahun 1961 saya mendapat undangan ke Aus-
tria, saya datang ke biro paspor, tapi tak digubris. Pada tahun
itu saya sempat ditahan oleh Jendral Nasution sehubungan dengan
dilarangnya buku "Hoa Kiau di Indonesia". Setelah keluar dari
tahanan Orde Baru pada tahun 1980-an, saya banyak mendapat undan-
gan dari luar negeri, tapi ketika saya ceramah di UI saja, saya
sudah diusir dan diinterogasi selama 10 hari. Saat itu saya
tanya apa ada kemungkinan saya bisa bikin paspor lagi, eh... per-
wira-perwira militer itu pada ketawa. Yah sudah, dari situ saya
tidak mau lagi mengurus paspor saya. Saya tutup buku dengan
kekuasaan. Mereka selalu bilang, kami tutup buku dengan
napol/tapol, nah saya juga bilang begitu, tutup buku dengan
kekuasaan.
Bapak masih baca koran?
Saya ini baca koran untuk mengumpulkan informasi untuk bahan
geografis kawasan Indonesia, untuk ensiklopedia. Untuk politik
praktis saya tidak mengikuti, dan untuk sastra dan kebudayaan,
saya sama sekali tidak mengikuti lagi....
Mengapa ?
Yah pengalaman 30 tahun ini menutup perhatian saya. Tiga puluh
tahun ditindas. Justru yang bukan sastra yang saya baca. Misalnya
saya baca karya Bruce Grant tentang para politisi dan para dewa
di India. Ia bikin penilaian tentang demokrasi di India. Buku ini
sangat menarik, ia juga kutip ucapan Plato bahwa demokrasi itu
indah: pertemuan antara harmoni dan kekacauan dan juga pertemuan
antara orang-orang yang berkuasa dan orang-orang yang tidak punya
apa-apa. Ini diucapkan Plato pada saat yunani purba, dan di sana
pun sudah ada parlemen, tapi 4 % penduduk Yunani itu adalah para
budak.
Kenapa tertarik dengan dunia tulis menulis ?
Sebenarnya ini lebih persoalan keluarga. Ayah saya seorang bin-
tang kelas kalau sekolah. Sampai lulus Kweekschol dia bintang
kelas terus. Rupanya harapan terhadap saya mengecewakan dia, saya
dianggap terlalu bodoh. Untuk menamatkan SD yang tujuh tahun,
saya selesaikan selama 10 tahun.
Saya belajar di sekolah swasta Boedi Oetomo, yang direkturnya
ayah saya sendiri. Tentu saja nilai bahasa Belanda saya di bawah
sekolah gubermen. Saya jadi minder kalau bergaul dengan anak-anak
sekolah gubermen. Jadi perasaan minder itu membuat saya takut
menyatakan pendapat, dari situ saya mulai menulis. Ayah sendiri
seorang pengarang.
Waktu saya telah menamatkan sekolah dasar dan ingin melanjutkan
ke MULO, saya datang kepada ayah, dan mengatakan kepadanya bahwa
saya ingin melanjutkan sekolah. Tanpa pikir panjang dia mengata-
kan, "Anak bodoh, kembali ke SD !" Jadi waktu tahun ajaran baru
saya kembali ke SD. Guru saya tanya dalam bahasa Belanda, "Kenapa
kembali ke sini, kan kamu sudah lulus." Buku-buku saya ambil, dan
lari ke kuburan, diantara sekolah dan rumah. Di situ ada pohon
jarak, saya pegang dan saya menjerit di situ.... Sampai sekarang
kalau teringat itu, mata saya masih berkaca-kaca.
Akhirnya saya sekolah montir, di Surabaya. Yang biayai saya dan
ibu saya. Kalau pagi jam 5 saya pergi ke jembatan yang menghu-
bungkan desa dan kota. Saya beli padi yang baru panen, nanti
kalau musim tanam saya jual lagi. Dari padi itu saya beli "sepatu
bata" dan berangkat ke Surabaya untuk sekolah yang secepat mu-
ngkin bisa selesai, supaya bisa cepat kerja. Itu saya umur 15,
dan untuk pertama kali pakai sepatu. Ibu mendidik saya harus
mandiri.
Lalu?
Setelah sekolah montir, Jepang datang mengancam. Sebelum mendapat
diploma kita terkena wajib militer. Masih baru didaftar memang,
tetapi saya ini dididik oleh keluarga untuk anti Belanda, anti
kolonial, sementara itu saya dijaring lewat sekolah untuk masuk
wamil, yah saya lari saja... meninggalkan Surabaya kembali ke
Blora lagi. Nggak sempat terima diploma.
Saya harus kerja untuk keluarga, mengurus semuanya, merawat ibu
yang sakit keras. Kemudian ibu meninggal saat melahirkan anak
bungsu. Saya ini anak pertama dari sembilan bersaudara. Ayah
menyuruh saya pergi dari rumah dari situ saya ke Jakarta beserta
adik saya. Di Jakarta saya tinggal sama paman dan di situ ada
mesin tik. Saya belajar menggunakannya, setelah mahir selama satu
minggu saya melamar pekerjaan ke Domei, kantor berita pendudukan
Jepang. Saya diterima. Saya sempat sekolah stenograf selama seta-
hun, antara lain gurunya adalah Hatta di bidang ekonomi dan
Maruto Darusman di bidang sosiologi. Di situ pula saya pertama
kali menuliskan buku Muhamad Yamin dari pidatonya: "Diponegoro"
dan "Gadjah Mada", tapi cuma dibayar 30 perak saja ...
Siapa pengarang yang anda kagumi ?
Pertama adalah sastrawan I Nyoman Pandji Tisna yang menulis buku
"Setahun di Bedahulu", saya juga kagum pada Idrus, seorang styl-
ist terbesar sampai saat ini. Dalam sikap saya mengagumi Chairil
Anwar. Ketika orang harus menjadi ternak pada jaman Jepang, ia
mengatakan, "Aku ini binatang jalang dari kumpulan yang
terbuang." Ia dianiaya Kempei karena sajak ini. Inilah kiranya
yang ikut membentuk pribadi saya.
Anda pernah mengatakan bahwa karya sastra anda banyak mengambil
setting di mana terjadi periode-periode perubahan besar atau
fundamental bangsa ini, periode-periode krisis. Kenapa tertarik
dengan hal ini ?
Yah ini karena saya ingin mengenal diri saya sendiri sebagai
bangsa. Tetralogi Anak Semua Bangsa adalah perubahan besar sosial
budaya menuju kebangkitan nasional, dan akan menghasilkan kemer-
dekaan. Buku saya "Arus Balik" (akan terbit Agustus ini) menceri-
takan perubahan dari kemerdekaan tradisional ke penjajahan kolon-
ial. Ada juga yang belum terbit, "Arok dan Dedes", mengisahkan
perubahan dari masyarakat Hindu Jawa menjadi Jawa Hindu. Dan satu
lagi "Mangir" yang menggambarkan situasi setelah Majapahit jatuh
dan desa-desa menjadi mandiri, dipersatukan menjadi kerajaan
desa: yaitu Mataram.
Berapa lama waktu dikumpulkan untuk mengumpulkan bahan ?
Saya sebetulnya dari muda mengumpulkan bahan. Bacaan itu saya
baca bukan sebagai sarjana, saya ambil semangatnya saja. Kalau
dengan menggunakan metode kesarjanaan saya ini seorang sejarawan,
tetapi kan tidak. Nah di sini saya tambahkan satu elemen, yaitu
ego saya. Dan dia berproses sendiri saja dan saya tinggal menca-
tatkan. Jadi materi yang sudah ada di bawah sadar, saya ke-
luarkan, dan ditambahkan dengan ego saya, tinggal saya catat.
Bagaimana komentar anda tentang pembebasan Soebandrio dan Omar
Dhani ?
Ya sebelum diberi grasi ini saya diberi tahu oleh seorang warta-
wan Inggris. Ia mengatakan bahwa ABRI ini amat tidak setuju
dengan pemberian grasi, tapi Harto pasti akan kasih untuk menaik-
kan gengsi internasional. Jadi ada semacam rekayasa bahwa napol
dan tapol itu menjadi aset kekuasaan sekarang ini. Saya ikut
bergembira dengan kebebasan dari orang yang tertindas. Tidak cuma
di Indonesia, tapi di mana pun juga di dunia.
Tapi kenapa yang dibebaskan hanya tiga orang saja. Kenapa Latief,
misalnya, tidak dibebasakan?
Yah seperti tadi saya bilang, mereka ini kan jadi aset politik
kekuasaan. Semua ini dipergunakan untuk kepentingan kekuasaan.
Kalau tidak ada kepentingan dengan kekuasaan mereka tidak melaku-
kan sesuatu.
Jadi cuma untuk mendukung status quo saja ?
Betul. Dulu pernah juga ada wartawan lain yang pernah menanyakan
kemungkinan grasi. Kalau di negara lain itu kan biasa memberikan
grasi, kenapa Indonesia yang punya Pancasila kok tidak bisa? Apa
Indonesia itu di planet lain, orang-orang yang tidak setuju itu
apa tidak pernah punya saudara, tetangga, ayah. Apa mereka ini
terbuat dari tanah? Tampaknya saya terkesan bahwa persoalan tapol
/napol ini jadi persoalan paranoia...
Maksudnya ?
Yah itu sakit di dalam pikiran orang. Sudah tidak wajar lagi.
Bentuknya ?
Yah orang-orang diuber-uber, dibatasi, diharuskan ini itu, dilar-
ang ini itu. Seperti bangsa belum merdeka saja. Orang lupa apa
tujuan orang revolusi dulu. Sukarno itu kan sering bilang,
"Freedom to be free", tapi kan sekarang ini "Freedom to be un-
free". Apa itu ? Ini kan paranoid. Bukan kebetulan kalau Nasution
pada tanggal 17 Oktober 1952 menghadapkan moncong meriam ke
istana negara. Dia ini orang KNIL. Dan bukan kebetulan pula kalau
Soeharto orang KNIL, bekas KNIL. Pada waktu perjuangan kemerde-
kaan mereka justru sumpah setia kepada Ratu Belanda. Bukan kebe-
tulan ngomongnya pada makin muluk.
Siapa tokoh perjuangan yang bapak kagumi ? Tan Malaka ? Mas Marco
Kartodikromo ?
(menggelengkan kepala dua kali) Saya ini kagum kepada Bung Karno.
Ia sanggup melahirkan nation, bukan bangsa, tanpa meneteskan
darah. Mungkin dia satu-satunya, atau paling tidak satu di antara
yang sangat sedikit. Kelahiran nation itu biasanya, dimana saja,
mandi darah.
Tapi kan ada perjuangan-perjuangan bersenjata di Aceh, di Jawa,
dan ditempat-tempat lain?
Itu bukan untuk kemerdekaan nasional. Ada yang demi agama, ada
yang demi feodalisme, ada yang amok karena rakyat terus menerus
ditindas. Bukan politik, ini tak ada unsur politiknya. Ini terus
terjadi sepanjang jaman kolonial. Bukan saya tidak menghargai ...
Tapi perjuangan nasional itu Sukarno memang nomor satu, dia orang
besar. Itu sebabnya dalam revolusi nasional terjadi dualisme:
Sukarno tetap menghendaki perundingan, namun golongan muda mau
angkat senjata. Sampai sekarang ia terus dihina.
Pram lair di Blora, 6 Februari 1925. Pernah belajar radio,
stenograf dan kuliah si Sekolah Tinggi Islam Jakarta (1945), ia
sempat bekerja sebagai juru ketik di kantor berita Jepang Domei
(1942-45). Ia tercatat sebagai letnan dua di Resimen 6 Divisi
Siliwangi. Dia juga pernah jadi redaktur (a.l di Balai Pustaka
dan The Voice of Free Indonesia), dosen serta anggota Pimpinan
Pusat Lekra (1958). Keterlibatannya di Lekra, membuat Pram
meringkuk di beberapa bui, termasuk P. Buru, pasca G30S/PKI.
Namun, apakah sesungguhnya dia komunis? "Buktikan saja," tan-
tangnya.
Anda bergabung dengan Lekra, dan semangat sekali menghadapi
Manikebu. Sehingga Anda digolongkan dalam seniman yang berubah
fungsi menjadi semacam ideolog?
Saya itu praktis mandiri. Biar pun menjadi anggota Lekra. Saya
menjadi anggota Lekra bukan mendaftarkan diri. Pada Kongres Lekra
di Solo tahun 1959, saya diundang hadir. Sambil jalan-jalan saya
datang saja. Sampai di sana, saya diminta memberi sambutan, saya
kasih. Di akhir Kongres, saya diangkat menjadi anggota pleno.
Tidak pernah merangkak dari bawah, tahu-tahu terus nangkring. Itu
dalam kesulitan lagi, karena orang-orang lama di organisasi itu
tak senang melihat saya.
Tapi Anda terima pengangkatannya...
Saya terima. Itu kan bukan organisasi jahat. Dituduh itu onder-
bow PKi, tak soal. PKI kan salah satu pemenang pemilihan umum
waktu itu. Punya wakil-wakil di parlemen. Terakhir beberapa
menteri, malah. Itu kan legal.
Apa yang Anda dapat dari Lekra?
Nggak ada, kok. Saya ini solo flight. Nggak bisa memerintah dan
tak mau diperintah. Tidak ada apa-apa. Malah bentrokan saja yang
terjadi.
Mengapa Anda tidak keluar saja?
Tidak perlu keluar toh? Saya itu kerjanya di rumah saja. Kalau
ada undangan, saya datang. Diminta ceramah tentang sesuatu yang
saya setujui, ya saya kasih. Misalnya,tentang Kartini, sejarah
sastra Indonesia. Tetapi sebagai penentu, tentu saja tidak.
Saya itu orang yang dicomot dari jalanan dan ditangkringkan.
Tapi Anda kan jadinya dituduh komunis...
Tahun 1956 saya diundang ke Tiongkok untuk menghadiri peringatan
sekian tahun meninggalnya Lu Sin, pengarang besar yang dianggap
Gorki-nya Cina. Di sana tugas saya terutama menyampaikan pidato
menteri PDK. Jadi resmi. Saya memakai service pasport. Pulang
dari Tiongkok, saya sudah dituduh komunis. Penerbit-penerbit
bonafit menampik tulisan saya. Sampai saat ini, orang menuduh
begini begitu. Ini sudah berapa puluh tahun lewat. Buktikan dong.
Jangan tuduh saja. Buktikan dimana kekomunisan saya.
Bahkan Anda juga sering dituduh anti agama ?
Itu orang-orang paranoid kan, yang ingin melindungi periuk nasin-
ya saja. Memojok-mojokkan orang. Saya ini memang tidak religius,
cuma saya ini sebelum tidur berkontemplasi mengoreksi diri,
diiringi dengan atur pernafasan. Itu dalam suasana, dalam seman-
gat penyerahan diri. Kalau itu dianggap anti religi, silakan
saja, jangan haruskan saya begini begitu. Saya saja tidak
mengharuskan orang begini begitu.
Ngomong-ngomong apakah Anda tertarik dengan agama ?
Saya ini mengambil materi-materi agama dari banyak tempat, ada
yang dari Islam, Katolik, Budha, Hindu, ya pokoknya yang membuat
diri ini kuat. Tapi ini bukan soal agamanya, agama ini sebagai
suatu keseluruhan. Kalau soal hidup itu sendiri, saya percaya
adanya Tuhan, dan Tuhan itu maha kuasa. Ribuan tahun sebelum
Masehi sekalipun, kemahatahuanNya itu sudah tahu bahwa saya akan
seperti ini.
Box :
Menolak Hadiah Magsasay untuk Pram
Para Manikebuis mengirm surat kepada Yayasan Magsasay. Mereka
mengingatkan tentang peran Pram, yang menindas kebebasan kreatif
pada era 60-an.
Pertentangan lama terkuak kembali. Tampaknya memang belum
terlupakan betul. Sebanyak 26 seniman, kebanyakan penandatangan
Manikebu, merasa tidak sreg dengan hadiah Magsasay yang tahun ini
diberikan kepada Pramudya Ananta Toer. Mereka berpendapat, hadiah
untuk Pram itu tidak tepat, karena pengarang itu menyimpan noda
sejarah : memberangus kebebasan berekspresi di Orde Lama.
Dimotori oleh Taufiq Ismail, pernyataan itu ditandatangani
juga oleh Mochtar Loebis, HB Yassin, dan dikirim ke Yayasan
Magsasay 4 Agustus lalu. Beberapa hari kemudian, yayasan itu
menjawab, bahwa mereka tak akan mengubah keputusan, meskipun
menerima surat "keberatan" itu. Penanda-tangan lainnya adalah :
Ali Hasjmy, Rosihan Anwar, Asrul Sani, Wiratmo Soekito, Rendra,
Yunan Helmy Nasution, Bokor Hutasuhut, D.S Moeljanto, Misbach
Yusa Biran, S.M Ardan, Lukman Ali, Sori Siregar, Leon Agusta,
Syu'bah Asa, Rachmat Djoko Pradopo, Danarto, Abdul Rahman Saleh,
Amak Baljun, Chairul Umam, Ikranegara, Budiman S. Hartoyo, Slamet
Sukirnanto dan Mochtar Pabottingi.
Mereka menulis, "Yayasan Magsasay tidak memahami peranan
Pramudya di masa Demokrasi Terpimpin, yang memberangus kebebasan
kreatif orang-orang yang berbeda pendapat dengannya." Ironisnya,
bila hadiah itu tetap diberikan, Pram akan duduk sejajar dengan
Mochtar Lubis dan HB Yassin, yang juga penerima Hadiah Magsasay.
Padahal, lanjut pernyataan itu, mereka berdua korban dari peng-
ganyangan yang dilakukan Pram ketika jayanya Lekra.
Karena itu, Mochtar Lubis, termasuk budayawan yang paling
keras memprotes. Ia, bahkan, berniat mengembalikan hadiah Magsa-
say yang diterimanya, bila Pram tetap dianugerahi. "Saya akan
jual bebebarapa barang untuk mengangsur pengembalian hadiah itu,"
kata Mochtar Lubis kepada Media Indonesia. Mochtar mengemukakan,
Pram terlibat dalam pembakaran buku karyanya, tetapi sampai
sekarang tidak pernah meminta maaf.
Namun, ada pula beberapa Manikebuis yang menolak ikut pern-
yataan bersama itu. Mereka antara lain Goenawan Mohamad, Arief
Budiman dan Umar Kayam. Goenawan berpendirian tak ingin ikut-
ikutan "mengeroyok" Pram ketika novelis itu dalam kondisi terje-
pit. "Kalau dia dalam kondisi bebas, kita bisa berdebat," katan-
ya. Dan, bagi Umar Kayam, pernyataan bersama itu, sebetulnya
lebih layak diangkat sebagai pertanyaan kepada Yayasan Magsasay.
Umar juga mengingatkan hendaknya pernyataan seperti itu, tidak
membuat posisi penandatangannya sama dengan pemerintah, yang
mengucilkan Pram. (Suara INDEPENDEN)
***