Area Studies: Irian Jaya (r)

From: apakabar@clark.net
Date: Sun Sep 10 1995 - 06:34:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>

Dari Krisna: Irian - Anthropology
__________________________________

Sebenarnya aku enggan memberi komentar artikel dibawah ini. Penulisnya
seorang anthropologist, aku tidak mempunyai latar belakang anthropology.
Yang kupunyai hanyalah pengalaman hidup beberapa tahun bersama
orang-orang yang menjadi obyek artikel ini. Tetapi bila aku tidak memberi
komentar, aku merasa bersalah terhadap orang-orang ini.

> EMPAT MODEL KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DI IRIAN JAYA
>
> Oleh T. Abdurahman, peneliti pada Laboratorium Antropologi FISIP-UI.
>
> ... dihapus ... disimpulkan bahwa orang Irian hidup dalam sejumlah
> komunitas. Masing-masing punya kebudayaan sendiri-sendiri, yang
> berbeda satu dari lainnya. ...

> Dari kajian Tim Universitas Cenderawasih (1991), di Propinsi Irian
> Jaya terdapat kurang lebih 44 suku-bangsa. Masing-masing merupakan
> satu komunitas dengan kebudayaan yang berdiri sendiri. Semua
> suku-bangsa itu terpecah-pecah lagi dalam subsuku-bangsa atau suku.
> Jumlahnya 177 suku.
>
> Seluruh perbedaan itu dapat kita lihat perwujudannya dalam bahasa dan
> sistem-sistem komunikasi, kehidupan ekonomi, teknologi, religiositas,
> ungkapan-ungkapan kesenian, struktur politik, struktur sosial, serta
> sistem kekerabatan yang dipunyai oleh masing-masing masyarakat itu.

Penulis sebenarnya tahu bahwa setiap suku unik, dan ada 177 suku di
Irian.

    
> Walaupun terdapat keanekaragaman kebudayaan, pada titik-titik
> tertentu, terdapat juga ciri-ciri umum yang memperlihatkan sejumlah
> kesamaan kebudayaan mereka.

Aku setuju

> ... dihapus ... . Karena kebudayaan* dan tingkat teknologi
> masyarakat Irian cenderung lebih rendah*, sementara ...

Mudah-mudahan hanya kesalahan struktur kalimat. Setahuku kebudayaan tidak
mempunyai ranking. Kebudayaan Irian tidak lebih rendah dari kebudayaan Barat.

> ................................... dihapus ... . Kondisi alam dan
> teknologi yang rendah hanya memungkinkan mereka melakukan kegiatan
> pertanian secara berpindah-pindah, ...

Paragrap ini separuh benar. Pertanian berpindah dilakukan oleh orang
Irian bukan karena mereka mempunyai teknologi rendah, tetapi karena
pertanian menetap tidak cocok untuk kondisi alam Irian (alasan pertama),
titik. Kalau tanahnya subur, mereka pasti lebih suka menetap. Lihat
sejarah orang-orang yang tinggal di lembah S.Nil, S.Gangga., S.Euphrat
dan S.Tigris, pusat-pusat kebudayaan kuno. Teknologi orang-orang ini pasti
juga masih rendah, tetapi mereka tidak melakukan pertanian berpindah.

Melihat Irian dari udara sering memberi kesimpulan yang keliru tentang
kesuburan tanah Irian. Hampir seluruh daerah di luar perkotaann berwarna
hijau. Tetapi ini tidak berarti tanah Irian subur. Di daerah hutan tropis
hujan, "biomass" tidak berada di dalam tanah, tetapi hampir seluruhnya
berada di atas tanah, di dalam tanaman. Topsoil sangat tipis. Dengan
membakar pohon-pohon, bahan organik ditambahkan ke dalam tanah. Ini yang
memungkinkan pertanian di Irian. Tetapi pertanian hanya memberikan hasil
yang layak selama 3-5 tahun karena tidak ada "input" organik tambahan.

    
> Negatifnya, dengan bertahan atas pola hidup nomaden ini, sistem
> pertanian mereka tidak memungkinkan untuk menghasilkan surplus
> makanan. ... benar

> ... Akibatnya, tingkat instabilitas kehidupan mereka sangat
> tinggi, anggota masyarakatnya gampang meninggal, atau memecahkan diri
> untuk mencari peluang hidup di tempat lain. Poin terakhir ini lebih
> sering terjadi akibat konflik yang disebabkan oleh kesukaran mereka
> memenuhi kebutuhan-kebutuhan primer.

Nalar kalimat di atas, ma'af. ngawur. Tidak ada hubungan
"gampang meninggal" dengan kehidupan nomaden. Mereka sebenarnya tidak
memerlukan surplus makanan dari pertanian. Hasil pertanian habis, mereka
pergi mencari makanan ke hutan setelah menanami ladangnya. Makanan di
hutan habis, mereka kembali ke kampung pada saat mana tanaman pertanian
sudah siap di panen, bila tidak dimakan babi hutan atau terlalu banyak
hujan. Dua "bila" terakhir ini yang sering menyebabkan mereka kekurangan
makanan jangka pendek, "musim lapar", istilah mereka.

"Konflik" yang berlanjut ke perang suku biasanya disebabkan oleh masalah
babi (bukan kebutuhan primer hayati) dan wanita (bukan juga kebutuhan
primer hayati, dalam arti makanan).

Penulis dalam paragrap2 dibawah ini terjebak dalam generalisasi:
menghitamputihkan "pelangi" keanekaragaman budaya suku-suku di Irian
(177 menurut dia sendiri). Nampaknya dia mengutip sebuah penelitian
anthropogis dari satu suku bangsa di Irian, dan menggunakannya sebagai
gambaran seluruh suku Irian. Tidak disebutkan secara spesifik nama suku
bangsa itu, tetapi deskripsinya cocok untuk beberapa suku bangsa di pantai
utara.

Memang benar ada persamaan umum antara suku-suku bangsa di Irian, tetapi
tidak banyak. Misalnya suku Muyu di kab. Merauke mempunyai banyak
persamaan dalam mentalitas dengan suku Ekari (kerja keras, hemat, sangat
materialistik) di kab. Paniai, tetapi suku Muyu hanya mempunyai sedikit
persamaan dengan suku Asmat atau Marin di kabupaten yang sama, Merauke.
Bahkan dalam satu kecamatan, suku-suku bangsa ini sering sangat berbeda.
Lihat saja perbedaan fisik suku Yali yang pendek dan kekar dengan suku
Dani yang tinggi semampai di lembah Baliem. Contoh lain adalah perbedaan
aggresivitas suku Sawi dan Asmat di kec. Pantai Kasuari.Keanekaragaman
fisik, budaya, dan bahasa ini yang membuat aku sering terpukau. Teori yang
agak "masuk" ialah teori "island biogeoraphy isolation" dari MacArthur
untuk ... burung!
    
> Dalam kehidupan nomaden maupun semi nomaden ini, ikatan-ikatan yang
> berdasarkan keturunan atau genealogi menjadi sangat penting. Karena
> tempat tinggal mereka tidak stabil, maka tempat tinggal sebagai acuan
> bagi identifikasi diri dalam interaksi dengan sesama menjadi tidak
> relevan lagi. Yang terpenting dalam kehidupan seperti ini adalah
> keluarga batih, yang menjadi pusat dari hampir segala kegiatan sosial,
> ekonomi, dan keagamaan.
>
> Dengan demikian, batas-batas keanggotaan dalam klen jadi kabur dalam
> kehidupan sehari-hari mereka. Ciri-ciri sistem kekerabatan mereka yang
> patrilineal menjadi kabur oleh ciri-ciri bilateral, dengan hubungan
> erat di antara saudara sekandung dan pentingnya tingkat-tingkat umur
> di antara sesama saudara sekandung. sebab, dalam beberapa hal, saudara
> yang lebih tua harus melindungi saudaranya yang lebih muda dan ini
> membantu mempengaruhi terwujudnya corak bilateral tersebut.
>
> Hubungan yang sarat dengan muatan emosi antara anggota-anggota
> kelompok tersebut telah menghasilkan solidaritas tolong-menolong yang
> tinggi di antara sesama.

Sama sekali salah! Solidaritas antara sesama/individual biasanya sangat
rendah untuk kebanyakan suku peramu/pemburu, tetapi lumayan baik untuk
suku petani.

> Karena itu, solidaritas tadi menghasilkan
> suatu sikap membedakan antara orang sendiri dengan orang luar. Dalam
> kehidupan sehari-hari di antara orang-orang yang sama berlangsung
> dalam frekuensi yang tinggi dan sarat dengan muatan emosi. Akibatnya,
> di antara mereka harus terpikirkan untuk saling bertenggangrasa.
> Perwujudan sifat ini dapat kita lihat dengan berlakunya asas timbal
> balik dan saling memberi. Apa yang mereka berikan dapat berupa benda,
> jasa, uang, dan barang. Bila ada salah satu pihak lupa melakukan hal
> tersebut, pihak lain akan mengingatkannya. Bahkan lebih jauh dapat
> menuntutnya* melakukan hal itu.

Kata "menuntut" tidak cocok dengan konsep saling menolong atau memberi,
tetapi kata ini cocok untuk menjelasakan hubungan materialistik antara
individu.
 
> Benda-benda yang punya posisi penting, atau lebih jauh dapat
> dimanfaatkan dan dinikmati, dalam kehidupan keseharian mereka
> ditekankan pada pemilikan pribadi oleh yang berhak dan ditekankan
> sebagai milik komunal oleh kerabat yang merasa berhak atas benda
> tersebut. Tanah yang merupakan milik klen dikuasakan kepada kepala
> klen untuk mengaturnya, terutama tanah-tanah yang memang dari dulunya
> atau secara tradisional telah dikerjakan dan dihutankan kembali selama
> berpuluh-puluh generasi.
>
> Jadi, jika kita lihat lebih jauh, pada masyarakat Irian Jaya
> sebenarnya, secara tradisional, tidak ada hak milik perseorangan atas
> tanah. Dengan demikian, jika ada sebidang tanah dibeli oleh pemerintah
> atau perorangan atau badan hukum lainnya, maka yang berhak menjual
> tanah-tanah tersebut sebenarnya adalah kepala klen itu; karena ia
> punya kekuasaan untuk mengatur penggunaan tanah.
>
> Sedangkan dalam hal jual-beli tanah, kepala klen seorang diri tidak
> punya kekuasaan yang sah untuk mengesahkan penjualan tanah tersebut.
> Ia harus melibatkan seluruh warga klen dan mendapat persetujuan mereka
> secara aklamasi. Ini memang dimungkinkan karena setiap orang saling
> mengenal, dan satu sama lain saling menghormati hak-hak tiap individu.
> Pengatasnamaan warga klen tanpa sepengetahuan yang bersangkutan dapat
> dianggap melanggar hak dan kehormatan individu yang bersangkutan. Ini
> dapat menimbulkan masalah serius.
>
> Hal-hal mendasar inilah yang kurang diketahui oleh para pemilik modal,
> yang berniat memiliki lahan di Irian Jaya.

Tetapi para pemilik modal akan terkejut sekali bila mencoba membeli tanah
dari suku-suku di Jayawijaya atau Asmat. Kebanyakan kepala suku atau
kepala perang yang karismatik Jayawijaya berada di tahanan di Surabaya
sejak puluhan tahun yang lalu. Suku Asmat tidak mempunyai kepala suku
lagi, yang ada kepala desa yang ditunjuk oleh camat setempat.

> ... dihapus .... Apa yang patut kita perhatikan adalah bahwa pada
> penerapan kebijakan terakhir ini, mutlak diperlukan pengetahuan yang
> luas mengenai kondisi sosial-budaya masyarakat yang bersangkutan.

Apakah yang yang dimaksud "pengetahuan" pada paragrap sebelumnya?

> Jauhi superioritas
> Kebijakan pembangunan yang berasal dari bawah, yang melibatkan peran
> serta penduduk setempat, memang sebaiknya diperhatikan pada kondisi
> kini. Dalam menerapkan kebijakan ini, yang kita perlukan adalah adanya
> program-program yang bersifat longgar, dalam arti masih memungkinkan
> alternatif-alternatif yang lebih sesuai dengan kondisi masyarakat
> setempat.
>
> Selain itu, beberapa hal yang patut menjadi perhatian dalam
> pelaksanaan pembangunan di propinsi ini antara lain bahwa pembangunan
> harus berkaitan dengan peningkatan sumber daya manusia, seiring dengan
> peningkatan kesehatan dan mutu gizi penduduk. Segala kebijakan yang
> berasal dari atas juga harus mengakomodasi berbagai aspirasi penduduk
> setempat, selain secara intensif melibatkan mereka dalam segala hal.
> Sebaiknya, sebelum suatu proyek dijalankan/diterapkan di daerah ini,
> perlu dilakukan studi pendahuluan yang baik yang berkaitan dengan
> kebudayaan penduduk setempat.
>
> Tidak kalah pentingnya adalah perlu dihilangkannya sifat superioritas
> pada setiap pendatang (etnosentris) yang akan membangun propinsi ini,
> terutama bila berhadapan dengan penduduk setempat. Dengan demikian,
> kesan kurang baik bagi para pendatang akan hilang dari benak mereka --
> Saudara-saudara kita sebangsa nun jauh di pelosok Irian Jaya.

Usulan-usulan yang "indah", tetapi aku tidak begitu yakin usulan ini bisa
diterapkan.

Krisna