IN: PIPA - Aksi Menggugat Harmoko D

From: apakabar@clark.net
Date: Fri Sep 15 1995 - 18:05:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Subject: IN: PIPA - Aksi Menggugat Harmoko Datangi DPR

AKSI MENGGUGAT HARMOKO DATANGI DPR

 Khotbah di masjid juga menyebut kasus Al Fatihah

Jakarta, 15 September (PIPA)

        Usaha menyumbat gugatan terhadap Harmoko bocor di sana-sini.
Biarpun Kejaksaan Agung menyatakan pelecehan Al Fatihah oleh Harmoko itu
tak terbukti, demonstrasi masih terjadi. Bahkan, ada ceramah Jumat yang
mengangkat kasus ini sebagai tema.

        Yang terakhir adalah demonstrasi di Gedung DPR Jakarta hari ini,
Jumat 15 September. Demo-demo sebelumnya tak cukup mendapat liputan pers
ber-SIUPP. Misalnya, aksi di Yogyakarta sehari sebelumnya, yang menurut
Dewan Mahasiswa Pemuda Yoyga mencapai sekitar 2000 peserta.

        Memang, beberapa kali Departemen Penerangan meminta agar kasus
ini tidak dimuat. Bahkan, Menteri Penerangan Harmoko, yang kali ini
didemo, meminta pers tidak menuliskan masalah yang juga mencuat dalam
dengar pendapatnya di DPR hari Selasa sebelumnya. Dalam aksi hari ini
beberapa peserta bergurau, "Yang tidak memuat tak usah ikut."

        Aksi mulai pukul 10 pagi. Sekitar 70 orang memakai ikat kepala
bertuliskan Majelis Penyelamat Kedaulatan Rakyat (MPKR). Sisanya, ada
yang mengenakan sorban putih maupun hitam. Kebanyakan ulama itu berasal
Cianjur dan Tanjung Priok.

        MPKR selama ini memang aktif menggulirkan protes terhadap Harmoko
yang dituding memplesetkan Al Fatihah. Spanduk MPKR terbentang dalam
demo-demo semacam sebelumnya, dan beberapa poster yang sama terlihat
kembali. Ustad Sahlun al Afandi, mubaligh dari Tanjung Priok yang membaca
doa dalam demonstrasi di Kejaksaan Agung sepuluh hari lalu, juga
terlihat. Selain dia, nampak pula Kyai Haji Mukarta dari Perguruan Islam
Diponegoro yang memakai sorban, kemeja panjang, dan pantalon putih-putih.

        "Kami menghadap DPR karena Kejaksaan Agung telah mempetieskan
kasus ini, mendahului pengadilan, " ujar salah seorang demonstran.
Sebelumnya, Kejaksaan Agung memang telah menyiarkan pernyataan pers
melalui faksimili, bahwa mereka tidak menemukan unsur kesengajaan pada
Harmoko saat membaca Al Fatihah yang cepat-cepat dan tergagap itu.

Bukan Delik Aduan

        Dari empat fraksi DPR, yang paling tanggap menghadapi demonstrasi
ini adalah PDI. Anggota Fraksi PDI Hanjoyo Putro bahkan turut berpidato
di tengah demonstran. Menurut dia, kasus ini bukan delik aduan. Karena
itu, tanpa ada pengaduan dari masyarakat pun, pemerintah wajib
memprosesnya.

        Begitu juga, satu jam menjelang waktu sholat Jumat, delegasi juga
diterima oleh Wakil Ketua DPR/MPR dari PDI, Surjadi. Ia ditemani empat
anggota fraksi dari partai Banteng itu, antara lain, BN Marbun, Sabam
Sirait, dan Sukowaluyo. Dalam pertemuan itu, Ahmad Yani, wakil dari MPKR,
kembali memprotes standar ganda pemerintah dalam hukum , dengan
membandingkan Harmoko dan Permadi.

        Lantaran waktu Jumatan tinggal sebentar lagi, Surjadi tidak
berpanjang lebar. Ia berjanji akan membawa masalah tersebut ke sidang
komisi.

        Setusai sholat Jumat, delegasi berhasil bertemu dengan Fraksi
ABRI, antara lain diwakili oleh Laksamana Hadimulyo dan Marahu Hutapuluh.
Dua fraksi lain, PPP dan Golkar, tak buka suara tentang Harmoko, yang
Ketua Umum partai beringin itu. Meskipun menerima para pendemo, menurut
salah seorang anggota delegasi Nur Susiawan Fraksi ABRI berulang kali
menekankan bahwa mereka masih mempercayai Majelis Ulama Indonesia (MUI).

        Sikap MUI sendiri sudah jelas: organisasi Islam yang didukung
pemerintah itu -- bahkan Haji Ahmad Harmoko juga menjadi anggota Dewan
Penasihat di sana -- menyatakan memaafkan kekhilafan Harmoko.

        Tidak berarti protes di kalangan Islam reda. Masalah ini pun
sampai ke masjid-masjid. Di Majid Raya Pondok Indah, seorang khatib
sengaja mengambil judul khotbah Al Fatihah pada Jumat ini.

        Sang khatib mencontohkan betapa pentingnya Al Fatihah. Dia
menyitir buku ulama Jawa Timur, Bey Arifin, "Samudera Al Fatihah", bahwa
demikian luasnya makna dan kemanfaatan Al Fatihah bagi umat Islam.

        Jangankan melewati satu ayat, katanya, salah mengucapkan satu
huruf pun artinya bisa melenceng jauh dan menyesatkan. Misalkan orang
mengucapkan ''iyya....'' menjadi 'iya'' itu artinya mengubah arti
''Allah'' menjadi ''Matahari'' yang jauh sekali berbeda. Maka, kata sang
khatib,''Ucapkan Al Fatihah dalam proporsi yang wajar dan patut. Jangan
sekali kali melecehkan Al Fatihah, dengan sengaja atau tidak. Karena,
Allah telah berfirman: ''Sesungguhnya Kami telah menurunkan Alquran dan
Kami pulalah yang akan menjaganya.''

              Selain di Jakarta, di Bandung juga terjadi demonstrasi yang
serupa hari ini. *** (Ch/Y)