IN: RPK - Peran Soekarno: Debat Soe

From: apakabar@clark.net
Date: Sat Sep 30 1995 - 17:00:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Subject: IN: RPK - Peran Soekarno: Debat Soegiarso, Manai & Buku Putih

   [LINK] (Republika - Sabtu, 30 September 1995)
   
         PERANAN SOEKARNO: PERDEBATAN SOEGIARSO, MANAI, DAN BUKU PUTIH
                                       
  EEP SAEFULLOH FATAH
  
   Staf Litbang Redaksi Republika
   Dosen dan Peneliti di FISIP UI
   
   Di dalam negeri sendiri, telah beberapa kali kontroversi di seputar
   peristiwa G-30-S/PKI muncul sebagai bahan perdebatan publik. Namun,
   perdebatan telah makin menajam dan terlokalisasi pada sorotan soal
   tingkat keterlibatan Soekarno dalam geger September itu.
   
   Ada dua perdebatan besar yang terjadi dalam delapan tahun terakhir.
   Pertama, perdebatan yang terus berlanjut hingga akhir tahun 1980-an di
   sekitar penerbitan buku Soegiarso Soerojo, Siapa Menabur Angin akan
   Menuai Badai. Kedua, kontroversi yang meramaikan terbitnya dua buku:
   buku Manai Sophiaan, Kehormatan Bagi yang Berhak, dan Buku Putih yang
   dikeluarkan Sekretariat Negara, beberapa waktu lalu.
   
   Pandangan Soegiarso tentang G-30-S/PKI tertulis di halaman 391
   bukunya: "Kudeta itu dilakukan PKI dengan dukungan dari luar dan dari
   dalam negeri, di samping dukungan diam-diam dari Kepala Negara yang
   kebetulan juga seorang Marxis konsekuen sejak muda" (hal. 391).
   
   Untuk mendukung pandangannya, Soegiarso menunjukkan argumen untuk
   mendukung teori berperannya PKI, adanya pelbagai dukungan terhadap PKI
   dan keterlibatan Soekarno. Dasar argumentasi Soegiarso kebanyakan
   didasarkan pada bukti-bukti yang tersertakan dalam keputusan-keputusan
   MPRS soal pidato Nawaksara Soekarno dan pelengkapnya maupun pada
   sejumlah indikasi yang ditemui Soegiarso dalam praktek Demokrasi
   Terpimpin.
   
   Lebih jauh Soegiarso bahkan sampai pada kesimpulan: "Maka menurut
   penulis, segalanya memang sudah diatur rapi, bertahun-tahun
   sebelumnya, berdasarkan suatu skenario tertentu. Siapa sutradaranya,
   menurut nalarku ya Pemimpin Besar Revolusi itu sendiri" (hal. 392).
   
   Soegiarso menguatkan tesisnya ini dengan menunjukkan betapa Soekarno
   tidak bersikap tegas menghadapi pemberontakan PKI 1948, memberi angin
   bagi pembesaran PKI sehingga berhasil menjadi salah satu partai di
   antara empat besar dalam Pemilu 1955, membangun Demokrasi Terpimpin
   yang memberi peluang kepada PKI untuk berkembang melalui konsep
   "kabinet berkaki empat", selalu memihak dan melindungi PKI dalam
   Demokrasi Terpimpin. Peranan Soekarno dalam G-30-S/PKI, menurut
   Soegiarso, adalah puncaknya.
   
   Buku Manai Sophiaan mengajukan versi yang bertentangan dengan versi
   Soegiarso. Manai secara gamblang menuturkan-ulang versi Soekarno
   sendiri tentang G-30-S/PKI. Bahwa peristiwa berdarah itu terjadi
   karena tiga faktor: (1) keblingernya pemimpin PKI; (2) lihainya
   kekuatan Barat atau kekuatan Nekolim (Neo Kolonialisme dan
   Imperialisme); dan (3) adanya "oknum yang tidak benar".
   
   Menurut Manai, para pemimpin PKI menjalankan gerakan itu tanpa
   persetujuan dari bawah. Mereka terjebak oleh isu kudeta Dewan
   Jenderal. Berbeda dengan versi resmi selama ini -- yang menganggap PKI
   sendirilah yang merekayasa isu Dewan Jenderal itu -- Manai mencurigai
   intelijen Barat sebagai perekayasa isu.
   
   Para pemimpin PKI kemudian keblinger karena khawatir dengan
   kemungkinan kudeta yang akan dijalankan oleh para jenderal Angkatan
   Darat. Maka Biro Khusus PKI pun mendahuluinya dengan Gerakan 30
   September. Karena kekhawatiran itu pula -- menurut Manai -- PKI
   kemudian menjadikan para jenderal AD sebagai sasaran utama dan pertama
   yang harus mereka bersihkan.
   
   Lebih lanjut Manai juga menyebut soal kedekatan Amerika dengan pihak
   AD (A.H. Nasution adalah nama yang disebut Manai sebagai jenderal AD
   yang dekat dengan Amerika itu). Pihak-pihak yang dekat dengan Amerika
   inilah yang disebut Soekarno (dan juga Manai) sebagai "oknum yang
   tidak benar".
   
   Dengan memaparkan kedekatan Amerika-AD ini, Manai sepertinya ingin
   menunjukkan bahwa Amerika memang memiliki peran dalam pemanasan suhu
   politik saat itu. Para pemimpin PKI kemudian terpancing untuk
   mempercepat sebuah gerakan untuk menyelematkan kepentingan PKI di
   tengah suhu politik yang makin panas. Sementara Soekarno -- dalam
   pandangan Manai -- tidak terlibat dalam pergolakan yang terjadi
   sebagai akibat memanasnya hubungan PKI dengan Angkatan Darat itu.
   Soekarno tidak mengetahui, apalagi menjadi dalang, gerakan yang
   dilakukan para pemimpin PKI yang keblinger itu. Soekarno -- simpul
   Manai -- tak terlibat G-30-S/PKI.
   
   Jika Soegiarso dan Manai sampai pada kesimpulan-kesimpulan yang tegas
   dan eksplisit, Buku Putih menghindari penyimpulan semacam itu.
   
   Posisi Buku Putih Berbeda dengan buku Manai dan buku Soergiarso yang
   memposisikan diri secara tegas (menunjukkan dengan terang
   ketidakterlibatan dan keterlibatan Soekarno dalam G-30-S/PKI), Buku
   Putih berdiri dalam posisi yang lebih "tersamar".
   
   Dari Buku Putih tidak akan kita temui tuduhan tegas soal keterlibatan
   Soekarno dalam peristiwa G-30-S/PKI. Bab VII buku ini -- dengan judul
   "Sikap Presiden Soekarno terhadap Gerakan 30 September/Partai Komunis
   Indonesia" -- hanya menunjukkan fakta-fakta sejarah tentang ucapan dan
   tindakan Soekarno di seputar peristiwa itu.
   
   Dalam konteks itu Ada tiga alinea penting dalam Bab ini.
   Yakni:"Kenyataan yang terlihat dengan jelas adalah bahwa, baik
   pimpinan PKI maupun jajaran Biro Khusus PKI memanipulasikan secara
   cerdik untuk kepentingan PKI dan gerakan komunisme internasional
   seluruh peluang yang terbuka oleh kebijaksanaan politik Presiden
   Soekarno yang terpusat pada konsepsi Nasakom" (hal. 141).
   
   "Pada periode epilog G-30-S/PKI, banyak sikap/tindakan Presiden
   Soekarno yang bernada membela atau menguntungkan G-30-S/PKI. Sikap dan
   tindakan Presiden Soekarno tersebut, bahkan identik dengan saran-saran
   D.N. Aidit yang disampaikan melalui suratnya kepada Presiden Soekarno,
   setelah D.N. Aidit melarikan diri dan bersembunyi di Jawa Tengah"
   (hal. 147).
   
   "Apa yang dilakukan oleh Presiden Soekarno setelah gagalnya G-30-S/PKI
   adalah mengarah kepada menyelamatkan organisasi PKI dan paham
   komunisme sebagaimana diinginkan oleh D.N. Aidit" (hal. 150).
   
   Dalam mengembangkan ketiga alinea penting itu, Buku Putih menyikapi
   keterkaitan Soekarno dengan G-30-S/PKI dalam beberapa sikap
   berikutPertama, G-30-S/PKI dinilai oleh Buku Putih sebagai klimaks
   dari manuver PKI untuk mengarahkan jalannya perpolitikan Demokrasi
   Terpimpin menuju "kemenangan PKI dan gerakan komunisme internasional".
   Dalam konteks ini, Soekarno tidak dinilai (secara eksplisit) sebagai
   aktor yang aktif dalam manuver itu. Soekarno hanya dieksplisitkan
   sebagai seorang aktor politik yang pasif. Soekarno hanya memberi
   peluang kepada PKI untuk memenuhi ambisi politiknya itu melalui
   konsepsi Nasakom. PKI lah yang dengan cerdik memanfaatkan konsepsi
   Soekarno itu untuk tujuan dan ambisi politiknya.
   
   Inilah yang membedakan Buku Putih dengan buku Manai dan Soegiarso.
   Jika Manai sama sekali membersihkan nama Soekarno, Soegiarso
   sebaliknya menempatkan Soekarno sebagai dalang, Buku Putih berhenti
   pada "kesimpulan yang aman".
   
   Kedua, Buku Putih hanya memberi informasi mentah tentang sikap
   Soekarno di seputar peristiwa G-30-S/PKI. Buku Putih tidak menuding
   Soekarno, melainkan hanya mengajukan sejumlah indikasi tegas yang
   menunjukkan betapa Soekarno bersikap sangat lunak terhadap pelaku
   G-30-S/PKI. Soekarno -- yang hanya menganggap peristiwa besar itu
   sebagai "kejadian biasa dalam revolusi" -- dinilai kompromistis
   terhadap para pelaku kudeta yang gagal itu.
   
   Ketiga, Buku Putih menampilkan -- sambil menyayangkan -- tindakan
   Soekarno yang membela PKI dan faham komunis dalam epilog peristiwa
   G-30-S/PKI. Buku Putih merepresentasikan sikap "pendukung Orde Baru"
   yang menyayangkan ketidakmauan Soekarno membumihanguskan PKI beserta
   kekuatan-kekuatan di seputarnya. Sebaliknya, Soekarno justru
   menunjukkan pembelaan yang tegas terhadap kekuatan komunis setelah kup
   PKI yang gagal itu.
   
   Dalam kerangka itu, Buku Putih menyajikan sejumlah fakta yang
   menunjukkan sikap dan tindakan Soekarno yang lunak terhadap PKI bahkan
   cenderung menyelamatkan partai komunis dan faham komunismenya itu.
   (Lihat Tabel).

[garbled]
   
Tabel:Pernyataan Sikap dan Tindakan Soekarno yang Lunak terhadap PKI dan Cender
ung Menyelamatkan PKI dan Faham Komunis(Versi Buku Putih)----------------------
--------------------------------------------------Pernyataan Sikap
------------------------------------------------------------------------

1. Pidato kepada KAMI, 12 Desember 19652. Pidato 13 Desember 19653.
Pidato 18 Desember 19654. Pidato HUT Dwikora, 21 Desember 19655. Pidato
di depan
Delegasi GMKI, 24 Desember 1965-----------------------------------------------

-------------------------Tindakan----------------------------------------------

--------------------------1. Tidak menindak Men/Pangau Omar Dhani
sebaliknya mengizinkan Omar Dhani menginap di Istana Bogor dan memberi
penugasan ke luar negeri antara 19-10 s.d. 20-12-19652. Tidak mengambil
tindakan hukum terhadap pimpinan pelaksanaan G-30-S/PKI, Brigjen Soepardjo

3. Tidak menindak Aidit ba hkan memberi tanggapan positif terhadap surat
Aidit dari persembunyiannya di Jawa Tengah

4. Mengizinkan Njoto (anggota Politbiro CC PKI) menyampaikan sikap PKI
terhadap masalah G-30-S-PKI dalam Sidang Paripurna Kabinet Dwikora (6-10-6

5). Bahwa G-30-S/PKI adalah gerakan intern AD dan PKI mendukung
pembersihan di dalam Angkatan Darat5. Soekarno yang berjanji akan
memberikan political soluti on terhadap masalah G-30-S/PKI malah membentuk
Kabinet 100 Menteri yang di dalamnya terekrut orang-orang yang jelas pro
PKI.

6. membubarkan KAMI pada 25 Februari 19667. Tatkala Sidang Umum IV MPRS
memberi peluang kepada Soekarno untuk memberikan pengertian kepada ra kyat
tentang G-30- S/PKI, Soekarno justru menunjukkan keengganan dan kealpaan u
ntuk memenuhi kewajiban-kewajiban konstitusionalnya; dan
pertanggungjawaban Soe karno melalui pidato Nawaksara tidak cukup
memberikan pertanggungjawaban atas t erjadinya G-30-S/PKI bahkan tidak
menyinggung peranan PKI dalam gerakan tersebu t. Pada hakikatnya Buku
Putih memang tidak membuat kesimpulan eksplisit tentang
peranan Soekarno dalam G-30- S/PKI.

------------------------------------------------------------------------

   Ada beberapa konsekuensi dari posisi Buku Putih seperti ini.
   
   Buku Putih membutuhkan "pembaca yang cerdas" yang mampu membuat
   kesimpulan sendiri. Adalah wajar jika ada kekecewaan pada pembaca awam
   yang "menanti kepastian" tentang "cerita lengkap" episode sejarah yang
   masih gelap itu.
   
   Buku Putih memberi peluang bagi upaya eksplorasi dan rekonstruksi
   sejarah lebih lanjut. Sebagai paparan deskriptif dan kronologis Buku
   Putih memberikan data-data sejarah yang lumayan kaya. Hal ini
   potensial untuk menjadikan Buku Putih sebagai bahan dasar penelahaan
   lebih lanjut.
   
   Buku Putih pun seolah-olah "tidak selesai". Kesan ini terutama akan
   ditangkap oleh mereka yang "membutuhkan kepastian" tentang peran dan
   posisi Soekarno dalam G-30-S/PKI yang sejauh ini masih simpang siur.
   
   Di satu sisi Buku Putih dengan segenap cirinya, barangkali, merupakan
   "kearifan" dalam membaca sejarah. Namun, di sisi lain, ketiadaan
   ketegasan kesimpulan dalam Buku Putih justru menjadi pertanda bahwa
   siapa pun boleh urun rembuk untuk makin membuat sisi gelap sejarah
   politik kita menjadi makin terang.
   
   Sekalipun "sejarah dibuat oleh para pemenang," tetap saja menjadi
   kewajiban kita untuk membuat sisi-sisi gelap sejarah politik kita
   menjadi semakin terang. Peristiwa G-30-S/PKI adalah episode politik
   yang tampaknya masih membutuhkan sentuhan studi sejarah yang lebih
   dalam dan dingin di masa datang.
   
   Lebih dari segalanya, hanya waktu yang tampaknya akan dapat berbicara
   lebih banyak. Wallahu a'lam bish-shawab.