IN: KMP - Pendapatan per Kapita War

From: apakabar@clark.net
Date: Sat Oct 07 1995 - 12:33:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Subject: IN: KMP - Pendapatan per Kapita Warga Jkt Adalah ...

   (Kompas - Sabtu, 7 Oktober 1995)
   
Pendapatan per Kapita Warga DKI Jakarta 3.019 Dollar AS
   
   Jakarta, Kompas
   
   Pendapatan per kapita warga Jakarta kini mencapai 3.019 dollar AS
   (sekitar Rp 6,8 juta) atau 3,3 kali dari pendapatan per kapita
   nasional yang kini 917 dollar AS (sekitar Rp 2 juta). Kenaikan
   pendapatan per kapita penduduk Jakarta yang mengacu pada tahun dasar
   1994 ini, sempat membuat Gubernur DKI Jakarta Surjadi Soedirdja
   terkejut.
   
   Kepada wartawan di Balaikota, Jumat (6/10), Gubernur Surjadi Soedirdja
   mengatakan, peningkatan angka pendapatan per kapita Jakarta ini
   dinilai luar biasa, walaupun diakui hal itu belum mencerminkan
   pemerataan pendapatan warga metropolitan Jakarta.
   
   Mengutip angka yang disodorkan Kantor Statistik DKI Jakarta, Surjadi
   Soedirdja menyebutkan dalam acuan tahun dasar 1983, pendapatan per
   kapita Jakarta sekitar 1.900 dollar AS atau Rp 4,2 juta. Sedangkan
   pendapatan per kapita nasional pada tahun dasar yang sama sekitar 750
   dollar AS, atau Rp 1,6 juta.
   
   Sementara itu Kepala Bidang Statistik Kependudukan Kantor Statistik
   DKI Jakarta Abdul Manaf MA memberi penjelasan tambahan, kalau dulu
   orang jajan pasar, makan tempe dan tahu sudah cukup, sekarang orang
   memilih tempat-tempat makan seperti Kentucky Fried Chicken dan
   sejenisnya yang bertebaran di Jakarta. Demikian pula kehadiran
   bank-bank swasta semakin banyak.
   
  SEJAHTERA
  
   Namun demikian, Gubernur Surjadi mengakui, peningkatan drastis angka
   pendapatan per kapita Jakarta ini belumlah menggambarkan pemerataan
   pendapatan. Sebab masih ada warga Jakarta yang papa dan nestapa.
   "Mereka tinggal di gubuk-gubuk liar di sisi rel kereta api dan
   bantaran kali," kata Surjadi.
   
   Dalam kaitan itu gubernur mengatakan tidak dapat membiarkan warga
   tetap tinggal di gubuk-gubuk liar tersebut. Salah satu tugas Pemda DKI
   Jakarta adalah menyejahterakan warga kota dan kehidupannya. Itu
   sebabnya warga yang tinggal di tempat-tempat yang kurang manusiawi,
   harus dipindahkan ke permukiman yang lebih layak huni. "Masak kita
   tega membiarkan mereka tinggal di gubuk-gubuk seperti itu ?" katanya.
   
   Namun upaya Pemda DKI dan jajarannya acapkali ditafsirkan sebagai
   penggusuran. "Kami punya itikad baik, yaitu menyejahterakan warga.
   Salah satu caranya adalah dengan membangun rumah susun sederhana,"
   jelas Surjadi.
   
  MONOPOLI KEBENARAN
   
   Pada bagian lain Surjadi Soedirdja yang pada 6 Oktober kemarin tepat
   tiga tahun menjabat Gubernur DKI Jakarta menyatakan, saat ini masih
   ada kelompok yang mengklaim diri sebagai pemegang monopoli kebenaran,
   yang kerjanya hanya mencari-cari kesalahan pemerintah.
   
   "Apa yang dikerjakan pemerintah selalu salah. Pemerintah mau bikin
   reklamasi, salah. Pemerintah bikin subway, juga salah. Yang ngomong
   itu cuma cuap-cuap. Sedangkan kami, Pemda DKI harus berbuat agar
   Jakarta bisa berkembang dan maju," katanya. Untuk itu ia mengemukakan
   kepada jajarannya agar tetap tegar dan menyakini bahwa niat membangun
   Jakarta sebagai kota yang sejajar dengan kota-kota lain di dunia,
   sudah betul.
   
   Menurut Surjadi, ia tidak antikritik. Tapi dia tidak suka pada kritik
   yang tidak sehat dan asal bunyi, tidak obyektif, apalagi tidak
   didukung fakta dan data. "Sejak awal saya jadi gubernur, saya katakan
   kritik yang dilontarkan sepahit apa pun, jika itu berdasarkan fakta
   dan data yang akurat, akan saya terima dengan lapang dada. Karena
   bagaimanapun itu untuk perbaikan," tandas Surjadi Soedirdja.
   
   (ksp)