IN/ET: RPK - Kepulangan Pejuang Int

From: apakabar@access.digex.net
Date: Mon Nov 13 1995 - 16:27:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@access.digex.net>
Subject: IN/ET: RPK - Kepulangan Pejuang Integrasi Timtim

   Republika Online [LINK] [ISMAP] Sabtu, 11 Nopember 1995
   
  PEJUANG INTEGRASI TIMTIM DI LN PRESIDEN MINTA MENLU URUS KEPULANGAN MEREKA
                                       
   
   JAKARTA -- Presiden Soeharto telah meminta Menteri Luar Negeri Ali
   Alatas untuk mengurus kepulangan sejumlah pejuang integrasi Timor
   Timur (Timtim) yang berada di luar negeri. Mereka adalah tokoh-tokoh
   perlawanan Viqueque 1959 yang diasingkan pemerintah Timor Portugal ke
   Angola, Mozambik, dan Portugal.
   
   Tercatat 68 orang Timtim menjalani pengasingan sejak peristiwa
   Viqueque, ketika ratusan orang pro-integrasi mengangkat sumpah mati
   secara adat menentang penjajahan Portugal. Separo dari mereka yang
   diasingkan itu meninggal jauh dari Tanah Air. Sebagian yang tersisa,
   kini, berharap dapat pulang.
   
   Tokoh integrasi Timtim, Jose Manuel Duarte, mengungkapkan tiga tokoh
   pejuang dipastikan bakal kembali ke Tanah Air pada penghujung tahun
   ini. Mereka yang kembali atas upaya Departemen Luar Negeri, melalui
   Duta Besar Keliling Lopez Dacruz, adalah Armindo Amaral, Evariusto
   Dacosta, dan Venansio Dacosta Soares.
   
   "Saya melihat surat Mensesneg kepada Menlu. Isinya pesan Presiden agar
   Menlu mengurus kepulangan semua pejuang integrasi yang masih di luar
   negeri," ujar Duarte kepada Republika. Dalam catatannya delapan orang
   pejuang masih berada di Portugal, dua di Mozambik, dan dua lagi di
   Australia.
   
   Tentang tokoh-tokoh di pengasingan itu, Menteri Pertahanan dan
   Keamanan Edi Sudradjat berjanji untuk terus mencari mereka. "Mereka
   itu veteran, mereka pejuang. Kita ingin tahu di mana mereka berada,
   apakah mereka masih hidup," katanya kepada wartawan, kemarin, seusai
   penganugerahan penghargaan veteran RI kepada 13 tokoh perlawanan
   Viqueque 1959.
   
   Edi tak menepis kemungkinan pihaknya akan membentuk tim untuk melacak
   keberadaan para pejuang Timtim di luar negeri tersebut. "Tim semacam
   itu nanti bisa kita buat," katanya. Pemerintah Indonesia, tambahnya,
   ingin para pejuang itu bisa hidup layak.
   
   Perlawanan Viqueque 1959 tak lepas dari pergerakan serupa di Dili,
   Aileu, Ermera, Manatutu, Same, dan sejumlah daerah lain. Pergerakan
   ini dilhami oleh berakhirnya Perang Dunia II, Kemerdekaan Indonesia,
   dan Konferensi Asia Afrika di Bandung.
   
   Rencana perlawanan dicanangkan digelar pada 31 Desember 1959, saat
   pemerintah Portugal sibuk mempersiapkan perayaan tahun baru.
   Sebelumnya, tokoh-tokoh pejuang menjalani upacara adat sumpah
   mati/sumpah darah.
   
   Namun rencana itu tercium pemerintah Timor Portugal. Terjadi
   penangkapan-penangkapan. Perlawanan pun dipercepat, dimulai pada 7
   Juni 1959, dengan diawali perebutan senjata dari gudang senjata di
   Kabupaten Viqueque sebanyak 20 pucuk senjata jenis Croparen. Para
   pejuang ini menggunakan atribut Merah Putih di dada mereka.
   
   Perlawanan rakyat segera ditumpas penjajah Portugal. Di Viqueque
   sedikitnya 500 orang dibunuh secara sadis. Di Dili sekitar 200 orang
   ditahan.
   
   Namun semua itu tak memutus tekad mereka untuk berintegrasi.
   Tokoh-tokoh yang selamat kemudian bergabung dalam Apodeti, yang
   kemudian turut menandatangani Deklarasi Balibo 30 Nopember 1975 --
   sebuah deklarasi pro-integrasi.
   
   Kemarin tiga belas tokoh perlawanan Viqueque 1959 mendapat tanda
   penghargaan veteran RI dari Menhankam. Mereka dinilai berjasa
   memperjuangkan integrasi Timtim ke wilayah Indonesia.
   
   Mereka yang memperoleh penghargaan itu adalah Jose Manuel Duarte (61),
   Salem M. Sagran (67), Germando das Doras Alves da Silva (57),
   Dominggos da Concei Pereira (68), Nicodemus dos Reis Amaral (70),
   Joaquin Fereira (62), Lourenco Rodrigues Pereira (64), Dominggos do
   Reis Amaral (62), Alexander de Jesus (67), Usman bin Manduli Sangaji
   (60), Saleh bin Ahmad Bassawan (60), Jose Sarmento (53), dan Vernando
   Pinto (meninggal di pengasingan).
   
   Edi membantah bahwa penghargaan diberikan atas pertimbangan politik.
   "Kita tak memikirkan itu. Kita hanya ingin memberikan penghargaan
   kepada yang patut dihargai sebagai pejuang," katanya menegaskan.
   
   Para penerima penghargaan kemarin mengungkap rasa senang mereka. "Kami
   merasa mendapat kehormatan," ujar Germando das Doras Alves da Silva.
   
   Suara senada dilontarkan Salem Musalam Sagran. "Terima kasih saya
   untuk Menhankam," kata tokoh yang menjalani pengasingan selama empat
   tahun ini. rys [ISMAP]