IN: GATRA - Yang Terpilih dari Lemb

From: apakabar@access.digex.net
Date: Thu Nov 23 1995 - 07:58:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@access.digex.net>
Subject: IN: GATRA - Yang Terpilih dari Lembah Tidar

Sumber : Majalah Berita Mingguan GATRA
Edisi : 25 November 1995 ( No.2/ II )
Rubrik : LAPORAN UTAMA

Yang Terpilih dari Lembah Tidar

Sejumlah lulusan AMN 1970-an mulai memegang jabatan kunci di
ABRI. Mereka berbekal pendidikan S-1 dan S-2. Siapa saja mereka?

DUA pekan lalu, pecah berita, Kolonel Prabowo Subianto bakal
memangku jabatan Komandan Kopassus per awal Desember nanti. Kabar
itu secara bisik-bisik sebenarnya sudah beredar sejak triwulan
kedua tahun ini. Dengan begitu, bisa dipastikan tiga melati di
pundak menantu Presiden Soeharto ini bakal berubah menjadi
bintang satu. Soalnya, job yang diembannya dijatahkan untuk
mereka yang berpangkat brigadir jenderal.

Promosi atas diri Prabowo ini karena Brigjen Subagyo Hadi
Siswoyo, Komandan Kopassus, bakal menjadi Pangdam IV/Diponegoro.
Sebelumnya, 1 November yang lalu, Soesilo Bambang Yudhoyono,
lulusan Akademi Militer (Akmil) 1973, menjadi orang pertama di
angkatannya mendapat bintang satu.

Naiknya Subagyo (Akmil 1970), Prabowo (Akmil 1974), dan Bambang
Yudhoyono (Akmil 1973) jelas menjadikan peta di jajaran perwira
tinggi ABRI bakal berubah lebih semarak. Mereka tampaknya akan
menyusul seniornya dari angkatan 1968. Maka angkatan 1968 sampai
1974 itu, oleh seorang perwira tinggi ABRI, disebut sebagai satu
lapisan.

Di lapisan ini, bintangnya adalah Mayjen Wiranto, kini Pangdam
Jaya. Tampaknya muka-muka baru hasil godokan di Lembah Tidar,
Magelang, era 1968-1974 ini, akan makin dominan. Apalagi para
perwira tinggi angkatan 1970-an memiliki banyak keistimewaan.
Mereka mulai masuk Akabri pada 1966 dan sesudahnya, saat awal
Orde Baru. Ketika itu popularitas ABRI di mata rakyat menduduki
posisi paling puncak. Banyak di antara para taruna Akabri saat
itu berasal dari aktivis pemuda yang anti-PKI. Banyak pula mereka
berasal dari apa yang disebut golongan menengah kota, dari
keluarga yang terdidik. Maka kini tak sedikit di antara mereka
yang menyandang gelar S-1 dan S-2.

Berikut sejumlah di antara perwira ABRI angkatan 1968-1974 yang
sudah memasuki jajaran perwira tinggi dan yang potensial naik ke
sana. Karier mereka bisa dibilang lempang. Kalau sedikit
tersendat, biasanya terjadi ketika mereka berada di posisi mayor
hingga kolonel. Ketika itu mereka butuh waktu lima hingga delapan
tahun untuk bisa naik pangkat. Dan itu tampaknya terjadi pada
1980-an.

Mayjen TNI Wiranto, 48 Tahun

SEJAK November 1994, nama Mayjen Wiranto mulai populer di
lingkungan warga DKI Jakarta. Soalnya, sejak saat itu Wiranto
tampil ke muka, sebagai Panglima Kodam Jaya. Seperti
pendahulunya, Mayjen Hendro Priyono, Wiranto pun sering berbaur
dengan masyarakat. Gebrakannya "menyekolahkan" para preman
mendapat sambutan hangat. Demikian halnya ketika ia menurunkan
2.000 personelnya di jalanan, menyukseskan Gerakan Disiplin
Nasional yang dicanangkan Presiden Soeharto Mei lalu. Gerakan itu
dia teruskan ketika Sabtu dua pekan silam, dia menggelar 15.000
kader gerakan disiplin nasional.

Modal Wiranto untuk tampil ke muka memang terhitung cukup besar.
Pria kelahiran Yogyakarta, 4 April 1947, itu sejak memasuki dunia
pendidikan militer, terhitung menonjol. Dialah lulusan AMN 1968
-- seangkatan dengan Brigjen Sutyoso dan Brigjen Agum Gumelar --
yang pertama kali menjadi Pangdam. Dia mulai meniti karier
sebagai Komandan Peleton pada 1969. Seterusnya karier ayah tiga
orang anak ini mengalir lancar. Seperti lulusan AMN yang lain,
jabatan komandan dari tingkat peleton hingga batalyon dia lewati
dengan baik. Hanya saja, saat masih letkol, Wiranto sempat
tertatih. Lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum ini butuh waktu tujuh
tahun untuk meraih pangkat kolonel (1982-1989).

Bintang terang mengikuti Wiranto ketika terpilih menjadi ajudan
Presiden Soeharto 1989-1993. Seperti seniornya, para ajudan
Presiden, Wiranto mendapatkan posisi strategis untuk menapaki
karier lebih tinggi, yakni sebagai Kasdam Jaya, Maret 1993. Dua
puluh satu bulan kemudian, jabatan Pangdam Jaya pun diembannya.
Pada saat itu pula, Wiranto berhasil menyandang gelar S-1 dari
Universitas Terbuka.

Maka di antara para Pangdam, Wiranto memang masuk jajaran yang
terbaik. Misalnya saja, saat mengikuti pendidikan Lemhannas 1995,
Wiranto ada di urutan paling atas. Dengan modal itu, lulusan AMN
1968 ini punya kans besar untuk terus naik. Dua posisi yang
mungkin diisinya, yakni di pos Pangkostrad atau Wakil Kepala Staf
Angkatan Darat. Kalau kabar itu benar, arah karier Wiranto bakal
bisa ditebak. Tentu saja jika tak ada aral melintang.

Brigjen Kivlan Zein, 49 Tahun

BINTANG terang lain dari Akmil angkatan 1971 adalah Kivlan Zein.
Putra Minangkabau ini lulus SMA tahun 1965. Sampai pada usia 49
tahun kini, Kivlan telah memangku 20 jabatan yang berbeda-beda.
Sebagian besar di posisi komando tempur. Dimulai dari Komandan
Peleton Akabri pada 1971, Danton Ki-B Batalyon 753 tahun 1973,
hingga Danyon. Tahun 1990, Kivlan berhasil menyelesaikan
pendidikan di Seskoad. Lima tahun kemudian, 1995, posisi
Kasdivif-1 Kostrad disandangnya. Dan saat ini Kivlan sedang
bertugas di Filipina, memimpin Pasukan Konga 17.

Perjalanan karier lulusan Seskoad 1990 ini boleh dibilang
lempang. Bahkan, untuk naik ke bintang satu (brigjen) dari posisi
kolonel, Kivlan yang mantan aktivis KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda
Pelajar Indonesia) ini hanya butuh waktu 18 bulan. Sebelumnya
jalan kariernya sempat tersendat. Ia menjadi mayor pada 1981.
Tapi pangkat itu sempat disandangnya enam tahun, dan pangkat
letkol tujuh tahun. Ia menjadi letkol saat bertugas di Timor
Timur. Ia menjadi kolonel pada 1994.

Brigjen Subagyo Hadi Siswoyo, 49 Tahun

DI jajaran perwira tinggi ABRI angkatan 1970-an, Subagyo
tampaknya paling senior. Dia yang bakal menjadi Pangdam
IV/Diponegoro, dengan dua bintang di bahu. Putra asli Yogyakarta
ini akan menggantikan pos yang ditinggalkan Mayjen Yusuf
Kartanegara.

Tamat dari SMA di Yogyakarta tahun 1966, Subagyo masuk Akmil di
Magelang hingga 1970. Setahun kemudian, jabatan Komandan Peleton
Akmil Darat disandangnya. Seterusnya dari satu jabatan ke jabatan
lain dipegangnya pula. Subagyo sempat mengalami dua kali kenaikan
pangkat istimewa. Pertama, ketika bertugas di Timor Timur, dan
kedua, ketika terlibat dalam pembebasan pesawat Garuda yang
dibajak di Lapangan Terbang Don Muang, Bangkok. Karena itu
pangkat mayor cuma disandang satu tahun, ia naik menjadi letkol.

Tapi masa pahit juga dialaminya. Yakni saat dia ditarik untuk
mengisi pos di kesatuan pengawal presiden. Di posisi ini, Subagyo
ngendon hampir delapan tahun dengan pangkat letkol. Tetapi pada
masa itu pula, pendidikan Seskoad berhasil dia selesaikan, pada
1984. Toh tiket kolonel baru dia dapat empat tahun kemudian, pada
1988. Yakni ketika menjadi Komandan Grup A Paspampres (Pasukan
Pengamanan Presiden).

Tahun 1993, Subagyo duduk sebagai Paban Utama D-2 Dit-D Bais
ABRI. Setahun kemudian, pindah sebagai Kadispamasanad. Dan sejak
Agustus 1994, jabatan prestisius sebagai Komandan Kopassus
diembannya. Saat itu pangkat jenderal bintang satu pun dia
sandang.

Brigjen Ismed Yuzairi, 46 Tahun

KARIER jenderal bintang satu keturunan Minang ini cukup lempang.
Boleh dibilang, tiap tahun, Ismed berganti posisi, meski tak
selalu diikuti dengan kenaikan pangkat. Kebanyakan di lingkungan
pasukan Linud (Lintas Udara), yakni hampir 16 tahun lamanya.
Kariernya dimulai setamat Akmil 1971. Danton-I/C Yon 530 Linud
dia pegang tahun 1972-1974. Saat itu Ismed ikut pula menangani
aksi Peristiwa Malari. Selepas itu posisi Ismed terus bergulir.
Seperti rekan-rekan seangkatannya, di masa 1975-an, Ismed pun
ikut bergabung dalam Operasi Seroja di Timor Timur.

Di lingkungan Linud, posisi puncak yang disandangnya yakni
sebagai Komandan Batalyon Infanteri 305 Brigif-17/Linud tahun
1986. Seterusnya, tahun 1987, ayah satu putra ini mengemban tugas
Komandan Batalyon Infanteri 321/13/Kostrad. Pada saat itu pula
Ismed, yang memiliki tinggi badan 172 cm dan bobot 68 kg,
berhasil merampungkan pendidikannya di Seskoad.

Meskipun begitu, tiket mantan aktivis Kesatuan Aksi Pelajar
Indonesia (KAPI) ini untuk mendapatkan kenaikan pangkat tak juga
diraih dengan cepat. Suami Febrina itu butuh waktu tujuh tahun
untuk menyandang pangkat kolonel. Maka Asisten Operasi Kasdam
V/Brawijaya dia pegang pada 1993. Dua tahun kemudian, ia menjabat
Komandan Korem 173 Dam-VII/Trikora. Belum setahun sebagai Danrem,
Kostrad rupanya membutuhkan tenaga putra kelahiran Sawahlunto
ini. Posisi Panglima Divisi Infanteri I Kostrad, sejak Juni 1995,
disandangnya. Bintang satu pun menempel di bahunya. Posisi itu
sebelumnya dijabat rekan seangkatannya di Akmil, Brigjen Johny
Lumintang.

Brigjen H. Fachrul Razi, 48 Tahun

DARI ujung paling barat Indonesia, angkatan Akmil 1970 yang masuk
di jajaran perwira tinggi adalah H. Fachrul Razi. Pria kelahiran
Banda Aceh ini sejak Februari 1995 duduk sebagai Wakil Asisten
Operasi Kasum ABRI. Sebulan kemudian, bintang satu bertengger di
pundaknya.

Karier ayah tiga anak ini terlihat terang setelah menamatkan
pendidikan di Seskoad, 1984. Saat itu Fachrul sedang menjalani
tugas sebagai Komandan Intel Kodam XII/Tanjungpura. Setahun
kemudian, ia diserahi tugas sebagai Komandan Batalyon Infanteri
641 Dam-VI/Tanjungpura. Saat itu pula pangkat letkol
disandangnya. Enam tahun kemudian, 1991, di pundaknya terpajang
tiga melati (kolonel).

Tahun 1994, Fachrul mendapat kesempatan ikut pendidikan di Sesko
ABRI. Setahun kemudian, suami Ida Farida dan pernah ikut Operasi
Seroja dua kali (1976 dan 1985) ini dipromosikan menyandang
bintang satu.

Kolonel Abdul Rachman Gaffar, 46 Tahun

DI antara lulusan Akmil 1972, Abdul Rachman Gaffar disebut- sebut
termasuk potensial mencapai jenjang perwira tinggi. Jenjang itu
kini memang tinggal selangkah lagi. Soalnya, Danrem-072/Pamungkas
ini sejak April lalu telah menyandang tiga melati (kolonel) di
pundaknya.

Gaffar yang lahir di Pamekasan, Madura, 20 Maret 1949, ini meniti
karier selepas Akmil 1972 dengan pangkat letnan dua. Tiga tahun
kemudian, menjadi letnan satu, dan dalam waktu yang sama pangkat
kapten disandangnya. Karier suami Farida Kusuma, putri tokoh PPP
dan Wakil Ketua DPA, KH Cholil Badawi, ini mandek pada 1983. Saat
itu Abdul Rachman butuh waktu tujuh tahun untuk naik menjadi
letkol, pada 1990. Seterusnya, jalannya terhitung lempang.
Setelah tamat Sesko ABRI 1994, April tahun ini, lulusan Seskoad
1989 itu mendapat promosi kolonel.

Tugas lapangan dijalani pria tinggi-besar ini (180 cm dengan
berat 83 kg) di banyak tempat. Misalnya operasi PGRS/Paraku tahun
1973 dan Operasi Seroja di Timor Timur, 1977. Tapi Abdul Rachman
Gaffar yang juga alumnus Administrasi Negara Universitas Terbuka
ini menganggap tugasnya biasa saja. "Saya ini hanya mengikuti
perintah. Ya seperti ini, habis jadi Komandan HUT RI lalu, kok ya
diangkat jadi Danrem," ujar Gaffar kepada Joko Syahban dari
Gatra. Ditambahkan, penugasan ke luar negeri dijalaninya ke
Malaysia dua kali pada 1993 dan 1994. Dua penugasan lagi ke
Singapura dan Myanmar pada 1994.

Brigjen Soesilo Bambang Yudhoyono, MA, 46 Tahun

SOESILO Bambang Yudhoyono bisa dibilang bintang cemerlang di
jajaran ABRI tahun ini. Setidaknya, di kalangan lulusan Akmil
angkatan 1973, Bambang yang pertama menyandang pangkat bintang
satu. Prestasi ini jelas melampaui rekan seangkatannya. Bahkan
melewati seniornya di angkatan 1972, yang belum seorang pun
mendapatkan promosi sebagai perwira tinggi.

Bintang Bambang makin cemerlang ketika terpilih bertugas di
Bosnia. Menantu Letjen Sarwo Edhie (almarhum) -- Komandan RPKAD
di saat meletusnya G-30-S/PKI yang amat terkenal -- ini memangku
jabatan Kepala Pengamat Militer PBB di Bosnia atau disebut dengan
Chief of Military Observer dari United Nation Peace Forces.
Kelompok ini beranggotakan sejumlah perwira dari Eropa, Asia, dan
Amerika Serikat. "Saya mohon doa restunya saja agar tugas ini
sukses," ujar Bambang. Sejak awal November lalu, ia mulai
bertugas di Bosnia. Pangkatnya menjadi brigjen.

Pria Pacitan yang lahir pada 9 September 1949 ini memang pantas
terpilih. Sepertinya, hal itu didukung pengalamannya bertugas di
luar negeri yang bertumpuk. Mulai dari Amerika sampai Thailand.
Penugasan operasi dalam negerinya juga prestisius, misalnya ikut
Operasi Seroja di Timor Timur tahun 1976 ketika kekuatan politik
di sana memutuskan untuk ikut Indonesia. Waktu itu ia masih
berpangkat letnan satu dengan jabatan Dantonpan Yonif 305. Tahun
1979 dan 1986, ia kembali diterjunkan ke Timor Timur.

Selain berkutat dengan tugas militernya, Bambang sempat pula
menempuh pendidikan di bidang manajemen bisnis. Gelar Master of
Art diperolehnya dari Webster University, Amerika Serikat, pada
1991.

Brigjen Zacky Anwar Makarim, 47 Tahun

BRIGJEN Infanteri Zacky Anwar Makarim memang tak pernah tampil di
media massa. Posisinya sebagai Direktur A Badan Intelijen ABRI
(BIA) memang menghendaki hal itu. Sekalipun sebagai militer,
Zacky telah malang melintang ikut dalam berbagai operasi penting.

Pria kelahiran Jakarta, 14 April 1948, ini meniti kariernya
sebagai Komandan Peleton Taruna 1972. Tiga tahun kemudian,
jabatan Danki Parako diembannya dengan pangkat letnan satu. Saat
itu pula, ia mulai terlibat dalam berbagai operasi. Sebut saja
operasi penanggulangan Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Irian
Jaya, sepanjang tahun 1976, 1979, 1980. Waktu itu ia masih
berpangkat kapten dengan jabatan Paurmintel.

Tahun 1978, Zacky diturunkan pula di Timor Timur. Tugas di
provinsi termuda ini berkali-kali diembannya, pada 1983-1989.
Pada masa ini pula, pangkatnya mulai menanjak dari mayor hingga
letnan kolonel. Sebanyak enam tanda jasa telah pula dia kantongi.

Bintang satu (brigjen) diraih Zacky pada Maret 1995. Ketika ia
menempati posisi Direktur A BIA. Sebelumnya ayah seorang putri
ini sempat duduk sebagai Wakil Komandan Satintel BIA, sejak Juni
1994.

Kolonel Syafrie Syamsudin, 43 Tahun

WAJAH pria tegap dengan tinggi 175 cm ini sangatlah dikenal.
Setidaknya bagi mereka yang suka mengikuti kunjungan Presiden
lewat layar kaca. Berbadan tinggi dan tegap, serta berjas hitam,
orang ini selalu hadir di mana Pak Harto berada. Kala itu,
Syafrie Syamsudin, nama lelaki itu, memang bertugas sebagai
Komandan Grup A Pasukan Pengawal Presiden. Dan berkat pendidikan
terorism in low intensive yang dijalaninya tahun 1986, Syafrie
mampu menguasai suasana kacau saat para demonstran menghadang
Presiden Soeharto di Museum Dresden, Jerman, April lalu.

Tak lama setelah peristiwa tersebut, pria kelahiran Makasar 43
tahun lalu itu diangkat menjadi Komandan Korem 061 Bogor. Posisi
tersebut sudah ditebak orang sebagai batu loncatan menuju bintang
terang bagi lulusan Akabri seangkatan Kolonel Prabowo tersebut.

Jabatan militernya dimulai dengan menjadi Komandan Peleton di
Koppassandha (kini Kopassus) pada 1976. Tahun itu juga dia ikut
Operasi Seroja di Timor Timur. Kesatuannya di Kopassandha
tersebut dijalaninya hampir 10 tahun, sebelum dia menjadi Wakil
Danyon-1 Grup-1 di Kopassus pada 1986. Tugas di kesatuan elite
tersebut dijalani ayah dua anak dari perkawinannya dengan Etty
Sudiati ini hingga menjadi Wakil Asisten Operasi pada 1991.

Pendidikan Suslapa dijalani Syafrie di Amerika pada 1985, dan di
Seskoad tiga tahun kemudian. Berbagai pendidikan khusus, mulai
dari Sar Para, Lat Komando, Jumpmaster, Airborne, Path Finder,
sampai Susintelstrat, dijalaninya baik di dalam maupun di luar
negeri. Di sela kesibukannya, dua tahun lalu, Syafrie Syamsudin
berhasil menyelesaikan masternya di bidang administrasi dan
bisnis (MBA).

Berbagai operasi dijalani Syafrie dengan baik. Operasi Seroja di
Timor Timur pada 1976, setahun kemudian ke Aceh dengan Operasi
Nanggala XXI. Pada 1984, dia kembali ke Timor Timur dengan
Operasi Chandra XV. Tiga tahun kemudian, dia diterjunkan sebagai
Tim Maleo di Irian Jaya. Dan terakhir, dia kembali ke Timor Timur
untuk Satuan Tugas 86, pada 1990. Berbagai tugasnya tersebut
telah membuahkan enam tanda jasa, dan terakhir dia mendapat
Bintang K.E.P Nararya III.

Kenaikan pangkat Syafrie terbilang mulus. Setelah lulus dengan
pangkat letnan dua, tiga tahun kemudian dia menjadi letnan satu.
Dan tiga tahun kemudian, dia menjadi kapten. Tangga menuju letnan
kolonel harus ditempuhnya selama 10 tahun. Tapi setelah itu,
kembali hanya dalam jangka waktu tiga tahun, dia menjadi kolonel.
Tak lama lagi Syafrie mungkin akan segera menyusul Prabowo
mendapatkan bintang satu.

Cuma nama di atas yang sempat dikumpulkan Gatra. Tentu masih
banyak perwira lainnya yang punya potensi menapak ke atas. Sebut
saja Komandan Korem Surabaya Kolonel Syamsul Muarif, Komandan
Korem Jambi Kolonel Muchdi P.R., Komandan Korem Timor Timur
Kolonel Mahidin Simbolon, dan sejumlah perwira lainnya.

Brigjen Slamet Kirbiantoro, 47 Tahun

SLAMET Kirbiantoro menjadi salah seorang lulusan Akmil tahun 1970
yang sudah masuk ke jajaran perwira tinggi. Laki-laki kelahiran
Kutoarjo, Jawa Tengah, 18 Maret 1948, sejak Juni 1995 menduduki
pos sebagai Komandan Satintel Badan Intelijen ABRI (BIA). Jabatan
barunya ini, sebulan kemudian, membawa ia naik pangkat dari
kolonel menjadi brigadir jenderal.

Jabatannya di intelijen membuat sosok Slamet Kirbiantoro kurang
mendapat publikasi media massa. Namanya jarang disebut- sebut.
Apalagi selama karier militernya, ia banyak berkiprah di Kodam
IX/Udayana yang jauh dari pusat. Laki-laki bertinggi badan 166 cm
dan bobot tubuh 56 kg ini, sekitar lima tahun, mendarmabaktikan
dirinya di Kodam IX/Udayana, dimulai ketika ia berpangkat letnan
kolonel dengan jabatan Kasiops Rem Kodam Udayana. Jabatan ini
hanya berlangsung enam bulan saja karena ia harus mengemban tugas
sebagai Kasiops Rem-161/WSI Kodam Udayana.

Selanjutnya, sejak April 1986, ia dipercaya sebagai Komandan
Kodim 1611 Badung Kodam Udayana. Selanjutnya menjadi Wakil
Komandan (Wadan) Rinifdam Udayana (1990), dan kiprahnya di Kodam
Udayana diakhiri pada 1992 sebagai Wadan Rindam Kodam Udayana.
Dalam kurun waktu ini, pangkatnya tak pernah beranjak dari letkol
yang diraihnya sejak 1985, saat ia menjadi Komandan KY-2 Grup 4
Kopassus.

Pangkat bapak dari tiga anak ini mulai menanjak setelah ia
bertugas di Jakarta sebagai Komandan Brigif Linud-3 Kostrad
(1992-1993). Pangkat kolonel diraihnya pada April 1993.
Selanjutnya ia dikirim ke Kodam VI/Tanjungpura untuk menjadi
Komandan Rindam Kodam VI/Tanjungpura. Setelah menjadi Danrem 101
Kodam VI, ia kembali ke Jakarta pada Juni 1995, untuk menempati
posisi Dan Satintel BIA. Jabatan yang membawa bintang satu
bertengger di pundaknya. Slamet hanya butuh waktu dua tahun untuk
meraihnya dari pangkat kolonel.

Brigjen Suaidi Marasabessy, SIP, 48 Tahun

MUKA baru di jajaran perwira tinggi ABRI yang lain adalah Suaidi
Marasabessy. Lulusan Akmil angkatan 1971 ini berasal dari kawasan
Indonesia Timur, Maluku. Prestasinya juga terhitung istimewa.
Dialah perwira yang hingga kini telah memangku 21 jabatan. Bisa
dibilang, hampir tiap tahun Suaidi berganti posisi.

Pria kelahiran Ambon ini meniti karier mulai dari Komandan
Peleton 3/III Yon Denma Mentar, 1972. Selepas itu tiap tahun
Suaidi pindah jabatan. Bahkan pada 1983, ayah dua putra ini
sempat ganti tiga posisi -- semuanya di pusat infanteri. Golongan
kepangkatan dia raih juga dalam jangka relatif pendek. Hanya
saja, saat di posisi letkol, Suaidi butuh waktu tujuh tahun untuk
naik menjadi kolonel pada 1993.

Sejak Juni 1995, Suaidi memangku jabatan Wakil Asisten Operasi
Kasad. Sebulan kemudian, bintang satu mulai bertengger di
pundaknya. Dalam kariernya, lulusan Seskoad 1984 ini juga
menyandang empat tanda jasa, di antaranya Lencana Seroja, Dwija
Sistha, serta Lencana Kesetiaan. Di tengah kesibukannya, tahun
1995 ini, Suaidi sempat pula menyelesaikan S-1 dari Fakultas Ilmu
Sosial dan Politik.
(DWT)/GIS