IN: DATA - Subsidi Titik Prabowo

From: apakabar@access.digex.net
Date: Fri Dec 15 1995 - 13:43:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@access.digex.net>

        JAKARTA (DATA): Kini, Siti Hediyati Prabowo nampaknya tak mau
kalah dengan saudara-saudaranya. Anak keempat Presiden RI ini, semula
kelihatan tak begitu "ngotot" menceburkan diri ke dunia usaha. Bisnisnya,
tak begitu cepat mekar -- setidaknya dibandingka n pertumbuhan usaha
anak-anak Presiden RI yang lain. Dari dulu, ia lebih banyak bermain di
bidang jasa -- itu pun tak terlalu meraksasa.

        Di bidang transportasi, Titik --demikian ia dipanggil-- punya
Datam Group yang antara lain menangani armada angkutan bahan bakar dan
berasnya Bulog. Lalu di jasa keuangan ia punya Bank Industri dan
perusahaan securitas Pentasena Arthasentosa yang juga ha rus bersaing
dengan puluhan securities lain untuk cari klien.

        Tapi belakangan ini, Titik seperti nampak ngebut mengejar
ketinggalan dari saudara-saudaranya yang lain. Setelah berkongsi dengan
adik iparnya Hashim Djojohadikusumo membangun pusat pertokoan Plaza
Senayan, Titik ternyata sedang merintis sebuah mega-proy ek: membangun
industri pulp.

        Melalui PT Adindo Hutani Lestari (AHL), Titik menggarap industri
pulp di Kalimantan Timur dengan investasi Rp 2,01 triliun (hampir senilai
mega proyek pusat petrokimia Chandra Asri tahap I). Sebagian besar (90%)
dari investasi itu, akan dihabiskan untuk pembangunan pabrik bubur kayu
(pulp) dengan kapasitas produksi 300 ribu ton per tahun. Sisanya (10%)
untuk membangun Hutan Tanaman Industri (HTI) seluas 300 ribu hektar yang
akan mensuplai bahan baku pabrik pulp tersebut. Menurut pengakuan salah
seorang d irektur AHL, Benny Luhur, pihaknya sudah membangun 925 hektar
HTI.

        Yang tidak diberitakan oleh surat kabar, Titik Prabowo tak perlu
mendanai proyek HTI itu sendirian. Ia akan banyak menerima subsidi
pemerintah. Sumber BURSA di Departemen Kehutanan mengatakan, untuk
membantu pembangunan HTI itu, Titik akan mendapat pinja man tanpa bunga
(bunga nol%) yang berasal dari Dana Reboisasi sebesar US$ 97,5 juta.
Kecuali itu, pemerintah juga akan menyertakan modalnya sebesar US$ 42
juta. Total dana subsidi yang akan diterima Titik mencapai US$ 139,5 juta
(sekitar Rp 310 miliar leb ih).

        Jadi, untuk proyek HTI yang dianggarkan menghabiskan dana Rp 210
miliar, Titik tak perlu mengeluarkan sepeser pun. Bahkan, masih ada uang
lebih. Belum lagi kalau Titik juga memanfaatkan pinjaman bank untuk proyek
HTI yang dikenal sangat mudah cair. Deng an rekomendasi Departemen
Kehutanan (ini pun sudah siap), Titik tak akan kesulitan untuk mencari
dana bank yang jumlahnya mencapai US$ 97,5 juta (Rp 220 miliar). Semua
uang sisa itu bisa dipakai Titik untuk memulai pembangunan pabrik pulp
yang biasanya ba ru dilakukan lima-enam tahun setelah penanaman HTI.

        Bukan itu saja. Yang paling seru, Titik akan banyak mengeruk
keuntungan awal yang jumlahnya tak diperkirakan banyak orang dari proyek
HTI di Kalimantan Timur ini. Menurut sumber BURSA di Dinas Kehutanan
Kalimantan Timur, lokasi HTI PT Adindo sangat menguntungkan. Ia terletak
di sepanjang Daerah Aliran Sungai Sesayap, Kabupate n Bulungan yang
terkenal penuh dengan pohon-pohon lebat.

        Menurut sumber ini, daerah DAS Sesayap memang pernah ditunjuk
sebagai proyek percontohan HTI yang dikerjakan PT Inhutani I, sepuluh
tahun lalu. Tapi, tahun 1988, Menteri Kehutanan Hasjrul Harahap, yang
terbang di atas helikopter di atas Sesayap menyad ari bahwa kawasan itu
tak boleh untuk proyek HTI. Soalnya, HTI diarahkan untuk merehabilitasi
daerah gundul (daerah hutan rawang yang potensinya di bawah 20 meter kubik
kayu per hektar). Sedangkan kawasan Sesayap adalah kawasan hutan lebat,
yang layak unt uk diusahakan secara komersial dengan tebang pilih.
Mengetahui potensi yang demikian besar, proyek percontohan HTI itu
dihentikan dan Hasrul segera memerintahkan kawasan itu untuk
diinventarisir.

        Setelah diinventarisir, kata sumber ini, potensi rata-rata kawasan
itu mencapai 50 hingga 70 meter kubik kayu per hetar. Karena itu, dengan
proyek HTI seluas 300 ribu hektar, Titik akan mendapat kayu gratis (yang
boleh ditebang habis) setidaknya sebanyak 15 juta kubik. Dengan patokan
harga kayu meranti di Samarinda US$ 100/m3, maka Titik akan mengeruk US$
1,5 miliar (Rp 3,375 triliun) hanya dari hasil persiapan lahan HTI.

        Dengan hasil sebesar itu, haruskah Titik mengeluarkan uang untuk
mega proyeknya?