IN/IRJA: KMP - Penghasil Emas Terbe

From: apakabar@access.digex.net
Date: Tue Dec 26 1995 - 06:22:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@access.digex.net>
Subject: IN/IRJA: KMP - Penghasil Emas Terbesar Asia

   (Kompas - Selasa, 26 Desember 1995)
   
Indonesia Penghasil Emas Terbesar Asia Oleh: Adjat Sudradjat

   
   Melihat kondisi geologinya, banyak ahli percaya bahwa bumi Indonesia
   mengandung emas yang cukup kaya. Produksi emas Indonesia sekarang yang
   mencapai hampir 48 ton per tahun telah menempatkan Indonesia pada
   urutan ke-3 di Asia (sesudah Cina dan Papua Nugini) atau urutan ke-7
   di dunia.
   
   Dengan dimulainya produksi dari cebakan emas yang baru ditemukan
   seperti di Grasberg Irian Jaya, Minahasa, dan Sumbawa, diharapkan
   Indonesia akan segera menjadi penghasil emas terbesar di Asia. Dari 50
   tambang emas terbesar di dunia, Indonesia memiliki dua di antaranya,
   yaitu Grasberg pada urutan ke-4 dan Kelian, Kalimantan pada urutan
   ke-10.
   
   Eksplorasi intensif yang dilakukan di Pegunungan Jayawijaya, Irian
   Jaya, telah menunjukkan pula tanda-tanda kandungan emas setidaknya di
   tiga lokasi. Diharapkan pada akhir abad ke-20 ini, Indonesia akan
   dapat menghasilkan lebih kurang 90 ton emas per tahun. Malahan Michael
   A. Noakes dari PT Kelian Equatorial Mining sangat optimis. "Dalam 10
   tahun yang akan datang, sangat realistik perkiraan bahwa Indonesia
   akan dapat memproduksi emas minimal 100 ton per tahun," ujarnya.
   
  Selalu naik
  
   
   
   Berbeda dengan harga logam-logam lain, harga emas di dunia selalu naik
   dengan konsisten. Logam lain biasanya fluktuatif, malahan bisa anjlok.
   Harga timah, misalnya, tiba-tiba melorot dan menyebabkan banyak
   pertambangan timah ditutup. Indonesia sangat beruntung dalam hal ini,
   karena berhasil meningkatkan efisiensi yang tinggi, sehingga mampu
   menekan biaya produksi timah.
   
   Harga emas dunia naik secara pelan-pelan tetapi pasti. Malahan pada
   tahun 1980, harganya pernah meroket mencapai hampir 600 dollar AS
   untuk setiap troyounce (troz = 31,1 gram). Padahal harga rata-rata
   sebelumnya hanyalah 300 dollar AS.
   
   Pada awal tahun 1970 harga emas berkisar sekitar 150 dollar AS. Harga
   itu merayap naik terus, yaitu pada tahun 1978 menjadi 200 dollar AS,
   tahun 1979 sekitar 300 dollar AS, dan kemudian menaik tajam serta
   mencapai puncaknya pada ta-hun 1980. Sesudah itu harga mengalami
   penurunan dari 600 dollar AS menjadi 380 dollar AS, dan harga sekarang
   berada pada tingkat 400 dollar AS.
   
   Menurut perkiraan analis ekonomi asal Afrika Selatan, pada abad ke-21
   nanti emas dunia akan mengalami kekurangan dan karenanya harga emas
   akan terus naik. Ia mengatakan, "Memasuki abad ke-21 ekspor emas
   Afrika Selatan akan terus menyusut, karena cadangannya sudah habis
   atau biaya eksploitasinya terlalu tinggi karena tambangnya sudah
   terlampau dalam." Padahal Afrika Selatan pada 20 tahun yang lalu
   adalah pemasok 65 persen kebutuhan emas dunia dan sekarang
   bersama-sama Amerika Serikat dan Australia masih memasok 50 persen
   kebutuhan dunia.
   
  Konsumsi di Indonesia
  
   
   
   Kebutuhan emas dalam negeri diperkirakan akan selalu meningkat.
   Konsumsi sekarang berkisar sekitar 120 ton per tahun. Angka ini
   meningkat lebih dari dua kali dibandingkan dengan kebutuhan pada empat
   tahun sebelumnya, atau rata-rata naik 25 persen setiap tahun. "Tahun
   depan kebutuhan emas dalam negeri diperkirakan akan meningkat 21
   persen," kata Leo Hadi Loe dari World Gold Council pada pertengahan
   tahun 1995.
   
   Sebenarnya konsumsi per kapita di Indonesia masih kecil dibandingkan
   dengan negara lain. Indonesia mengkonsumsi rata-rata 0,5 gram emas per
   kapita, sedangkan Malaysia misalkan mengkonsumsi 2 gram per kapita,
   Singapura 7 gram, dan Taiwan 11 gram per kapita.
   
   Emas memang melekat dengan kehidupan manusia. Malahan bangsa Indonesia
   mengenal "mas kawin" untuk mengekspresikan puncak keindahan dalam
   hubungan manusia. Emas juga memperlihatkan status sosial pemiliknya.
   
   Tidak mengherankan konsumsi meningkat setiap tahun. Malahan seorang
   pakar ekonomi mineral dari Colorado School of Mines, Amerika Serikat
   mengatakan, "Hanya logam emas yang akan tetap mempunyai prospek yang
   baik di masa depan, karena emas di samping mempunyai nilai industri
   juga mempunyai nilai magis serta tidak dapat disubstitusi." Melihat
   produksi emas dalam negeri Indonesia yang baru mencapai 48 ton pada
   tahun 1995 ini, sedangkan konsumsi emas mencapai 120 ton per tahun,
   maka sudah dapat dipastikan bahwa Indonesia masih mengimpor emas.
   Mungkin se-kali sebagian kebutuhan itu dipenuhi dari tambang rakyat,
   namun kualitasnya tidak memadai.
   
  Cebakan emas Indonesia
  
   
   
   Kondisi geologi Indonesia sangat memungkinkan untuk pembentukan
   cebakan emas. Malahan Mining Journal Australia menempatkan kondisi
   geologi Indonesia pada urutan ketiga dalam daftar daya tarik untuk
   investasi di bidang pertambangan. Terlebih dengan tuntasnya pemetaan
   geologi sistematik oleh Jawatan Geologi Indonesia baru-baru ini, maka
   setiap jengkal tanah sudah dapat diketahui kondisi geologinya. Dengan
   demikian, pencarian mineral akan lebih efisien karena mempunyai
   landasan eksplorasi yang kuat. Diperkirakan, peringkat daya tarik
   investasi juga akan meningkat.
   
   Dulu emas primer hanya ditemukan di jalur-jalur magmatik yang berumur
   tua. Jalur gunung api yang berumur Tertier dianggap tidak mengandung
   emas. Ternyata sekarang bahwa gunung api tersebut itu mengandung cukup
   kaya emas yang disebut cebakan emas epithermal. Padahal Indonesia amat
   kaya dengan gunung api tua. Itulah sebabnya kondisi geologi Indonesia
   amat prospektif.
   
   Lebih disukai pula gunung api yang tadinya terbentuk di laut dangkal
   atau membentuk pulau kecil. Air laut telah membantu pembentukan
   cebakan emas karena sirkulasinya dalam perut bumi. Seperti masih
   terlihat sekarang, Indonesia kaya dengan jalur-jalur gunung api yang
   membentuk pulau kecil. Itulah sebabnya daya tariknya makin meningkat.
   
   Jalur emas Indonesia merentang dari Aceh sampai Sulawesi Utara, Irian
   Jaya, dan Kalimantan, atau seluruhnya mencapai lebih dari 8.000
   kilometer. Daerah yang sudah diketahui cebakannya terdapat di Aceh,
   Meulaboh, Muara Sipongi, Salida, Gunung Arum, Bengkulu, Lampung,
   Banten, Bogor, Tasikmalaya, Pacitan, Purwanto-ro, Sumbawa, Flores,
   Alor, We-tar, Sulawesi Tengah, Paleleh-Sumalata (Sulut), Minahasa,
   Kepulauan Sangir-Talaud, Ka-putusan (Maluku).
   
   Kemudian Pegunungan Jayawijaya-Irian Jaya seperti Geleide, Gunung
   Bijih (Ertsberg, Grasberg), Sungai Kakan, Pegunungan Cyclop, dan
   sekitar Ja-yapura. Jalur emas Kalimantan mempunyai dua cabang yaitu
   Kalimantan Barat-Kalimantan Timur dan Pegunungan Meratus-Kalimantan
   Timur. Jalur emas ini melalui Kalimantan Tengah.
   
   Para ahli menyebut jalur itu sebagai koridor emas Kalimantan.
   Tempat-tempat yang sudah diketahui pada jalur ini adalah Singkawang,
   Melawi, Karihun-Long Nawan, Schwaner, Masuparia, Kahayan, Mahakam,
   Kutai, Kendilo dan lain-lain.
   
   Emas diproduksi oleh delapan perusahaan, yaitu PT Freeport Indonesia
   (25 ton per tahun), PT Kelian Equatorial Mining (13 ton), PT Prima
   Lirang (2,6 ton), PT Indomuro Kencana (4,8 ton), PT Monterado Mas
   (0,35 ton), PT Ampalit Mas Perdana (0,35 ton), PT Lusang Mining (0,8
   ton), dan PT Aneka Tambang/G. Pongkor (2 ton).
   
   Dalam waktu dekat diharapkan tujuh perusahaan tambang emas lainnya
   segera berproduksi masing-masing dengan kapasitas antara 1 sampai 10
   ton. PT Newmont Minahasa Raya segera akan berproduksi dengan kapasitas
   5 ton dan PT Newmont Nusa Tenggara (Sumbawa) dengan kapasitas 10 ton
   per tahun.
   
   Dengan kemajuan pengetahuan mengenai kondisi geologi dan meningkatnya
   eksplorasi, maka pada penutup abad ke-20 ini diperkirakan Indonesia
   akan memproduksi lebih kurang 100 ton emas. Angka ini merupakan
   ranking pertama produksi emas Asia.
   
   Prospek emas Indonesia amat cerah Di samping daya tarik geologinya,
   biaya eksplorasinya juga cukup kompetitif. Untuk menemukan 1 troyounce
   (31,1 gram) emas diperlukan biaya eksplorasi sebesar 35 dollar AS.
   Bandingkan dengan biaya eksplorasi di Amerika yang mencapai 44 dollar
   AS untuk menemukan 1 troyounce emas. Padahal harga emas di ma na-mana
   sama.
   
   (Dr Ir Adjat Sudradjat MSc, Direktur Jenderal Geologi dan Sumberdaya
   Mineral, Departemen Pertambangan dan Energi)
     _________________________________________________________________