IN: UMMAT - Siapa Merasa Terancam

From: apakabar@access.digex.net
Date: Wed Jan 03 1996 - 14:30:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@access.digex.net>

Date: Wed, 3 Jan 1996 16:56:57 -0600
To: apakabar@clark.net
Subject: UMMAT: Dialog Antar Agama (1)

Teman-teman Yth.,

Saya tayangkan tulisan di bawah ini. Menurut saya isinya
sangat baik, penting dan perlu untuk dibaca + direnungkan oleh
para intelektual Indonesia (dimanapun kita berada).

Wassalam,

Togu Manurung

---

Date: Wed, 3 Jan 1996 15:29:46 -0600 To: Multiple recipients of list <diskusi-sara@mbe.ece.wisc.edu> Subject: UMMAT: Antar Agama (1) X-Comment: Diskusi Masalah SARA Distribution List

Teman-teman peserta diskusi-sara Yth.,

Dalam beberapa "postings" akan saya tayangkan tulisan menarik dari majalah UMMAT. Menurut saya ada banyak hal dalam isi tulisan ini yang bermanfaat untuk menjadi masukan bagi kita dalam melanjutkan berbagai topik diskusi-sara.

Wassalam,

Togu Manurung

P.S. ...

* Kalau ada karakter yang aneh (salah ketik?) dalam isi tulisan ini mohon maklum karena tulisan ini ditayangkan dengan cara "scanning" (seperti photocopy, namun hasil "copy"-nya langsung ditayangkan ke monitor komputer, bukan ke lembaran kertas).

---

SIAPA MERASA TERANCAM UMMAT No 14/thn.1/8 Januari 1196

Dialog antar agama sudah sering diadakan. Tetapi seringkali dikritik karena tak menyentuh persoalan yang riil, terlalu banyak berkutat pada dimensi teologis. Padahal begitu banyak persoalan yang perlu segera diselesaikan dalam hubungan antarumat beragama. Rasa tak aman, curiga, dan terancam, acapakali menjadi pemicu dari ketegangan atau konflik antaragama. Apalagi jika soal itu bercampur dengan isu-isu politik. Bagaimana pemecahannya? UMMAT Edisi Akhir Tahun ini menyajikan refleksi lengkap tentang perkembangan hubungan antaragama di Indonesia. Juga dilengakpi dengan sejumlah kolom pilihan dan petikan hasil dialog akhir tahun yg diselenggarakan Majalah UMMAT dan Yayasan Wakaf Paramadina.

Seorang pengamat asing pernah menyebut Indonesia sebagai "surga" bagi agama-agama. Alasannya, semua agama bisa hidup rukun dan damai di tengah kemajemukan bumi nusantara ini. Indonesia, katanya, menjadi tempat harmonis pertemuan agama-agama besar: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha.

Pengamat itu menunjuk pada kedekatan bangunan mesjid Istiqlal dan Kathedral di Jakarta. Juga candi Borobudur di Jawa Tengah yang terus terawat dan jadi salah satu primadona periwisata.

Meskipun agak menyederhanakan persoalan, ungkapan pengamat itu ada benarnya. Jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Indonesia beruntung. Belum pernah mengalami konflik antaragama yang parah hingga mengoyak sendi-sendi persatuan bangsa.

Ini berbeda dengan yang terjadi di Irlandia, India, Selandia Baru, Sudan, dan lain-lain. Di sana, konflik antaragama telah memicu tindak kekerasan, penganiayaan, peperangan, bahkan bencana yang mengerikan.

Islam kebetulan ditakdirkan sebagai agama yang dipeluk oleh mayoritas penduduk Indonesia. Tetapi agama-agama lain juga dapat tumbuh dan berkembang dengan subur dan punya pengikut di negeri ini. Kebebasan beragama juga dijamin oleh hukum dan konstitusi negara.

Merupakan kenyataan bahwa tiap pemeluk agama di Indonesia mempunyai kecenderungan untuk saling mendakwahkan keyakinan masing-masing. Tetapi masalah akan muncul ketika penyebaran agama itu berhadapan dengan realitas di lapangan. Terutatam bila dorongan kuat untuk menyebarkan agama berbenturan dengan kondisi sosial, politik, ekonomi, budaya, dan bahkan psikologi masyarakat yang jadi sasaran.

Ketegangan akan mencuat bila cara-cara yang digunakan dalam penyebaran agama dinilai kurang wajar bagi agama yang satu terhadap yang lain. Misalnya, dilakukan dengan melecehkan ajaran agama lain secara lisan atau tulisan. Atau memaksa dan membujuk lewat kekuasaan, kekuatan ekonomi, atau politik. Konflik biasanya berawal dari sini.

Selama 50 tahun usia kemerdekaan Republik Indonesia, pemerintah Indonesia terlibat intensif membina kerukunan antaragama. Pemerintah Orde BAru, misalnya, cukup berhasil dalam mengatasi ketegangan antar pemeluk agama yang terjadi di beberapa daerah. Dengan menggabungkan pendekatan musyawarah dan keamanan yang terkendali, pemerintah mengembangkan kebijakan "tertib agama".

Melalui kebijakan ini, pemerintah menjadi pihak yang aktif dalam mewujudkan proyek-proyek kerukunan agama. Antara lain, mensponsori adanya forum atau wadah musyawarah antar beragama. Juga mengeluarkan berbagai peraturan serta kode etik bagi tertibnya penyebaran agama-agama. TApi itu saja ternyata tidak cukup. Diakui atau tidak, masih ada titik titik rawan dalam hubungan antaragama di negara kita. Terbukti sepanjang tahun 1995, di beberapa daerah - antara lain Timor Timur, Purwakarta, Pekalongan, Sumenep - terjadi "letupan-letupan" yang kalau tidak segera diatasi bisa mengancam persatuan nasional. Persoalannya, mengapa kerawanan itu masih sering muncul?

Ternyata masalah hubungan antaragama di Indonesia sangat kompleks. Ia tidak saja menyangkut soal perbedaan teologis. Tapi juga isu-isu sosial politik dari masa ke masa. Hubungan dan akses dengan kekuasaan tidak jarang ditafsirkan sebagai konspirasi negara terhadap suatau agama. Dan dipandang sebagai ancaman oleh agama lain, atau sebaliknya. Hingga keluarlah sindrom mayoritas-minoritas.

Itulah sebabnya di penghujung tahun ini majalah UMMAT bekerja sama dengan Yayasan Wakaf Paramadina menyelenggarakan dialog akhir tahun bertema "Hubungan Antar Agama di Indonesia". Dialog berlangsung di Hotel Wisata Internasional, Jakarta, Senin, 18 Desember.

Melalui forum dialog yang terbuka jujur, dan ikhlas ini, kami bermaksud mempertemukan perbedaan-perbedaan yang muncul. Selanjutnya, secara bersama-sama mengembangkan apa yang pernah disebut Kuntowijoyo sebagai "komitmen kepada pluralisme positif". Yakni, terwujudnya kerja sama antar umat beragama dengan tetap berpegang teguh pada ajaran agama masing-masing.

Tetapi, pada saat yang sama, berusaha menyumbangkan kekayaan intelektual, etika, dan moralitasnya secara positif bagi masa depan Indonesia yang kita cita-citakan bersama.

Langkah awal ini ternyata mendapat sambutan yang menggembirakan. Terbukti, sejumlah tokoh yang kami undang hadir dan berbicara secara blak-blakan, kritis, dan tajam mengenai berbagai masalah di sekitar hubungan antaragama.

Di antara merek ayang hadir dalam acara dialog adalah Dr Nurcholis Madjid, Dr Komaruddin Hidayat, Utomo Dananjaya, Budhy Munawar RAchman, Elza Peldi Taher, M. Wahyuni Nafis, Amanda Suharnoko (Paramadina), Dr Franz Magnis-Suseno, Dr Mudji Sutrisno (STF Driyakarya), Mayjen Syarwan Hamid (Mabes ABRI), Husein Umar (DDII), Ismartono (KWI), Dr Victor Tanja (Pendeta Protestan, Putu Setia, Ida Ayu Utai Pidada (Tokoh Hindu), Christianto Wibisono (PDBI), Dr Jimly Ashshiddiqy (ICMI), Dr Kautsar Azhari Noer (IAIN), William P. Tuchrello (Library of Congres, AS), di samping beberapa undangan lain dan awak UMMAT sendiri.

Dialog yang dipandu anggota Dewan Redaksi UMAT Haidar Bagir ini kami sajikan petikannya untuk anda.

(bersambung)

>From manurung@calshp.cals.wisc.edu Wed Jan 3 17:57:25 1996

(2)

Meredam Rasa Saling Terancam

Meskipun tampak rukun, ternyata ada rasa saling terancam di antara umat beragama. Para tokoh agama bicara blak-blakan tentang ancaman dari segi teologi hingga politik dalam forum Dialog Akhir Tahun "Hubungan Antar Agama di Indonesia" yang diselenggarakan Majalah UMMAT dan Yayasan Wakaf paradmadina. Berikut petikannya.

Haidar Bagir: Sebelum dimulai, saya persilakan Cak Nur selaku ketua Yayasan Wakaf Paramadina untuk mengantarkan persoalan yang menjadi tema pokok diskusi. Silakan Cak Nur.

Nurcholis Madjid: Dalam Islam jelas ada pengakuan yang positif mengenai adanya keanekaragaman. yaitu, suatu sikap yang dimulai denganmengakui secara realistis bahwa kita memang heterogen, majemuk, plural. Lebih jauh dari itu, ditegaskan bahwa keadaan bermacam-macam itu baik, positif, dan sangat berguna.

kalau suatu dialog antarkelompok terjadi, hasilnya biasanya lebih baik. namun, dialog merupakan persoalan sangat besar yang menyangkut masalah pengubahan persepsi yamt itu kepada agamanya sendiri. Dengan sendirinya, ada kontroversi-kontroversi. kenyataannya, ada perintah Tuhan kepada Nabi agar berupaya mencari titk temu (kalimatun sawa') dengan semua pengikut Kitab Suci. Dan itu mengasumsikan adanya titik temu. Sebab, kalau tidak ada asumsi itu, berarti perintah tersebut batal. Titik temu atau common platform itu bisa bermacam-macam. Bisa teologis, seperti Ketuhanan Yang Maha Esa atau diperluas kepada hal-hal yang lain.

Sehubungan dengan persoalan dialog ini, banyak sekali hal-hal yang sudah dipraktikkan di zaman Islam klasik tidak pernah dielaborasi. kenyataannya, sampai sekarang ini negara-negara Islam di Timur Tengah masih plural sekali. Misalnya, Mesir, 20% warganya Kristen Koptik, Syria juga begitu. Apalagi Libanon. Di semenanjung Arabia, hanya SAudi yang katanya 100% Islam. Itupun sebenarnya merupakan akibat dari politik Umar, khalifah kedua yang ingin membuat home base yang aman. Di Mekah dan Madinah tidak boleh ada agama lain. Sehingga, orang-orang Nasrani di persilakan pindah ke Irak. ketika itu mereka protes, "Bagaimana, sih, Umar, Nabi kamus aja tidak seperti ini. Kok, kamu malah memindahkan kami keluar."

Maka Umar pun meminta maaf, "Kamiterpaksa melakukan ini karena kami ingin Islam mempunyai home base yang aman. Karena program kami adalah ekspansi-ekspansi militer dan politik. Tapi jangan khawatir, Anda di Irak akan mendapat kompensasi yang lebih dari pada cukup. Ukuran tanahnya lebih besar dan kualitasnya jauh lebih subur." Maka orang Nasrani pun pindah ke Irak. Mungkin Tariq Aziz (Wakil PM Irak - Red) itu keturunan orang-orang Nasrani ini. Di semua daerah Timur Tengah itu sampai sekarang masih ada gereja, kecuali di Arabia.

Contoh hubungan antaragama yang baik sekali pernah terjadi di Indonesia. Yakni, waktu Masyumi dulu. Tokoh-tokoh Masyumi itu kan akrab dengan kaum Sosialis, Kristen, juga Katolik. Itu sampai ke soal-soal pribadi. Pak Roem, Pak Natsir, dan lain-lain, adalah contoh yang baik. Artinya, secara historis, kalau ngomong soal dialog, bukanlah sesuatu yang kosong. Itu pernah terjadi di sini.

(bersambung)

>From manurung@calshp.cals.wisc.edu Wed Jan 3 17:57:45 1996

(3)

Haidar Bagir: Sekarang marilah kita masuki diskusi ini dengan bicara secara lebih terbuka. Tidak ada yang perlu ditutup-tutupi. Cak Nur sudah memberikan contoh kejadian di masa lampau yang menunjukkan lapang dadanya kaum muslimin.

Tapi ada satu hal yang ada pada masa lampau tetapi kini tak ada lagi. pada masa kejayaannya, kaum muslimin tak merasakan kehadiran agama lain sebagai ancaman. Nah, ketika zaman berubah dan Barat dominan, mulailah timbul perasaan *insecurity* atau perasaan tidak aman di kalangan umat Islam. Persoalannya, apakah perasaan tidak aman di kalangan umat Islam. Persoalannya, apakah perasaan adanya ancaman agama lain itu beralasan atau tidak? kenyataannya, sampai beberapa tahun yang lalu, umat Islam memang merasa terpinggirkan di berbagai bidang: pendidikan, politik, ekonomi, dan sebagainya. Dari masa penjajahan hingga awal kemerdekaan hal itu berlangsung. Hingga, katakanlah, masa pra-ICMI. Sebelumnya, banyak orang Islam menganggap bahwa jabatan politik penting di negeri ini dikuasai orang non-Muslim yang gencar melakukan dakwah agamanya. Sementara dari segi ekonomi, yang jaya bukan kalangan Islam juga. Mungkin di sini bisa dipahami munculnya perasaan tidak aman itu.

Ida Ayu Utami Pidada: Pertama, saya justru khawatir soal acara ini. Sudah 50 tahun merdeka, kok masih dialog terus? menurut saya, dialog kian menempatkan masalah ini hanya jadi objek pembicaraan belaka. Kian menciptakan jarak. Bukankah kini saatnya untuk implementasi dan operasionalisasi? Yang kedua, kalau dialog terus jangan-jangan akan terulang lagi cara-cara yang sudah ditempuh "para pengasih umat beragama" sebelumnya. Mereka mendekatinya secara formalistis, berbal, dan administratif. Setelah itu, persoalan dianggap selesai. padahal di bawah tidak tahu apa yang terjadi.

Bumi ini kian panas rasanya karena habis dikapling-kapling. Tapi toh langit masih milik kita bersama. Jadi marilah kita buka pintu dan jendela, lalu melangkah. Dari sini kita bisa mulai bicara toleransi. Kita sudah punya referensinya, yaitu sila pertama Pancasila. Kitakan pewaris bumi Indonesia ini. kalau kita terus membuka-buka kitab-kitab intelektual, akan semakin menguras pikiran. Kita tinggal mengoperasionalkan sila pertama itu. Kalau sudah, akan terwujud persaudaraan umat manusia. Dari situ timbul kebhinekaan dalam persatuan. Tinggal kita mengoperasikan sila-sila lainnya.

Victor Tanja: Dialog menurut saya tetap perlu, karena itu suatu proses yang tak pernah berakhir. Soalnya pluralitas itu selalu ada, bahkan dalam satu keluarga. orang yang tak bisa dialog itu sama saja dengan tak pernah hidup dalam keluarga.

Saya setuju bahwa yang diperlukan adalah dialog antarumat beragama, bukan dialog antaragama. Bukan antarakidah, tapi akhlak manusianya. Dialog itu bukan hanya ngomong, tetapi juga kerja. Suatu never ending process. Hidup ini ada dalam suatu proses dan tak ada finalitas.

Franz Magnis Suseno: Saya setuju pengantar dari Cak Nur dan bung Haidar. Kita semua ingin hidup sesuai dengan ajaran agama kita. Umat Islam itu harus tahu bahwa agamanya punya toleransi. Berabad-abad lamanya para penguasa Islam merasa wajib melindungi semua kawila, termasuk dari agama lain. kristen juga dalam ajarannya begitu. Itu perlu, agar dalam keseharian yang bicara hati, bukan emosi.

Saya setuju dengan analisis yang mengatakan bahwa banyak masalah antarumat beragama timbul karena perasaan *insecurity*. jadi bukan karena soal-soal teologis dan prinsipil. Di kalangan Katolik saya bilang bahwa minoritas di negara ini akan mantap apabila mayoritas juga merasa mantap. Islam masuk sebagai pendukung Orde Baru itu hal yang penting. Negara ini akan stabul bila sebagian masyarakat merasa ikut memiliki sistem. Sistem akan bisa stabil kalau ada konsensus besar antara semua pihak yang moderat.

Ada dua hal penting. pertama, saling berkenalan antarumat untuk menghindari prasangka. kedua, adanya suasana politis yang bisa menimbulkan ketakutan. Umat islam harus tahu kalau Kristen juga punya kompleks minoritas yang kuat. Jadi, sangat perlu kalau mayoritas menyadari hal ini, dan memberi perasaan aman pada minoritas. Maka kehidupan demokratis pun akan lancar. Penting diketahui kalau Kristen sering sedikit takut akan retorika teman-teman Islam. Contohnya, pada tahun 1950-an. Waktu itu Partai katolik dekat dengan Masyumi. Mengapa? Karena ada keyakinan bersama yang mempersatukan. Jadi, meskipun Masyumi mempromosikan negara Islam secara konstitusional, katolik tidak takut, sekalipun dikatakan bahwa minoritas dalam negara Islam itu mempunyai hak penuh.

Kenyataannya - meski tak pernah diucapkan harus - toh presiden kita dari Islam. menteri-menteri juga kebanyakan Islam, meski ada beberapa posisi di pegang Kristen.

Kamu selalu berpikir bagaimana yang satu dan yang lain bisa serasi. kalau pun ada masalah, bisa berdialog. Sehingga, tidak berkembang ke arah kerawanan.

(bersambung)

>From manurung@calshp.cals.wisc.edu Wed Jan 3 17:57:45 1996

(3)

Haidar Bagir: Sekarang marilah kita masuki diskusi ini dengan bicara secara lebih terbuka. Tidak ada yang perlu ditutup-tutupi. Cak Nur sudah memberikan contoh kejadian di masa lampau yang menunjukkan lapang dadanya kaum muslimin.

Tapi ada satu hal yang ada pada masa lampau tetapi kini tak ada lagi. pada masa kejayaannya, kaum muslimin tak merasakan kehadiran agama lain sebagai ancaman. Nah, ketika zaman berubah dan Barat dominan, mulailah timbul perasaan *insecurity* atau perasaan tidak aman di kalangan umat Islam. Persoalannya, apakah perasaan tidak aman di kalangan umat Islam. Persoalannya, apakah perasaan adanya ancaman agama lain itu beralasan atau tidak? kenyataannya, sampai beberapa tahun yang lalu, umat Islam memang merasa terpinggirkan di berbagai bidang: pendidikan, politik, ekonomi, dan sebagainya. Dari masa penjajahan hingga awal kemerdekaan hal itu berlangsung. Hingga, katakanlah, masa pra-ICMI. Sebelumnya, banyak orang Islam menganggap bahwa jabatan politik penting di negeri ini dikuasai orang non-Muslim yang gencar melakukan dakwah agamanya. Sementara dari segi ekonomi, yang jaya bukan kalangan Islam juga. Mungkin di sini bisa dipahami munculnya perasaan tidak aman itu.

Ida Ayu Utami Pidada: Pertama, saya justru khawatir soal acara ini. Sudah 50 tahun merdeka, kok masih dialog terus? menurut saya, dialog kian menempatkan masalah ini hanya jadi objek pembicaraan belaka. Kian menciptakan jarak. Bukankah kini saatnya untuk implementasi dan operasionalisasi? Yang kedua, kalau dialog terus jangan-jangan akan terulang lagi cara-cara yang sudah ditempuh "para pengasih umat beragama" sebelumnya. Mereka mendekatinya secara formalistis, berbal, dan administratif. Setelah itu, persoalan dianggap selesai. padahal di bawah tidak tahu apa yang terjadi.

Bumi ini kian panas rasanya karena habis dikapling-kapling. Tapi toh langit masih milik kita bersama. Jadi marilah kita buka pintu dan jendela, lalu melangkah. Dari sini kita bisa mulai bicara toleransi. Kita sudah punya referensinya, yaitu sila pertama Pancasila. Kitakan pewaris bumi Indonesia ini. kalau kita terus membuka-buka kitab-kitab intelektual, akan semakin menguras pikiran. Kita tinggal mengoperasionalkan sila pertama itu. Kalau sudah, akan terwujud persaudaraan umat manusia. Dari situ timbul kebhinekaan dalam persatuan. Tinggal kita mengoperasikan sila-sila lainnya.

Victor Tanja: Dialog menurut saya tetap perlu, karena itu suatu proses yang tak pernah berakhir. Soalnya pluralitas itu selalu ada, bahkan dalam satu keluarga. orang yang tak bisa dialog itu sama saja dengan tak pernah hidup dalam keluarga.

Saya setuju bahwa yang diperlukan adalah dialog antarumat beragama, bukan dialog antaragama. Bukan antarakidah, tapi akhlak manusianya. Dialog itu bukan hanya ngomong, tetapi juga kerja. Suatu never ending process. Hidup ini ada dalam suatu proses dan tak ada finalitas.

Franz Magnis Suseno: Saya setuju pengantar dari Cak Nur dan bung Haidar. Kita semua ingin hidup sesuai dengan ajaran agama kita. Umat Islam itu harus tahu bahwa agamanya punya toleransi. Berabad-abad lamanya para penguasa Islam merasa wajib melindungi semua kawila, termasuk dari agama lain. kristen juga dalam ajarannya begitu. Itu perlu, agar dalam keseharian yang bicara hati, bukan emosi.

Saya setuju dengan analisis yang mengatakan bahwa banyak masalah antarumat beragama timbul karena perasaan *insecurity*. jadi bukan karena soal-soal teologis dan prinsipil. Di kalangan Katolik saya bilang bahwa minoritas di negara ini akan mantap apabila mayoritas juga merasa mantap. Islam masuk sebagai pendukung Orde Baru itu hal yang penting. Negara ini akan stabul bila sebagian masyarakat merasa ikut memiliki sistem. Sistem akan bisa stabil kalau ada konsensus besar antara semua pihak yang moderat.

Ada dua hal penting. pertama, saling berkenalan antarumat untuk menghindari prasangka. kedua, adanya suasana politis yang bisa menimbulkan ketakutan. Umat islam harus tahu kalau Kristen juga punya kompleks minoritas yang kuat. Jadi, sangat perlu kalau mayoritas menyadari hal ini, dan memberi perasaan aman pada minoritas. Maka kehidupan demokratis pun akan lancar. Penting diketahui kalau Kristen sering sedikit takut akan retorika teman-teman Islam. Contohnya, pada tahun 1950-an. Waktu itu Partai katolik dekat dengan Masyumi. Mengapa? Karena ada keyakinan bersama yang mempersatukan. Jadi, meskipun Masyumi mempromosikan negara Islam secara konstitusional, katolik tidak takut, sekalipun dikatakan bahwa minoritas dalam negara Islam itu mempunyai hak penuh.

Kenyataannya - meski tak pernah diucapkan harus - toh presiden kita dari Islam. menteri-menteri juga kebanyakan Islam, meski ada beberapa posisi di pegang Kristen.

Kamu selalu berpikir bagaimana yang satu dan yang lain bisa serasi. kalau pun ada masalah, bisa berdialog. Sehingga, tidak berkembang ke arah kerawanan.

(bersambung)

>From manurung@calshp.cals.wisc.edu Wed Jan 3 17:58:07 1996

(4)

Syarwan Hamid: Persoalan antarumat beragama memang selalu aktual. Soal ini memang soal rawan. Tapi kami selalu berpikir bahwa perbedaan itu tidak bisa dihilangkan. Yang diperlukan adalah saling menghargai posisi masing-masing agar bisa berdialog.

Dari berbagai kejadian yang ada bisa dilihat bahwa persoalan itu muncul bisa karena konflik ata sentimen agama murni. Atau berangkat dari situasi kesenjangan dan kerawanan. Jadi, memang tidak tunggal penyebabnya. Dan ABRI satu per satu menanganinya. Lagupula ABRI sekarang sudah tahan berdialog. Sudah tidak gampang kebakaran jenggot lagi. Saya sudah keluar masuk kampus. Disumpah serampah pun kami siap mendengar.

Nurcholis Madjid: Dari pak Syarwan Hamid kita mendapat dukungan mengenai perlunya dialog. Dari Romo Magnis saya ingin kemukakan, umat Islam kadang punya mental minoritas kompleks juga. Dan ini jadi sumber problema. Saya pernah ditanya Dubes Inggris soal kebangkitan uamt islam. Jika Islam nanti berkuasa, bagaimana sikap mereka terhadap umat non-Muslim? Saya kira nanti, kalau umat Islam sudah seimbang dengan lainnya, akan ada confidence baru dan akan menjadi lebih toleran. jadi positif terhadap yang lain.

Ini kan masalah psikologi orang yang sedang tumbuh. Orang Islam sekarangkan lagi puber dan mudah-mudahan segera dewasa. Indikasi pubernya banyak sekali. masalah loud speaker di mesjid-mesjid, misalnya. Menurut kitab kuning apapun, itu nggak boleh. Nah, psikologi pertumbuhan ini yang sering menimbulkan kesukaran. Tapi suatu saat nanti insya Allah akan dewasa dan pada waktu iutlah ada equilibrium baru.

Rasa percaya diri ini yang kita harapkan bisa diciptakan dengan keberadaan ICMI. ICMI harus menjadi pendorongnya. Dulu banyak lulusan unversitas yang kecenderungan politiknya pada Masyumi. Mereka umumnya menderita mentalitas luar pagar. Maka kita buat ICMI supaya bisa masuk. Sebab, seberat-berat mata memandang, bukankah lebih berat bahu memikul.

Hussein Umar: Masa kecil saya ada di Bali. Disekolah pun jarang yang beragama Islam. Jadi saya biasa hidup dengan lain agama. Tapi saya ingin mengetengahkan soal-soal di balik perasaan *insecurity* itu. Begini, Prof Boland dalam bukunya Pergumulan Islam di Indonesia, mengatakan adanya bulan madu Islam dengan Orde Baru. Tapi masa itu begitu singkat, antara tahun 1965-1967 saja. Sesudah 1967, umat Islam merasa tertinggal di semua front. Di bidang politik, misalnya, adalah terhadangnya Partai Muslimin. Artinya, orang yang paling moderat sekalipun, semacam Mohammad Roem, ditolak.

Lalu, pada 30 November 1967, ada musyawarah antaragama yang disponsori pemerintah. Waktu itu kesepakatan disiapkan Menteri Agama waktu itu, KH Moh Dahlan. Tapi ada penolakan dari pihak Kristen dan Katolik. kesepakatan yan sudah diterima pihak Hindu dan Budha ini adalah kalimat yang bunyinya: "Janganlah umat yang menagnut suatau agama dijadikan sasaran (dakwah) agama lainnya. Hendaknya dakwah atau misi lebih ditujukan untuk meningkatkan misi masing-masing." Itu kalimat tawaran pak Harto sebagai Pejabat Presiden masa itu. Pak Kasimo dan Pak Tambunan waktu itu berpegang pada Injil yang lebih kurang isinya: "Kami mempunyai tugas menyampaikan ini walau sampai ke ujung dunia. jadikanlah umat ini sebagai murid-Ku."

Lalu ada soal lain. ketika menghadapi RUU Peradilan Agama, dibesar-besarkan sisi diskriminasi hukumnya.

Lalu tadi disebutkan soal retorika yang sering menakutkan kalangan lain. Sebenarnya itu lebih banyak menyangkut aspek perbandingan teologi. Dan ini tak mengganggu kerukunan. Tapi sebaliknya, dalam buku Sejarah Gereja ada hal yang menyebabkan perasaan *insecurity* umat Islam. Baiklah saya kutipkan: "Bolehlah kita simpulkan bahwa Indonesia adalah daerah pekabaran Injil yang diberkati Tuhan dengan hasil yang indah dan besar atas penaburan bibit firman Tuhan. Jumlah orang Kristen dan Katolik sudah 13 juta lebih. Akan tetapi jangan kita lupa bahwa itu di tengah-tengah 150 juta penduduk. jadi tugas gerejawan muda di dunia masih sangat luas dan berat...."

Juga ada banyak pengalaman di bawah yang mesti kita lihat. Dewan Dakwah sering mendapatkan laporan mengenai kegiatan dakwah Nasrani di wilayah-wilayah Islam yang membuat mereka resah. Tugas kami yang pertama adalah meredakan. Kita mendekati masalah ini secara kausalitas. Karena suatu akibat pasti ada sebabnya. Pemerintahkan sudah mengatur hubungan antaragama hingga tingkat lapangan, yaitu SK No. 70/1978. Ini bisa kita baca sebagai kode etik penyebaran agama. Tapi DGI atau MAWI (sekarang KAWI) menanggapinya dengan membentuk tim yang menelaah SK itu. Dan terbitlah buku yang berjudul Tinjauan SK Menag No.70 dan 77 tahun 1978: Dalam Rangka Penyelenggaraan Kebebasan Beragama dan Pemeliharaan Kerukunan Nasional. Ahirnya mereka menolak SK itu dengan alasaan yang dikembalikan pada wahyu. hal seperti ini juga menimbulkan perasaan *insecurity* di kalangan Islam.

Bagi saya, tetap diperlukan suatu aturan main. Bukan hanya untuk orang Nasrani, kadang umat Islam juga sering salah langkah.

Jadi penting saat ini - tanya sungkan - kita angkat hal-hal yang menjadi kendala, memahaminya, dan kita berdialog mencari solusinya.

(bersambung)

>From manurung@calshp.cals.wisc.edu Wed Jan 3 17:58:24 1996

(5)

Kautsar Azhari Noer: Saya ingin menanggapi soal *insecurity* yang banyak dibicarakan kali ini. Perasaan itu memang wajar, tapi, menurut saya, perasaan tidak aman yang berlebihan itu bisa menutup mata dalam melihat toleransi agama lain. Sikap seperti ini didorong oleh semangat yang berlebih-lebihan. Menurut saya, ini harus ditinggalkan. Kita harus melihat persoalan ini secara tidak hitam-putih.

Ada beberapa bukti bahwa orang-orang Kristen atau Barat sering menunjukkan toleransinya. Contohnya banyak sekali. Pada beberapa universitas di Barat, shalat Jumat sudah diperbolehkan. Begitu juga organisasi-organisasi Islam, boleh berdiri. masih banyak contoh lain.

Saya mengkritik orang Islam yang menyerang Kristen sebagai anti pengetahuan. Misalnya, Cak Nur. Dalam bukunya Islam, Doktrin, dan Peradaban, ia mengatakan bahwa dalam Kristen tak ada hubungan organik antara iman dan ilmu. Pendapat ini dibantah Franz Magnis, dan saya sepakat. Orang Kristen memang pernah menyerang teori Evolusi dan Copernicus. Tapi toh kemudian mereka mengoreksinya. Saya beranggapan, tak relevan lagi saat ini kita menyerang Kristen sebagai anti pengetahuan.

Saya ingin mengenukakan ini untuk melihat agama lain secara lebih jernih. Kesalahpahaman harus dihilangkan dengan cara dialog seperti ini.

Ismartono: Ada tiga hal yang bisa saya bawa pulang dari prasaran Nurcholis Madjid. Pertama, saya mendengar kutipan-kutipan yang jarang didenar di luar forum seperti ini. Ini menantang saya untuk membaca buku suci kami juga secara lebih lengkap. hal ini saya kira bisa menjadi dasar atau alasan untuk berdialog lebih lanjut.

Kedua, dari uraian tadi bisa digaris bawahi perlunya sebuah usaha membaca kitab suci dalam sebuah konteks yang lain dibandingkan saat waktu kitab suci itu diturunkan. Saya percaya bahwa Indonesia merupakan sebuah konteks yang sah untuk membaca naskah - yang ditulis di tempat lain - dalam konteks lain. Ini bahan awal untuk diskusi lebih lanjut.

Ketiga, muncul kerinduan saya untuk mendengar, saudara-saudara Muslim kami ini sebenarnya apa dan siapa. Kalau Indonesia menjadi sebuah konteks baru bagi cakrawala pembacaan naskah suci, maka dirindukan satu rumusan: bagi seaudara Muslim, kami atau Nasrani Indonesia itu siapa. Tiga hal ini saja yang bagi saya pantas dibawa pulang untk jemaat saya juga.

Christianto Wibisono: Problema dialog antaragama di Indonesia ini kan timbul karena adanya politisasi. Kita tak bisa bicara secara vakum karena di dalamnya terlibat manuver-manuver politik atas nama agama-agama. BAhkan kadang pimpinan masing-masing agama juga terjebak oleh emosi massa. Tidak memimpin massa, tapi dipimpin oleh emosi massa, Ini karena vested interest saja, yakni untuk memperbesar porsi politiknya. Dari segi itu saya ingin bicara soal sekularisasi politik yang hanya bisa dicapai dalam sistem demokrasi.

Dalam demokrasi kan jelas, jika mayoritas menang, hak asasi golongan minoritas tetap diakui. Ini akan mampu mengatasi masalah *insecurity* tadi. Jadi orang kalah tidak ditindas, tapi tetap dihormati. Ia tetap punya hak untuk lain kali menang. Demokrastisasi ini saya rasa kunci masalah untuk negara berkembang. jangan terjebak dikotomi bahwa demokrasi adalah Barat, Kristen, atau Yahudi. Ini bahaya. Sebab, dengan demikian orang Islam akan beranggapan mesti bikin demokrasi sendiri.

Karena, kalau demikian, akan terwujudlah skenario Huntington dengan trikotominya: Islam, Konfusius, dan Barat. Saya melihat, trikotomi inilah yang tengah berlangsung, meskipun kita ramai-ramai mencerca teori itu. Lihatlah koalisi Lee Kuan Yew (sebagai pendekat Konfusius) dan Mahathir (pendekar Islam) melawan Barat. Kalau di sini ada koalisi antara ICMI dan konglomerat (nonpri), ya klop saja. Kita ini sebenarnya kan ikut arus saja, tidak lepas dari kendali Huntington. Mungkin saja suatu saat terjadi kerja sama ICMI dan Prasetya Mulya. maka kloplah kita dikendalikan Huntington. Trikotomi inilah yang tengah berlangsung. Sayangnya, ternyata Barat sudah bukan Kristen lagi. Kalau Barat itu Kristen, ia pasti menolak free sex, abortus, narkotik, dan sebagainya. Sistem sosial Barat memang terlalu ekstrem. Tetapi sistem sekularisasi politiknya harus diakui sebagai alternatif. Ini untuk menghindarkan Perang Salib.

Menurut saya, agama adalah urusan pribadi dan vertikal. Sekali itu dimasalkan, ia akan mudah dipolitisasi. Maka akan hilanglah kaidah yang penting itu: toleransi. Tanpa toleransi, semua agama dihitung pakai politik. Akhirnya, timbul *insecurity* timbal balik. Jadilah Perang Salib. Celakanya, dunia ini menurut Huntington sedang dikirim ke sana. Dan secara tidak sadar, kita Mahathir, Lee, dan sebagainya, ikut.

Kita bisa bicara begini secara intelektual. Tapi yang lain itu kan bicara dalam kerangka kekuasaan. Maka perlu ada terobosan mendasar. Yakni, semacam demokratisasi politik yang menjamin hak minoritas. Dan itu hanya mungkin dalam sekularisasi politik ala Barat. Prof Abdus Salam mengatakan bahwa Islam dulu maju karena toleransi. Dan saat ini , menurut saya, yang bisa memberikan itu adalah sistem sekular Barat yang bisa memberikan pengayoman kepada semuanya.

Saya ingin mengajak, kalau toh dibuat dikotomi, dikotomi itu adalah orang yang betul-betul mengerjakan ajaran agama dan yang tidak. Kubunya memang begitu. kalau tidak kita tetap begini sampai 50 tahun nanti.

Haidar Bagir: Dari bung chris diharapkan komentar tentang peran faktor-faktor ekonomi. Apa ada sumbangan faktor-faktor ketidakadilan ekonomi dalam kasus hubungan antaragama ini ?

Christianto Wibisono: Kalau soal ekonomi, memang kian sulit. Sebab, kita dihadapkan pada liberalisasi. Dalam pengamatan banyak pihak, salah satu kekuatan di masa depan adalah jaringan overseas Chinese. Nah, sekarang kita di Indonesia belum memecahkan masalah pri-non-pri. Ini masalah berat untuk penanaman investasi. Sebab, jaringan overseas Chinese itu yang akan menguasai Asia Pasifik. kalau kita tak bisa melakukan pendekatan, kita bisa terjebak dalam teori Islam Konfusius tadi.

(bersambung)

>From manurung@calshp.cals.wisc.edu Wed Jan 3 17:59:01 1996

(6)

Utomo Dananjaya: Dalam soal rasa terancam, apa benar sih orang Katolik merasa terancam oleh mayoritas? Apa benar sih orang Islam merasa terancam oleh Katolik? Idenya kan begini. Dulu umat Islam pernah merasa terancam. Kini ganti Katolik yang merasa terancam. Bagaimana soalnya? Mungkin ketika Benny Moerdani, Radius Prawiro, Sumarlin "berkuasa", itu dianggap ancaman bai umat Islam. Nah, ketika Feisal Tanjung, Hartono, Habibie yang berkuasa, ganti Kristen yang merasa terancam. Begitu kan? Jadi bukan Kristen, katolik, atau Islam yang mengancam, tapi tentara. Tentara yang berkuasalah yang dianggap sebagai ancaman. jadi menurut saya, baik-baiklah ABRI membawakan diri agar tak dirasakan sebagai ancaman.

Teman saya, Jenderal (Pur) Ahmad Tirtosudiro, mengatakan, pengangkatan jabatan di ABRI semua berdasar prestasi, bukan agama. Maka tak mungkin Benny Moerdani memanfaatkan jabatannya ketika itu untuk kepentingan Katolik. Feisal Tanjung juga tak mungkin memanfaatkan untuk ICMI. ABRI memiliki doktrin sendiri dalam hal ini. Tapi, kalau ada politisasi, saya kira karena peran politik ABRI. Tadi pak Syarwan ketika memberikan ilustrasi soal pengacau, kan dari Gerwani. Itu memang tipe berpikir ABRI. Nah, Husein Umar mengilustrasikan pengacaunya adalah Kristenisasi. Sedang Magnis ketakutan terhadap retorika Islam. Di Paramadina kita tidak pernah mengumpulkan rasa curiga kepada siapapun. Kita mengembangkan sikap beragama yang luas, mendalam, menghindari rasa curiga, dan menumbuhkan rasa saling menghormati.

Intinya, saya ingin katakan bahwa dialog ini bukan aneh. Tentu saja tidak semua kecurigaan bisa hilang. kalau memang pemecahannya adalah demokrasi, maka ABRI-lah yang harus menciptakan demokrasi di Indonesia. Jangan sampai pergantian posisi di ABRI memindahkan rasa takut.

Mudji Sutrisno: Ada dua hal yang muncul tadi. pertama, cukup banyak dialgo untuk mencari solusi tingkat pemahaman intelektual. Tetapi, ketika persoalannya meluncur ke tataran sosiologis, dicarilah sistem sosialnya. Dalam hal ini semuanya merasa punya akses. ketika sistem nasionalisme sekular mengalami kegagalan tahun 1967-1970, kini ditawarkanlah semacam nasionalisme religius. Saya mau mengatakan, diperlukan sistem sosial yang memungkinkan setiap orang punya hak, setiap orang merasa diorangkan.

Kedua, saya lihat juga religiusitas di tingkat orang-orang sederhana dihargai seperti pendapat Christianto. Tapi, ketika religiusitas melembaga dan dipakai untuk kepentingan politis, terjadilah konflik politik yang mengatas-namakan agama.

Maka, menurut saya, persoalannya adalah adanya something-wrong dalam sistem sosial kita. Adanya wacana mayoritas dan minoritas membuktikan sistem sosial kita tidak jalan. padahal sistem sosial inilah yang mengatur soal persamaan dan keadilan seperti yang diutarakan Cak Nur di awal pembicaraan.

Franz Magnis Suseno: Mengenai musyawarah agama 1967, yang dipersoalkan Kristen adalah dirumuskannya sesuatu yang secara teologis tidak bisa diterima.

Tidak mungkin Kristen mengatakan gahwa pada prinsipnya iman dan Injil tidak boleh diberi kesaksian. Islam saya kira juga tidak bisa menerima bahwa dakwah tidak boleh dilaksanakan.

Menurut saya, dialog antaragama mesti berjalan dengan saling menerima seadanya. Islam dan Kristen adlaah agama universalistik. Jadi, yang perlu diusahakan adalah caranya. Saya kira dalam hal ini kesepakatan tidak sulit tercapai. Cara yang tidak wajar, mendesakkan diri dan sebagainya, itu memang tidak benar. Misalnya, di suatu daerah hanya ada 3 orang mau bikin gereja, tentu tak bisa diterima. Tapi sering 500 orang di Jakarta ini mau bikin gereja juga sulit. kan Kristen juga bertambah karena ada kelahiran dan urbanisasi. Pasal 29 UUD'45 memberikan kebebasan beribadat. Dari situ bisa dimengerti mengapa DGI dan MAWI merasa keberatan dengan SK itu.

Victor Tanja: Teologi Kristen sebenarnya sudah mengalami banyak perubahan. Entah apa alasannya, pada waktu itu mungkin tuntutannya memang begitu. Tapi sekarang sudah berubah.

Soal kecurigaan memang sebaiknya jangan berlebihan. Tetapi waspada tetap perlu. Manusia punya kemampuan melakukan yang tidak baik walaupun dia baik. Ini pandangan Kristen tentang manusia. Saya kira di dalam setiap agama ada golongan liberal, moderat, dan fundamentalisnya. Saya tak tahu saya harus ditempatkan dimana. Kadang saya lebih mudah bercakap dengan orang bebeda agama tapi satu pikiran daripada sebaliknya. SAya kira kita perlu melihat kemungkinan-kemungkinan ini.

Mengenai sekularisasi. yang ditentang bukan sekularisasi, tapi sekularisme. Saya kira agama yang tidak sekular tidak bermanfaat bagi manusia. Yang perlu diselesaikan itu bukan masalah di langit, tapi di bumi ini. Di situ bukan akidah yang dipentingkan, tapi manusia-manusianya yang perlu dibenahi. Dalam perbedaan itu justru ada persamaan. Sepakat untuk tak sepakat (agreeto diagreement). Itu yang perlu diajukan dalam dialog antarumat beragama.

Putu Setia: Umat Hindu sekarang ini juga mengalami pubertas. Menurut saya, pubertas ini khususnya terjadi di kalangan menengah. Bukan masyarakat bawah atau justru yang atas. kalau di Kuta, misalnya, tiba-tiba banyak mesjid, yang dipersoalkan ramainya loud-speaker, bukan pendirian mesjid itu.

Di pura Rawamangun, jakarta, terdapat contoh toleransi yang bagus sekali. ketika kami sembahyang, mereka menahan diri tak azan lewat speaker. Justru kami yang meminta mereka membunyikan.

Yang puber justru di kalangan menengah, mahasiswa, dan pemuda. Entah mengapa mereka cepat sekali tersinggung. kasusnya pernah terjadi di Surabaya. padahal, hal yang sama bagi orang desa tak menumbulkan apa-apa.

Satu hal yang ingin saya ajukan adalah janganlah toleransi disalahgunakan. Misalnya, menggunakan idiom-idiom agama untuk kepentingan politik atau oleh agama lain. Misalnya, istilah swastiastu digunakan untuk nama SMA Katolik. Padahal swastiastu itu keramat, seperti ucapan assalamualaikum dalam Islam. Banyak lagi contoh lain.

Saya minta tanggapan Pak Husein soal sesuatu yang sudah lama diresahkan oleh orang Hindu. Di pengantar kitab terjemahan Alquran terbitan 1990, ada kutipan ari seorang resi: "Bagi golongan Sudra yang ketahuan membaca kita Weda, telinganya wajib dicor dengan timah, dan sebagainya". Itu menimbulkan kesan salah bagi Hindu dan Weda. Kutipan itu salah. Yang benar adalah untuk golongan Sudra, jika mempelajari Weda mereka harus lebih mendekatkan telinganya. Empat golongan dalam Hindu telah disalapahamkan Belanda sebagai kasta. Padahal itu cuma golongan fungsional saja.

Syarwan Hamid: Makan kambing memang enak. Tapi dikambinghitamkan tidak enak. pertama, ada substansi yang kurang pas ditangkap pak Utomo. Kalau ABRI sering menuduh PKI, itu faktual belaka. Banyak orang menggunakan teori kontradiktif, maka kesimpulannya begitu. Saya ingin mempertegas kembali perlunya dialog seperti ini untuk menjembatani kesenjangan. Kita mencari modus-modus yang bisa menyatukan persepsi pikiran.

Di ABRI ada sikap dalam menghadapi isu kemasyarakatan. Indonesia keseluruhan bisa kuat kalau bagian-bagiannya kuat. Jadi, dalam komposisi agama, bangsa akan kuat kalau Islam, Kristen, Budha, dan Hindu kuat dalam rangka keseluruhan. Bukan kuat sendiri-sendiri.

Husein Umar: Mengenai pertemaun tahun 1967, memang seperti dikatakan pak Natsir dan lainnya agama Islam maupun Kristen mempunyai semangat mendakwahkan. Kelompok Islam waktu itu mengatakan, "Kami juga punya semangat dakwah." Tapi bagaimana jadinya masyarakat kita kalau kemudian masing-masing berkeras? Pak Franz mengatakan bahwa yang diusahakan adalah cara-caranya. Bukankah caranya adalah yang diatur oleh SK No.70/1978 Menteri Agama. Toh itu tidak diterima juga. Alasah tidak menerima dilandaskan pada argumentasi teologis. Itu masalahnya. Kedua agama memang memiliki semangat misionaris. Tapi kita perlu juga menjaga keutuhan bangsa ini.

Sedikit tanggapan untuk pak Putu. Kalau bapak resah atas beberapa orang yang menggunakan istilah swastiastu, istilah-istilah Islam pun sering dipakai oeh agama lain. Misalnya, ada buku yang ditulis oleh pak Harun Hadiwiyono berjudul Inilah Syahadatku. Saya kira hal-hal seperti ini memang harus dihindarkan.

Haidar Bagir: Saya yakin, banyak di antara kita yang masih menyimpan tanggapan-tanggapan. Tapi baiklah sema itu kita cadangkan untuk dialog-dialog yang akan datang. Beberapa butir penting yang akan bisa menjadi titik tolak bagi dialog-dialog yang lebih produktif di masa-masa yang akan datang antara lain adalah masalah keadilan bagi setiap kelompok masyarakat, masalah rumusan orang Islam terhadap penganut agama lain, masalah sekularisasi politik dan semokrasi sebagai syarat hubungan harmonis antaragama, serta masalah peran ABRI. kesemuanya itu kiranya bisa dijadikan agenda bagi dialog-dialog yang lebih produktif di masa-masa mendatang.

(selesai)