From: John MacDougall <apakabar@access.digex.net>
Subject: IN: PIPA - Kemelut di Harian Bisnis Indonesia
KEMELUT DI HARIAN BISNIS INDONESIA
JAKARTA (PIPA) --Harian ekonomi Bisnis Indonesia dalam beberapa
pekan ini menghadapi masalah isu eksodus belasan wartawannya. Beberapa
media baru disebut sudah melakukan tawar menawar dengan sejumlah wartawan
surat kabar tersebut.
Media yang mengincar wartawan Bisnis Indonesia antara lain
pesaingnya sendiri, Harian Ekonomi Neraca dan majalah baru ekonomi Equitas
yang sedang disiapkan oleh taipan muda Tomy Winata. Menurut sumber dalam
Bisnis Indonesia, hingga kini tercatat 14 wartawan sudah melakukan
pendekatan dengan calon bosnya yang baru serta beberapa lagi masih dalam
penjajakan. Beberapa di antaranya bahkan sudah mulai bekerja di Harian
Neraca.
Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia Banjar Chaeruddin tampaknya
tidak menyangka manuver ini. Banjar dengan segera menaikkan golongan
kepangkatan serta gaji wartawannya. Selain itu, beberapa wartawan
dipanggil satu persatu. Mereka diminta untuk bersabar dan diiming-imingi
jabatan. Bahkan, untuk melemahkan motivasi wartawan yang akan pindah, dia
tanpa sungkan-sungkan menjelek-jelekkan media yang akan membajak wartawan
Bisnis Indonesia.
Ironisnya, dalam posisi seperti ini, Banjar mengatakan dalam suatu
pertemuan intern, "Tidak ada idealisme di Bisnis Indonesia." Menurut
Banjar, surat kabar ekonomi terkemuka di negeri ini didirikan bukan oleh
orang-orang partisan, melainkan oleh orang yang mempunyai visi pers
industri. "Kebijakan pemberitaan surat kabar ini berdasarkan kepentingan
pengusaha serta perhitungan ekonomi," katanya dihadapan 12 calon reporter
baru.
Pernyataan Banjar cukup mengejutkan para peserta yang sebagian
besar orang muda yang masih idealis. Dalam beberapa pertemuan redaksi,
Banjar memang acapkali mengutarakan visinya, bahwa koran yang baru saja
merayakan ulang tahun ke-10 ini berdiri atas dasar kepentingan pengusaha
dan pemilik modal.
Empat bulan lalu, Banjar menyatakan bahwa dia sedang menyiapkan
kesepakatan dengan para pemegang saham PT Jurnalindo Aksara Grafika.
Intinya, harian itu akan membantu melindungi kepentingan
perusahaan-perusahaan lain milik para pemegang saham yang terdiri Menteri
Penerangan Harmoko, Sukamdani S. Gitosardjono, Anthony Salim dan Ciputra.
"Saya minta rencana kesepakatan ini jangan dibocorkan keluar karena akan
merusak kredibilitas Bisnis Indonesia," kata Banjar dalam satu pertemuan
intern.
Ternyata, wartawan lulusan Fakultas Syari'ah IAIN Sunan Kalijaga
itu, tidak hanya tunduk pada pemegang saham. Dia juga gugup jika ada
reporternya yang menulis kejelekan teman-temannya. Misalnya, ketika
seorang wartawan menulis tentang "permainan" Menteri Tenaga Kerja Abdul
Latief, dia langsung menulis surat peringatan.
Banjar langsung memerintahkan untuk menulis berita yang membantah
isi berita yang dimuat sebelumnya. Masih belum cukup, dia juga memuat
iklan berduka cita setengah halaman ketika saudara Abdul Latief meninggal
dunia. "Bagaimana mungkin seorang Pemred bersikap demikian. Dia cari aman
demi kepentingan sendiri," kata redaktur senior yang juga kurang puas
dengan sikap Banjar.
Menurut kalangan intern Bisnis Indonesia, sikap kepemimpinan serta
idealisme jurnalistik Banjar jauh berbeda dibandingkan Jakob Oetama
(KOMPAS), Surya Paloh (Media Indonesia), Susanto Pudjomartono (The Jakarta
Post) atau Aristides Katoppo (Suara Pembaruan). Tokoh-tokoh pers ini
masih bersikap manusiawi terhadap wartawannya yang menjadi anggota Aliansi
Jurnalis Independen (AJI).
Sedangkan Banjar adalah tipe pemimpin yang pragmatis dan pokoknya
cari selamat. Dia langsung memecat Hasudungan Sirait ketika PWI mencoret
nama wartawan itu dari keanggotaannya. Tujuh bulan kemudian, demi menjaga
keamanan jabatannya, Banjar mencoret Meir izal Zulkarnain, salah seorang
wartawan surat kabar itu karena menjabat sebagai Presidium AJI.