IN/BIO: TEMPO - Abdul Qadir Djaelan

From: apakabar@clark.net
Date: Wed Mar 13 1996 - 09:35:00 EST


Subject: IN/BIO: TEMPO - Abdul Qadir Djaelani

INDONESIA-P

   PUSAT DATA & ANALISA TEMPO APA & SIAPA '85/86
     _________________________________________________________________
   
   ABDUL QADIR DJAELANI
     _________________________________________________________________
   
   Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta, 20 Oktober 1938
     _________________________________________________________________
   
   SD dan Madrasah Ibtidaiyah Jatipadang, Jakarta (1953)
   
    Pendidikan Guru Agama Pertama (PGAP), Jakarta (1957)
   
    Pendidikan Guru Agama Atas Negeri (PGAAN), Jakarta (1957)
   
    Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat Universitas Islam Djakarta
   (tingkat doktoral 1963)
     _________________________________________________________________
   
   Ketua Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) Ranting Jatipadang
   (1954-1955)
   
   Ketua Pelajar Islam Indonesia (PII) Ranting PGAAN (1956-1957)
   
    Sekretaris Umum PII Cabang Kebayoran Baru, merangkap Ketua Umum
   Ikatan Siswa PGA se-Jakarta (1957)
   
    Sekretaris I (1959), kemudian Ketua Umum (1960) PII Wilayah Jakarta
   
    Sekretaris I (1962), kemudian Ketua I (1962) Pengurus Besar PII
   
    Pendiri Komando Jihad Umat Islam Indonesia (1966)
   
    Guru pada Pesantren Pertanian Darul Falah, Bogor (1968-1969)
   
    Dosen Luar Biasa Institut Pertanian Bogor (1971-1978)
   
    Ketua I Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) (1972)
   
    Ketua Umum Pimpinan Pusat GPII (1976)
   
    Pendiri Presidium Front Aksi Pemuda, Pelajar, dan Mahasiswa Indonesia
   (1978)
     _________________________________________________________________
   
   Desa Leuwiliang, Kabupaten Bogor
   
   Pada malam Peristiwa Tanjungpriok, 12 September 1984, Abdul Qadir
   Djaelani konon sedang sakit. Tetapi, selepas subuh esok harinya, ia
   dijemput petugas Laksus Kopkamtib di rumahnya di Desa Leuwiliang,
   Bogor, Jawa Barat. ''Penahanan dan pemanggilan sudah jadi langganan
   Kak Djani,'' ujar Lilis Badriyah, istri Qadir. Dalam pengadilan
   subversi di Jakarta, ia terbukti melakukan tindak pidana subversi
   melalui ceramah, khotbah, dan tulisan-tulisannya di berbagai tempat.
   Desember 1985, vonis pun jatuh: Qadir dihukum 18 tahun penjara.
   
   Dalam 25 tahun terakhir, A. Qadir Djaelani memang akrab dengan rumah
   tahanan dan penjara. Pada 1960, sebagai Ketua Umum PII, ia ditangkap
   karena dituduh menyebarkan pamflet pembekuan PKI di daerah ''Tiga
   Selatan'': Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Selatan.
   Anak Pasar Minggu, Jakarta Selatan, itu ditahan empat bulan.Pada akhir
   1963, Qadir sudah duduk di tingkat doktoral II pada Universitas Islam
   Indonesia (UII), ketika ia kembali ditangkap. Kali ini, tuduhannya
   anti- Soekarno dan berniat menggagalkan Ganefo. Mendekam dua tahun, ia
   baru dibebaskan setelah gagalnya G-30-S/PKI, 1965. Qadir langsung
   bergabung dengan KAPPI. Tahun berikutnya, ia mendirikan Komando Jihad
   Umat Islam Indonesia. Organisasi ini sempat menghimpun puluhan orang
   dalam apel mendukung Resolusi/Memorandum DPR-GR, Februari 1967, yang
   menuntut pemberhentian Presiden Soekarno.
   
    Qadir dikenal keras dan ''galak''. Pada awal 1970-an, ia sudah
   menetap dan hidup sebagai petani di Leuwiliang ketika menggerakkan
   aksi anti-Rancangan Undang-Undang Perkawinan. Dan ia kembali jadi
   buron. Empat tahun kemudian, ia turut dalam Front Aksi Pemuda, Pelajar
   dan Mahasiswa Indonesia yang menolak masuknya Aliran Kepercayaan, P4,
   dan KNPI dalam GBHN. Akibatnya, kembali Djaelani ditangkap. Pengadilan
   menjatuhkan hukuman dua tahun penjara.
   
    Masa kecil Qadir cukup pahit. Ia lahir sebagai anak bungsu di antara
   delapan bersaudara dari ayah seorang tukang jahit, yang meninggal
   ketika Qadir berusia enam tahun. Jepang datang, Qadir dibawa ibunya
   mengungsi ke Cirebon. Sekolahnya pun telantar. Baru pada usia 9 ia
   masuk SD di pagi hari, madrasah pada sorenya, lalu mengaji Quran pada
   malamnya. Anak yang mulai belajar berpidato itu disenangi gurunya
   karena pendiam, rajin, pandai, dan tidak suka berkelahi. Di PGAN 6
   tahun, ia menyandang predikat ''bintang pelajar''.
   
    Qadir, yang pada 1968 pernah mengajar di Pesantren Darul Falah,
   Bogor, selama tujuh tahun menjadi dosen luar biasa untuk mata kuliah
   agama Islam di IPB. Kegiatan itu terhenti -- dan kemudian dihentikan
   -- setelah ia ditahan pada 1978. Keadaan ini memaksa istrinya membuka
   warung kelontong di halaman rumahnya di Leuwiliang. Mereka dianugerahi
   tujuh anak.[]
     _________________________________________________________________