IN/BIO: TEMPO - Bustanil Arifin

From: apakabar@clark.net
Date: Sun Mar 17 1996 - 09:38:00 EST


INDONESIA-P

   PUSAT DATA & ANALISA TEMPO APA & SIAPA '85/86
     _________________________________________________________________
   
   BUSTANIL ARIFIN
     _________________________________________________________________
   
   Padangpanjang, Sumatera Barat, 10 Oktober 1925
     _________________________________________________________________
   
   HIS, Medan (1940)
   
    MULO, Medan (1942)
   
    Fakultas Hukum Unpad, Bandung (1959)
   
    Sekolah Pegawai Tinggi, Batusangkar (1944)
   
    Kupalda Unifikasi I, Cimahi (1963)
     _________________________________________________________________
   
   Danton Inf. Div. Gajah I di Medan Area (1946)
   
    Danki Inf. 22 Div. Gajah I di Lhok Seumawe, Aceh (1948)
   
    Biro Pengajaran PPPLAD (merangkap guru) di Cimahi (1956)
   
    Kabag Personalia & Pendidikan Palad di Jakarta (1961)
   
    Deputi Pengadaan & Penyaluran Bulog di Jakarta (1969)
   
    Konsul Jenderal RI di New York, AS (1972)
   
    Kepala Badan Urusan Logistik di Jakarta (1973 -- sekarang)
   
    Caretaker dan selanjutnya sebagai Dirut PT PP Berdikari di Jakarta
   (1973 -- sekarang)
   
    Menteri Muda Urusan Koperasi/Kepala Bulog (1978 -- sekarang)
     _________________________________________________________________
   
   Jalan Hang Tuah VII/2, Jakarta Selatan Telp: 771550
   
   Departemen Koperasi Jl. Ridwan Rais No. 5, Jakarta Pusat Telp: 357758
   Jl. Gatot Subroto 49, Jakarta Selatan Telp: 510075 ''Saya sering
   berkelahi,'' kata Bustanil, mengenang masa kecilnya. Anak kedua dan
   satu-satunya lelaki dari tiga bersaudara ini mengaku, ketika itu
   nakalnya luar biasa. Pernah ia berantem dengan anak yang badannya
   lebih besar. ''Karena saya kecil, dengan gampang lawan saya mengangkat
   tubuh saya. Lalu saya diempaskan, dan tergores kawat berduri,''
   tuturnya. Lengan Bustanil sobek 10 cm. ''Lihat ini, bekasnya,''
   katanya, seraya menunjukkan bagian dalam lengan kanannya. ''Karena
   itu, saya senang kalau anak dan cucu saya suka berkelahi,'' kata
   laki-laki berambut tipis, ayah empat anak ini.
   
    Bustanil menyukai suasana keceriaan bersama anak-anak. Di antara
   kesibukannya sebagai menteri, ia bisa bersantai bersama cucu -- yang
   membawa pula teman-temannya. Misalnya, pada suatu hari Minggu akhir
   Desember 1984, ia dengan bebas bersepeda dengan mereka di Taman Impian
   Jaya Ancol. ''Barangkali, saya satu-satunya menteri yang membawa cucu
   ke tempat-tempat umum yang terbuka,'' katanya.
   
    Masa kecilnya sendiri, meskipun tidak terlalu pahit, ''Juga tidak
   terlalu senang,'' tuturnya. Ayahnya, Almarhum Achmad Idris, seorang
   pemborong. Jika banyak untung, Bustanil memperoleh berbagai macam
   hadiah, berupa mainan dan alat keperluan sekolah. Tetapi, pada saat
   sang Ayah merugi, ia tidak mendapat apa-apa. Bahkan, ''Barang-barang,
   termasuk rumah, terpaksa dijual,'' tuturnya.
   
    Di masa itu, sewaktu bersekolah di Medan, Bustanil menyukai pelajaran
   sejarah, terutama tentang tokoh-tokoh dunia. ''Dari mereka saya banyak
   belajar,'' katanya. ''Dan kesimpulan saya, kebanyakan pemimpin dunia
   dahulunya hidup dalam kepahitan.'' Ia tidak menyebutkan tokoh sejarah
   mana yang paling berkesan. Tetapi, untuk tokoh modern ia menyukai
   Almarhumah Indira Gandhi, Margaret Thatcher, dan Presiden
   Soeharto.''Saya banyak belajar dari Pak Harto,'' katanya. Misalnya,
   yang menyangkut soal menjaga kesehatan badan dan jiwa. Supaya bisa
   tenang menghadapi berbagai persoalan, ''Yang penting adalah hati.
   Sakit itu timbul kalau hati tidak tenang,'' ia menambahkan.
   
    Ketika remaja, Bustanil bercita-cita menjadi seorang perwira militer.
   Di masa pendudukan Jepang, ia, 18 tahun ketika itu, mulai mengikuti
   latihan militer di Batusangkar, Sumatera Barat. Sebentar kembali lagi
   ke Aceh, menjadi guru pada Sekolah Pegawai Tinggi. ''Saya memberi
   pelajaran kemiliteran di situ,'' tuturnya.
   
    Kemudian, setelah lulus tes bakat dengan hasil baik, Bustanil
   termasuk di antara prajurit pilihan yang akan disekolahkan ke Akademi
   Militer di Tokyo, 1944. Tetapi Perang Dunia II mengubah keadaan.
   Jepang bertekuk lutut pada Amerika Serikat. Bustanil urung ke Jepang.
   ''Padahal, persiapannya sudah matang,'' katanya.
   
    Toh, ia tidak kecewa. Harapannya menjadi perwira terkabul pada 1946
   setelah mengikuti pendidikan khusus tiga bulan di Aceh. Setelah lulus,
   ia langsung diterjunkan ke front Medan Area, sebagai komandan peleton.
   Tergabung dalam Batalyon 3 Resimen Istimewa Medan Area, Sumatera
   Utara, kompi Bustanil bernama -- jangan kaget -- Parang Berdarah.
   Senjata api mereka hanya 17 pucuk. ''Selebihnya memang parang,''
   katanya. Untuk mempertahankan tanah air, dengan bekal senjata yang
   seadanya itu, Bustanil dengan kawan-kawannya sering terlibat berbagai
   pertempuran. Di arena perjuangan itu ia naik menjadi letnan. Terakhir
   ia berpangkat letjen (purnawirawan).
   
    Teman seperjuangannya ketika pasukan bergerak di Binjai, antara lain,
   Amran Zamzami, belakangan Direktur PT Krama Yudha dan Ketua Gabsi
   (bridge). Lalu Rachman Ramly, terakhir Dirut PT Timah -- kemudian
   Dirut Pertamina.
   
    Perang selesai, Bustanil berkuliah di Fakultas Hukum Universitas
   Padjadjaran, Bandung, hingga lulus sebagai sarjana hukum. Masih
   mahasiswa tingkat I, ketika Bustanil berkenalan dengan gadis keturunan
   Jawa, R.A. Suhardani, yang waktu itu siswa kelas III SGKP (sekarang
   SKKA). ''Setahun kemudian, kami menikah,'' tutur Bustanil.
   
    Selain sebagai ibu rumah tangga, Ny. Dani Ketua Umum Yayasan Jantung
   Indonesia. Sambil berkelakar di hadapan istrinya, Bustanil berkata,
   ''Karena istri saya mengurusi jantung sehat, jadi saya juga harus
   sehat.'' Ny. Dani hanya tersenyum menanggapinya.
   
   Olah raga Bustanil adalah golf, jogging, dan menggenjot sepeda di
   tempat.[]
     _________________________________________________________________