IN/BIO: TEMPO - Iwan Jaya Aziz

From: apakabar@clark.net
Date: Fri Mar 29 1996 - 09:19:00 EST


INDONESIA-P

   PUSAT DATA & ANALISA TEMPO APA & SIAPA '85/86
     _________________________________________________________________
   
   IWAN JAYA AZIS
     _________________________________________________________________
   
   Surabaya, 17 Februari 1953
     _________________________________________________________________
   
   SD, Surabaya (1964)
   
    SMP, Surabaya (1967)
   
    SMA Surabaya (1971)
   
    FE UI (1978)
   
    Universitas Cornell, Ithaca, New York, AS (Doktor, 1983)
   
    UNCRD Program on Regional Development, Jepang (1979)
     _________________________________________________________________
   
   Asisten Pengajar (1976-1978), Kepala biro Kemahasiswaan (1978-1979),
   dan Dosen FE UI (1979-sekarang)
   
    Kepala Jurusan Studi Pembangunan FE UI (1984-sekarang)
   
    Ketua Program Pascasarjana bidang Ekonomi UI (1984-sekarang)
   
    Dosen Tamu pada Department of City & Regional Planning Cornell
   University, New York, AS (1982-1983)
   
    Asisten Muda LPEM UI (1976-1978)
   
    Junior Research Associate LPEM UI (1978-1983)
   
    Staf Pengajar Pusat Perencanaan Nasional LPEM UI (1978-1979)
   
    Research Associate LPEM UI (1983-sekarang)
   
    Pengajar Pusat Perencanaan Nasional LPEM UI (1984-sekarang)
     _________________________________________________________________
   
   Jalan Kertosono 12, Menteng, Jakarta Telp: 322558
   
   LPEM FE UI, Jalan Salemba 4, Jakarta Telp: 882852, 333177 Iwan Jaya
   Azis merampungkan program doktornya di Universitas Cornell, AS, dalam
   tempo tiga tahun. Waktu relatif singkat. Disertasinya berjudul A Study
   of Interregional Capital Movement, 1983.
   
    Anak wartawan terkenal, pemilik harian Surabaya Post, ini sejak kecil
   bercita-cita menjadi ekonom. Itu sebabnya, begitu tamat SMA, Iwan
   mendaftar di satu fakultas saja, Fakultas Ekonomi UI. Pintar bergaul,
   populer di antara para mahasiswi, dan senang membantu teman, ia aktif
   di kampus, dan pernah terpilih sebagai Mahasiswa Teladan.
   
    Sebagai dosen FE-UI, ahli ekonomi regional itu dinilai pandai
   menerangkan, cepat, jelas, dan wawasannya pun luas. Iwan sendiri
   terkesan ketika mengajarkan mata kuliah Optimization Methods for
   Planning dan Planning Economics pada Universitas Cornell, AS. Yaitu
   ketika untuk pertama kali seorang mahasiswa memanggilnya
   ''Professor''.''Ekonomi Indonesia akan mengalami masa sulit,'' kata
   Iwan Jaya Azis, Februari 1985. Ia lalu menghitung berdasarkan Repelita
   IV. Di sektor industri dikatakan akan meningkat 9,5% per tahun.
   ''Tahun pertama Repelita IV, 1984, meningkatnya hanya dua koma
   sekian,'' ujarnya. ''Apakah empat tahun sisanya bisa mengejar 9,5%
   lagi?'' Namun, Iwan yakin, dibandingkan 1984, akan ada perbaikan.
   
    Pergeseran penerimaan dari sektor minyak ke sektor pajak akan lebih
   baik bila jumlah uang yang beredar tidak sebanyak sebelumnya, atau
   relatif sama. Tetapi dilihat dari tersedianya dana pembangunan,
   jumlahnya akan lebih kecil. Dengan undang- undang pajak, Pemerintah
   harus memperhitungkan dampak psikologis masyarakat pembayar pajak,
   yang akan lebih sensitif dengan program pembangunan. Pemerintah harus
   hati-hati, kata Iwan. ''Kepincangan sedikit akan sulit ditolerir,''
   tambah peneliti yang telah menghasilkan sejumlah karya tulis hasil
   risetnya.
   
    Pada 1980, pengagum Van Gogh (''minus bunuh dirinya''), Albert
   Einstein, Sumitro Djojohadikusumo, dan Widjojo Nitisastro ini ''patah
   hati'', dan karena itu hingga kini ia masih membujang.[]
     _________________________________________________________________