IN/HAM: PMB - Mengakrabkan HAM dan

From: apakabar@clark.net
Date: Mon May 06 1996 - 13:53:00 EDT


Subject: IN/HAM: PMB - Mengakrabkan HAM dan Martabat Manusia ...

INDONESIA-P

   SUARA PEMBARUAN DAILY
     _________________________________________________________________
   
             MENGAKRABKAN HAM DAN MARTABAT MANUSIA SEDINI MUNGKIN
                                       
   
   
   JAKARTA - Anak perempuan Ibu Hetty ingin mengetahui, sebelum ia
   menikah, kalau sudah lewat masa mesra, kemudian suami-istri sudah
   tidak saling cocok lagi, apakah mereka harus menderita terus
   mempertahankan perkawinan. Ibu Tengker menganggap cucu-cucunya yang
   laki-laki yang menganggap diri lebih penting dari saudara-saudara
   perempuan mereka karena akan meneruskan nama keluarga, sebenarnya
   membuat hak wanita terganggu.
   
   Sedangkan Stella Maria acap kali menemukan orang yang melanggar hak
   orang lain, bukan karena mereka kurang ajar, tetapi karena kurang
   diajari. Hal itu merupakan sebagian pendapat para peserta seminar
   setengah hari soal HAM yang diselenggarakan Biro Wanita Persekutuan
   Gereja-gereja di Indonesia (PGI), baru-baru ini di Jakarta.
   
   Seminar yang merupakan kegiatan merayakan Paskah dan Hari Kartini,
   sebenarnya berjudul ''HAM, Martabat Manusia, dalam Citra Allah''.
   Dalam diskusi, peserta yang kebanyakan terdiri dari ibu-ibu, seolah
   menggiring perbincangan kepada berbagai pengalaman keseharian
   masing-masing. Tetapi justru lebih menekankan pada tujuan seminar,
   untuk mendidik masyarakat mengerti dan memahami HAM dan martabat
   manusia dalam citra Allah.
   
   Ternyata Alkitab yang menjadi pedoman hidup orang Kristen, dan sudah
   didengar dan dibaca anak-anak sejak mereka masuk sekolah minggu,
   merupakan gudang bahan untuk belajar HAM dan martabat manusia, seperti
   isi makalah seorang pembicara dalam seminar. Hanya, barangkali selama
   ini kurang dipahami.
   
   Setelah banyak korban jatuh oleh pelanggaran HAM, barulah orang
   beramai-ramai menunjuk bagaimana sebenarnya pelanggaran tersebut sama
   dengan menginjak martabat manusia dalam citra Allah, karena manusia
   itu adalah ciptaan Allah. Contoh-contoh mengenai hal itu pun mulai
   diangkat dari dalam Alkitab, banyak di antaranya sudah ditulis lebih
   dari 3.000 tahun yang lalu.
   
   Keadaan itu memperlihatkan bahwa masyarakat dan para pemuka mereka,
   tidak proaktif dalam menanggapi berbagai masalah HAM yang terjadi di
   lingkungan mereka. Korban sudah jatuh dulu baru dicari obatnya.
   
   
   
   Ketidakpastian
   
   Tetapi, di mana saja soal HAM disebut dalam Alkitab? Kita mulai dengan
   manusia yang diciptakan Allah sesuai citra-Nya. Dalam Kejadian Pasal
   1:26-27 Allah bersabda ''Baiklah kita menjadikan manusia menurut
   gambar dan rupa Kita........''.
   
   Tidak terdapat manusia atau lembaga bersejarah, atau kekuasaan mana
   pun yang menciptakan manusia menurut citranya, atau citra mereka.
   Demikian juga tidak terdapat pemerintahan atau partai politik, atau
   gerakan yang bagaimana pun bentuknya, yang membuat pernyataan seperti
   dalam ki tab Kejadian 1:26.
   
   Isi Kejadian Pasal 9, terutama ayat terakhir sangat kuat menekankan
   mengenai menghargai nyawa manusia. Pengaturan mengenai hak atas harta
   yang merupakan bagian dari HAM, terdapat dalam Ulangan 21. Hak
   memperoleh upah yang pantas kita temukan dalam Ulangan 23. Tidak
   berbuat curang dalam peradilan dan jangan sampai membela orang kecil
   dengan tidak sewajarnya, dan tidak terpengaruh oleh orang-orang besar,
   jelas sekali disebutkan dalam Imamat 19:15 dan dalam Ulangan 19:15-16.
   
   Dalam Perjanjian Lama juga diatur dengan jelas sekali sekitar larangan
   menjalankan riba, mengenai tuduhan tidak adil dan tingkah laku yang
   palsu terhadap tetangga.
   
   Pembicara dalam seminar bertanya, ''berapa gereja yang membuat bahan
   yang begitu gamblang penggambarannya, sebagai materi untuk mengerti
   dan memahami soal HAM dan martabat manusia yang belakangan ini semakin
   tinggi saja tingkat pelanggarannya?'' Pembicara lainnya berpendapat,
   gereja enggan, tidak mau bersentuhan dengan permasalahan pelanggaran
   HAM. Sedang Nyonya Evang Dharma Putra berkata bahwa gereja acuh tak
   acuh.
   
   Benar juga pertanyaan pembicara tersebut. Karena ia juga menunjuk
   agama-agama kuno seperti Buddha, Konfusius dan Hindu yang
   memperingatkan kepada kita semua bahwa humanitas yang sebenarnya,
   berarti memberi konsideran terhadap kesejahteraan orang lain,
   ketimbang untuk diri sendiri.
   
   Bagaimana pentingnya mengajar soal HAM dan martabat manusia, lebih
   ditekankan lagi oleh Stella Maria yang bertahun-tahun mengurusi buruh
   wanita dalam SBSI dan menggeluti ratusan permasalahan
   perempuan-perempuan malang. Sekarang, katanya, kita sebenarnya hidup
   dalam ketidakpastian. Nilai, norma, sering berbeda.
   
   Ia menjadi terkejut menemukan trotoar di depan rumah bagus-bagus di
   daerah Menteng yang katanya elit, ditanami berbagai bunga oleh pemilik
   rumah di sana. Padahal trotoar adalah untuk pejalan kaki. Barangkali
   bukan karena mereka kurang ajar. Tetapi kurang diajar untuk peka
   terhadap orang lain. Karena banyak orang terlalu sibuk, mereka tidak
   mempunyai kasih sayang lagi terhadap orang lain. Bukan karena mereka
   jahat, tetapi karena tidak menyadari.
   
   
   
   Degradasi
   
   Mengapa pembantu rumah tangga, atau malahan orang yang bekerja di
   kantor, melakukan pekerjaannya dengan asal jadi? Karena degradasi
   manusia!
   
   Begitu ''gregetan'' para peserta mendengar masih banyak pelanggaran
   HAM bukan saja di dalam negeri, tetapi dengan contoh-contoh dari luar
   Indonesia juga, sehingga ada yang lalu menyarankan agar pada Jambore
   Nasional Anak Sekolah Minggu yang akan dihadiri oleh 1.500 anak dari
   seluruh Indonesia di Kinasih bulan Mei, mulai saja diselipkan
   pendidikan mengenai HAM. Agar sedini mungkin manusia Indonesia sudah
   diakrabkan dengan menghormati martabat orang lain.
   
   Tampaknya Evang Eka Dharma Putra MEd lulusan Northeastern University,
   Boston itu, lebih mengerti apa yang ia katakan ketika ia mengajak
   peserta seminar untuk menyadari bahwa di Indonesia, kita sudah
   melanggar HAM, sejak dini. Hak berbicara anak sejak kecil sudah kita
   matikan.
   
   Keadaan itu ditambahkan lagi lagi oleh Deetje Tumiwa Mds, Ketua Biro
   Wanita PGI dengan mengatakan bahwa sistem pendidikan kita sedemikian
   rupa, sehingga kalau seorang murid berani banyak ngomong, seperti
   banyak bertanya atau memberi komentar, angka penilaian akhir anak
   tersebut akan dikurangi. Atau ia tidak naik kelas atau tidak
   diluluskan.
   
   ''Oleh karena itu, marilah kita mulai mendengar kepada mereka
   (anak-anak),'' kata Evang Dharma Putra. Karena kenakalan anak-anak
   sekolah akhir-akhir ini, sebenarnya banyak disebabkan oleh
   psychological child abuse oleh orang tua.
   
   Barangkali karena pelanggaran HAM lebih banyak diderita perempuan,
   langsung saja peserta yang semuanya wanita saling menyarankan agar
   dicari langkah-langkah yang dapat mereka lakukan di lingkungan
   masing-masing. Antara lain agar di sekolah minggu, anak-anak mulai
   diakrabkan dengan HAM dan martabat manusia. Liturgi agar diberi muatan
   HAM yang diharapkan bisa merupakan stimulan.
   
   Terganggu Tidak?
   
   Walaupun Deklarasi Universal PBB mengenai HAM dibacakan dalam
   terjemahan bahasa Indonesia, tidaklah begitu gampang untuk membuat
   orang dalam satu seminar mengerti dan memahami mengenai HAM.
   Memperlakukan pembantu rumah tangga dengan baik, umpamanya, masih
   dimasukkan dalam HAM. Walaupun tidak memperlakukan PRT secara
   manusiawi merupakan pelanggaran HAM.
   
   ''Apa yang spesifik mengenai HAM? Wujudnya yang bagaimana?'' Pasti
   Tampubolon dari Departemen Pertanian bertanya, ia ingin memperoleh
   definisi persis mengenai HAM. Tentunya tidak ada. Barangkali apa yang
   dikatakan Ria bisa membantu. ''Apa yang menurut hati nurani kita
   ketika kita berinteraksi dengan orang lain, apakah kata hati nurani
   kita terganggu tidak?''
   
   Tetapi mengapa mengenai martabat manusia disebut dalam citra Allah?
   Sebuah makalah yang disajikan menyebutkan pengakuan mengenai
   penciptaan Allah lebih pada keallahan, ketimbang pada kemanusiaan.
   Penekanan pernyataan tersebut lebih pada Allah yang kita percayai
   telah menciptakan kita, kebebasan yang kita peroleh, tetapi juga tugas
   kita terhadap-Nya.
   
   Lebih ditekankan pada sang Pencipta yang kita sembah dan patuhi. Yang
   citranya adalah kita, dan yang kita inginkan. Yang tidak punya
   pengertian mengenai ciptaan dan Penciptanya, pada akhirnya betul-betul
   tidak mengetahui mengenai artinya, kalau dikatakan ''dalam citra
   Allah''. Dan orang-orang yang demikianlah yang mampu meredusir orang
   lain menjadi lebih rendah dari manusia yang diciptakan Allah itu.
   (Salvador D Eduarte).
   
   Teori filsuf Yunani, Socrates, mengenai keabadian (immortality) jiwa
   manusia menyebutkan bahwa barang siapa merendahkan humanitas manusia,
   ia bersalah melanggar keallahannya. Ini, kata Eduarde, dekat sekali
   dengan konsep bahwa manusia diciptakan dalam citra Allah, dan oleh
   karena itu pelanggaran akan HAM itu merupakan pelanggaran akan
   maksud-maksud untuk mana ia diciptakan.
   
   Pada akhir seminar, peserta sependapat bahwa apabila kita sudah
   memasyarakatkan pengertian dan pemahaman HAM dan martabat manusia,
   kita tidak terus-menerus lagi menjadi pejuang HAM. Artinya,
   pelanggaran sudah berkurang, tetapi menjadi penganutnya. Tentu ini
   harapan. Karena orang berjuang, disebabkan ada yang ingin ditegakkan.
   Kalau tidak ada lagi penegakan yang perlu diperjuangkan, menjadilah
   kita semua penganut. Kapan ya? ***
   
   - Pembaruan/Annie Bertha Simamora
   
   The CyberNews was brought to You by the OnLine Staff
     _________________________________________________________________
   
   Last modified: 5/6/96