IN/POL: KMP - Eddy Tansil Kabur

From: apakabar@clark.net
Date: Wed May 08 1996 - 15:07:00 EDT


INDONESIA-P

   Kompas Online
   
   
     _________________________________________________________________
   
   Rabu, 8 Mei 1996
     _________________________________________________________________
   
                               EDDY TANSIL KABUR
                                       
  * Menkeh: "Saya yang Bertanggung Jawab"
  
   
   Kompas/ed
   KABUR -- Terhukum kasus korupsi Golden Key Group
   (GKG) Eddy Tansil yang sedang mendapat pengawasan
   khusus karena mendapat fasilitas istimewa, kabur dari LP
   Cipinang, Sabtu (4/5) malam. Eddy terbukti korupsi dan me-
   rugikan negara Rp 1,3 trilyun, dihukum Mahkamah Agung
   20 tahun penjara serta membayar uang pengganti Rp 500
   milyar. Foto menggambarkan saat Eddy Tansil usai dipe-
   riksa Kejakasaan Agung pada 18 Februari 1994.
   
   Jakarta, Kompas
   
   Narapidana kelas kakap Eddy Tansil, terpidana kasus korupsi senilai Rp
   1,3 trilyun, Sabtu (4/5) pukul 18.30 WIB kabur dari Lembaga
   Pemasyarakatan (LP) Cipinang Jakarta Timur. Terpidana kasus Golden Key
   Grup itu lolos setelah sebelumnya berhasil membujuk komandan penjagaan
   yang bertugas saat itu. Pelarian tersebut kelihatannya cukup
   "tertutup", karena baru diketahui Komandan Jaga LP berikutnya Senin
   (6/5) malam. Sedang Menteri Kehakiman Oetojo Oesman sendiri mengaku
   baru mengetahuinya Selasa (7/5) pukul 10.00 WIB.
   
   Menkeh menyatakan prihatin atas kejadian tersebut, sebab munculnya
   justru di saat Depkeh bertekad menjalankan tindakan disiplin secara
   lebih tegas. "Saya yang paling bertanggung jawab dalam masalah ini,"
   tegasnya datar, usai melakukan pemeriksaan di LP Cipinang, Selasa
   petang.
   
   Atas kejadian tersebut, Menkeh Oetojo Oesman membebastugaskan Kepala
   Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Mintardjo, terhitung mulai Selasa, 7
   Mei 1996.
   
   Usai melakukan pemeriksaan secara langsung terhadap 20 orang petugas
   LP yang bertugas pada hari kaburnya Eddy Tansil di LP Cipinang, Menkeh
   menambahkan, dari hasil pemeriksaannya ternyata ada pengakuan dari
   salah seorang komandan jaga, D (35 tahun) yang menyatakan bahwa dia
   yang membawa terpidana keluar dengan mobilnya.
   
   
   
   Larinya Eddy Tansil tampaknya sudah direncanakan secara matang jauh
   sebelumnya. "Kalau melihat beberapa persiapan yang dilakukan,
   sebenarnya sudah patut dicurigai karena dia telah mengeriting
   rambutnya, memelihara rambut dan jambangnya, serta beberapa kali minta
   difoto. Jadi agaknya rencana itu sudah matang dibuat termasuk rencana
   penyamaran," katanya.
   
   Dari beberapa keterangan yang berhasil dikumpulkan hingga pemeriksaan
   pukul 20.00 WIB, kata Menkeh lagi, terpidana yang dihukum penjara 20
   tahun itu, terakhir kali berbicara dengan D, selaku komandan jaga,
   hari Jumat (3/5). Yaitu tentang bagaimana caranya supaya dia bisa
   keluar hari Sabtu.
   
   Akhirnya, Sabtu sekitar pukul 18.30, mobil Carry milik Eddy Tansil
   disiapkan di depan LP, sehingga ia bisa diselundupkan keluar. Konon
   kerja sama juga berlangsung dengan para portir yang berjaga-jaga di
   luar. Dalam pemeriksaan kemarin para portir itu menyatakan tidak
   memeriksa mobil tersebut karena percaya kepada komandan jaga.
   
   
   
   Berobat jantung
   
   Menkeh lebih lanjut menjelaskan, sejak semula Eddy Tansil memang telah
   mendapat persetujuan untuk berobat ke Rumah Sakit Jantung Harapan
   Kita, Senin (6/5). Tapi hari Sabtu (4/5) ia sudah minta pulang ke
   rumahnya. "Izin tersebut sebelumnya telah didapatkan dari dokter LP
   yakni dr Ilham karena hal seperti itu sebelumnya memang sudah sering
   dilakukannya. Ia sering merasa sesak napas," demikian keterangan dari
   pihak LP.
   
   Satu hal yang patut disesalkan, menurut Menkeh, perginya Eddy Tansil
   itu tanpa pengawalan. Biasanya sesuai dengan peraturan yang ada setiap
   narapidana yang akan keluar dari LP harus dikawal dua petugas
   kepolisian dan petugas LP lainnya. "Selama beberapa kali dia
   memeriksakan diri ke rumah sakit prosedur seperti itu selalu
   dipenuhi," kata Menkeh setengah mengeluh.
   
   "Komandan jaga tersebut saat itu diberi uang rokok, dengan catatan
   selebihnya dijanjikan akan diberikan jika terpidana sudah kembali ke
   LP lagi," kata Menkeh mengutip pengakuan D tanpa menyebutkan berapa
   besar uang yang dijanjikan Eddy Tansil kepada komandan penjagaan
   tersebut.
   
   Menurut Menkeh, dalam laporan pihak LP yang dibuat hari Senin
   disebutkan "seolah-olah" Eddy Tansil keluar dari LP Senin (6/5) pukul
   08.00 WIB berobat ke RS Harapan Kita Jakarta untuk pemeriksaan
   jantung. Sedangkan Komandan Penjagaan LP (KPLP) baru mengetahui
   perginya Eddy Tansil pada Senin sore.
   
   "Saat diketahui bahwa terpidana tidak berada di tempat, KPLP kemudian
   melakukan pelacakan ke rumahnya. Karena tidak berhasil bertemu
   dengannya, KPLP kemudian melaporkan hilangnya Eddy Tansil kepada
   Kepala LP ," katanya.
   
   Kalapas sendiri, menurut Menkeh, baru melaporkan hilangnya Eddy Tansil
   kepada Dirjen Pemasyarakatan dan Kakanwil Depkeh DKI Jakarta, hari
   Selasa (7/5) kemarin. "Saya baru diberitahukan sekitar pukul 10.00 WIB
   saat berlangsungnya rapat koordinasi politik dan keamanan
   (Rakorpolkam)," tutur Menkeh menjelaskan.
   
   Sudah kosong
   
   Sementara itu, Cris (37) Satpam Bapindo yang ditugaskan menjaga rumah
   Eddy Tansil di Jalan Pecenongan nomor 35 Jakarta Pusat yang dihubungi
   secara terpisah mengatakan, sejak dua minggu yang lalu rumah tersebut
   sudah kosong tidak ada penghuninya. "Sudah dua minggu rumah ini tidak
   ada penghuninya. Saya sendiri tidak tahu mereka ke mana," katanya
   sambil mengakui bahwa rumah tersebut biasa dihuni oleh istri dan
   anak-anak Eddy Tansil.
   
   Sedangkan penasihat hukum Eddy Tansil, FXL Soewadi dari kantor
   pengacara Gani Djemat kepada wartawan di LP Cipinang disela-sela jumpa
   pers dengan Menkeh menjelaskan, ia sendiri terakhir bertemu dengan
   Eddy Tansil akhir bulan lalu (26/4). "Yang kami bicarakan adalah hanya
   soal grasi karena dia merencanakan untuk meminta grasi kepada
   Presiden. Ia meminta kepada kami untuk menyusun permohonan tersebut,"
   katanya.
   
   "Kami diberitahu tadi pagi sekitar pukul 11.00 WIB oleh seorang
   penelepon gelap. Kami sangat menyesalkan tindakan Eddy Tansil yang
   melarikan diri. Tindakan seperti itu tidak akan menyelesaikan
   masalahnya," tandasnya.
   
   
   
   Jaringan
   
   Menkeh pada kesempatan petang itu menjelaskan,saat ini telah dilakukan
   pemeriksaan terhadap sekitar 20 petugas LP, di mana delapan di
   antaranya telah mengakui mengetahui keluarnya Eddy Tansil dari LP.
   "Untuk saat ini menurut kami yang paling bertanggung jawab adalah
   kelompok yang secara fisik terlibat langsung dalam kasus tersebut.
   Setinggi apa pun jabatan orang tersebut akan ditindak jika ternyata
   terbukti telah menjadi salah satu dari jaringan lolosnya Eddy Tansil,"
   tandasnya.
   
   Pembebastugasan
   
   Meski Menkeh menyatakan baru mengetahui kasus itu pagi hari, sekitar
   pukul 15.00 WIB -setelah menerima laporan dari berbagai pihak- ia
   langsung mengeluarkan surat pembebastugasan Kepala Lembaga
   Pemasyarakatan Mintardjo, terhitung mulai Selasa kemarin.
   
   Pertimbangannya, selain Mintardjo dinilai lalai melakukan tugasnya,
   yakni membiarkan Eddy Tansil keluar tanpa pengawalan (sesuai ketentuan
   harus didampingi minimal dua petugas kepolisian), ia juga dinilai
   terlambat melaporkan larinya terpidana kelas kakap tadi.
   Pembebastugasan, kata Menkeh lagi, bukan mustahil juga akan terjadi
   pada sejumlah petugas LP lainnya.
   
   Direktur Jenderal Imigrasi, Pranowo, usai bertemu Menkeh kepada
   wartawan menyatakan, ia sudah memerintahkan pihaknya untuk menutup
   seluruh bandara dan pelabuhan internasional bagi Eddy Tansil. Ia tidak
   sependapat kalau dikatakan Eddy Tansil telah melarikan diri ke luar
   negeri dengan menggunakan paspor "baru". "Ndak mungkin dia bikin
   paspor baru. Tapi, sekarang ini kami sudah menutup semua bandara dan
   semua pelabuhan laut internasional," tandasnya, sambil menambahkan
   bahwa pencegahan terhadap Eddy Tansil (sejak jadi napi) hingga kini
   belum dicabut.
   
   Menurut Menkeh, dalam pelepasan Eddy Tansil ini, tidak tertutup
   kemungkinan adanya kolusi. "Tapi, kita tetap harus berpegang pada azas
   praduga tak bersalah," tuturnya mengingatkan. Jika dari hasil
   pemeriksaan nanti ternyata memang ada indikasi melepaskan napi secara
   tidak sah, tambahnya, pihak kepolisian akan dimintakan untuk melakukan
   penahanan terhadap yang bersangkutan. Selanjutnya kasusnya diajukan ke
   pengadilan berdasarkan tuntutan pidana.
   
   Dari hasil pengamatannya, katanya, lagi sekarang ini disinyalir bahwa
   terjadi pengendoran kewaspadaan di lingkungan LP. "Peningkatan
   kewaspadaan di dalam lembaga-lembaga itu umumnya cukup
   mengkhawatirkan, terutama untuk daerah Jakarta," tuturnya, seraya
   menambahkan bahwa itu diamatinya terutama saat melakukan sidak ke LP
   Cipinang dan tempat penahanan lain di Jakarta beberapa waktu lalu.
   
   Ditanya apakah mungkin larinya Eddy Tansil karena selama ini dia sudah
   terbiasa keluar LP tanpa penjagaan petugas kepolisian. Menkeh dengan
   cepat menjawab, "Saya masih meragukan itu, sebab saat saya melakukan
   sidak, dia ada di dalam LP sedang tidur," tuturnya, seraya meyakinkan
   bahwa sidak itu benar-benar tidak ada yang tahu. "Dirjen saja baru
   saya telepon saat saya sudah berada di depan LP Cipinang, sedangkan
   Kalapas saat itu sedang berada di rumahnya," tambah Menkeh yang
   mengaku melakukan sidak sekitar pukul 01.00 WIB, pekan kedua April.
   
   Seluruh pejabat yang mengikuti Rakor Polkam siang kemarin umumnya
   menyatakan tidak tahu tentang larinya Eddy Tansil. Jaksa Agung Singgih
   yang diminta penjelasannya hanya mengatakan bahwa dia tidak berwenang
   menjelaskan persoalan kaburnya Eddy Tansil tersebut. (fan/ama/ush/myr)
   
     _________________________________________________________________