IN/BUD: JWP - Ulama Yang Patut Dite

From: apakabar@clark.net
Date: Sun May 12 1996 - 09:29:00 EDT


Subject: IN/BUD: JWP - Ulama Yang Patut Diteladani

INDONESIA-P

X-within-URL: http://www.jawapos.co.id/jpdocs/
indones/jawapos/news/sunday/tokoh/tokoh3.htm

   Ulama yang Patut Diteladani
     _________________________________________________________________
   
   Sosok KH Kosim Nurseha adalah sosok ulama yang patut diteladani. Dia
   sangat pandai menempatkan diri karena pandai memilih topik-topik yang
   tepat untuk diceramahkannya di depan publik tertentu. Selain itu, cara
   dia menyampaikan ceramahnya juga menarik, mudah dicerna semua
   tingkatan masyarakat, dan memiliki cara membimbing yang sangat
   dikagumi. Dengan demikian, namanya juga bisa populer dengan cepat.
   Penilaian seperti itu diungkapkan oleh KH Ali Yafie ketika dimintai
   komentarnya tentang tokoh yang sejak lama menjadi pembimbing keagamaan
   keluarga Presiden Soeharto itu.
   
   Kiai Ali Yafie mengaku tidak pernah bergaul secara dekat dengan Kiai
   Kosim. ''Saya tidak kenal betul. Saya hanya pernah bersama-sama
   melaksanakan ibadah haji bersama keluarga Pak Harto beberapa tahun
   lalu. Kebetulan waktu wukuf di Arafah, Kiai Qosim menjadi khatibnya
   dan saya menjadi imamnya,'' kata Ali Yafie Meski demikian, Ali Yafie
   mengatakan sering mendengarkan ceramah-ceramah yang diberikan Kiai
   Kosim Nurseha. Sebagai penceramah, katanya, Kosim Nurseha sangat arif.
   ''Dia itu memberikan bimbingan agama di dalam keluarga presiden sudah
   cukup lama. Kalau tidak karena kearifan dan keluasan ilmunya, tentu
   tidak bisa terpilih untuk memberikan bimbingan keagamaan di sana,''
   lanjut Ali Yafie. Dalam banyak hal, Kosim Nurseha sangat berhasil
   menjalankan tugasnya sebagai pembimbing keagamaan keluarga Pak Harto.
   Meskipun dia tidak satu-satunya orang yang berperan dalam membina
   keimanan keluarga presiden, apa yang dilakukannya selama ini, tidak
   dapat dipungkiri, telah mencapai hasil yang baik. ''Saya sangat
   menghargai keberhasilannya itu. Kita bisa lihat bagaimana keluarga Pak
   Harto begitu taat dalam menjalankan perintah agama,'' kata Ali Yafie
   menerangkan.
   
   Karena itu, harus diakui dalam diri Kiai Kosim terdapat satu
   keteladanan bagi kita semua. Menurut Ali Yafie, Kosim Nurseha telah
   berperan cukup besar dalam mengembangkan semangat beragama umat Islam.
   Banyak hal yang menunjukkan kebenaran anggapan ini, di mana Kosim
   Nurseha telah memperlihatkan kepiawaian dan kearifannya sebagai ulama
   yang setia memimbing umat. Mengenai faham, dia jelas membawakan faham
   ahlussunnah wal jama'ah. Itu dapat kita dengar dari
   ceramah-ceramahnya. Dia memang punya kelebihan. Dengan gayanya
   sendiri, dengan logikanya, ceramah-ceramah tersebut bisa tercerna oleh
   seluruh lapisan masyarakat.
   
   ''Itulah kelebihan tersendiri yang diperlihatkannya. Dan, kita harus
   fair mengakui semua itu,'' lanjut Kiai Ali Yafie. Menurut Kiai Ali
   Yafie, dalam menyampaikan ceramah- ceramahnya, terutama
   ceramah-ceramah yang sering disiarkan secara langsung oleh RKM, Kosim
   Nurseha tidak banyak berbicara mengenai fiqih atau hukum Islam.
   ''Mungkin beliau berpendapat, hal-hal semacam itu bisa memancing
   banyak perbedaan pendapat. Karena itu, beliau berusaha
   menghindarinya,'' paparnya. Meski demikian, Kiai Kosim Nurseha tidak
   pernah kehilangan tema dalam memberikan ceramah-ceramahnya. Bahkan,
   dia mampu menunjukkan kelebihannya dalam membina keimanan umat.
   Misalnya, bagaimana mengaplikasikan keimanan itu dalam era globalisasi
   sekarang ini.
   
   Kalau ada suara-suara miring tentang ulama-ulama yang terlalu dekat
   dengan umara (pemimpin pemerintahan), menurut Kiai Ali Yafie, harus
   dilihat dengan jernih. ''Memang ada peringatan- peringatan yang
   diberikan oleh Islam, terutama pada ulama yang dekat umara karena ada
   maksud-maksud tertentu. Misalnya, untuk mendapatkan jabatan tertentu,
   untuk mendapatkan uang, dan semacamnya,'' katanya menerangkan. Tetapi,
   kalau seorang ulama diundang untuk memberikan ceramah di suatu
   kelompok tertentu, misalnya di kalangan istana itu, dia wajib datang
   untuk menjalankan tugasnya sebagai ulama. Itu kewajiban yang harus
   dilaksanakannya. Sebagai ulama, dia wajib memberikan bimbingan agama.
   
   ''Karena itu, jangan gampang ditafsirkan macam-macam. Tugas seperti
   itu sama dengan memberikan pengajian di kelompok masyarakat pedesaan.
   Sama-sama tugas ulama untuk memberikan bimbingan agama kepada umat, ''
   ujar Ali Yafie. Kiai Ali Yafie juga mengakui bahwa setiap orang tidak
   luput dari isu, termasuk isu-isu yang kurang menyenangkan. Bukan ulama
   saja yang bisa diterpa isu, tetapi siapa saja yang hidup bisa diterpa
   isu-isu seperti itu. ''Karena itu, kita jangan terpancing oleh isu-isu
   seperti itu,'' sarannya. Senada dengan Ali Yafie, Ketua Majelis Ulama
   Indonesia (MUI) KH Hasan Basri menilai, Kiai Kosim Nurseha adalah
   figur guru agama yang baik. Mampu memainkan perannya sebagai seorang
   pembimbing keagamaan, bahkan sampai di kalangan keluarga istana
   sendiri. Dalam banyak hal, dia tampil dengan gayanya sendiri, dengan
   retorikanya sendiri, dengan kemampuan memberikan bimbingan spiritual
   terhadap semua kalangan.
   
   Sama seperti Ali Yafie, ketua MUI itu mengaku tidak kenal secara
   pribadi dengan Kiai Kosim Nurseha. Cuma, katanya, beliau banyak
   memberikan ceramah di RKM, salah satu radio yang banyak berperan dalam
   memopulerkan namanya. ''Yang patut dihargai adalah dia mampu
   menyampaikan pesan-pesannya secara langsung kepada umat yang menjadi
   sasaran ceramahnya. Bila diperhatikan, dia memberikan ceramah
   lurus-lurus saja. Tetapi, dia bisa menguraikan dengan sangat bagus,
   sehingga mudah difahami semua orang,'' katanya menerangkan. Menurut
   Hasan Basri, dirinya juga merasakan kalau belakangan ini banyak muncul
   isu-isu yang kurang menyenangkan terhadap diri pribadi seorang ulama,
   khususnya para ulama yang dekat dengan kalangan umara. Biasanya,
   ulama-ulama seperti itu dicurigai telah memanfaatkan keulamaannya
   untuk tujuan-tujuan tertentu yang bersifat keduniawian.
   
   Tetapi, katanya, kita perlu lebih banyak berprasangka baik. Kalau
   ulama dekat dengan umara, itu berarti bahwa umara tersebut secara
   spiritual akan tertolong oleh ulama yang dekat dengannya. ''Nah,
   inilah yang mestinya kita tanamkan di dalam hati kita. Bukan yang
   lain-lain, yang belum tentu benar,'' katanya. Diakui Hasan Basri,
   belakangan ini banyak muncul isu yang menyebutkan bahwa ulama tertentu
   hanya mau berceramah di suatu kelompok masyarakat bila dibayar dengan
   bayaran yang tinggi. Menurut kiai yang sejak muda aktif dalam
   pergerakan Islam itu, isu seperti itu pernah didengarnya menerpa ulama
   muda seperti KH Zainuddin M.Z., yang katanya tidak mau berceramah
   kalau tidak dibayar jutaan rupiah.
   
   ''Menurut saya, hal itu sama sekali tidak benar. Tetapi, belakangan
   ini memang ada sekelompok orang yang bertugas sebagai koordinator dari
   seorang ulama. Nah, para koordinator inilah yang barangkali menetapkan
   harga, yang mungkin diperlukan untuk membelikan tiket dan berbagai
   keperluan ulama tersebut,'' paparnya. Karena itu, Hasan Basri
   menyarankan, penyelenggaraan ceramah-ceramah agama tidak perlu memakai
   jasa para koordinator seperti itu. ''Itu baru sekarang saja. Dulu
   tidak pernah ada koordinator seperti itu. Ini yang menyebabkan semakin
   menyebarnya isu tarif tersebut,'' katanya. (nas)