IN/POL: MI - Presiden Soeharto kepa

From: apakabar@clark.net
Date: Sat May 18 1996 - 15:19:00 EDT


Subject: IN/POL: MI - Presiden Soeharto kepada Para Ulama

INDONESIA-P

      Sabtu, 18 Mei 1996
      
Presiden Soeharto kepada Para Ulama

   
   
   
     _________________________________________________________________
   
    Penurunan Moral Rakyat Jangan Dibiarkan ----
    
   
   
   JAKARTA (Media): Presiden Soeharto mengingatkan, adanya penurunan
   moral rakyat antara lain karena kurangnya pendidikan agama, dan hal
   itu jangan dibiarkan berlarut-larut.
   
   
   
   Untuk itu, Kepala Negara meminta masyarakat untuk tidak teledor atau
   lupa memberikan pendidikan agama dan budi pekerti kepada anak-anak
   mereka serta generasi muda pada umumnya.
   
   "Jangan sampai terlambat dan teledor memberikan pendidikan agama hanya
   karena memburu kebutuhan duniawi. Landasan agama itu jangan dipelajari
   saat sudah tua saja tetapi harus sedini mungkin" tegas Presiden saat
   menerima para ulama dari Sulawesi Selatan dan Maluku di Istana
   Merdeka, kemarin.
   
   Kepala Negara yang berbicara tanpa teks itu juga mengingatkan agar
   masyarakat dan ulama jangan sampai terlambat memberikan pendidikan
   agama serta spiritual kepada generasi muda. Karena itulah, Presiden
   mengimbau ulama untuk memberikan pendidikan agama, misalnya, melalui
   kegiatan pesantren kilat terutama kepada para siswa SD misalnya pada
   saat mereka sedang liburan panjang.
   
   Kepala Negara yang didampingi Menteri Agama Tarmizi Taher mengatakan
   jika kegiatan pesantren kilat itu bisa dilaksanakan secara baik, maka
   para siswa selain akan memperoleh bekal tambahan pengetahuan agama
   juga bisa memupuk rasa kesetiakawanan sosial.
   
   Menurut Kepala Negara, pendidikan agama serta spiritual itu sangat
   penting bagi para pelajar karena terbatasnya jam pelajaran di sekolah.
   
   "Pendidikan agama serta spiritual juga sangat diperlukan, karena
   pembangunan yang dilakukan bangsa Indonesia tidak hanya sekedar untuk
   memenuhi kebutuhan duniawi, tapi juga batiniah. Pembangunan yang kita
   lakukan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan material."
   
   Kemitraan
   Pada kesempatan itu, Presiden menyinggung tentang pencanangan Gerakan
   Nasional Kemitraan di Istana Negara pada hari Jumat 15 Mei.
   Pencanangan kemitraan di antara pengusaha besar, kecil dan menengah
   itu sangat penting.
   
   "Pengusaha yang besar jangan menguasai ekonomi nasional, misalnya,
   mulai dari memiliki pabrik-pabrik yang besar hingga penyaluran
   barangnya," tegas Kepala Negara.
   
   Kepada para pengusaha besar, Presiden mengingatkan, jika mereka sampai
   menguasai seluruh jalur ekonomi, maka langkah itu akan mematikan
   pengusaha menengah dan kecil.
   
   Menurut Presiden, kemitraan di antara para pengusaha besar dengan
   mitra mereka yang menengah dan kecil itu tidak boleh mematikan satu di
   antara yang lainnya. "Bila kemitraan ini bisa terlaksana dengan baik,
   maka adil dalam kemakmuran dan makmur dalam keadilan bisa terwujud,"
   tambah Kepala Negara.
   
   Seusai melakukan ramah tamah, Presiden melakukan shalat Jum'at bersama
   di Masjid Baiturrahman yang terletak di halaman Istana Merdeka.
   
   Sebelumnya, para ulama dari Sulsel dan Maluku ini melakukan
   silaturrahmi dengan Wakil Presiden Try Sutrisno di Istana Merdeka
   Selatan. Pada silaturrahmi itu Wapres mengungkapkan bahwa semua pihak
   kini memprihatinkan terjadinya gejala pengabaian nilai moral dan
   disiplin di masyarakat.
   
   Menurut Wapres, semua pihak wajib mencari akar masalahnya sesuai
   dengan bidang tugas dan fungsinya masing-masing. Untuk itu, kata
   Wapres, semua pihak perlu melakukan introspeksi. "Perlu dikaji mana
   yang perlu diperkuat dalam pencapaian pembangunan secara fisik dan
   spritual," tambah Wapres.
   
   Try Sutrisno juga menekankan pentingnya peran ulama untuk melahirkan
   generasi mendatang yang mantap dan andal, baik dari segi keimanan dan
   ketakwaannya, serta juga dari segi penguasaan Iptek-nya.
   
   Namun, Wapres mengingatkan, agar penyampaian dan pemecahan masalah itu
   dilakukan dengan cara yang santun, sabar dan bijaksana. Wapres
   menunjuk cara yang dilakukan junjungan umat Islam Nabi Muhammad SAW
   sebagai contoh memecahkan berbagai persoalan itu.
   
   Pada bagian lain, Wapres menekankan kembali pentingnya kerukunan
   sebagai kunci persatuan dan kesatuan bangsa. "Kunci itu jangan sampai
   lepas dan harus terus ditumbuhkembangkan," tegas Wapres.
   
   Dengan landasan kerukunan yang mantap, lanjut Wapres, maka negara
   Indonesia akan berjalan dengan tertib, tenteram, dinamis dan maju.
   
   Menurut Ketua MUI Propinsi Maluku KH Rusjdi H Sanusi, silaturrahmi itu
   bertujuan untuk mendekatkan hubungan umara dan ulama serta membina
   hubungan sesama umat dan antara umat lainnya. (Rid/D-2)
     _________________________________________________________________
   
   [ISMAP]