IN/IRJA: GATRA - Ketika Palang Mera

From: apakabar@clark.net
Date: Sat May 25 1996 - 08:00:00 EDT


Subject: IN/IRJA: GATRA - Ketika Palang Merah Pulang Kecewa

INDONESIA-P

   
   Majalah Berita Mingguan GATRA, 25 Mei 1996 (No.28/II) Rubrik : Laporan
   Utama.-
   
   Ketika Palang Merah Pulang Kecewa
   
   Sembilan sandera gerombolan Kelly Kwalik berhasil dibebaskan. Dua
   sandera lainnya tewas. Kelly dan Daniel Kogoya lolos.
   
   PETI jenazah Navy W. Panekenan, 29 tahun, sudah diangkat ke atas
   lubang pemakaman ketika kekasihnya, Adinda Arimbi Saraswati, datang
   dengan kursi roda. Kesedihan tergurat dalam di wajah Adinda. Air
   matanya tidak putus mengalir mengiringi isaknya yang tertahan. Peti
   jenazah Navy pun dibuka untuk terakhir kali. Lalu, Adinda mengecup
   pipi Navy sebagai tanda perpisahan, dan kemudian memasangkan cincin
   pertunangan mereka ke jari manis sang kekasihnya, yang dingin dan
   kaku.
   
   Para pelayat menundukkan kepala, dan isak tangis terdengar menyayat,
   melihat Adinda melepas kekasihnya di Pemakaman Umum Kampung Rambutan,
   Jakarta Timur, Jumat siang pekan lalu itu. Lalu, peti jenazah
   diturunkan, dan secara perlahan ditimbun tanah merah. "Anak yang
   paling baik, anakku yang manis, mengapa kamu begitu cepat meninggalkan
   kami," kata Nyonya Anamaria Irene Panekenan Korompis, ibu mendiang
   Navy, meratap lirih.
   
   Navy tewas akibat tindak kekerasan gerombolan Kelly Kwalik, sayap
   militer Organisasi Papua Merdeka (OPM), yang berkeliaran di Dataran
   Tinggi Lorentz, di jantung Irian Jaya. Keberingasan gerombolan
   pengacau keamanan (GPK) ini juga merenggut jiwa Yosias Matheis (Teis)
   Lasamahu, 32 tahun, kolega Navy di Biological Science Club (BScC)
   Universitas Nasional, Jakarta. Pembunuhan atas dua pemuda itu
   merupakan adegan puncak drama penculikan, yang didalangi Kelly, sejak
   8 Januari lalu.
   
   Penculikan itu memaksa ABRI menurunkan satuan tugas tempur sejak 9 Mei
   lalu. Setelah enam hari memburu, satuan ABRI berhasil menjepit
   gerombolan tersebut di sebuah lereng berhutan lebat dekat Desa Sika,
   Kecamatan Tiom, Kabupaten Jayawijaya. Rabu sore pekan lalu, serbuan
   dadakan prajurit TNI membuka peluang bagi sembilan sandera kabur
   melepaskan diri dari tangan penyandera mereka. Namun Navy dan Teis
   keburu terluka parah, dan diseret gerombolan sebelum diselamatkan
   satuan ABRI.
   
   Navy dan Teis dimakamkan dengan upacara militer pada hari yang sama,
   tapi di tempat berbeda. Peti jenazah mereka diselimuti bendera Merah
   Putih, dan diantar ke lubang kubur dengan tembakan salvo. Navy
   dimakamkan tidak jauh dari kediaman keluarganya, di Cililitan, dengan
   inspektur upacara Komandan Kodim 0505 Jakarta Timur, Letnan Kolonel
   Dody Sudarno. Sembilan bekas sandera, yang sudah berbulan-bulan
   bersama Navy, hadir pada upacara pemakaman tersebut. Duta Besar
   Belanda Paul Rietze Brouwer serta Duta Besar Inggris Grahan Burton
   tampak pula di antara pelayat.
   
   Sementara itu Teis diistirahatkan di Pemakaman Pandu, Bandung, dengan
   inspektur upacara Letnan Kolonel B. Siregar dari Garnizun II Bandung.
   "Ini sebuah penghormatan. Jarang orang sipil dimakamkan dengan upacara
   militer penuh," kata Mayor Jenderal (purnawirawan) Ade Picaulima,
   sepupu mendiang Teis. Seperti pada pemakaman Navy, penguburan Teis
   juga diiringi kidung yang sendu.
   
   Navy, Teis, Adinda, dan Jualita Maureen Tanasale, adalah empat
   peneliti BScC Universitas Nasional, yang dikirim ke Pegunungan Lorentz
   untuk riset keanekaragaman hayati dan kehidupan sosial masyarakat
   setempat, awal November 1995. Bersama mereka bergabung pula Antropolog
   Markus Warib, 35 tahun, dari Universitas Cenderawasih, Jayapura, dan
   empat sarjana baru lulusan Jurusan Biologi Universitas Cambridge,
   Inggris, yaitu Daniel P. Start, 21 tahun, William (Bill) Oates, 23
   tahun, Annete van der Kolk, 22 tahun, dan Anna McIvor, 21 tahun.
   Mereka bergabung dalam Tim Ekspedisi Lorentz 1995.
   
   Seusai melakukan penelitian, Tim Lorentz 1995 beristirahat di Desa
   Mapenduma. Di situ mereka bertemu tiga peneliti lain, yakni pasangan
   suami-istri Marco van der Wal dan Martha Klein (keduanya dari Belanda)
   dan Frank Momberg (asal Jerman). Van der Wal dan Momberg bekerja untuk
   World Wildlife Fund (WWF), sedangkan Klein bekerja untuk Unesco. Pada
   saat kedua tim itu bersantai, pada 8 Januari, gerombolan Kelly datang
   dan menggelandang mereka masuk hutan.
   
   Pada mulanya 26 orang yang disandera. Selang empat hari kemudian, 9
   sandera lokal, semuanya warga Mapenduma, dibebaskan. Lalu, beberapa
   rohaniwan terkemuka di Irian Jaya turun tangan menjadi penengah, dan 4
   sandera lagi dilepaskan, termasuk Momberg. Kemudian perundingan macet.
   Kelly, yang didukung sekitar 200 laskar dengan 6 pucuk senjata api,
   menolak bertemu rohaniwan lagi.
   
   Sejak 7 Februari, upaya perundingan dilakukan dengan mediator dari
   Palang Merah Internasional (ICRC). Tempo sebulan, pada 10 Februari dan
   15 Maret, dua sandera dibebaskan lagi. Setiap pertemuan dengan
   gerombolan Kelly dimanfaatkan tim ICRC untuk memasok obat, makanan,
   pakaian, dan surat bagi para sandera. Pada pertemuan 1 Mei lalu, Kelly
   berjanji akan membebaskan semua sandera tanpa persyaratan politik
   tepat di hari ulang tahun ICRC, 8 Mei.
   
   Ternyata janji itu janji gombal. Kelly tetap memasang harga tinggi:
   pembebasan sandera harus ditebus dengan pengakuan atas berdirinya
   Republik Papua Barat dengan Kelly Kwalik sebagai presiden, dan bonus
   sejumlah senjata buat mereka. Tim ICRC menolak persyaratan itu karena
   dianggap tidak realistis. Esoknya, tim ICRC kembali terbang menemui
   pimpinan gerombolan di Desa Geselama. Kelly tetap keras menolak
   membebaskan sandera, bahkan Klein, yang hamil tujuh bulan. Perundingan
   mentok. ICRC mengundurkan diri sebagai mediator.
   
   Lalu ABRI mengambil sikap: krisis penyanderaan akan diselesaikan
   melalui operasi militer. Prajurit telah disiagakan. Dan sejak
   pertengahan April, Markas Besar ABRI secara resmi telah membentuk
   satuan tugas pembebasan sandera dan menunjuk Komandan Komando Pasukan
   Khusus (Kopassus) Brigadir Jenderal Prabowo Subianto sebagai
   komandannya. Kota Timika, yang berjarak 125 km dari Geselama,
   ditetapkan sebagai markas komando.
   
   Sekitar empat buah heli jenis Bell 412 dan Puma SA-330 berlogo TNI
   Angkatan Darat sering tampak di apron Lapangan Udara Timika. Empat
   perwira tinggi berbintang satu, yakni Brigadir Jenderal Prabowo,
   Kepala Staf Kodam Trikora Brigadir Jenderal Johni Lumintang, Direktur
   A BIA (Badan Intelijen ABRI) Brigadir Jenderal Jacky Anwar, dan Wakil
   Asisten Operasi Brigadir Jenderal Suedi Muarasabessy, sering terlihat
   keluar- masuk markas komando di hanggar Lapangan Udara Timika.
   
   Sumber militer di Timika mengatakan, operasi ini dilengkapi pula
   dengan sebuah drone, pesawat kecil tak berawak, yang mampu terbang
   sampai ke Geselama untuk melakukan pengintaian. Pesawat itu membawa
   kamera video. Dua set perkakas telekomunikasi dengan antena parabola
   mini, yang terpasang di depan hanggar, menjamin hubungan telepon bebas
   hambatan Timika-Jakarta. Belakangan sepasukan Brimob, dengan lima ekor
   anjing pelacak German Shepperd dan seekor Dobberman, memperkuat markas
   komando di Timika.
   
   Lalu, sekitar 600 personel dari pelbagai kesatuan didatangkan untuk
   mendukung operasi bersandi Cenderawasih itu. Ada satuan antiteroris
   Kopassus dengan seragam hitam. Ada prajurit baret hijau Kostrad dari
   Yon 330, 328, dan 327 (Jawa Barat). Ada Batalyon 514 (Brawijaya). Ada
   pula Batalyon 742 (Trikora). Mereka dibagi ke dalam dua peran: ada
   yang bertugas sebagai tim pemburu, dan ada pula pasukan penyekat untuk
   menghadang gerakan musuh. Manuver para prajurit dikendalikan dari pos
   komando di bawah Letnan Kolonel Chaerawan dari Kopassus, yang berada
   di Desa Kenyam, sekitar 30 menit dengan heli dari Geselama. Setiap
   unit pasukan dibekali pula dengan instrumen GSP (Global Positioning
   System), yang memungkinkan mereka mengetahui posisi koordinat secara
   cepat dan akurat.
   
   Ketika misi ICRC mentok, satuan tugas operasi ABRI sudah siaga dengan
   skenario kedua, yakni operasi militer. Pada 9 Mei, sepasukan prajurit
   dikerahkan untuk memburu musuh dengan lima helikopter. Esoknya, mereka
   diberangkatkan lagi. Namun, tak jauh dari Desa Kenyam, sebuah heli
   Bell 412 jatuh karena ekornya menyambar cabang pohon. Dua penerbang
   dan tiga prajurit tewas. Tujuh lainnya cedera. Tapi musibah itu tak
   mengendurkan semangat operasi.
   
   Satu unit prajurit dikirim ke Geselama untuk melakukan pengejaran. Tim
   penyekat pun telah mengambil posisi mengunci daerah seluas 10 x 10
   kilometer. Unit pemburu lainnya didaratkan dengan tali dari heli di
   lokasi-lokasi yang diperkirakan akan didatangi gerombolan, yakni
   sumber air bersih, atau belukar yang ditumbuhi kelapa gunung khas
   Irian, yang buahnya sebesar biji sawit dan bisa dimakan. Pasukan yang
   beruntung menemukan jejak para sandera itu adalah tim berkekuatan 25
   orang dari Batalyon 330, yang dipimpin Kapten Agus Rochim.
   
   Setelah bergerak dua hari, pada 11 Mei, pasukan Agus, yang memakai
   sandi Pandawa 1, menemukan ransel, kantong tidur, ceceran serpihan
   kertas, kaleng makanan, bahkan pembalut wanita yang ditinggalkan
   sandera di tengah hutan. Boleh jadi, mereka sengaja melakukannya.
   Barang-barang itu, bagi pasukan Agus, menjadi petunjuk yang berarti.
   Tim Pandawa 1 segera mengejar, dan hari berikutnya sudah berada 2 km
   di belakang gerombolan. Unit ini terus menguntit kendati persediaan
   makanan mereka sudah tipis.
   
   Sepanjang Senin dan Selasa pekan lalu, Pandawa 1 terus membayangi
   gerombolan tersebut. Dari jejak yang diperoleh, tim ini yakin bahwa
   rombongan yang diburunya tetap mengelompok, tidak bergerak memencar.
   Pandawa 1 pun mengontak Kasuari 1, unit pasukan antiteroris Kopassus,
   agar datang untuk menjepit sasaran. Esoknya, Pandawa 1 dan Kasuari 1
   sudah sangat dekat dengan sasaran. Tapi mereka tidak melakukan
   sergapan karena belum melihat posisi sandera secara pasti.
   
   Baru Rabu pagi, Pandawa 1 melihat formasi musuh secara jelas. Ternyata
   pasukan Kelly, yang mengawal 11 sandera itu, tinggal sekitar 20 orang
   saja. Kelly dan Daniel Yudas Kogoya tidak bersama mereka. Tapi Pandawa
   1 tidak kecewa karena sasaran mereka adalah penyelamatan sandera.
   Sementara itu tim Kasuari 1, yang berkekuatan 20 orang, di bawah
   Sersan Mayor Bayani, sudah pula mendekati sasaran. Akhirnya,
   gerombolan yang dipimpin Silas Kogoya itu terjepit di sebuah lereng,
   yang di bawahnya mengalir Sungai Gilmit.
   
   Silas mulai menyadari ada sanbo (sebutan mereka untuk anggota ABRI)
   telah berada di belakang mereka, dekat sungai. Ia lalu memerintahkan
   para sandera untuk cepat mendaki. Navy berjalan paling depan diikuti
   Teis. Di belakang mereka, ada Adinda, Jualita, Markus Warib, dan Anna
   McIvor. Sandera yang lain ada di belakang, dekat tepian sungai.
   Suasana tegang. Namun Navy tidak menyangka bila tiba-tiba seorang
   anggota GPK mengayunkan kapaknya ke arah bahunya. Ia mengaduh dan
   jatuh.
   
   Adinda yang melihat adegan itu dari jarak dekat kontan menjerit. Tapi
   jeritan itu tak menghalangi lelaki kekar tersebut mengayunkan kapaknya
   untuk kali kedua. "Saya histeris memanggil-manggil nama Navy," tutur
   Adinda sambil terisak. Tak lama kemudian Teis mendapat perlakuan
   serupa. Ia dibacok bertubi-tubi dengan parang. Jeritan Adinda dan
   Jualita kembali memecah keheningan.
   
   Adegan berikutnya, senapan menyalak. Seorang anggota gerombolan jatuh
   tersungkur tersambar peluru Sersan Pariki. Para anggota GPK panik, dan
   para sandera menyelamatkan diri dengan meluncur ke arah sungai, dan
   berlindung di bawah "paruh Cenderawasih". Tembakan terus menyalak.
   Delapan anggota gerombolan roboh ditembus peluru. Dua tertangkap. Tapi
   Navy dan Teis, yang terluka parah, diseret anggota gerombolan ke
   tengah rimba. Sembilan sandera selamat. Malam itu mereka terpaksa
   menginap di lembah dingin tersebut.
   
   Esoknya, para sandera dievakuasi dengan heli ke Geselama untuk
   transit. Brigadir Jenderal Prabowo, yang baru malam harinya tiba di
   Timika, ikut menjemput ke Geselama. Dari desa pegunungan itu para
   sandera dibawa turun dengan pesawat ringan, dan diistirahatkan sejenak
   di Hotel Sheraton Timika untuk mandi dan menjalani pemeriksaan dari
   tim medis. Sekitar pukul 15.15 WIT, para sandera diboyong ke Jakarta
   dengan Hercules C-130, dan langsung diantar Prabowo.
   
   Navy dan Teis ditemukan sekitar 1,5 km dari lokasi sebelumnya dalam
   keadaan tak bernyawa. Mereka diduga meninggal karena kehabisan darah.
   Jenazah mereka dievakuasi ke Rumah Sakit Timika untuk divisum, dan
   kemudian langsung dibawa ke Lapangan Udara Timika. Sekitar pukul
   17.00, Boeing 737 Airfast menerbangkan kedua jenazah peneliti tersebut
   ke Jakarta.
   
   Pukul 19.35 WIB, pesawat Hercules yang membawa sandera tiba di
   Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Sambutan luar biasa.
   Sekitar 200 wartawan, dan 50 di antaranya dari pers asing, tampak
   menunggu. Kepala Staf Umum ABRI Letnan Jenderal Soeyono telah siap di
   situ untuk menerima sandera dari Brigadir Jenderal Prabowo. Para juru
   foto kecele, karena para sandera langsung diangkut ke Rumah Sakit
   Angkatan Darat Gatot Subroto.
   
   Jenazah Navy dan Teis tiba 1,5 jam kemudian. Soeyono menyerahkannya ke
   Irjen Departemen Kehutanan, Utomo, karena instansi ini yang memberikan
   izin ekspedisi ke Gunung Lorentz. Setelah itu kedua jenazah diserahkan
   Utomo kepada keluarga mereka. Esoknya, di Aula Rumah Sakit Gatot
   Subroto, Soeyono juga menyerahkan ketiga bekas sandera Indonesia ke
   Departemen Kehutanan untuk diteruskan ke keluarga mereka. Sedangkan
   keenam sandera asing diserahkan melalui Irjen Departemen Luar Negeri,
   Abdul Irsan, kepada Duta Besar Belanda dan Inggris di Jakarta.
   
   Sukses operasi pembebasan sandera itu mendapat sambutan hangat
   koran-koran Inggris dan Belanda. Hampir semua koran terbitan London
   menulis berita tersebut di halaman pertama edisi 16 Mei dan 17 Mei.
   Ada spekulasi yang mengatakan bahwa operasi itu dibantu Pasukan Khusus
   Inggris, SAS. Tapi gosip itu kontan ditepis Duta Besar Kerajaan
   Inggris di Jakarta, Graham Burton.
   
   Jan Start, ayah salah seorang sandera, mengaku sangat gembira setelah
   menerima telepon anaknya, Daniel, dari Rumah Sakit Gatot Subroto,
   Jakarta. "Saya baru yakin anak saya selamat setelah berbicara lewat
   telepon," kata Start. Daniel, tambah ayahnya, sempat menuturkan
   kecemasannya pada hari-hari terakhir penyanderaan. "Ia hampir putus
   asa melihat medan yang berat itu. Anak saya bilang, hanya James Bond
   yang bisa menyelamatkan mereka," kata Start, warga Midhurst, sebuah
   distrik kecil di selatan London, sambil tertawa.
   
   Pujian atas keberhasilan ini juga muncul dari The Times, harian yang
   terbit di London. Koran itu, pada edisi Jumat lalu, menyebut Kopassus
   sebagai pasukan elite ketiga terbaik di dunia setelah SAS dan Satuan
   Antiteroris Israel. Sekjen PBB Boutros Boutros-Ghali, melalui juru
   bicaranya, Sylvana Foa, juga menyatakan kegembiraan bahwa drama
   penyanderaan telah berakhir.
   
   Media massa Belanda juga ikut memberitakan pembebasan pasangan Marco
   van der Wal dan Martha Klein, yang asal Negeri Kincir Angin itu. Pers
   Belanda mencatat kegembiraan yang melimpah dari keluarga J.G. Klein,
   orangtua Martha. "Kami lega sekarang. Situasi buruk ini tak harus
   berlarut-larut," kata S. Klein, ibu Martha. Penduduk Heeemskerk,
   distrik tempat keluarga Klein tinggal, dan warga Zeewolde, kampung
   halaman keluarga Van der Wal, pun menyatakan kegembiraan mereka dengan
   cara unik. Mereka mengibarkan bendera nasional Belanda di depan rumah
   tinggal masing-masing.
   
   Sebagai komandan operasi, Brigadir Jenderal Prabowo mendapat ucapan
   selamat bertubi-tubi dari pelbagai kalangan. Ia mencoba bersikap
   merendah. "Saya bersyukur operasi berjalan lancar, berkat kesungguhan
   para prajurit," ujarnya. Prabowo juga menyatakan menyesal karena
   operasinya tak bisa menyelamatkan semua sandera. "Sebagai orang yang
   memimpin operasi, saya minta maaf kepada keluarga korban," tambahnya.
   
   Namun Prabowo masih merasa gemas, karena Kelly Kwalik dan Daniel Yudas
   Kogoya lolos. "Mereka harus terus diburu," ujarnya. Namun boleh jadi,
   perburuan terhadap kedua bangkotan GPK itu akan dilakukan satuan
   reguler Kodam Trikora. Konon, Satgas Cenderawasih akan dibubarkan
   karena misi pembebasan sandera telah selesai. Para prajurit pendukung
   operasi ini, termasuk Prabowo, disebut-sebut akan diusulkan untuk
   menerima kenaikan pangkat istimewa.
   
   Tapi ke mana Kelly Kwalik? Ia memang licin. Ketika gerombolannya
   diserbu, ia memilih memisahkan diri dari rombongan besar, dan
   menyingkir dari areal perburuan bersama pengawalnya. "Sebagai
   gerilyawan, ia lihai," ujar Prabowo tentang musuhnya itu. (Putut
   Trihusodo, Hidayat Gunadi, Dani Hamdani, Genot Widjoseno (Timika), dan
   Ruba'i Kadir (Jayapura)/GIS.-