IN: SURYA - Ketoprak Mataram

From: apakabar@clark.net
Date: Thu Jul 18 1996 - 11:01:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by clark.net (8.7.1/8.7.1) id OAA24402 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Thu, 18 Jul 1996 14:02:01 -0400 (EDT)

Forwarded message:
From owner-indonesia-l@igc.org Wed Jul 17 19:25 EDT 1996
Content-Transfer-Encoding: 8bit
Date: Wed, 17 Jul 1996 16:33:50 -0400 (EDT)
From: apakabar@clark.net
MIME-Version: 1.0
Message-Id: <199607172033.QAA28819@clark.net>
Subject: IN: SURYA - Ketoprak Mataram
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: ELM [version 2.4 PL24alpha3]
Sender: owner-indonesia-l@igc.apc.org
Precedence: bulk
Content-Type: text/plain; charset=ISO-8859-1
Content-Length: 5272

INDONESIA-L

Date: Wed, 17 Jul 1996 08:54:39 +0700
To: apakabar@clark.net
Subject: Ketoprak Mataram

"Pak Guruh mau makan dimana ?"

Jum'at (12/7) lalu anggota DPR Guruh Sukarno berada di Yogya. Niatnya,
setelah sholat Jum'at, akan bertemu dengan para pendukungnya di kantor
DPD-PDI. Tetapi keluar dari Masjid Syuhada, Guruh disambut oleh Pasi Intel
Kodim 0734/Yogya, Kapten Sayuti dan Kapolsekta Jetis Lettu Muhari.
  "Mohon ijin, pak. Kalau boleh kami tanya, setelah ini bapak acaranya mau
ke mana ?" tanya Kapten Sayuti sambil menjabat tangan Guruh. "Mau ke luar
kota Pak" jawab Guruh.
  "Baik pak. Berarti setelah ini bapak langsung ke luar kota ?" desak
Sayuti. "Kami mau makan siang dulu" kata Guruh. "Makan siang di mana, pak
?" tanya Sayuti. "Ya..terserah nanti di mana" jawab Guruh enteng.
  "Tapi kami mendapat informasi bahwa bapak akan ke Kantor DPD PDI. Kami
mendapat perintah bapak tidak boleh ke sana. Lebih baik bapak terus ke luar
kota saja" ujar Sayuti. "Saya punya acara pribadi, pak. Dan saya mau makan
di kantor DPD PDI" jawab Guruh tak mau kalah.
  "Tetapi tidak boleh di kantor DPD atau DPC, pak. Kalau bapak mau makan di
tepat lain, kami siap mengantar" saran Sayuti yang selama pembicaraan itu
disaksikan oleh puluhan Banra dan Satgas PDI serta jama'ah sholat Jum'at
yang "kaget" karena tak menyangka kehadiran Guruh.
  Dialog terputus karena Banra dan Satgas PDI menginginkan Guruh tetap ke
Kantor DPD PDI DIY. Merek meminta Guruh langsung memasuki mobil. Namun Guruh
"mengalah" dan minta diantarkan makan di warung soto Pak Sholeh di
Tegalrejo. Ternyata warung itu tutup. Maka segera Parte Tarigan Sibero,
Ketua DPD PDI DIY, ambil prakarsa mengajak Guruh ke kantor DPD. Karena
makanan memang telah disiapkan di sana. Tetapi Kapten Sayuti ngotot
melarang Guruh mengunjungi Kantor DPD. "Kalau makan silahkan, tetapi jangan
di Kantor DPD PDI" kata Sayuti.
  "Alasannya apa pak ?" tanya Brigjen (pur) Bambang Raharjo yg mendampingi
Guruh. "Kami hanya melaksanakan perintah pak" jawan Sayuti. Suasana menjadi
panas. Guruh tetap duduk di dalam mobil. Banra dan Satgas PDI mendesak Guruh
segera dibawa ke Kantor DPD. Tarigan kemudian memerintahkan sopir mobil
Guruh untuk segera berjalan. Tetapi Kapten Sayuti langsung menghadang
dengan jalan berdiri tegak di depan mobil.
  Bersamaan dengan itu muncul Kasi Intel Korem 072/Pamungkas, Letkol.
Bustami Linap dan langsung mengambil alih dialog. Kepada Guruh dan
rombongan, ia menegaskan larangan rencana Guruh untuk makan siang di Kantor
DPD PDI DIY. Brigjen (pur) Bambang merasa tersinggung dan mengatakan :"Kalau
memang dilarang, mana surat pelarangannya !". Tentu saja Letkol. Bustami
tidak bisa memperlihatkan surat yang diminta. Karena tidak ada surat
larangan, Bambang minta rombongan jalan terus. Tetapi sekali lagi Kapten
Sayuti menghalangi mobil yang ditumpangi Guruh, Bambang dan Subagyo Anam itu.
  "Apakah ada perintah untuk mengganggu saya ?" tanya Brigjen (pur) Bambang
keluar dari mobil. "Tidak ada surat, tetapi ada perintah" kata Letkol.
Bustomi. "Tetapi hak saya jangan diganggu. Kita saling menghormati, tapi
jangan saling mengganggu" tandas Bambang dengan suara mulai meninggi. "Kami
tidak mengganggu" jawab Bustomo. "Dengan cara ini, aparat keamanan telah
menganggu saya. Seolah-olah saya telah diduga seperti orang yang akan
berbuat apa-apa. Kami orang-2 nasionalis tidak akan berontak kepada
pemerintah" tegas Bambang. Ia juga menjelaskan aparat keamanan Yogya salah
bila mendukung Soerjadi. Karena Presiden jelas-2 belum menerima Soerjadi dan
bahkan Assospol Kassospol ABRI Majen Suwarno telah menegaskan ABRI tidak di
belakang Soerjadi. "Salah kalau aparat di Yogya mendukung Soerjadi. Salah !"
tandas Bambang.
  Dengan gaya meyakinkan Bambang jugamemperingatkan Bustami akan sejarah
terbentuknya TNI. "TNI itu dari BKR dan TKR yang bertujuan melindungi
rakyat, bukan justru memusuhi rakyat. Dan kita boleh berbeda pendapat.
Masalah berbeda pendapat malah mau dipateni" tandas Bambang.
  "Namun saya, pak, tetap belum bisa mengijinkan bapak. Karena kondisi di
Yogya belum mengijinkan untuk mampir. Kedatangan bapak ke kantor DPD justru
akan memihak ke salah satunya" jawa Bustami. "Tidak ada kewajiban saya untuk
mampir ke suatu tempat dengan ijin bapak. Nggak ada urusan dengan saya. Itu
terserah bapak. Tetapi bagi saya mampir kemana-pun terserah saya. Itu
kedaulatan saya, hak azasi saya" jawab Bambang lagi dengan suara tinggi.
  Usai debat panjang rombongan Guruh meluncur lewat Jl. Wates, menuju warung
soto Kadipiro. Kali ini mereka tidak lagi dikawal oleh mobil garnizun,
tetapi oleh 3 intel naik 3 motor. Mereka tidak jadi mampir warung soto,
tetapi terus menuju Kantor DPD PDI. Tetapi rupanya jalan-jalan menuju
kantor tersebut telah diblokade ketat oleh aparat keamanan. Gurug gagal
menemui para pendukungnya.

Sumber : Harian SURYA, 13 Juli 1996).

Koran-2 16 Juli 1996 memberitakan pernyataan Danrem Pamungkas : kantor DPD
PDI DIY akan diambil alih. "Kantor itu milik pemerintah untuk digunakan
sebagai kantor PDI yang legal" katanya. Akan berakhirkah perlawanan
banteng-2 Yogya ? Mengacu pada kasus Semarang, yg kantornya telah lebih
dulu dikuasi aparat, ternyata banteng-2 itu lebih sehat hidup di luar
kandang (kantor).

Pmerhati