IN/LH: KMP - 9 Pulau Hilang Akibat

From: apakabar@clark.net
Date: Tue Jul 30 1996 - 18:34:00 EDT


Subject: IN/LH: KMP - 9 Pulau Hilang Akibat Penambangan

INDONESIA-P

http://www.kompas.com/9607/31/METRO/semb.htm
Kompas Online
Rabu, 31 Juli 1996
     _________________________________________________________________
   
                  SEMBILAN PULAU HILANG AKIBAT PENAMBANGAN
                                       
   
   
   Jakarta, Kompas
   
   Kepulauan Seribu di perairan Laut Jawa tertutup bagi izin
   pertambangan. Tidak terkendalinya penambangan galian C di masa lalu
   menjadi salah satu penyebab hilangnya sembilan pulau dari 120 pulau
   yang ada di gugusan Kepulauan Seribu.
   
   Gubernur DKI Jakarta Surjadi Soedirdja mengungkapkan hal ini pada
   acara penghijauan di Kepulauan Seribu dalam rangka HUT ke-35 PT
   Pembangunan Jaya di Pulau Bidadari, salah satu gugusan Kepulauan
   Seribu, Jakarta Utara, Selasa (30/7) pagi. Hadir antara lain Asisten
   Menteri Lingkungan Hidup Sudarsono dan Presdir PT Pembangunan Jaya Ir
   Ciputra.
   
   Menurut Gubernur Surjadi, hilangnya pulau-pulau tersebut bisa terjadi
   selain karena tidak terkendalinya penambangan galian golongan C pada
   masa lalu, juga karena abrasi pantai yang terjadi antara lain akibat
   kepunahan tanaman penyangga pantai (mangrove), penangkapan ikan secara
   besar-besaran dengan menggunakan bahan peledak, pengambilan terumbu
   karang yang tidak terkendali, dan pembuangan minyak di lepas pantai
   yang menyebabkan punahnya baik biota laut maupun habitatnya sebagai
   plasma nutfah. "Hal-hal yang saya uraikan tadi berdampak terhadap
   potensi sumber daya alam, khususnya sumber daya kelautan dan pesisir,"
   kata Surjadi Soedirdja.
   
   Ia minta aparat kecamatan dan kelurahan untuk mengawasi penggalian
   yang dilakukan. "Jangan pilih kasih. Tingkatkan pengawasan," kata
   Surjadi.
   
   Menurut catatan, pulau-pulau di gugusan Kepulauan Seribu yang kini
   menciut bahkan tenggelam antara lain Pulau Ubi Besar (yang semula
   luasnya tiga hektar kini hanya bisa terlihat kalau air surut), Pulau
   Ayer Kecil dan Pulau Dapur. Tenggelamnya tiga pulau itu akibat
   penggalian pasir secara besar-besaran. Perahu bermuatan pasir sering
   terlihat dibawa ke Jakarta. Selain itu pulau-pulau yang makin
   menghilang, nyaris tenggelam juga Pulau Laga, Pulau Kayu Angin Sepa,
   Pulau Kapas, Pulau Belanda, Pulau Kaliage Kecil.
   
   Menurut dia, pemerintah telah berbuat banyak dalam mengatasi dampak
   lingkungan, baik berupa upaya penyelamatan kelangsungan hidup biota
   laut maupun biota darat beserta habitatnya. "Jadi, Kepulauan Seribu
   harus kita jaga dan pertahankan, baik terhadap biota yang ada di
   dalamnya maupun habitatnya," tandas Surjadi.
   
   Pohon sukun
   
   Pada hari Selasa kemarin, peran serta badan usaha PT Pembangunan Jaya
   dalam penyelamatan lingkungan berupa bantuan pohon sukun sebanyak
   5.000 pohon dan anak penyu sebanyak 500 ekor. Pohon sukun ini
   multifungsi, di samping berfungsi sebagai penghijauan, buahnya dapat
   dimanfaatkan, dengan sendirinya dapat menambah penghasilan warga
   setempat.
   
   Namun demikian, Gubernur Surjadi berharap hendaknya sumbangan tanaman
   produktif ini memenuhi tujuan penghijauan dan pada pemahaman kita
   hendaknya tidak melihat tanah berpohon sebagai areal yang ideal, tapi
   justru dengan semangat sejuta pohon, perlu dikembangkan upaya sehingga
   dapat menambah persentase target ruang terbuka hijau dalam rangka
   tujuan yang lebih makro, yakni perbaikan kualitas udara dan
   lingkungan.
   
   Di samping itu, kata Surjadi, karena salah satu manfaat dari Kepulauan
   Seribu ini adalah sebagai daerah wisata, maka tidak kalah pentingnya
   adalah upaya untuk melakukan pengelolaan limbah padat dengan
   menggunakan teknologi tepat guna dengan segala pertimbangan aspeknya
   di Kepulauan Seribu ini.
   
   Belum dikelola baik
   
   Dalam kesempatan itu Gubernur Surjadi mengatakan Kepulauan Seribu
   merupakan daerah tujuan wisata, yang merupakan peluang sekaligus
   tantangan bagi dunia usaha untuk mengkreasi aktivitas usaha kebaharian
   tanpa mengabaikan faktor lingkungan.
   
   Sebagai contoh, Surjadi menyebut Pulau Onrust dan Pulau Nirwana yang
   saat ini belum dikelola dengan baik, padahal pulau-pulau tersebut
   mempunyai potensi yang dapat dikembangkan sebagai obyek wisata bahari.
   Hal ini perlu dikemas sedemikian rupa sehingga menarik wisatawan baik
   domestik maupun mancanegara.
   
   Namun perkembangan paket wisata tersebut, kata Gubernur DKI, hendaknya
   betul-betul direncanakan secara arif bijaksana, dengan
   mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi dan budaya serta lingkungan
   setempat, dan berpedoman pada rencana umum tata ruang. (ksp)
     _________________________________________________________________