IN/POL: RPK - Orang Tua Budiman Sud

From: apakabar@clark.net
Date: Tue Aug 06 1996 - 09:26:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.7.1/8.7.1) id MAA20150 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Tue, 6 Aug 1996 12:26:36 -0400 (EDT)
Subject: IN/POL: RPK - Orang Tua Budiman Sudjatmiko Ke Kejagung

Forwarded message:
From owner-indonesia-p@igc.org Tue Aug 6 02:01 EDT 1996
Content-Transfer-Encoding: quoted-printable
Date: Tue, 6 Aug 1996 04:06:43 GMT
From: apakabar@clark.net
Message-Id: <199608060406.EAA25235@smtp-gw01.ny.us.ibm.net>
Mime-Version: 1.0
Subject: IN/POL: RPK - Orang Tua Budiman Sudjatmiko Ke Kejagung
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: <PC Eudora Version 1.4>
X-Sender: apakabar@ozemail.net
Sender: owner-indonesia-p@igc.apc.org
Precedence: bulk
Content-Type: text/plain; charset="iso-8859-1"
Content-Length: 3799

INDONESIA-P

http://www.republika.co.id/9608/06/06BUDIMA.01Z.html
Republika Online
Selasa, 6 Agustus 1996

 Orang Tua Budiman Sudjatmiko di Kejagung: Iko Pulanglah,
 Ibu Kangen

 JAKARTA -- "Iko pulanglah. Bapak, ibu, dan adik-adik menunggu di rumah. Ibu=
=20
kangen sama kamu. Daripada dikejar-kejar, lebih
 baik pulang," suara Hajjah Sri Sulastri terbata-bata mengucapkan kalimat=
 itu.

 Iko adalah panggilan Sri Sulastri bagi anaknya Budiman Sudjatmiko, ketua=20
umum Partai Rakyat Demokratik (PRD). Suaminya,
 Haji Wartono Karyo Utomo (52), menyerukan hal yang sama, "Pulanglah Iko,=20
jangan menyusahkan orang tua. Adik-adik
 menunggu di rumah." Kedua orang tua Budiman Sudjatmiko kemarin mendatangi=
=20
Kejaksaan Agung. Bersama mereka ikut juga
 kedua adik Budiman, Sri Hapsari dan Eni Herlina, serta Sekretaris Desa=20
Sukaresmi, Kecamatan Cilebut, Bogor, MP Supardi,
 sebagai pengantar.

 Keluarga Wartono datang ke Kejaksaan Agung secara sukarela dengan maksud=20
membantu pemerintah menyelesaikan perkara
 yang menyangkut anaknya. Di gedung bundar, mereka diterima Kepala Pusat=20
Operasi Intelijen Gatot Hendrarto dan Kepala
 Bidang Penyelenggara Zainuddin Jahisa.

 Wartono, karyawan sebuah pabrik ban di Bogor, memasuki gedung Kejaksaan=20
Agung sambil dipapah kedua putrinya, karena
 sakit. Mengenakan kemeja batik warna kuning, celana hitam, dan berkopiah=20
hitam, Wartono meminta anaknya untuk segera
 pulang dan bersedia menjalani proses hukum kalau memang terlibat.

 Kepada wartawan, Wartono meragukan anaknya menganut paham komunisme dan=20
terlibat kegiatan PKI (Partai Komunis
 Indonesia). Menurut Wartono, kakek Budiman adalah seorang pejuang Hisbullah=
=20
-- salah satu lasykar Islam pada perjuangan
 Kemerdekaan 1945.

 "Ayah saya (kakek Budiman) adalah pejuang Hisbullah. Jadi tidak mungkin=20
Budiman terlibat kegiatan berhaluan kiri. Saya pribadi
 sangat benci PKI," kata Wartono dengan berlinangan air mata, "Saya pikir=20
tidak mungkin anak saya terlibat PKI." Pernyataan
 tersebut diperkuat istrinya, Sri Sulastri. "Anak saya itu mendapat=20
pendidikan agama yang cukup di tingkat SLA. Karenanya saya
 sedih dan prihatin mendengar kabar anak saya," ujarnya dengan sedu sedan.

 Meski tidak menyebut itu sebagai bantahan, tapi apa yang mereka kemukakan=
=20
secara tidak langsung menepiskan pernyataan
 aparat keamanan beberapa hari lalu bahwa orang tua Budiman Sudjatmiko=20
adalah eks PKI Golongan B-2.

 Kassospol ABRI Letjen TNI Syarwan Hamid di Deplu kemarin menolak menjawab=
=20
pertanyaan wartawan atas "bantahan" keluarga
 Budiman tersebut. "Saya no comment dululah," katanya sambil mengatakan ada=
=20
pihak yang berkompenten, yang bisa
 menjelaskan soal itu.

 Tapi Kassospol membenarkan pihaknya terus memburu Ketua Umum PRD Budiman=20
Sudjatmiko. "Baik otak maupun pelaksana
 di lapangan akan kita usut," katanya.

 Di mana Budiman berada, keluarganya tak bisa memperkirakan. Sri Sulastri=20
mengatakan, ia terakhir bertemu anaknya Senin
 (29/7) siang ketika Budiman pulang ke rumahnya di Bogor.

 Menurut Sri Sulastri, begitu datang Budiman langsung tidur. Setelah bangun=
=20
ia menyetrika sendiri bajunya yang masih setengah
 basah. Selepas Maghrib, aktivis PRD tersebut pergi lagi. "Disuruh makan=20
saja ia tak mau," tutur Sri Sulastri.

 Didampingi dua putrinya yang berjilbab putih, Sri Sulastri lalu menuturkan=
=20
bahwa Budiman pernah kuliah selama dua semester di
 Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada. Tapi ia tak menceritakan mengapa=
=20
Iko tak meneruskan kuliahnya.

 Keluarga Wartono melakukan pembicaraan dengan aparat Kejaksaan Agung lebih=
=20
dari setengah jam. Sekitar pukul 11.50, mereka
 meninggalkan Kejaksaan Agung. Tidak ada keterangan yang disampaikan=20
mengenai hasil pertemuan kedua pihak tersebut. =7F
 bud/tar=20