IN: WE - PT Dharmala Intiland ...

From: apakabar@clark.net
Date: Tue Aug 13 1996 - 18:17:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.7.1/8.7.1) id VAA02956 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Tue, 13 Aug 1996 21:17:40 -0400 (EDT)

Forwarded message:
From owner-indonesia-p@igc.org Tue Aug 13 21:17 EDT 1996
Content-Transfer-Encoding: 8bit
Date: Tue, 13 Aug 1996 18:44:27 -0400 (EDT)
From: apakabar@clark.net
MIME-Version: 1.0
Message-Id: <199608132244.SAA00610@explorer2.clark.net>
Subject: IN: WE - PT Dharmala Intiland ...
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: ELM [version 2.4 PL24alpha3]
Sender: owner-indonesia-p@igc.apc.org
Precedence: bulk
Content-Type: text/plain; charset=ISO-8859-1
Content-Length: 10857

INDONESIA-P

Date: Mon, 12 Aug 1996 20:08:23 -0400 (EDT)
X-within-URL: http://202.158.3.5/commerce/WartaEkonomi/8-11/1108lip1.htm

WARTA EKONOMI

   Mingguan Berita Ekonomi & BisnisEdisi 5 Agustus 1996
     _________________________________________________________________
   
   PT DHARMALA INTILAND
   
   PENGEMBANG PERTAMA YANG MEMPEROLEH ISO 9002
   
   
   
   PT Dharmala Intiland (DIL) merupakan anak perusahaan Grup Dharmala
   yang banyak bergerak di bidang properti. Perusahaan yang dikomandoi
   Hendro Santoso Gondokusumo ini telah berhasil membangun beberapa
   proyek yang tersebar di pelbagai wilayah yaitu di Jakarta, Surabaya
   dan beberapa di Jawa Barat.
   
   Cikal bakal PT DIL adalah PT Wisma Dharmala Sakti. Perusahaan yang
   didirikan pada 1983 ini, pada mulanya adalah pengembang dan pemilik
   gedung perkantoran Wisma Dharmala Sakti yang terletak di Jalan
   Jenderal Sudirman, Jakarta. Gedung megah berlantai 24 itu kini menjadi
   kantor pusat Grup Dharmala.
   
   Hanya, sebelum membentuk PT Wisma Dharmala Sakti, usaha properti yang
   dilakukan Dharmala justru dimulai di Surabaya. Pada 1973, dengan
   dukungan Pemda TK I Jatim, Dharmala, melalui PT Pembangunan Darmo
   Grande, membangun 2.600 rumah di Kompleks Darmo Grande Satelite City.
   Pelaksanaan pembangunan kompleks perumahan di Surabaya Barat itu
   dimulai pada 1977 dan rampung pada 1991.
   
   Setelah itu, pada 1977 Dharmala, melalui PT Taman Harapan Indah,
   membangun kompleks perumahan di Jakarta dengan nama Taman Harapan
   Indah. Proyek perumahan untuk kalangan menengah ke atas ini berhasil
   dirampungkan pada 1980.
   
   Sepuluh tahun kemudian, PT Pembangunan Darmo Grande berubah nama
   menjadi PT Dharmala Land. Perusahaan ini merupakan ujung tombak Grup
   Dharmala yang menggarap properti di Jatim. Setahun kemudian, PT Wisma
   Dharmala Sakti berubah menjadi PT Dharmala Intiland, dan sukses saat
   masuk bursa (go public) di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya.
   Pada 1992, PT Dharmala Intiland, yang mayoritas sahamnya dimiliki
   keluarga Gondokusumo, mengakuisisi PT Dharmala Land dan PT Taman
   Harapan Indah. Selain itu, perusahaan ini juga mendirikan perusahaan
   baru yakni PT Kemayoran Land. Dengan mitra lainnya, perusahaan ini
   menggarap apartemen di kawasan Kemayoran.
   
   Hingga kini, setelah masuk bursa, PT Dharmala Intiland berkembang
   dengan pesat. Perseroan telah memiliki 16 anak perusahaan. Anak-anak
   perusahaan ini telah menggarap beberapa proyek properti--selain
   perumahan dan gedung perkantoran, juga hotel, kawasan industri,
   apartemen, dan kondominium baik di Jakarta maupun Surabaya. Beberapa
   proyek yang digarap anak perusahaan itu telah rampung dan sukses.
   Sebut saja Pantai Mutiara di kawasan Pluit, Jakarta Utara. Perumahan
   yang berlokasi di pinggir pantai untuk kalangan atas ini hampir
   seluruhnya terjual habis. Bahkan kini proyek itu telah memasuki tahap
   kedua--dengan mereklamasi lahan--yang digunakan untuk membangun 245
   unit rumah tipe kanal. Proyek lain yang tak kalah suksesnya adalah
   perumahan di Graha Famili, Surabaya.
   
   Sukses yang diraih PT DIL dalam pelbagai proyek propertinya secara
   langsung berpengaruh pada kinerja perusahaan. Semenjak masuk bursa
   empat tahun lalu, perolehan perusahaan terus meningkat dari tahun ke
   tahun. Pada 1995 lalu, perseroan meraup pendapatan Rp256,60 miliar
   dengan laba bersih Rp57,69 miliar. Kontribusi terbesar dari pendapatan
   ini diperoleh dari penjualan perumahan yakni sebanyak 87%, 7% dari
   sewa dan pemeliharaan, 4% dari apartemen dan hotel, sedangkan 2%
   sisanya diperoleh dari usaha lainnya. Aset perusahaan yang pada 1991
   sebesar Rp84,1 miliar, kini melonjak menjadi Rp1,5 triliun. Karena
   kinerja perusahaan yang bagus itu, maka pada 1995 PT DIL memperoleh
   ISO 9002, sebuah standar mutu yang diakui internasional. "Penghargaan
   ini akan mendorong kami untuk mempertahankan standar yang ketat dalam
   kegiatan operasional perusahaan," ujar Hendro beberapa waktu lalu.
   
   Dalam waktu dekat, untuk menyatukan anak-anak perusahaan di bawah satu
   atap, PT DIL akan membangun Wisma Dharmala di kawasan Panglima
   Sudirman, Surabaya. Di samping itu, bersama lima perusahaan lainnya,
   PT DIL akan membangun kota baru di kawasan Parung, Bogor, seluas 600
   hektare.
   
   
   
   GRUP PUTRA SURYA PERKASA
   
   BISNIS INTINYA PROPERTI
   
   
   
   Putra Surya Perkasa yang lebih dikenal dengan Grup PSP didirikan oleh
   Trijono Gondokusumo, anak bungsu dari Suhargo Gondokusumo, pendiri
   Grup Dharmala. "Sepulang dari California, saya memang ingin berusaha
   sendiri. Kalau ikut ayah, Dharmala sudah besar dan peran saya tidak
   kelihatan," katanya beberapa waktu lalu.
   
   Akhirnya pada 1981, Trijono mendirikan PT PSP dengan modal Rp200 juta
   serta karyawan lima orang. Seperti halnya PT Dharmala Intiland, bisnis
   inti PSP adalah properti. Kiprah perusahaan ini dimulai dengan proyek
   Taman Surya, sebuah proyek rumah toko (ruko) berskala kecil di atas
   lahan seluas 2,6 hektare di kawasan Jalan Daan Mogot, Grogol, Jakarta
   Barat.
   
   Sukses dengan proyek pertamanya, pada 1989 PT PSP mulai menangani
   proyek-proyek berskala besar di sektor perumahan, perkantoran, dan
   apartemen. Proyek itu antara lain Taman Surya 2, Taman Surya 3, Pondok
   Club Villas 2 dan Wisma Bank Dharmala. Namun kesuksesan ini, menurut
   Sing--panggilan akrab Trijono--tak lepas dari bantuan sepupunya,
   Henry, serta dukungan mertuanya, Dasuki Angkosubroto. Sing beristrikan
   Lanny Angkosubroto--anak Dasuki, pemilik Grup Gunung Sewu--yang kini
   menjabat presdir Sewu Bank.
   
   Pada 1992, PT PSP melakukan diversifikasi usaha pada sektor properti.
   Sektor itu meliputi bisnis pembangunan perumahan, apartemen,
   perkantoran, pertokoan, hotel kawasan industri, lapangan golf, dan
   pusat rekreasi beserta fasilitasnya. Proyek-proyek baru itu akan
   dikelola oleh anak perusahaan dan PT PSP sebagai perusahaan induk.
   Perusahaan itu antara lain PT Wisma Dharmala Realty, PT Putra Sentra
   Pertiwi, dan PT Putra Sewaya Persada.
   
   Selain properti, Grup PSP juga berdiversifikasi yaitu merambah ke
   bisnis keuangan eceran, pabrikasi dan perjalanan wisata. Di bisnis
   keuangan, selain mendirikan bank dan BPR (Bank Perkreditan Rakyat),
   perusahaan ini juga membentuk perusahaan sekuritas. Sedangkan di
   bisnis eceran, Grup PSP mendirikan perusahaan restoran yang menyajikan
   makanan siap hidang, toko swalayan, toko busana dan kosmetik serta
   toko roti. Dengan begitu, Grup PSP mempunyai lima bidang usaha: divisi
   properti, keuangan, pabrikasi, perjalanan dan pariwisata serta eceran.
   Meski terbagi dalam lima divisi, bisnis properti tetap menjadi andalan
   kelompok usaha ini.
   
   Pada 1993, saat iklim bisnis properti membaik, divisi properti PSP,
   yaitu PT Putra Surya Perkasa--yang menjadi induk perusahaan di divisi
   properti--melangkah ke lantai Bursa Efek Jakarta. PT PSP melempar 90
   juta saham dengan nilai nominal Rp1.000. Setelah masuk bursa,
   perseroan makin berkibar saja. Setelah menggarap Hotel Ibis, pada
   1994, perusahaan ini menggebrak dengan proyek barunya yaitu Menara PSP
   di Kuningan, Perumahan Bukit Sentul dan Golf Resor, Gandaria
   Residence, Taman Surya 5, Pondok Club Villas 5 dan Brawijaya Park.
   
   Kini tiga tahun setelah masuk bursa, PT Putra Surya Perkasa memiliki
   aset Rp1,67 triliun, meningkat sekitar Rp270 miliar dari tahun
   sebelumnya yang sebesar Rp1,4 triliun. Namun, laba yang diperoleh
   hanya Rp56,28 miliar, menurun Rp11,89 miliar dari tahun sebelumnya
   yang sebesar Rp67,97 miliar.
   
   Meski mengalami penurunan laba, PT PSP tetap saja berekspansi dengan
   proyek-proyek baru. Pada tahun ini, PT PSP tengah membangun apartemen
   tujuh menara di kawasan Kelapa Gading dengan investasi Rp184 miliar.
   Satu menara telah rampung dan telah terjual 100%, sedangkan yang
   lainnya dalam tahap pengerjaan. Selain itu, perusahaan juga membangun
   apartemen untuk kelas menengah di kawasan Kalideres, Jakarta Barat,
   dengan investasi Rp24 miliar.
   
   
   
   PT DUTA ANGGADA REALTY
   
   MEMPERHATIKAN KUALITAS DAN FASILITAS
   
   
   
   Berita-berita yang menyatakan bahwa PT Duta Anggada Realty--anak
   perusahaan Grup Gunung Sewu--beraliansi dengan PSP dan PT Dharmala
   Intiland, cukup mengagetkan Lanny Angkosubroto, istri Trijono
   Gondokusumo yang menjabat komisaris PT Duta Anggada Realty. "Saya tak
   mengerti adanya kabar bahwa kami akan bergabung dengan PSP dan
   Dharmala Intiland," katanya seperti dikutip dalam Bisnis Indonesia.
   
   PT Duta Anggada Realty (DAR) didirikan pada 1983. Pada awalnya memang
   perusahaan ini memfokuskan bisnisnya di bidang properti yaitu
   investasi properti. Selang beberapa tahun kemudian, menurut Hartadi
   Angkosubroto, presdir PT Duta Anggada Realty, perusahaan berkembang
   pesat dan mulai merambah sebagai investor dan pengembang properti.
   
   Tahun 1990, PT DAR sukses masuk bursa di Bursa Efek Jakarta. Selang
   dua tahun kemudian, perusahaan yang saham mayoritasnya dimiliki
   keluarga Angkosubroto ini berekspansi besar-besaran, baik sebagai
   investor maupun pengembang properti. Tak kurang dari 27 proyek
   properti tersebar di Jakarta dan kota-kota lainnya, baik yang berupa
   gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, apartemen maupun hotel tengah
   dibangun. Beberapa di antara proyek itu seperti Chase Plaza, Plaza
   Hayam Wuruk, Plaza Bapindo, dan Apartemen Kemang telah selesai
   dibangun dan mulai beroperasi.
   
   Hartadi mengakui, beberapa proyek properti yang dikerjakan pihaknya
   cukup sukses. Baik gedung perkantoran, pusat perbelanjaan maupun
   apartemen rata-rata terisi di atas 90%. Keberhasilan itu menunjukkan
   bahwa PT DAR cukup solid di bisnis properti. "Kami memang
   memperhatikan kualitas dan fasilitas, sehingga pengguna ataupun tenant
   cukup puas dengan properti yang kami miliki," katanya di sela-sela
   RUPS, Juni lalu.
   
   Sejak masuk bursa lima tahun lalu, kini PT DAR mempunyai aset Rp1,07
   triliun, meningkat dibandingkan dengan tahun lalu yang sebesar Rp775
   miliar. Namun, laba bersih yang diperoleh perusahaan tercatat Rp27,1
   miliar--menurun ketimbang tahun lalu yang sebesar Rp30,46 miliar.
   
   Beberapa proyek lainnya yang bakal dirampungkan PT DAR pada
   tahun-tahun mendatang sebanyak sebelas buah. Beberapa di antaranya
   ialah Menara Plaza Bapindo II, Apartemen Regensi Menteng dan Plaza
   Galeria. Selain itu, PT DAR juga berencana membangun superblok mini di
   kawasan Karet Tengsin senilai Rp500 miliar dan hotel berbintang empat
   di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Barat.
   
   
   
   RIAN SUDIARTO
   
   
     _________________________________________________________________