IN/HAM: PMB - Kasus Udin: Polisi Am

From: apakabar@clark.net
Date: Thu Aug 22 1996 - 16:14:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.7.1/8.7.1) id TAA03849 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Thu, 22 Aug 1996 19:10:26 -0400 (EDT)
Subject: IN/HAM: PMB - Kasus Udin: Polisi Amankan 2 Pria

Forwarded message:
From owner-indonesia-l@igc.org Thu Aug 22 18:30 EDT 1996
Content-Transfer-Encoding: 7bit
Date: Thu, 22 Aug 1996 10:55:02 -0400
From: apakabar@clark.net
MIME-Version: 1.0
Message-ID: <321C74C6.5C7A@prolog.net>
Subject: IN/HAM: PMB - Kasus Udin: Polisi Amankan 2 Pria
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: Mozilla 2.01KIT (Win95; U)
Sender: owner-indonesia-l@igc.apc.org
Precedence: bulk
Content-Type: text/plain; charset=us-ascii
Content-Length: 8982

INDONESIA-L

Website:
http://www.SuaraPembaruan.com/News/1996/08/220896/Headline/1udin/1udin.html
Suara Pembaruan Online
Kamis Wage, 22 Agustus 1996

Polisi Amankan Dua Pria,
Diduga Penganiaya Udin

Yogyakarta, 22 Agustus

Reserse Polda Jawa Tengah didukung Polwil Yogyakarta dan Polres
Bantul sampai Kamis (22/8) pagi masih terus memeriksa dua pria yang
diduga sebagai pelaku penganiayaan dengan pemberatan atas Fuad
Muhammad Syafruddin (Udin), wartawan Harian Bernas Yogyakarta di
depan rumahnya Selasa (13/8) malam .

Udin meninggal dunia di rumah sakit Bethesda, Yogyakarta, hari Jumat (16/8)
setelah beberapa hari tidak sadarkan diri akibat pukulan benda tumpul di
kepalanya. Kedua pria yang belum dinyatakan sebagai tersangka itu diamankan
sejak Selasa lalu.

Wakapolwil Yogyakarta Letkol Pol Drs Dalimunthe ketika ditanya Pembaruan
mengatakan pihaknya belum bisa menjelaskan secara terinci tentang hasil yang
sudah dicapai pihaknya dalam mengusut kasus penganiayaan ini. ''Kami belum
bisa banyak berkomentar,'' ujarnya sambil menambahkan pihaknya saat ini
sedang menajamkan hasil penyelidikan di lapangan dengan data yang diperoleh
dari para saksi mata.

Sementara sumber di Yogyakarta Kamis pagi mengatakan, pihaknya yakin
kasus ini bisa diungkap tuntas dalam waktu singkat sesuai dengan arahan
pimpinannya yang menghendaki kasus ini bisa terbongkar dengan diketahui
pelaku dan motifnya secara jelas. Dua pria yang dicurigai terlibat dalam kasus
penganiayaan ini sudah diamankan dan masih terus dimintai keterangannya.

Diharapkan data yang ditemukan di lapangan bisa cocok dengan kedua pria
yang diamankan itu sehinga tidak susah membawa pelaku penganiayaan ini ke
depan pengadilan. Kedua pria yang diamankan itu menyangkal semua tuduhan
terlibat dalam kasus ini sehingga mereka belum bisa disebut sebagai pelaku,
apalagi ditahan. ''Status kedua pria itu masih sebagai orang yang dimintai
keterangan oleh pihak Kepolisian,'' ujar sumber itu.

Pemeriksaan Saksi

Kapolwil Yogyakarta Kol Pol Drs Darsono menegaskan, sampai saat ini Polres
Bantul terus melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi yang diduga
terlibat dalam peristiwa penganiayaan sampai tewasnya Fuad Muhammad
Syafruddin.

Kami masih memeriksa secara intensif untuk mengembangkan perkara ini.
Sedikitnya ada lima orang saksi yang telah diperiksa, katanya. Tetapi mereka
belum jelas seberapa jauh keterlibatannya.

Kapolwil juga membantah adanya aparat keamanan yang terlibat di dalam kasus
tersebut. Karena semua itu belum jelas dan sampai saat ini masih di dalam
pengembangan pihak polisi. Dia meminta untuk tidak terburu-buru
memberitakan seolah-olah hanya ada dua orang saksi yang diperiksa dan
menjurus kepada tersangka, padahal seharusnya lebih dari itu.

Karena pers sering memberitakan begitu, opini masyarakat seolah-olah
mengarah ke situ. Itu kan hasil analisis dan lebih cenderung sebagai pendapat,
ujarnya. Mestinya pers jangan begitu, karena kita harus menghormati dan
menerapkan asas praduga tak bersalah. Karena itu secara materiil polisi sedang
mengumpulkan alat bukti baru, di situlah nantinya baru kita analisis. Tahap
sekarang ini kita baru mengumpulkan alat bukti dan sampai saat ini masih belum
ada tersangka.

Yang ditangani polisi baru alat bukti dan saksi-saksi, ujarnya. Untuk itu sekali
lagi masyarakat diminta untuk memberikan informasi, jika memiliki keterangan
yang berguna sehubungan dengan kasus tersebut. Yang kita jaga akibat
santernya berita akhir-akhir ini membentuk opini masyarakat.

Jangan Berasumsi

Sementara itu mantan Deputy Operasi Kapolri Mayjen Pol (Pur) Drs
Kusparmono Irsan ketika ditanya mengatakan, hendaknya masyarakat tidak
banyak berasumsi tentang kasus ini sebelum pihak Kepolisian dalam hal ini
Polda Jawa Tengah dapat mengungkapkannya secara tuntas. ''Jangan
masyarakat berasumsi karena korbannya wartawan lalu dikaitkan peristiwanya
dengan motif pemberitaan,''ujar Kusparmono yang tercatat sebagai salah
seorang ahli reserse di Polri.

Menurut mantan Direktur Reserse Mabes Polri, kasus ini belum bisa dikaitkan
dengan masalah pemberitaan mengenai IDT atau pemilihan Bupati Bantul yang
banyak disorot oleh korban. Hal ini disebabkan hasil penyelidikan polisi belum
final. Apalagi hasil pengusutan pihak Polri sekarang ini belum dapat menangkap
pelakunya.

Kalau nanti hasil pengusutan ini sudah bisa menangkap pelaku dan penyelidikan
di lapangan cocok

dengan keterangan pelaku barulah bisa diketahui motifnya. '' Masih terlalu pagi
untuk menyebut kasus penganiayaan terhadap Fuad sebagai akibat pemberitaan
di media massa,''tuturnya.

Sementara itu dari Yogyakarta diperoleh penjelasan, Kamis malam (22/8) di
halaman kantor harian Bernas akan diadakan peringatan 7 hari meninggalnya
Udin. Upacara itu direncanakan akan dipimpin oleh Kyai Haji Muslim
Imampuro alias Mbah Liem dari Pondok Pesantren Al-Mutaqim Pancasila Sakti
Klaten. Acara ini akan dihadiri pula oleh Romo YB Mangunwijaya, dan
tokoh-tokoh masyarakat lainnya.

Pemda Bantul

Sedangkan Pemda Kabupaten Bantul yang disebut-sebut di banyak
pemberitaan seharusnya memberikan keterangan karena diduga kematian Udin
berkaitan dengan berita yang dibuatnya, menyatakan bersedia memberikan
keterangan pers Jumat (23/8).

Kesediaan Pemda Bantul ini atas desakan sekitar 10 wartawan dari berbagai
media yang mendatangi kantor bupati, Rabu (21/8) untuk minta konfirmasi.
Setelah menunggu sekitar 1,5 jam, mereka hanya dijanjikan oleh Kabag Humas
Pemda Bantul, Soemantri Widodo bahwa Bupati H. Sri Roso Sudarmo
bersedia mengadakan pertemuan Jumat siang. Alasan yang dikemukakan bahwa
Pemda

Bantul itu bukan hanya terdiri dari bupati saja, ada unsur lainnya.

Keterangan lain dari rekan korban sesama profesi, wartawan Medan Pos,
Cipriano Purba, Selasa (21/8) malam menyebutkan, Udin pernah mengajak ke
Kecamatan Imogiri karena diminta datang oleh pejabat setempat, menyangkut
pemberitaan IDT. Selain itu rekan korban tersebut juga pernah diingatkan salah
seorang pejabat kesehatan agar hati-hati memuat berita terutama yang berkaitan
dengan Pemda Bantul.

Menurut Cipriano, sehari sebelum Udin dianiaya, mereka berdua berjanji akan
ke Imogiri. "Udin minta ditemani, karena katanya dia ditelpon agar ke kantor
Camat soal berita IDT, tapi ternyata janji kami batal, walaupun saya sudah dua
kali ke rumahnya," kata Purba.

Selain itu beberapa pekan lalu, ketika dia minta konfirmasi mengenai berita
penyalahgunaan proyek pembangunan di lingkungan kesehataan Bantul dia
pernah diingatkan oleh seporang pejabat di sana agar hati-hati membuat berita.
"Kalau membuat berita hati-hati, karena tidak lama lagi ada koran di Yogya
yang akan ditutup dan wartawannya dituntut," kata Cipriano menirukan
perkataan pejabat kesehatan tersebut.

++Jangan Takut++

Sementara itu Ketua Umum PWI Pusat, H Sofyan Lubis yang mengadakan
pertemuan dengan wartawan Yogya di Harian Bernas, Selasa (21/8) sore
mengatakan, dengan kejadian meninggalnya Udin, jangan membuat wartawan
takut dan gentar untuk menulis berita. "Jangan mundur membuat berita untuk
menegakkan keadilan dan kebenaran," kata Sofyan Lubis.

Kedatangan Ketua Umum PWI ke Yogya tersebut untuk mendapatkan
keterangan langsung dari tim pencari fakta dan bertatap muka dengan wartawan
di Yogyakarta. Ketua PWI ini juga berkesempatan mengunjungi rumah duka di
Gedongan, Trirenggo, Bantul, serta ke TKP di Km 13 jalan Parangtritis.

Kepada istri dan kedua anak korban, Ketua PWI menyerahkan sumbangan dari
PWI Pusat sebesar Rp 1 juta, dari PWI Sumut Rp 1 juta. Istri korban, Ny
Marsiyem (28) juga menerima Rp 500.000 dari keluarga Harian Kedaulatan
Rakyat, Yogyakarta.

Anak Asuh

Selain itu H Sofyan Lubis juga menyampaikan amanat kesediaan pengusaha
yang juga pemilik harian Bisnis Indonesia, Sukamdani Sahid Gitosardjono
untuk mengangkat kedua anak korban Zulaikha Dita Krisna (8), Zulkarnaen
Wikanjaya (3) sebagai anak asuh. Kesediaan menjadikan anak korban sebagai
anak asuh juga berdatangan seperti dari seorang dokter di Solo.

Ketua PWI menegaskan, wartawan harus berani mengungkapkan kebenaran,
keadilan, kenyataan yang dilandasi kode etik jurnalistik. Wartawan juga dituntut
bersikap kritis dan penuh kreativitas dalam menjalankan profesinya. "Kalau
tidak lagi kritis, lebih baik berhenti jadi wartawan," kata Sofyan Lubis.

Rabu malam (22/8) Ketua PWI H Sofyan Lubis kepada tim pencari fakta dan
pengurus PWI cabang Yogyakarta mengatakan PWI pusat menaruh
kepercayaan sepenuhnya kepada tim ini, agar bukan sekedar formalitas .

Menurut H Sofyan Lubis tugas tim ini memang tidak ringan karena menyangkut
harkat, martabat dan kredibilitas wartawan. Karena kematian wartawan Uddin
bukanlah kriminal biasa, tetapi berkaitan dengan profesinya sebagai wartawan.

Ia juga mengingatkan mata dunia saat ini sedang mengarah ke Yogyakarta,
kepada hasil kerja tim pencari fakta. Oleh sebab itu kalau menemukan informasi
yang seolah-olah berkaitan dengan peristiwa ini agar tidak terlalu cepat
mengambil keputusan, namun dikaji dulu. (132/037/U-2)