IN: TEMPO - Sedan Timor dan Nasib M

From: apakabar@clark.net
Date: Fri Aug 23 1996 - 07:20:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by clark.net (8.7.1/8.7.1) id KAA01041 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Fri, 23 Aug 1996 10:16:40 -0400 (EDT)
Subject: IN: TEMPO - Sedan Timor dan Nasib Mobnas

Forwarded message:
From owner-indonesia-l@igc.org Fri Aug 23 02:51 EDT 1996
Content-Transfer-Encoding: 8bit
Date: Thu, 22 Aug 1996 18:35:38 -0400 (EDT)
From: apakabar@clark.net
MIME-Version: 1.0
Message-Id: <199608222235.SAA29927@explorer2.clark.net>
Subject: IN: TEMPO - Sedan Timor dan Nasib Mobnas
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: ELM [version 2.4 PL24alpha3]
Sender: owner-indonesia-l@igc.apc.org
Precedence: bulk
Content-Type: text/plain; charset=ISO-8859-1
Content-Length: 8789

INDONESIA-L

Date: Tue, 20 Aug 1996 14:02:25 -0400 (EDT)
X-within-URL: http://www.tempo.co.id/mingguan/25/n_kolom1.htm

   [IMAGE] Edisi 25/01
   Kolom
   
   Foto Umar Juoro
   Umar Juoro
   peneliti CIDES (Centre for Information and Development Studie) dan
   Sekretaris Eksekutif Lembaga Pengkajian Pembangunan Nasional.
   
Sedan TIMOR dan Nasib Mobil Nasional

   Kebijaksanaan mobil nasional yang memberikan fasilitas kepada Timor
   berupa pembebasan bea masuk dan PPnBm (pajak penjualan barang mewah)
   memungkinkan mobil ini ditawarkan dengan harga relatif murah yaitu Rp
   35 juta. Langkah penawaran murah ini menarik minat konsumen, terlihat
   dari penundaan pembelian dan cukup banyaknya pemesan Timor yang baru
   akan beredar bulan September 1996. Tawaran harga yang relatif rendah
   ini juga diberikan produsen mobil lainnya antara lain Bimantara
   bekerjasama dengan Hyundai menawarkan Cakra dengan harga Rp 43 juta,
   Daewoo Nexia dengan harga Rp 45 juta, Suzuki Baleno dengan harga Rp 47
   juta, dan Honda City dengan harga Rp 56 juta. Selanjutnya kelompok
   Bakrie juga menawarkan produk mobil serbaguna dengan harga Rp 48 juta.
   
   
   Perkembangan ini menunjukkan bahwa perusahaan otomotif melakukan dua
   strategi dalam mengantisipasi dipasarkannya Timor. Pertama, mengikuti
   langkah yang dilakukan Timor, memberikan sinyal harga murah kepada
   konsumen dan langkah itu menciptakan persaingan harga yang cukup
   sengit diantara produsen . Sekalipun produsen lain tidak memperoleh
   kesempatan fasilitas istimewa, namun mereka berusaha menekan marjin
   keuntungan dan biaya produksi untuk menawarkan produk yang relatif
   murah . Tampaknya beberapa produsen bahkan bersedia merugi untuk
   mempertahankan pangsa pasar yang diharapkan dapat ditutupi ketika
   mereka memperoleh fasilitas mobil nasional.
   
   Kedua, beberapa produsen berusaha untuk mendapatkan fasilitas istimewa
   tersebut dengan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan dalam
   merek, kepemilikan, dan kandungan lokal.
   
   Produsen yang menempuh kedua strategi tersebut bersedia menerima
   marjin keuntungan yang rendah atau bahkan rugi sekalipun dalam
   mengikuti persaingan dengan harapan dapat merebut pangsa pasar dan
   fasilitas istimewa sehingga nantinya dapat menutupi rendahnya marjin
   keuntungan atau kerugian yang ditanggung.
   
   Namun tidak semua produsen mengikuti persaingan harga ini dengan
   keyakinan bahwa konsumen mempunyai kesetiaan terhadap merek kendaraan
   tertentu. Astra denga Toyota dan Krama Yudha dengan Mitsubishinya
   merupakan dua produsen utama yang belum terjun dalam persaingan harga
   sedan . Mereka cukup yakin bahwa konsumen tidak meninggalkan mereka
   hanya karena produsen lain menawarkan harga yang murah .
   
   Mereka mempertaruhkan segmen konsumen tertentu dan reputasi yang telah
   mereka bangun selama ini. Tentu saja strategi ini tidak realistis
   dalam menghadapi perkembangan persaingan harga belakangan ini.
   Konsumen terutama pembeli mobil kategori I dan sedan kelas 1300-1600
   cc akan mudah beralih ke jenis dan merek mobil lain jika mereka
   mendapatkan harga yang lebih murah dan kualitas produk yang memadai.
   
   Implikasi terhadap proyek mobil nasional khususnya Timor sangat besar
   . Bagi Timor yang belum mempunyai reputasi sebagai produsen mobil maka
   praktis satu-satunya keunggulan yang ditawarkan adalah rendahnya harga
   . Sedangkan bagi produsen lainnya, terutama yang telah mempunyai
   reputasi, harga murah yang ditawarkan sekalipun tidak semurah Timor,
   lebih menarik bagi konsumen dan ini dapat berakibat pada penurunan
   minat terhadap Timor. Gejala ini terlihat pada saat Suzuki menawarkan
   Baleno. Pemantauan di lapangan memperlihatkan konsumen menaruh
   perhatian cukup besar terhadap Baleno atas pengorbanan minat yang
   menurun terhadap Timor. Baleno menawarkan harga yang bersaing ,
   sekalipun tidak serendah Timor, ditambah dengan reputasi dan kualitas
   yang lebih baik .
   
   Dalam menganalisa program mobil nasional perlu kita ingat bahwa
   produksi mobil di Indonesia sangat dipengaruhi oleh kebijaksanaan yang
   ditempuh pemerintah dan kehendak prinsipal yang didominasi oleh
   Jepang. Kebijaksanaan ini seringkali ambisius dan kurang realistis,
   sehingga sulit untuk diikuti oleh produsen.
   
   Misalnya pada tahun 1969, pemerintah menetapkan dimulainya usaha
   memproduksi mobil nasional dengan mengembangkan komponen dalam negeri
   yang diharapkan pada tahun 1984 akan dicapai produksi mobil nasional
   sepenuhnya. Realisasinya jauh dari apa yang diinginkan. Sekalipun
   usaha untuk mengembangkan industri otomotif telah dilakukan sejak
   tahun 1960-an dengan berbagai kebijaksanaan, namun baru sejak
   dikeluarkannya Inpres 2/1996, program mobil nasional mendapatkan
   momentum yang besar. Implementasi Inpres 2/1996 adalah dikeluarkannya
   fasilitas pembebasan bea masuk dan PPnBm untuk PT Timor Putra Nasional
   (TPN).
   
   Kebijaksanaan ini mendapat reaksi cepat dari beberapa ATPM (agen
   tunggal pemegang merk) dan pendatang baru dalam industri otomotif
   dengan menawarkan produk dengan harga bersaing . Bagaimanapun ATPM
   menginginkan memperoleh fasilitas tersebut dengan berusaha memenuhi
   ketentuan kandungan lokal sebesar 60 persen dalam jangka waktu tiga
   tahun. Bimantara menawarkan produk Nenggala dan Cakra, sedangkan
   Indomobil menawarkan Suzuki Baleno dengan harga bersaing. Belakangan
   Bakrie ikut meramaikan industri otomotif dengan rencana memproduksi
   mobil keluarga jenis van dengan harga bersaing pula . Langkah ini
   kemungkinan akan diikuti oleh produsen lainnya baik yang baru maupun
   yang lama demi mempertahankan pangsa pasar mereka masing-masing.
   
   Bukti sementara menunjukkan bahwa tawaran harga relatif murah dari
   Timor yang diikuti oleh mobil bermerek nasional lainnya memberikan
   pengaruh pada penurunan penjualan kendaraan (keluarga) kategori I.
   Pengaruh ini kemungkinan akan berlanjut yaitu pangsa mobil kategori I
   akan menurun digantikan dengan kenaikkan pangsa sedan. Perkembangan
   kualitas jalan terutama jalan tol di daerah konsentrasi pembeli mobil
   seperti Jabotabek dan di sekitar Surabaya (Gerbang Kartasusila)
   memperkuat pergeseran konsumsi mobil dari kategori kepada sedan.
   Paling tidak pertumbuhan permintaan sedan pada tahun-tahun yang akan
   datang akan meningkat secara berarti.
   
   Namun pada tahun ini banyak konsumen menunggu persaingan harga ini
   mencapai titik keseimbangan yang rendah yaitu yang paling
   menguntungkan konsumen. Sehingga kemungkinan penjualan mobil secara
   keseluruhan juga sedikit akan menurun lebih rendah daripada tahun 1995
   yang mencapai 385 ribu unit. Pasar sedan kemungkinan juga sedikit akan
   menurun lebih rendah daripada tahun 1995 yaitu sebesar 40 ribu unit.
   
   Industri otomotif Indonesia mulai mengikuti logika bahwa harga akan
   menentukan penguasaan pangsa pasar yang nantinya akan menjadi sumber
   keuntungan. Logika ini kemungkinan akan berlanjut memberikan
   keuntungan pada peningkatan pangsa sedan dan mempersulit peluang mobil
   nasional Timor untuk memenuhi ambisinya. Persaingan harga ini akan
   meningkatkan permintaan yang diperkirakan mulai meningkat tajam pada
   tahun 1997. Peningkatan permintaan ini akan terus meningkat pada
   tahun-tahun selanjutnya karena peningkatan pendapatan masyarakat
   sebagai hasil pertumbuhan ekonomi berlangsung bersamaan dengan
   kecenderungan penurunan harga mobil.
   
   Bagaimana nasib program mobil nasional? Bertolak dari pengalaman
   kebijaksanaan industri Indonesia, khususnya di industri otomotif,
   tampaknya program mobil nasional secara umum akan sulit untuk
   berhasil. Keinginan sebagian besar produsen untuk hanya memanfaatkan
   fasilitas yang diberikan, membuat mereka cenderung mencari jalan
   pintas bagi kepentingan mereka sendiri yang tidak mendukung program
   mobil nasional. Penggantian nama dan pemenuhan kandungan lokal sebesar
   60 persen dapat dipenuhi dengan berbagai cara. Namun kebijaksanaan
   mobil nasional memberikan pengaruh berarti pada penurunan harga mobil
   yang menguntungkan konsumen. Nasib Timor sendiri masih belum jelas
   apakah bertahan menghadapi kesediaan produsen lainnya untuk bersaing
   dalam harga.
   
   Tantangan Timor adalah menurunkan harga lebih rendah lagi dengan
   memanfaatkan semaksimal mungkin fasilitas pajak yang diperoleh. Namun
   langkah ini sulit untuk ditempuh karena PT Timor Putra Nasional,
   produsen Timor, membutuhkan dana besar untuk melakukan investasi bagi
   pabrik perakitan sehingga untuk terus menerus melayani persaingan
   harga dari produsen lainnya.
   
   
     _________________________________________________________________