IN/EKON: PMB - Investor Asing

From: apakabar@clark.net
Date: Mon Sep 09 1996 - 05:49:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.7.1/8.7.1) id IAA19035 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Mon, 9 Sep 1996 08:49:00 -0400 (EDT)

Forwarded message:
From owner-indonesia-p@igc.org Sun Sep 8 20:10 EDT 1996
Date: Mon, 9 Sep 1996 06:27:32 -0700
From: apakabar@clark.net
Message-Id: <199609091327.GAA19656@server.indo.net.id>
Mime-Version: 1.0
Subject: IN/EKON: PMB - Investor Asing
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: Windows Eudora Light Version 1.5.2
X-Sender: apakabar@ozemail.com.au (Unverified)
Sender: owner-indonesia-p@igc.apc.org
Precedence: bulk
Content-Type: text/plain; charset="us-ascii"
Content-Length: 6880

INDONESIA-P

http://www.suarapembaruan.com/News/1996/09/080996/Ekonomi/inves/inves.html
SUARA PEMBARUAN DAILY
8 Septemebr 1996
     _________________________________________________________________
                                      
Investor Asing

   Oleh: Jasso Winarto
   
   Untuk bermain di pasar modal Jakarta, investor lokal harus mewaspadai
   gerak gerik investor asing. Sebab, bursa kita ini bukan bursa
   sembarang bursa, tetapi bursa yang lebih dari 70 persen aktivitasnya
   digerakkan oleh investor asing.
   
   Berkat aktivitasnya yang dominan setiap hari, mereka kini menguasai
   12,7 milyar unit saham dari 47,9 miliar unit saham yang tercatat di
   bursa. Total kapitalisasi bursa kita saat ini sekitar Rp 178,48
   triliun.
   
   Bahkan saham-saham blue chips tertentu telah diborong semuanya,
   sehingga porsi asingnya habis. Seperti saham Astra International,
   Semen Cibinong, INCO dan sebaginya, porsi asingnya yang merupakan 49
   persen dari saham yang tercatat di bursa telah habis.
   
   Kenapa kita harus memperhatikan gerak gerik investor asing? Soalnya,
   selama ini investor asinglah yang menjadi ''motor penggerak'' harga
   saham di bursa. Mereka mempunyai akses yang solid terhadap manajemen,
   sehingga bisa mendapatkan informasi akurat dalam waktu cepat.
   
   Bisa Kejeblos
   
   Pihak emiten di Indonesia sendiri sering masih menderita penyakit
   minderwaardig heids complex. Kalau yang minta informasi investor
   lokal, ada saja caranya untuk mengelak. Tetapi kalau yang datang
   investor asing, apalagi bule, aduh... semua direksi dikerahkan dan
   semua informasi diserahkan.
   
   Karena itu, mereka selalu mempunyai maksud yang jelas dalam melakukan
   baik penjualan atau pun pembelian. Misalnya, kalau mereka mendapat
   informasi bahwa fundamental saham suatu perusahaan akan bagus tahun
   ini, mereka segera melakukan pembelian sehingga harga saham melonjak.
   
   Investor lokal bisa ikut menikmati capital gain kalau sejak awal ikut
   melakukan pembelian. Tetapi kalau terlambat beli, artinya membeli
   kalau harga sudah tinggi, bisa kejeblos. Pada saat mereka melakukan
   profit taking, harga bisa turun dan investor lokal rugi.
   
   Alasan investor asing, menjual saham bukan hanya untuk merealisasi
   potensi laba saja, tetapi juga mengantisipasi kinerja keuangan
   manajemen yang meburuk. Mereka memiliki informasi lebih dulu, entah
   dari mana, tentang perusahaan-perusahaan yang tahun ini labanya turun
   atau merugi. Padahal masyarakat luas belum tahu.
   
   Memanfaatkan ketidaktahuan investor yang belum tahu, mereka melakukan
   penjualan atas saham yang dimilikinya. Tentu saja investor yang belum
   tahu bahwa laba perusahaan tadi bakal jatuh, segera membeli saham tadi
   tanpa curiga. Karena penjualan dilakukan secara besar-besaran, harga
   saham pun jatuh dan investor lokal rugi.
   
   Sebagai contoh, saham Inti Indorayon. Saham dari perusahaan pulp ini
   tahun lalu mendapat untung besar, yaitu Rp 135 miliar atau naik lebih
   dari 100 persen dibanding laba tahun sebelumnya.
   
   Tetapi tahun ini harga sahanya tidak naik. Malahan turun drastis ke
   tingkat Rp 2.500 dari tingkat Rp 4.500 tahun lalu. Eh, ternyata
   perusahaan ini bakal rugi tahun ini karena harga pulp dunia anjlok.
   
   Maka, investor lokal yang menadah penjualan investor asing pun kini
   gigit jari dan investor asing sudah terbebas dari rasa tegang karena
   memegang saham dari perusahaan yang rugi.
   
   Jatuhnya kurs saham yang dikuasai asing memang tak bisa dielakkan,
   karena peran investor lokal masih kecil. Kebanyakan investor lokal
   yang jumlahnya sekitar 400 ribu adalah perorangan atau retail
   investor.
   
   Investor lembaga seperti bank atau asuransi atau pun Yayasan Dana
   Pensiun belum aktif melakukan transaksi di bursa.Padahal dana yang
   dikuasai Yayasan Dana Pensiun sekarang ini sekitar Rp 14 triliun dan
   akan menjadi sekitar 55 triliun pada tahun 2000 nanti. Belum lagi dana
   yang dikuasai dunia perbankan dan asuransi. Di luar negeri, mereka
   biasa menanamkan uangnya di bursa, sehingga pasar modalnya marak.
   
   Kalau mereka bisa diaktifkan melakukan jual beli di lantai bursa,
   tentunya peran asing dan lokal akan lebih seimbang. Pada tahun 1990
   para investor lembaga tadi memang pernah mencoba membeli saham di
   pasar perdana. Tetapi karena pasar sedang bearish, mereka banyak yang
   rugi.
   
   Yang mengalami rugi pada periode 1990 sampai 1993 bukan hanya investor
   lembaga kita, tetapi juga investor asing. Hanya saja, investor asing
   mempunyai strategi yang jitu dalam melakukan pembelian saham.
   
   Mereka terus melakukan pembelian di saat harga jatuh. Mereka terus
   membeli saham-saham yang mempunyai prospek baik, sehingga harga
   rata-rata investasinya menjadi rendah. Begitu bursa pulih, pihak
   investor asing bisa mengeruk laba setinggi-tingginya.
   
   Ketika harga saham Sampoerna jatuh dari tingkat Rp 10.000 ke tingkat
   Rp 2.500 misalnya, investor asing rajin membeli saham ini. Begitu
   pasar modal membaik, maka harga saham ini pun melejit. Bulan April
   lalu, harga saham Sampoerna setara dengan Rp 75.000 per saham.
   Bayangkan, betapa untungnya investor asing yang memiliki saham ini.
   
   Tetapi investor lokal pada saat itu tak mau melakukan pembelian,
   melainkan justru menjual terus untuk cut loss. Semenyara itu, investor
   lembaga seperti Yayasan Dana Pensiun arau Astek berdiam diri, tak
   menjual atau pun membeli, karena terlalu takut menghadapi situasi
   buruk di bursa.
   
   Naik 20,28 Persen
   
   Tahun ini harga rata-rata saham naik 20,28 persen. Investor asing
   membelanjakan uangnya cukup banyak di bursa kita sejak tahun lalu.
   Secara neto, mereka mengeluarkan dana segar sebanyak Rp 3,2 triliun
   tahun lalu untuk mendapatkan saham sebanyak 1 miliar unit lebih.
   Sampai bulan April lalu, investor asing telah membelanjakan uangnya
   sebanyak Rp 1,2 triliun untuk membeli saham sebanyak 384,4 juta saham.
   
   Dana tadi akan lebih besar ditanam di sini kalau di bursa banyak
   Initial Public Offering atau IPO. Terutama yang mereka incar adalah
   saham infra struktur atau industri yang memiliki kapitalisasi besar.
   Mereka menunggu saham-saham Jasa Marga, BNI atau Krakatau Steel. Lebih
   ditunggu oleh onvestor asing adalah saham PLN yang rencananya dijual
   di bursa tahun depan.
   
   Mereka sudah menikmati return saham BUMN tinggi seperti Indosat, Timah
   dan Telkom yang lebih dari 70 persen. Bandingkan dengan tingkat
   kepuasan Yayasan Dana Pensiun kita yang merasa kenyang dengan bunga
   deposito sekitar 18 persen per tahun. Padahal, kalau ditanam di bursa,
   bisa menghasilkan keuntungan ratusan persen.
   
   Untuk itu, waspadailah pola investasi asing di bursa kita.
   
   Penulis adalah Direktur Eksekutif PT Sigma Research Institute