From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.7.1/8.7.1) id KAA13579 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Tue, 17 Sep 1996 10:24:35 -0400 (EDT)
Subject: IN/EKON: SBYP - Suku Bunga Perbankan Pasti Merambat Naik
Forwarded message:
From owner-indonesia-p@igc.org Tue Sep 17 04:34:52 1996
Content-Transfer-Encoding: 7bit
Content-Type: text/plain; charset=US-ASCII
Date: Tue, 17 Sep 1996 02:52:52 -0400 (EDT)
From: indonesia-p@igc.apc.org
MIME-Version: 1.0
Message-Id: <199609170652.CAA08838@access1.digex.net>
Subject: IN/EKON: SBYP - Suku Bunga Perbankan Pasti Merambat Naik
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: ELM [version 2.4 PL25]
Sender: owner-indonesia-p@igc.apc.org
Precedence: bulk
INDONESIA-P
X-within-URL: http://www.wp.com/64257/160996/10bank.htm
[INLINE] Surabaya Post Hot News, Senin, 16/09/1996 [[1]Yesterday|
Suku Bunga Perbankan Pasti Merambat Naik
Yogyakarta - Surabaya Post
Tujuan Bank Indonesia (BI) untuk mendinginkan suhu perekonomian dengan
menaikkan cadangan wajib menjadi 5%, dinilai tidak mudah tercapai dan
tidak mencapai sasaran tanpa diikuti penuntasan agenda deregulasi di
sektor riil.
Demikian dikatakan ekonom UGM Drs Mudrajad Kuncoro MSoc Sc dan ekonomi
Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta Drs Edy Suandi Hamid MEs
ketika berdiskusi dengan wartawan di kampus fakultas Ekonomi UII,
akhir pekan lalu.
Selama 3 tahun terakhir ini perbankan masih getol melakukan ekspansi
kredit dengan pertumbuhan 22% 1993, 20,2% untuk 1994, dan 27,6% 1995.
Menurut Mudrajad, kenaikan cadangan wajib menunjukkan indikasi bahwa
otorita moneter berupaya memperketat pertumbuhan jumlah uang beredar,
yang berarti melakukan kontaksi moneter. Namun peningkatan cadangan
wajib berarti menurunkan dampak penggandaan uang.
Bila penggandaan uang turun, lanjut Mudrajad, maka akan mengurangi
pertumbuhan jumlah uang beredar. Akibatnya, dipastikan suku bunga akan
merambat naik. Dan setiap suku bunga naik yang paling menderita para
debitur kecil, karena mereka tidak banyak memiliki pilihan alternatif
pembiayaan usahanya, kata Mudrajad.
Sementara debitur kelas kakap tidak terlalu dipusingkan dengan
tingginya suku bunga domestik, karena masih dapat melirik pasar modal
dan off-shore loan. Dari laporan majalah Asiaweek edisi 6 September
1996, para bos konglomerat Indonesia berbondong-bondong memborong
saham di pasar modal Singapura.
Belanjaan para bos konglomerat ini berkisar antara 22,4 juta dollar AS
hingga 426,6 juta dollar AS. Ini menunjukkan indikasi adanya capital
outflow dari Indonesia ke Singapura. Alasannya, semakin merosotnya
rupiah, ujar Mudrajad.
Edi Suandi Hamid menilai, merupakan langkah positif yang akan memaksa
bank-bank yang beroperasi di tanah air untuk menyalurkan dananya dan
memilih debiturnya secara selektif. Namun bila praktik kolusif dan
pemberian referensi pihak ketiga yang bersifat menekan jajaran direksi
bank tetap berlangsung, maka kebijakan ini tentu tidak bermakna
apa-apa. Sebab ada sebanyak 71% kredit macet berada di bank BUMN, kata
Edy.
Edy menyebutkan, langkah BI ini dimaksud untuk mengendalikan kredit
macet yang dari tahun ke tahun secara absolut meningkat nilainya. Per
April 1996 saja nilai kredit macet bank-bank yang beroperasi di
Indonesia mencapai Rp 9.028 triliun atau 3,19% dari total kredit yang
disalurkan. Ini belum termasuk nilai kredit bermasalah lainnya, yakni
kurang lancar Rp 8,6 triliun dan diragukan Rp 12,811 triliun.
Informasi Terbatas
Saat ini, sumber-sumber informasi untuk mengetahui keadaan industri
perbankan di Indonesia sangatlah terbatas. Di antara sumber yang biasa
dipakai adalah pemberitaan dari media massa, yang sifatnya sangat
sporadis, terbatas, dan tidak dapat dicek kebenarannya. Sementara
sumber resmi dari Bank Indonesia --lewat laporan mingguan, bulanan,
hingga tahunan-- pun sangat sumir.
"Meski begitu, kita tahu bahwa keadaan industri perbankan sekarang ini
sangat parah. Sebab, khususnya bank-bank negara, mengalami kekurangan
modal. Selain itu, mereka juga memiliki porsi kredit bermasalah yang
sangat tinggi," kata pengamat ekonomi Universitas Indonesia, Prof Dr
Anwar Nasution, saat berbicara dalam seminar "Dampak Perubahan Pasar
terhadap Prospek Industri Perbankan" yang diprakarsai FE UGM, di balai
pertemuan UC UGM, Sabtu (14/9) siang.
Repotnya, untuk mengatasi masalah-masalah tersebut ternyata belum ada
tindakan yang jelas. Ketidakjelasan itu terlihat, misalnya, dalam
penanganan bank yang bermasalah. Secara umum, tampaknya pemerintah
membiarkan masalahnya akan selesai dengan sendirinya selama tingkat
laju pertumbuhan ekonomi, serta kredit masih tetap dapat bertahan pada
tingkat yang cukup tinggi. Dari ekspansi kredit itu, bank diharapkan
dapat menambah keuntungannya. Selanjutnya, sebagian dari keuntungan
itu dapat digunakan untuk memupuk modal dan menghapuskan kredit macet.
"Memang, kita lihat ada aturan prudensial di sini. Akan tetapi,
implementasinya masih kurang baik karena masih melihat-lihat siapa
dulu yang akan dikenai aturan itu. Kalau saja aturan ini dipakai
secara tegas, maka Bapindo sudah lama out," katanya mencontohkan.
(fin, o)
______________________________________________________________________