IN/UMUM: MI - Olahraga, Kekerasan,

From: apakabar@clark.net
Date: Sat Sep 21 1996 - 06:42:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.7.1/8.7.1) id JAA12074 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Sat, 21 Sep 1996 09:42:44 -0400 (EDT)
Subject: IN/UMUM: MI - Olahraga, Kekerasan, dan Kedewasaan Kita

Forwarded message:
From owner-indonesia-p@igc.org Sat Sep 21 03:48:54 1996
Content-Transfer-Encoding: 7bit
Content-Type: text/plain; charset=US-ASCII
Date: Sat, 21 Sep 1996 02:03:31 -0400 (EDT)
From: indonesia-p@igc.apc.org
MIME-Version: 1.0
Message-Id: <199609210603.CAA09235@access1.digex.net>
Subject: IN/UMUM: MI - Olahraga, Kekerasan, dan Kedewasaan Kita
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: ELM [version 2.4 PL25]
Sender: owner-indonesia-p@igc.apc.org
Precedence: bulk

INDONESIA-P

X-within-URL: http://www.rad.net.id/online/mediaind/publik/9609/21/MI10-11.21.html
   
      Sabtu, 21 September 1996
      
Olahraga, Kekerasan, dan Kedewasaan Kita

     _________________________________________________________________
                                      
   Oleh: Sugeng Sp Wartawan Media Indonesia WASIT dikejar-kejar pemain,
   suporter ngamuk, para pihak (pemain dan pelatih) saling adu pukul
   alias berantem masih saja muncul dengan intensitas cukup tinggi dalam
   dunia olahraga kita. Tak terkecuali di arena PON XIV di Jakarta kali
   ini. Entah karena apa, jargon-jargon seperti; sportifitas, fair play,
   semangat persaudaraan, dan sebagainya, olahraga untuk perdamaian, dan
   sebagainya, begitu mudah tenggelam dalam hiruk-pikuk subyektifisme
   kolektif yang bersifat spontan yang tak jarang memunculkan kekerasan.
   
   Padahal--sebagaimana sering disinyalir oleh para ahli--bahwa
   ikatan-ikatan yang terbangun dari proses yang spontan dari interaksi
   kerumunan (crowd) sebenarnya bersifat rentan. Pelaku-pelaku biasanya
   akan menunjukkan rasa penyesalannya begitu kerumunan itu bubar dan si
   pelaku menjadi dirinya sendiri.
   
   Pertanyaan kita adalah musabab apakah yang dapat menghipnotis
   seseorang (bisa penonton, pemain, pelatih, bahkan negara) sehingga
   berperilaku demikian. Dari berbagai kasus yang terjadi, menjadi benar
   adanya bahwa 'antara olahraga dan kekerasan hanyalah berjarak selapis
   kulit bawang.'
   
   Sederet alasan bisa diberikan; dari sesuatu yang berdimensi teknis
   sampai pada hal-hal yang bertendensi moral; "membela kehormatan,"
   misalnya.
   
   Bila kita lacak ke belakang, memang dapat kita catat bahwa olahraga
   tidak lagi 'bebas nilai'. Superioritas seorang atlet atau kelompok
   pemain (regu/kesebelasan/pasangan) tidak lagi sebatas pada wilayah
   arena, tapi ia telah melebar dan beresonansi terhadap titik-titik
   simpul yang dapat berupa; sedaerah, sebangsa, sekawasan.
   
   Seorang atlet adalah personifikasi komunitas. Ada semacam
   pendelegasian untuk merealisir cita-cita, harapan dan obsesi
   komunitas. Ia adalah seorang panglima di ujung harapan. Dari itu
   subyektifitas komune-pun ikut larut manakala sang atlet berlaga di
   arena. Bila sang atlet menang, maka 'perasaan menang' juga menyiram
   dada simpatisan, demikian juga untuk keadaan sebaliknya.
   
   Sang atlet dapat disanjung bagai panglima yang menang perang.
   Sebaliknya, dapat dikutuk bahkan dibunuh ketika ia membunuh harapan
   komunitasnya karena kalah bertanding. Bagaimana rakyat Brasil berpesta
   pora sepanjang hari dan mengelu-elukan para atletnya ketika
   kesebelasannya menjuarai Piala Dunia 1994, dan mereka sejenak lupa
   bahwa negerinya sebenarnya tengah mengalami debt trap dalam bangun
   ekonominya.
   
   Sebaliknya masih segar dalam ingatan kita bagaimana Andreas Escobar
   pemain sepakbola Kolumbia yang dibunuh di negaranya. Escobar dianggap
   sebagai penyebab kekalahan kesebelasan negaranya dengan melakukan gol
   'bunuh diri' ketika melawan Amerika Serikat dalam kejuaraan yang sama.
   
   Masih menjadi pertanyaan besar yang belum terpecahkan memang; mengapa
   olahraga begitu dekat dengan kekerasan. Hura-hura merayakan kemenangan
   tak jarang berujung kekerasan, terlebih-lebih luapan kekecewaan
   kekalahan. Padahal dengan olahraga diharapkan menjadi satu medium
   untuk membangun kebahagiaan dan perdamaian, sebagaimana yang
   dicanangkan oleh Bapak Olimpiade, Baron Pierre de Coumbertin.
   
   Dari keadaan ini biasanya analisa lantas tertuju pada kondisi sosial
   masyarakat bersangkutan. Meskipun kadang kecele; bagaimana tragedi
   Stadion Heysel yang menelan banyak korban, adalah bukti bahwa
   kekerasan olahraga dapat juga terjadi pada masyarakat yang maju, baik
   dalam peradaban maupun kondisi sosial ekonominya.
   
   Dan kini kekerasan dan kebrutalan masih pula menggores arena PON kita
   meskipun dengan intensitas dan ekskalasi konflik yang terbatas. Layak
   kita renungkan adalah apa yang menjadi semacam raison de'etre dari itu
   semua. Arena PON itu sendiri dapat pula kita jadikan salah satu alat
   penala tingkat kohesifitas nasional kita.
   
   Rivalitas antardaerah dalam satu bingkai kesatuan dan persatuan
   tersalurkan lewat 'adu prestasi' para atlet. Ada semacam exercise
   empat tahunan. Kedawasaan sungguh diuji bagaimana menerima kenyataan
   menang atau sebaliknya keadaan kalah.
   
   Menang dan kalah bukanlah segala-galanya. Menang dan kalah adalah
   sebuah konsekuensi logis dari keputusan kita untuk 'terlibat'. Menang
   dan kalah akan menjadi lebih bermakna bila ia justru menciptakan
   suasana damai, bersahabat, jauh dari kekerasan dan ketakjujuran.
   
   Dalam keadaan demikian lantas kita dapat dengan jernih berpikir
   bagaimana meningkatkan prestasi dan merealisasi harapan-harapan yang
   lebih besar, yakni harapan nasional, harapan bangsa dalam arena dunia.
   Sebab kalau tidak, tak tertutup kemungkinan muncul pesimisme-pesimisme
   baru bahwa arena olahraga tak lebih dari sekadar ajang penumpahan
   nafsu manusia yang terbalut sejumlah kepentingan tak berujung-pangkal.
   
   Dan untuk kasus PON, justru dapat bisa dibaca terbalik, sesuatu yang
   kontraproduktif dari upaya menciptakan kohesifitas nasional. ***
     _________________________________________________________________