IN: Muchtar Pakpahan: Pleidoi (1)

From: apakabar@access.digex.net
Date: Tue Oct 01 1996 - 06:45:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@access.digex.net>

Forwarded message:
From owner-indonesia-l@igc.org Tue Oct 1 00:42:30 1996
Content-Transfer-Encoding: 7bit
Content-Type: text/plain; charset=US-ASCII
Date: Mon, 30 Sep 1996 18:21:58 -0400 (EDT)
From: indonesia-l@igc.apc.org
MIME-Version: 1.0
Message-Id: <199609302221.SAA23620@access2.digex.net>
Subject: IN: Muchtar Pakpahan: Pleidoi (1)
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: ELM [version 2.4 PL25]
Sender: owner-indonesia-l@igc.apc.org
Precedence: bulk

INDONESIA-L

Title: RAKYAT MENGGUGAT
Oleh: Muchtar Pakpahan

Penyunting: Aldentua Siringoringo & Tumpal Shite

Penerbit: Pustaka Forum Adil Sejahtera
          Jl. Pramuka 56 (Komplek Bina Marga)
          Telp/Faks (021)858-1885
          Jakarta 13140

Cetakan Pertama: 14 April 1996

Bagian III
Pledoi "RAKYAT MENGGUGAT"
Halaman 80 -119

(1)

PLEDOI

RAKYAT MENGGUGAT
Oleh: DR. MUCHTAR PAKPAHAN, SH. MA.

PERKARAPIDANA: 966/PiD.B/1994/PN - MEDAN.

MERDEKA!

Saudara Majelis Hakim yang terhormat, Saudara Jaksa Penuntut umum yang
terhormat dan hadirin yang saya muliakan.

Sebelum saya mengemukakan pledoi saya atas diri saya sendiri ini terlebih
dahulu saya menyampaikan Puji dan Syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha
Segalanya yang memberikan kesehatan kepada kita semua terlebih kepada
saya sehingga saat ini saya dimungkinkan menyampaikan pledoi ini.

Tidak dapat dipungkiri selama persidangan sering terjadi protes dan
perdebatan yang tajam dan keras antara saya dan Penasehat Hukum saya
disatu pihak dengan Majelis Hakim dan Saudara Jaksa Penuntut Umum
di pihak lain. Hal ini wajar saja karena proses dan perdebatan itu tetap
dilandasi oleh tanggung jawab dan etika profesi, sebab perdebatan
adalah satu upaya dan tehnik beracara yang menunjukkan kesungguhan/serius,
jujur, terbuka dan adil untuk mencari kebenaran material dalam perkara yang
sangat menarik ini, baik secara nasional maupun internasional dalam kaitannya
dengan tuduhan terhadap saya sebagai Penghasut unjuk rasa buruh tanggal
14 April 1994 di Medan.

Sangat saya sayangkan sejak awal hak-hak saya dan Penasehat Hukum yang
diberikan KUHAP telah dilanggar dan diabaikan begitu saja dalam persidangan,
sehingga protes mencapai klimaksnya dengan keluarnya Tim Penasehat Hukum
dari persidangan yang mulia ini pada tanggal 24 Oktober 1994 karena tidak
dikabulkannya saksi ahli yang telah saya dan Penasehat Hukum hadirkan, padahal
pasal 65 jo 1 60 ayat (1) sub c KUHAP menyebutkan wajib didengar keterangannya.

Terima kasih kami sampaikan pula kepada Jaksa Penuntut Umum dengan segala
emosi dan ambisinya serta dengan segala keterbatasannya telah berusaha membantu
jalannya persidangan ini walaupun proses pembuktian menuju ditemukannya
kebenaran materil belum dibuka dan diangkat ke permukaan dalam persidangan ini.

Ucapan serupa saya sampaikan kepada Saudara Panitera dengan kesungguhan,
kesabaran dan ketelitiannya telah melaksanakan tugas untuk mencatat
jalannya persidangan walaupun Berita Acara Pemeriksaan yang dikerjakan
saudara Panitera belum bisa digunakan dalam menyusun Pledoi ini, walaupun
KUHAP menentukan Berita Acara Persidangan otentik adalah yang dibuat oleh
saudara Panitera sesuai dengan fakta ada di persidangan, namun saya
beruntung dapat merekam seluruh keterangan-keterangan itu dalam persidangan.

Barangkali inilah merupakan pertama kali terjadi di Pengadilan Negeri Medan
saya mengucapkan terima kasih kepada pers dalam dan luar negeri dan seluruh
pengunjung baik intel maupun bukan yang hadir dengan tekun mengikuti jalannya
persidangan saya ini. Ucapan terima kasih ini kami tujukan baik yang berada
di ruang persidangan maupun yang tidak kebagian tempat karena berbagai alasan
keamanan, masih dengan perhatian dan simpati mengikuti dengan seksama jalannya
persidangan ini.

Menurut hemat saya kehadiran mereka bukan saja terbatas pada solidaritas tetapi
lebih dari pada itu ingin, melihat, mendengar sendiri bagaimana Pengadilan di
Negara Republik Indonesia yang merdeka ini yang berusaha mencerdaskan kehidupan
buruh dan mensejahterakan buruh serta mengkriminalisasi hak-hak demokrasi buruh
dalam konteksnya dengan mogok dan unjuk rasa tanggal 14 April 1994.

Harapan saya kepada Majelis yang memeriksa dan memutuskan perkara ini berkiblat
kepada kearifan dan substansi prinsip hukum dalam konstitusi negara kita dengan
berpegang teguh pada nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat, teliti mengkaji
semua fakta dan analisa persidangan berikut nuansa-nuansa alat bukti yang ada
dalam Pledoi saya ini sebab satu satunya amanat mulia kepada Hakim adalah
melahirkan putusan yang benar dan adil, karena Hakim adalah juru bicara
keadilan bukan sebagai begrip jurisprudence.

Untuk ini saya akan mengutip kata-kata mutiara yang bernas dari ALEXIS
de TOQUEVIELS tentang arti keadilan dan kebenaran dalam hidup berbangsa dan
bernegara, bahwa keadilan tujuan adanya pemerintahan, dan ia juga tujuan
adanya masyarakat, Dan ia juga senatiasa menjadi dan selalu dijadikan tujuan
yang akan dikejar sampai diperoleh atau sampai kemerdekaan itu sendiri lenyap
dari perjalanan bangsa dan negara itu.

Pada kesempatan ini saya juga menyampaikan protes atas tindakan Hakim Majelis
yang tidak fair dan tidak adil memimpin sidang ini.

Adapun sistematika Nota pembelaan ini, saya bagi dalam 7 (tujuh) bagian.

I. Pendahuluan
II. Pokok Perkara
III. Latar belakang unjuk rasa
VI. Kondisi Khusus Sumatera Utara
V. Tentang dakwaan dan tuntutan
VI. Kesimpulan
VII. Penutup.

(berikut...)