IN: KMP - Baubau, Kota Pariwisata t

From: apakabar@access.digex.net
Date: Tue Oct 01 1996 - 06:50:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@access.digex.net>
Subject: IN: KMP - Baubau, Kota Pariwisata tanpa Bandar Udara

Forwarded message:
From owner-indonesia-p@igc.org Mon Sep 30 23:29:36 1996
Content-Transfer-Encoding: 7bit
Content-Type: text/plain; charset=US-ASCII
Date: Mon, 30 Sep 1996 19:18:06 -0400 (EDT)
From: indonesia-p@igc.apc.org
MIME-Version: 1.0
Message-Id: <199609302318.TAA25872@access2.digex.net>
Subject: IN: KMP - Baubau, Kota Pariwisata tanpa Bandar Udara
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: ELM [version 2.4 PL25]
Sender: owner-indonesia-p@igc.apc.org
Precedence: bulk

INDONESIA-P

X-within-URL: http://www.kompas.com/9610/01/EKONOMI/baub.htm
                                      
                           Selasa, 1 Oktober 1996
                                      
     _________________________________________________________________
                                      
Baubau, Kota Pariwisata Tanpa Bandar Udara

   Kompas/yas
   MASJID TUA - Peninggalan kerajaan Islam Buton di
   masa lampau masih utuh hingga sekarang. Di antara
   peninggalan itu adalah Masjid Agung Keraton yang
   dibangun pada tahun 1712. Alun-alun masjid tua ini
   dijadikan pusat penyelenggaraan Festival Keraton
   Buton (Buton Palace Festival) setiap bulan September.
   Tiang bendera asli masjid itu masih tegar berdiri.
   
   BAUBAU sebagai kota pariwisata di Sultra relatif mudah dijangkau,
   kendati hanya dengan transportasi laut baik dengan ibu kota propinsi
   maupun dengan kota-kota besar lain di Indonesia. Ibu Kota Kabupaten
   Buton ini merupakan pelabuhan transit bagi semua kapal Pelni yang
   beroperasi di belahan timur Indonesia.
   
   Tidak heran jika kunjungan kapal tersebut mencapai 2-3 kali dalam
   seminggu. Armada penumpang Pelni itu datang dari Ujungpandang, Ambon,
   dan Bitung lewat Kendari. Sementara kapal-kapal penumpang lokal tiba
   dan berangkat setiap hari. Kapal-kapal lokal ini menghubungkan ibu
   kota propinsi, Kendari, melalui kota Raha.
   
   Sejak empat tahun terakhir ini, trayek Baubau-Raha-Kendari dilayani
   kapal-kapal cepat. Bila dengan kapal kayu Baubau-Raha-Kendari ditempuh
   sekitar 13 jam, maka dengan kapal cepat hanya 4 jam. Keberangkatan
   kapal cepat dari Kendari menuju Baubau disesuaikan dengan kedatangan
   pesawat Merpati atau Sempati. Dengan demikian, para penumpang pesawat
   yang hendak ke Baubau dapat melanjutkan perjalanan dan tiba di tujuan
   pada hari itu juga.
   
   Bersama dengan kota-kota kabupaten lainnya di Sultra, Baubau telah
   sejak lama berada dalam sistem transportasi darat melalui lintas
   penyeberangan Torobulu-Tampo dan Tolandona-Baubau. Melalui hubungan
   darat ini Baubau bisa dicapai sekitar 12 jam perjalanan dari Kendari,
   ibu kota propinsi.
   
   Kemungkinan dibukanya kembali penerbangan ke Baubau oleh
   pesawat-pesawat kecil merupakan dambaan masyarakat Buton dan Sultra
   umumnya. Sebab meski agak mahal, transportasi udara tentu saja masih
   lebih unggul dalam mengatasi jarak dan waktu dibanding perjalanan yang
   menggunakan alat-alat angkutan laut dan darat.
   
   Penerbangan pesawat-pesawat perintis ke Baubau terhenti sejak tahun
   1983 menyusul ramainya kedatangan kapal-kapal Pelni ke pelabuhan
   Baubau. Dengan pesawat perintis jenis Twin Otter penerbangan
   Ujungpandang-Baubau memakan waktu sekitar 1,5 jam, atau hanya 40 menit
   untuk jarak Kendari-Baubau.
   
   Alternatif lain yang diharapkan bisa lebih melancarkan kedatangan arus
   wisatawan ke Buton dan Sultra umumnya adalah dibukanya Bandara
   Monginsidi Kendari sebagai salah satu pelabuhan udara transit untuk
   kawasan timur. Dengan begitu pesawat dari Ujungpandang dan Ambon akan
   singgah mendarat di bandara itu.
   
   Bila penerbangan transit itu dapat terwujud, maka jalur Kendari-Ambon
   dan sebaliknya pasti dipadati terutama oleh masyarakat Sultra di
   Maluku yang setiap waktu tertentu pulang kampung. Masyarakat
   Buton-Muna di Maluku saat ini sekitar 600.000 orang.
   
                                    ***
                                      
   SEBAGAI daerah tujuan wisata, Buton dan kota Baubau khususnya masih
   harus berbenah diri. Upaya mengemas potensi pariwisata daerah itu
   dengan paket Festival Keraton Buton yang digelar setiap tanggal 12-13
   September merupakan langkah bagus. Tetapi upaya ini masih perlu
   diikuti dengan penyediaan sarana pariwisata seperti perhotelan,
   restauran, biro perjalanan, dan sebagainya.
   
   Festival Keraton Buton seperti pernah dikatakan Dirjen Pariwisata Drs
   Andi Mappisameng, dapat menjadi primadona pariwisata bagi Propinsi
   Sultra. Festival ini merupakan peristiwa budaya yang sangat menarik.
   Puluhan ribu masyarakat Buton secara spontan selalu ikut
   berpartisipasi dalam setiap kali penyelenggaraan festival itu baik
   sebagai pelaku maupun sebagai penonton.
   
   Festival yang dipusatkan di kompleks keraton menampilkan berbagai
   atraksi budaya antara lain peragaan upacara perkawinan adat Wolio
   (Buton), upacara pingitan, demonstrasi penyelaman coin, dan
   pekandekandea. Yang terakhir ini adalah pesta rakyat yang menampilkan
   aneka ragam masakan tradisional. Setiap pengunjung, terutama tamu
   istimewa, ''diwajibkan'' mencicipi makanan yang disuapkan gadis-gadis
   pilihan. Dan setelah itu sang tamu membayar sejumlah uang sesuai
   kerelaan kepada gadis yang menyuap tadi.
   
   Tetapi kemasan wisata budaya dalam bentuk festival maupun potensi
   wisata bahari yang tersebar di Kabupaten Buton belum ditunjang dengan
   sarana pariwisata yang memadai. Di kota Baubau hingga saat ini belum
   ada hotel berbintang.
   
   Penginapan yang ada umumnya rumah tinggal yang diubah menjadi losmen.
   Fasilitasnya sangat minim. Kamar tidur dan kamar mandi belum cukup
   bersih untuk menerima turis asing yang sangat peka terhadap masalah
   kebersihan. Bahkan untuk wisatawan mancanegara, hotel berbintang tidak
   penting. Yang penting penginapan itu tertata rapi serta memiliki
   fasilitas WC yang sehat dan bersih.
   
   Dalam dua tahun ini muncul usaha pembangunan hotel di Baubau oleh
   pengusaha lokal. Tetapi karena modal pas-pasan, pembangunan tersebut
   tak kunjung selesai. ''Modalnya setengah M'', ujar Ir Majid Sarah
   bergurau. Setengah M artinya setengah mati.
   
   Pensiunan Direktur Utama PT Sarana Karya (Persero) tersebut membangun
   hotel dua tingkat berkapasitas 30 kamar. Hotel ini dilengkapi ruang
   pertemuan berkapasitas 300 kursi, restauran, kolam renang, panggung
   kesenian, dan lapangan tenis. Insya Allah awal tahun depan hotel ini
   sudah selesai'', kata Madjid.
   
   Aspek yang tak kalah pentingnya adalah sikap penerimaan masyarakat
   terhadap wisatawan. Seperti halnya di tempat-tempat lain di Indonesia,
   masyarakat Buton di Baubau juga menganggap wisatawan sebagai orang
   berduit. Karena itu harga dan tarif yang berlaku untuk mereka selalu
   dinaikkan setinggi-tingginya.
   
   Seperti dituturkan Dra Wa Ode Hanafiah dari PT Wolio Tours & Travel
   beralamat Jalan Betoambari Nomor 92 Baubau, oplet dalam kota Baubau
   memungut Rp 10.000 kepada setiap penumpang turis asing. Padahal tarif
   yang sebenarnya hanya Rp 350/penumpang.
   
   Bukan hanya itu. Kawanan bocah yang bermain untuk memperebutkan coin
   di kolam pelabuhan Baubau pada setiap kedatangan kapal-kapal Pelni,
   sering diusir petugas. Padahal pertunjukan kemahiran menyelam oleh
   anak-anak tersebut justru sangat menarik perhatian para penumpang
   kapal yang transit beberapa jam di pelabuhan itu.
   
                                    ***
                                      
   KUNJUNGAN wisatawan mancanegara di Baubau dan Kabupaten Buton umumnya
   sebetulnya masih terbatas. ''Selain karena faktor transportasi dan
   sarana pariwisata, juga potensi dan pesona wisata Buton belum
   dipromosikan secara luas'', kata Wa Ode Hanafiah.
   
   Dalam tahun ini perusahaannya baru melayani sekitar 20 orang turis
   asing yang berkunjung secara perorangan. Keseluruhan wisatawan
   mancanegara yang berkunjung ke Buton selama tahun 1996 ini tercatat
   849 orang dan wisatawan nusantara 10.948 orang. Tahun sebelumnya
   kunjungan turis asing tercatat 950 orang.
   
   Para turis yang berkunjung secara tetap dan berkelompok di Kabupaten
   Buton adalah peserta lomba layar tahunan Darwin-Ambon. Dari Ambon
   mereka melanjutkan perjalanan ke Labuan Belanda di Buton Utara, Pulau
   Lima, Baruta, Baubau, Bone Montete, Pulau Sagori (Kabaena), Taka
   Bonerate (Selayar) dan seterusnya ke Bali.
   
   Untuk menjual pesona wisata budaya dan wisata bahari Buton tidak bisa
   lain harus diadakan promosi yang gencar melalui penerbitan semacam
   guide book yang disebarluaskan ke negara-negara pemasaran wisata.
   Tetapi siapa yang harus melaksanakan tugas ini? Yang jelas, beberapa
   pengusaha biro perjalanan di Baubau belum cukup modalnya untuk
   menangani publikasi pemasaran bekerja sama dengan penerbit yang sudah
   punya nama di luar negeri. (Yamin Indas)