IN: Kesaksian Mantan Intelijen Menj

From: apakabar@access.digex.net
Date: Wed Oct 02 1996 - 06:52:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@access.digex.net>
Subject: IN: Kesaksian Mantan Intelijen Menjelang G30S

Forwarded message:
From owner-indonesia-p@igc.org Wed Oct 2 04:26:41 1996
Content-Transfer-Encoding: 7bit
Content-Type: text/plain; charset=US-ASCII
Date: Wed, 2 Oct 1996 01:59:50 -0400 (EDT)
From: indonesia-p@igc.apc.org
MIME-Version: 1.0
Message-Id: <199610020559.BAA24304@access1.digex.net>
Subject: IN: Kesaksian Mantan Intelijen Menjelang G30S
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: ELM [version 2.4 PL25]
Sender: owner-indonesia-p@igc.apc.org
Precedence: bulk

INDONESIA-P

X-within-URL: http://www.surabayapost.co.id/96/10/01/16BAGUS.HTML

   UTAMA
   Selasa, 01 Oktober 1996
   Surabaya Post
   
                                      
        Kesaksian Mantan Intelijen Menjelang G30S: Awal September 1965,
                      Rapat CDB PKI Jatim Bicarakan Kudeta
                                        
         September 1965, kegiatan-kegiatan PKI menjelang peristiwa G30S
           dideteksi satuan intelijen ABRI di Jawa Timur. Berikut ini
         sepenggal kesaksian dan pengalaman Bagus Sasmito, mantan Wakil
            Asisten I/Intelijen Kodam VIII/Brawijaya, seputar tugas
                       intelijennya menjelang makar PKI.
         _____________________________________________________________
                                        
                                        
                                    [INLINE]
            [INLINE] AWAL September 1965, kader-kader intelijen yang
       diselundupkan ke dalam unsur CDB (Committe Daerah Besar) PKI Jawa
                     Timur memberikan laporan mengejutkan.
           [INLINE] Dalam laporan itu disebutkan, suatu malam di awal
         September 1965 berlangsung rapat di Markas CDB PKI Jatim (Jl.
        Penghela Surabaya). Dalam rapat dibicarakan, ada kelompok Dewan
        Jenderal yang akan mengadakan kudeta terhadap Presiden Soekarno.
          [INLINE] Untuk menghadapi gerakan Dewan Jenderal, PKI segera
       menyusun kekuatan berani mati dari buruh, petani, dan pemuda untuk
       melawannya. Pasukan Cakra Birawa juga telah siap di Istana Negara.
                                        
          [INLINE] Dalam bahasa intelijen, laporan itu dinilai B/2 (B
         menunjukkan pelapor dipercaya, dan 2 berarti laporan itu baru
        datang dari satu sumber), dan atas perintah Pangdam, laporan itu
          saya bawa ke Mabes AD (Mabad) untuk diserahkan kepada Mayjen
                       Soeparman, Asisten Pam Menpangad.
        [INLINE] Namun, saat itu beliau tidak ada di tempat karena ikut
           rombongan Menpangad ke Aceh. Akhirnya saya, bersama Letkol
        Moenadji, Kepala Biro Intelijen Mabes AD menghadap Wakil Asisten
            (Waas) I Kolonel Samosir untuk menyerahkan laporan itu.
            [INLINE] Kolonel Samosir, setelah menerima laporan itu,
       berkomentar, "Ini berita mengejutkan dan baru satu-satunya berita
                             yang masuk di Mabad."
       [INLINE] Selanjutnya Kolonel Samosir bertanya, "Bapak (Bung Karno)
                             bagaimana kira-kira."
         [INLINE] Saya jawab, "Di situ hanya disebut-sebut Satuan Cakra
                              Birawa dari Istana."
          [INLINE] "Baik, laporan saya terima, segera kembali," jawab
                                Kolonel Samosir.
       [INLINE] Saya kembali dan melaporkan hal itu kepada Asisten I Staf
        Kodam VIII/Brawijaya, Kolonel Djayoesman. Staf Umum Kodam segera
         menyusun rencana pengumpulan laporan-laporan untuk disebar ke
       Kodim-Kodim. Tujuannya, mendapat laporan dari daerah-daerah untuk
                         memperkuat laporan sebelumnya.
                                    [INLINE]
                             [INLINE] Rapat Rahasia
                                    [INLINE]
             [INLINE] Pada 16 September 1965, ICP di tingkat Kodam
        VIII/Brawijaya mendapat laporan dari Kodim Magetan. Laporan itu
       menyebutkan, 16 September 1965, PKI daerah Madiun mengadakan rapat
         rahasia di Plaosan, Magetan dipimpin Tiyasoenoe, pimpinan PKI
                                 daerah Madiun.
         [INLINE] Berdasar laporan itu, materi yang dibicarakan tak ada
        bedanya dengan materi rapat di kantor CDB PKI Surabaya. Laporan
                ini memberi tambahan nilai terhadap laporan B/2.
       [INLINE] Maka, laporan B/2 saya ubah menjadi laporan B/1. Nilai 1
        menyatakan, laporan sudah menjadi satu laporan intelijen karena
                    diperkuat oleh laporan dari daerah lain.
          [INLINE] Pada 17 September 1965 laporan B/1 ini saya bawa ke
       Jakarta untuk diserahkan kepada Asisten I Menpangad. Tapi hari itu
         Asisten I Menpangad ikut rombongan Menpangad meninjau pasukan
                          Brigjen Soepardjo di Kalbar.
       [INLINE] Untuk kedua kalinya, saya menghadap Kolonel Samosir, Waas
       I Menpangad. Beliau membaca laporan itu dan tampak serius sekali.
          Ia juga menyatakan, laporan B/2 yang pertama telah dibawa ke
                                   atasannya.
         [INLINE] Untuk meyakinkan saya, Kolonel Samosir mengajak saya
         menghadap Mayjen Soeprapto, Deputi Operasi (Deops) Menpangad.
       Kepada Mayjen Soeprapto, Kolonel Samosir menyampaikan laporan B/1
                                yang saya bawa.
       [INLINE] Mayjen Soeprapto membaca dan berkomentar, "Pak Yani sudah
           baca laporan yang pertama." Menurut Pak Yani, kata Mayjen
            Soeprapto, paling-paling gerakan ini hanya dalam bentuk
              demonstrasi saja, tanpa senjata, dan mudah diatasi.
        [INLINE] Saya berusaha meyakinkan dan memberi pandangan, dengan
           keterlibatan Resimen Cakra Birawa, gerakan ini tentu akan
                                  bersenjata.
        [INLINE] Sampai di Jawa Timur, saya laporkan semua kejadian ini
                           kepada Kolonel Djayoesman.
                                    [INLINE]
                            [INLINE] Demonstrasi PKI
                                    [INLINE]
       [INLINE] Sepuluh hari setelah laporan B/1 dibawa ke atas, yaitu 27
         September 1965, Surabaya dikejutkan oleh demonstrasi PKI yang
         dikoordinasi BKOW (Badan Koordinasi Organisasi Wanita) Cabang
        Surabaya dipimpin Ny Moerahman (istri Walikota Moerahman). Massa
         PKI merencanakan membunuh Gubernur Wiyono karena dicap "Setan
                                     Kota".
       [INLINE] Gedung Negara (Grahadi) dikepung. Dengan susah payah saya
        bersama Kapten Gatot Soekiyat menerobos ribuan massa yang dalam
              keadaan marah, untuk menyelamatkan Gubernur Wiyono.
         [INLINE] Massa menggebrak pintu ruangan persembunyian Gubernur
        Wiyono. Kapten Gatot Soekiyat saya perintahkan ke Kodim Surabaya
         agar mengirim satu kompi pasukan dengan diperkuat regu panser.
           [INLINE] Panser menerobos massa PKI dengan prioritas utama
       menyelamatkan Gubernur Wiyono. Gubernur diselamatkan ke Staf Umum
        I Kodam VIII dalam panser, sedang kompi masuk Gedung Negara dari
       belakang lewat Jl. Simpang Dukuh, dan dua peleton lain lewat depan
                      Pangarma melalui pinggiran Kali Mas.
        [INLINE] Massa PKI berhasil diusir ke luar pagar dengan bayonet
          terhunus, sedang saat pasukan tiba, para pimpinan PKI sudah
                              meninggalkan tempat.
        [INLINE] Setelah kondisi aman, baru Gubernur saya persilakan ke
          luar ruangan, dan juga saya laporkan, situasi dapat diatasi.
                Gubernur Wiyono keluar sendirian dan membentak.
        [INLINE] "Kau mau korbankan saya. Saya kan sudah tercebur dalam
              lumpur, mengapa tidak kau tembaki mereka," katanya.
           [INLINE] Saya pun mengajukan beberapa alasan mengapa saya
        bertindak begitu. "Yang penting Bapak sudah selamat dan sekarang
                  saya ucapkan selamat istirahat," jawab saya.
         [INLINE] Setelah memerintahkan agar mengamankan Gedung Negara
          (Grahadi), saya kembali ke kantor, dan lapor kepada Kolonel
            Djayoesman. "Mengatasi demonstrasine wong wedok saja kok
       mendatangkan kompi dan panser," katanya. Saya jawab, "Gak mati aja
                              untung sudah, Pak."
         [INLINE] Peristiwa ini saya laporkan Pangdam VIII/Brawijaya di
       Wilangan. Beliau sepakat untuk membuat laporan yang ketiga tentang
                                 PKI di Jatim.
       [INLINE] Pada 29 September 1965, Pangdam VIII/Brawijaya dan Mayor
         Soegiyanto menghadap Menpangad di Jakarta, dan diterima malam
             hari. Laporan ketiga ini mendapat tanggapan Menpangad.
          [INLINE] Namun, sehari kemudian gerakan PKI meletus. Pasukan
       Resimen Cakra Birawa yang dipimpin Oentoeng, membantai 7 pahlawan
                            revolusi dalam G30S/PKI.
             [INLINE] Laporan itu ternyata menjadi kenyataan. (h1)
                                    [INLINE]
         _____________________________________________________________