IN: PR - WNA yang Jadi WNI Diimbau

From: apakabar@access.digex.net
Date: Fri Oct 11 1996 - 19:32:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@access.digex.net>
Subject: IN: PR - WNA yang Jadi WNI Diimbau Berbaur dengan Masyarakat

Forwarded message:
From owner-indonesia-p@igc.org Fri Oct 11 06:43:34 1996
Content-Transfer-Encoding: 7bit
Content-Type: text/plain; charset=US-ASCII
Date: Fri, 11 Oct 1996 01:05:48 -0400 (EDT)
From: indonesia-p@igc.apc.org
MIME-Version: 1.0
Message-Id: <199610110505.BAA01153@access4.digex.net>
Subject: IN: PR - WNA yang Jadi WNI Diimbau Berbaur dengan Masyarakat
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: ELM [version 2.4 PL25]
Sender: owner-indonesia-p@igc.apc.org
Precedence: bulk

INDONESIA-P

X-within-URL: http://www.pikiran-rakyat.com/03111008.htm
To: bardsley@access.digex.net

   
   Jumat, 11 Oktober 1996
   ______________________________________________________________________
                                      
   WNA yang Jadi WNI Diimbau
   Berbaur dengan Masyarakat
   
   CIANJUR, (PR).-
   Sebanyak 338 dari 574 Warga Negara Asing (WNA) yang kebanyakan
   keturunan Cina di Cianjur, diajukan menjadi Warga Negara Indonesia
   (WNI) melalui program naturalisasi ke Pengadilan Negeri setempat sejak
   1993/1994.
   
   Hingga awal Oktober ini, jumlahnya yang telah mendapat SK Presiden RI
   menjadi WNI di Cianjur, terdapat sekitar 200 pemohon, sedangkan
   sisanya masih diproses secara bertahap.
   
   Wakil Ketua Badan Komunikasi, Penghayatana Kesatuan Bangsa (BAKOM PKB)
   Kab. Cianjur, Ny. Etty Yuwantini, SH ketika ditemui "PR" di kantornya
   Kamis (10/10) kemarin mengatakan, hingga saat ini masih ada sekitar
   236 lagi yang statusnya WNA keturunan Cina. Mereka belum mengajukan
   permohonan naturalisasi menjadi WNI.
   
   "Hal ini kemungkinan disebabkan berbagai faktor, di antaranya lantaran
   usia lanjut, meninggal dunia dan masih ada WNA di bawah usia 18
   tahunan," kata Etty.
   
   Menurutnya, banyak WNA keturunan Cina ini yang mengaku tak mampu
   membayar biaya persyaratan naturalisasi, sehingga mereka enggan
   mengajukan permohonan menjadi WNI. Dulu di tahun 1993-an, saat Pemda
   Cianjur bekerja sama dengan BAKOM-PKB mengajukan 288 orang WNA, biaya
   naturalisasinya mencapai Rp 1,1 juta, karena si pemohon harus
   menyelesaikan 21 macam persyaratan.
   
   Namun setelah terbit Keppres No. 6/1995, persyaratan yang harus
   ditempuh pemohon sangat ringan, sehingga biayanya lebih murah. Dampak
   positip adanya Keppres tersebut, sejak 1994/1995 hingga kini jumlah
   pemohonnya bertambah lagi hingga mencapai angka 338 orang.
   
   "Untuk merampungkan dan menyelesaikan persyaratan itu, kami tidak
   menetapkan tarip kepada pemohon. Ada yang memberi Rp 10.000,00 sampai
   Rp 20.000,00," tutur Ny. Etty.
   
   Sebagai anugrah
   
   Dijelaskananya, menjadi WNI sebenarnya bukan merupakan hak orang
   asing, melainkan bagi mereka itu sebagai anugrah dari pemerintah RI.
   Oleh karena itu, Etty mengimbau para WNA yang sudah berganti status
   menjadi WNI, hendaknya menjadi warga negara yang baik, harus berbaur
   dengan masyarakat dan melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya
   selaku WNI.
   
   "Jangan dianggap enteng jadi WNI itu, harus patuh terhadap berbagai
   aturan dan harus bertanggung jawab terhadap lingkungan masing-masing,"
   ujar Etty Yuwantini.**
   
   ______________________________________________________________________