IN: TEMPO - Wawancara Sri Bintang P

From: apakabar@access.digex.net
Date: Mon Oct 14 1996 - 08:20:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@access.digex.net>
Subject: IN: TEMPO - Wawancara Sri Bintang Pamungkas

Forwarded message:
From owner-indonesia-l@igc.org Mon Oct 14 00:40:01 1996
Content-Transfer-Encoding: 7bit
Content-Type: text/plain; charset=US-ASCII
Date: Sun, 13 Oct 1996 20:20:03 -0400 (EDT)
From: indonesia-l@igc.apc.org
MIME-Version: 1.0
Message-Id: <199610140020.UAA26290@access3.digex.net>
Subject: IN: TEMPO - Wawancara Sri Bintang Pamungkas
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: ELM [version 2.4 PL25]
Sender: owner-indonesia-l@igc.apc.org
Precedence: bulk

INDONESIA-L

X-within-URL: http://www.tempo.co.id/mingguan/33/n_utama2.htm

   [ISMAP]-[USEMAP] Edisi 33/01
   Nasional
   
     
Wawancara Sri-Bintang Pamungkas:
"Saya Menantang untuk Diadakan Pemilihan Presiden secara Langsung"

       ______________________________________________________________
                                      
     Foto Sri-Bintang Pamungkas Setelah mengeluarkan manifesto politik
     yang dideklarasikan pada 29 Mei, kali ini Sri-Bintang Pamungkas
     akan membuat gebrakan baru. Di bawah bendera partainya, PUDI
     (Partai Uni Demokrasi Indonesia), Bintang mendeklarasikan dirinya
     sebagai calon Presiden RI, Jumat (11 Oktober) ini.
     
     Seputar rencana tersebut, Bina Bektiati dan Hani Pudjiarti dari
     TEMPO Interaktif mewawancara Sri-Bintang di rumahnya yang asri di
     Bukit Permai Cibubur, Jakarta Timur, Kamis, 3 Oktober lalu. Berikut
     petikan wawancaranya.
       ______________________________________________________________
                                      
     Anda sebenarnya sudah mau divonis masuk penjara (kasus penghinaan
     terhadap Presiden RI, Red), tapi malah mencalonkan diri sebagai
     presiden. Apa mau memimpin negara dari penjara?
     
     O, ya. Bagi kita atau pun orang yang sudah mengikrarkan diri
     sebagai figur perlawanan terhadap rezim, selama masih ada waktu
     tersisa sebelum masuk (penjara) itu akan saya pergunakan
     sebaik-baiknya. Sekalipun nanti di penjara, saya akan berusaha
     untuk bisa melakukan perlawanan dari dalam.
     
     Artinya Anda tidak cukup waktu untuk mengerjakan semuanya dengan
     matang?
     
     Begini, Anda mungkin membayangkan ini mungkin perlu suatu
     organisasi yang masuk akal. Bagi saya ini sudah melawan kezaliman,
     apalagi melawan penjajah yang saya pikir perlawanan itu mestinya
     sudah menyeluruh. Dan saya yakin sebetulnya di dalam hatinya
     tiap-tiap orang Indonesia sudah mau melakukan perlawanan itu. Jadi
     istilah organisasi yang rapi seperti organisasi perusahaan,
     organisasi massa, itu sudah nggak berlaku.
     
     Bung Karno dulu nggak pernah merasa takut, tapi dia yakin dengan
     apa yang dia lakukan. Ini semestinya sudah dapat dilakukan meskipun
     tetap saya melakukan juga organisasi seperti Bung Karno --
     mendirikan PNI sebagai suatu ujung tombak. Bung Karno juga yakin
     itu saja nggak cukup. Itu hanya sekedar memberi cambuk bagi
     masyarakat agar memberikan perlawanan.
     
     Anda yakin akan mendapat dukungan dari masyarakat?
     
     Masyarakat tahu dengan melihat kondisi mereka pernah dijajah
     Belanda selama 350 tahun. Masyarakat sebetulnya jauh hari sebelum
     saya melakukan gerakan sporadis, mereka telah melakukan perlawanan
     juga. Begitu Orde Baru muncul, kalau Anda ingat pengalaman KAMI
     (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dan KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda
     dan Pelajar Indonesia), itu suatu perlawanan terhadap kebobrokan.
     Sekarang ini saya hanya tinggal melanjutkan saja.
     
     Dulu kita mengira Orba akan konsisten terhadap upaya-upaya
     perbaikan, ternyata mereka malah melakukan
     penyimpangan-penyimpangan. Lihat saja pengalaman Julius Usman
     ketika mengajukan calon wakil presiden pada 1968, dia sudah melihat
     adanya penyimpangan-penyimpan Orba. Dia sudah melihat soal
     investasi Jepang yang dikritik oleh kalangan masyarakat sebagai
     tidak proporsional, soal Taman Mini (Indonesia Indah), gerakan
     menolak pemilu pertama pada 1973.
     
     Lalu soal wakil rakyat. Jelas hanya 40 persen, bahkan lebih rendah
     dari wakil rakyat yang dipilih oleh rakyat dari seluruh anggota
     DPR. Kalaupun wakil yang dipilih itu mencapai kuorum, belum tentu
     mereka menang di DPR. Jadi manipulasi-manipulasi untuk selalu
     memenangkan pihak kekuasaan itu justru mulai tampak sejak awal 1974
     ketika terjadi peristiwa Malari. (Itu) terus berlangsung sampai
     hari ini.
     
     Kemudian perlindungan terhadap korps militer itu sudah ada sejak
     awal Orde Baru. Kalau Anda melihat berbagai macam pembunuhan
     masyarakat seperti Priok, Lampung, Aceh -- bahkan dimulai sejak
     Gestapu dengan terbunuhnya sekian ratus ribu rakyat dituduh komunis
     -- itu diulang kembali sampai pada peristiwa 27 Juli 1996, sekian
     puluh masyarakat terbunuh, hilang, dan sebagainya. Bahkan
     seringkali ditutup-tutupi oleh pihak kekuasaan. Kejadian demi
     kejadian itu berlangsung sejak awal Orde Baru sampai hari ini.
     
     Jadi, sebetulnya sebagian masyarakat itu sudah melakukan perlawanan
     dari awal. Dan tentu saja pihak kekuasaan melakukan counter untuk
     tetap berkuasa melalui berbagai macam perundang-undangan. Melalui
     upaya seperti tuduhan subversi terhadap mahasiswa, tuduhan
     melakukan penghinaan kepada kepala negara. All doing counter yang
     memberikan rasa resah, khawatir, maupun takut, was-was kepada
     sebagian masyarakat.
     
     Anda yakin masyarakat akan mendukung Anda?
     
     Sebetulnya tidak terlampau banyak dibutuhkan dukungan itu. Apakah
     Anda membayangkan bahwa dari 200 juta rakyat ini mendukung
     pikiran-pikiran Bung Karno dan Bung Hatta? Ketika melakukan
     perlawanan terhadap Jepang dan kemudian Sekutu untuk mempertahankan
     kemerdekaan itu, saya tidak yakin seluruh rakyat Indonesia
     mendukung Bung Karno dan Bung Hatta. Bahkan ketika keduanya
     dipenjara, rakyat juga banyak yang diam. Sewaktu Bung Karno dibuang
     ke Ende (Flores) dan Bung Hatta ke Padang yang paling dekat ke
     Bengkulu, hanya ada satu keluarga sajalah dari Jawa yang ikut
     bersama-sama dengan Bung Karno ke Ende. Dari kenyataan bisa
     dikatakan bahwa Bung Karno tidak perlu dukung-dukungan.
     
     Saya kira semua orang pun begitu. Ketika Gandhi harus melakukan
     perlawanan terhadap rezim Inggris untuk memerdekakan India, dia
     percaya tidak seorang diri tapi kelihatan kemudian dia harus
     menanggung semuanya seorang diri. Siapa orang Afrika yang mau
     menggantikan kedudukan Mandela di penjara?
     
     Anda menyamakan diri dengan Bung Karno dan Mandela dan menganggap
     pemerintah sekarang seperti penjajah?
     
     Ya, mereka (pemerintah) menurut pendapat saya terlalu jauh, he's
     gone too far. Ini sangat bertentangan dengan cita-cita kemerdekaan
     kita dulu. Saya katakan sudah lalim. Sudah baik ekonomi kita, tak
     terlalu kalah dengan negara-negara tetangga, tapi kalau keadaan
     masih terus berlanjut dan globalisasi akan berjalan, kita akan
     melihat betapa rezimnya Pak Harto ini tidak melakukan pembangunan
     sebagaimana mestinya. Dan tidak melakukan penguatan-penguatan
     terhadap kemampuan ekonomi kita.
     
     Soalnya adalah Anda ini akan ada di dalam penjara... Nelson Mandela
     hampir separuh umurnya, 25 tahun, di dalam penjara. Saya baru
     divonis 34 bulan, belum apa-apa itu dibanding dia. Toh, akhirnya
     cita-citanya berhasil. Saya juga yakin cita-cita saya akan
     berhasil. Tidak perlu harus saya di luar penjara, di dalam penjara
     pun perlawanan akan lebih hebat lagi. Saya katakan beberapa hari di
     media massa, Pak Harto tidak ingin saya menjadi pahlawan maka
     jangan penjarakan saya. Ini dari sisi Pak Harto. Tetapi buat saya,
     dipenjarakan atau tidak, saya akan ke luar sebagai pemenang. Saya
     yakin karena apa yang saya perjuangkan adalah yang dulu menjadi
     cita-cita republik ini.
     
     Anda ini sebenarnya ingin mengganggu Pak Harto atau serius ingin
     jadi Presiden RI? Dua-duanya. Jadi, artinya saya berjuang tidak
     perlu harus berhasil dan kemudian menggantikan kedudukan Soeharto.
     Ndak. Saya sudah bahagia kalau Pak Harto berhenti dan digantikan
     dengan yang lebih baik. Kalau bisa saya (yang mengganti), kalau tak
     bisa, ya, tak apa-apa. Saya berjuang tanpa pamrih. Tapi kalau Anda
     mau mengatakan rencana saya ini mau mengganggu dia, itu betul.
     Tetapi di balik gangguan deklarasi presiden dan wakil presiden 1998
     itu, banyak alasan-alasan politik di belakangnya. Itulah yang harus
     ditunjukkan pada rakyat yang sudah menanti-nanti setelah Peristiwa
     27 Juli yang membuat gerakan pro demokrasi hancur.
     
     Apa yang dilakukan oleh PRD saya kira juga perlawanan politik. Kita
     tidak bisa membuktikan sekarang ini bahwa PRD telah melakukan
     gerakan angkat senjata atau apa pun. Jadi, itu betul-betul untuk
     melakukan perlawanan politik. Dan itu sudah mencemaskan, selain
     suatu tantangan terhadap rezim. Tapi kita juga bermaksud untuk
     memperbaiki. Dengan kata lain, kita punya konsep reformasi terhadap
     apa-apa yang salah pada rezim ini.Di luar Anda, orang menganalisa
     ada Habibie, Try Sutrisno dan lainnya yang pantas menggantikan Pak
     Harto. Komentar Anda? Banyak orang dengan berbagai macam
     akal-akalannya, pakai bermacam-macam kriteria, seperti kriterianya
     Amien Rais yang kita sudah tahu jurusannya adalah Habibie. Well,
     sekarang kita tahu banyak calon dari Golkar sendiri, ada (BJ)
     Habibie, Harmoko, (KSAD) Hartono, ada (Wapres) Try Sutrisno. Ya,
     mereka biar berkelahi sendiri. Golkar mempunyai calonnya sendiri.
     Seharusnya ada semacam nominasi dari partai itu sendiri. PUDI pun
     harus punya calon sendiri, demikian juga PPP dan PDI. Jadi,
     deklarasi ini juga sekaligus bersifat untuk mendorong partai-partai
     lain untuk mempunyai calon, supaya budaya calon tunggal tadi tidak
     ada lagi.
     
     Selanjutnya kita mau tradisi baru yaitu bahwa kalau dulu presiden
     seakan-akan memilih wakilnya, sekarang ini sekaligus presiden dan
     wakilnya muncul bersamaan. Jadi kita menghidupkan kembali simbol
     dwi tunggal, dua sejoli. Tidak kemudian Pak Harto melakukan
     pemilihan sendiri. Padahal kita tahu Pak Harto setiap kali
     membentuk tim sebelas dan bertugas mencari calon wakil presiden dan
     disodorkan kepada MPR untuk seakan-akan dipilih MPR. Padahal itu
     pilihan Pak Harto sendiri.
     
     Selanjutnya kita mau mengenalkan suatu tradisi baru bahwa tiap
     calon presiden dan wakilnya berani bersumpah untuk tidak lebih dari
     dua kali (menjabat). Sebab dengan berkali-kali, itu mengakibatkan
     absolutisme. Pergantian kepemimpinan setiap lima tahun yang
     dikatakan oleh Pak Harto sebagai mekanisme lima tahunan ternyata
     tidak dipakai untuk melakukan perbaikan atas kepemimpinan lama,
     tetapi dipakai untuk memupuk kekuasan.
     
     Target maksimal Anda? Soeharto diganti.
     
     Kalau tak tercapai? Saya yakin itu akan terjadi. Well, masyarakat
     kemudian akan menilai bahwa memang sudah muncul the challenger
     (sang penantang, Red).
     
     Anda yakin pesan Anda ini akan sampai lewat pers yang belakangan
     tiarap? Kita sampaikan saja seadanya. Dulu perjuangan Bung Karno
     juga menghadapi berbagai hambatan. Namun dia kirim Sjahrir ke luar
     negeri, bahkan dia kirim Bung Hatta berkampanye ke luar negeri.
     Jadi kalau ada korupsi di Indonesia, saya kira lucu bila ada orang
     asing ikut campur tangan. Tapi kalau ada pembunuhan Marsinah, saya
     kira adalah hak orang asing untuk mengutuk perbuatan tersebut.
     Jadi, kita juga akan mengundang wartawan-wartawan dari dalam
     negeri, tapi kita sudah perhitungkan bahwa mereka tidak akan memuat
     atau memuat sedikit sekali, mungkin hanya beberapa potong kalimat.
     Kita ingin juga pencalonan saya nanti jadi konsumsi luar negeri.
     
     Kalau Anda berjuang di luar sistem nanti, apakah Anda tak akan
     dicap mengubah Pancasila dan UUD 45? Masyarakat muslim sampai
     sekarang belum menerima Pancasila dengan sepenuh hati. Dan mereka
     yakin bahwa Pancasila tidak bisa menggantikan Islam. Oleh karena
     itu dalam deklarasi manifesto politiknya, PUDI mengatakan bahwa
     kita ingin mengembalikan Pancasila sebagai dasar negara,
     sebagaimana dulu pada awalnya 1 Juni 1945 diproklamasikan oleh Bung
     Karno. Bukan sebagai ideologi, apalagi sebagai satu-satunya
     ideologi.
     
     Anda selalu mengidentifikasikan perjuangan Anda dengan perjuangan
     Bung Karno, padahal keadaan sudah jauh berbeda? Dalam melihat Bung
     Karno, ada dua periode penting, yaitu sebelum 1959 dan setelah
     1959. Saya menolak Bung Karno setelah 1959 karena pada waktu itu
     pun saya bergabung pada KAMI dan ikut menggulingkan kekuasaan Bung
     Karno. Ternyata sekarang ini kita kembali lagi ke square one atau
     keadaan semula. Dan oleh karena itu maka semangat untuk memperbaiki
     ini sudah muncul kembali. Artinya perjuangan kita pada 1965 ketika
     menumbangkan rezim Bung Karno ternyata belum selesai.
     
     Bukankah banyak yang bilang Pak Harto masih dicintai rakyat,
     terutama di pedesaan? Ya, kalau Anda lihat dari dialog-dialog
     televisi, ya, memang begitu. Namun dialog-dialog itu kan
     menyesatkan semua. Mereka adalah orang-orang yang dipilih. Dari
     dulu yang namanya petani juga mencangkul di sawah, sampai sekarang
     mereka juga masih mencangkul. Anda pernah lihat mereka membajak
     dengan mesin? Hanya beberapa saja, jadi mereka nggak berubah.
     Sebelum Pak Harto, keadaan mereka begitu. Setelah Pak Harto,
     keadaan mereka juga begitu. Setelah ada konglomerat-konglomerat,
     keadaan mereka juga begitu. Jadi, saya tidak yakin pengamatan Anda
     bahwa banyak rakyat yang suka pada Soeharto. Namun kenyataan yang
     ada, rakyat takut pada Soeharto.
     
     Anda siap dikritik kalau dalam perjalanan nanti tersandung?
     (Tertawa) Ya, yang nggak kuat dikritik itu bukan saya.
     
     Kenapa Anda begitu ambisi untuk mencalonkan diri? Saya akan
     menantang dia untuk melakukan pemilihan presiden secara langsung
     oleh rakyat. Artinya, pada saat kita tahu MPR tidak mampu
     menjalankan kedaulatan sepenuhnya. Karena kalau MPR diharuskan
     menjalankan kedaulatan sepenuhnya, maka anggota MPR yang dipilih
     oleh rakyat harus mayoritas. Sekarang ini cuma 40 persen, bahkan
     besok ini menjadi hanya 42,5 persen karena ABRI tinggal 75 kursi.
     Itu pun kalau pemilunya dijalankan dengan benar. Jadi, sebetulnya
     MPR itu tidak menjadi penjelmaan kedaulatan rakyat. Dan oleh karena
     itu tidak berhak untuk memilih presiden. Kalau 300 juta rakyat
     Amerika mampu memilih presiden secara langsung, kenapa kita yang
     berpenduduk 200 juta orang tidak mampu?
     
     _________________________________________________________________