IN: RPK - Tajuk - Insiden Situbondo

From: apakabar@access.digex.net
Date: Mon Oct 14 1996 - 08:24:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@access.digex.net>

Forwarded message:
From owner-indonesia-l@igc.org Mon Oct 14 00:40:44 1996
Content-Transfer-Encoding: 7bit
Content-Type: text/plain; charset=US-ASCII
Date: Sun, 13 Oct 1996 20:48:14 -0400 (EDT)
From: indonesia-l@igc.apc.org
MIME-Version: 1.0
Message-Id: <199610140048.UAA27998@access3.digex.net>
Subject: IN: RPK - Tajuk - Insiden Situbondo
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: ELM [version 2.4 PL25]
Sender: owner-indonesia-l@igc.apc.org
Precedence: bulk

INDONESIA-L

X-within-URL: http://www.republika.co.id/9610/14/14TAJUK.06.html

                          Republika Online [LINK]
                                  [ISMAP]
                           Senin, 14 Oktober 1996
                                      
                          Tajuk: Insiden Situbondo
                                      
                                      
     Kita sangat prihatin atas kerusuhan yang terjadi di Situbondo hari
      Kamis (10/10) yang lalu. Lebih-lebih dalam insiden itu disamping
     gedung Pengadilan Negeri dan bangunan milik umum lain terjadi pula
             pembakaran dan perusakan tempat ibadah nonmuslim.
                                      
   Menurut berita yang bisa diikuti dari media massa, pemicu insiden itu
      adalah tuntutan yang diajukan jaksa dalam proses pengadilan atas
      terdakwa dalam suatu perkara pelecehan ajaran agama (Islam) dan
   merendahkan martabat seorang pemimpin umat yang sangat disegani (yaitu
    KHR As'ad Syamsul Arifin), yang bisa ditafsirkan sebagai penghinaan.
                                      
   Insiden di pengadilan merupakan hal yang sudah sering terjadi. Tetapi
   insiden yang diikuti gerakan massa melakukan pengrusakan, pembakaran,
     dan tindak kekerasan lain, merupakan hal yang luar biasa. Apalagi
   insiden itu terjadi di Situbondo, kota kabupaten yang letaknya jauh di
     ujung timur Pulau Jawa, jauh dari pusat pemerintahan provinsi Jawa
    Timur, Surabaya, apalagi Jakarta. Kasusnya menjadi sangat bermakna,
   karena menyangkut pelecehan atas ajaran agama dan merendahkan martabat
                                   ulama.
                                      
   Ironisnya, di Kabupaten Situbondo ini pulalah pada tahun 1983, ketika
     diselanggarakan Munas NU dan Muktamar XXVII, sejumlah cendekiawan
     Muslim menyambut dan mendukung kehadiran generasi baru pimpinan NU
    yang bukan dari generasi Salafiyah, tetapi generasi yang diharapkan
     dapat dan mampu menjembatani komunikasi antara lapis tradisionalis
   yang sangat tebal dilapis bawah dengan lapis generasi Islam baru yang
   telah bersentuhan dengan peradaban modern bahkan dengan kemajuan ilmu
                         pengetahuan dan teknologi.
                                      
      Mengambil Rois Aam NU Kyai Haji Ilyas Rukhiyat, agar semua fihak
   bersikap dan bertindak arif. Sepintas terkesan, insiden ini merupakan
      wujud dampak komunikasi yang belum lancar antara lapis elit dan
   terdidik dari pimpinan umat Islam umumnya dengan lapis awam jami'iyah
   Islam, baik dari NU, Islam 'abangan' maupun mereka yang taat beribadah
        namun belum menguasai idiom budaya Islam. Karena kemajemukan
       masyarakat Indonesia, komunikasi ini menjadi dasar utama bagi
     terwujudnya kehidupan bermasyarakat secara harmonis. Apalagi pada
   masyarakat yang dalam transisi seperti Situbondo, dari masyarakat yang
     sangat tradisional menuju masyarakat yang lebih terbuka dan maju.
                                      
    Umumnya harapan para kyai dan pimpinan umat Islam lainnya pada ICMI
   adalah bagaimana organisasi cendekiawan Muslim ini bisa lebih menjalin
   komunikasi dengan jami'iyah Islam awam di lapis bawah. Maksudnya agar
    supaya sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara serta aspirasi
   kemodernan yang menjadi acuan program tunggal ICMI, yaitu: peningkatan
   kualitas sumber daya manusia itu, dapat disampaikan dengan bahasa dan
    rujukan budaya yang mudah difahami oleh mereka yang berada di lapis
                                   bawah.
                                      
        Memang ketika kita melancarkan suatu program perubahan atau
     transformasi masyarakat, pertama-tama kita harus mengenali bahkan
       memahami bahasa serta simbol simbol yang mereka gunakan, bukan
    sebaliknya; memaksakan agar mereka memahami atau menghafal ungkapan
          yang kita ciptakan untuk cita-cita perubahan itu. &#127