IN: SBYP - Cochran yang Berperan di

From: apakabar@access.digex.net
Date: Fri Oct 18 1996 - 07:53:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@access.digex.net>
Subject: IN: SBYP - Cochran yang Berperan di Indonesia (1948-50)

Forwarded message:
From owner-indonesia-p@igc.org Fri Oct 18 06:46:03 1996
Content-Transfer-Encoding: 7bit
Content-Type: text/plain; charset=US-ASCII
Date: Thu, 17 Oct 1996 21:52:24 -0400 (EDT)
From: indonesia-p@igc.apc.org
MIME-Version: 1.0
Message-Id: <199610180152.VAA19429@access2.digex.net>
Subject: IN: SBYP - Cochran yang Berperan di Indonesia (1948-50)
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: ELM [version 2.4 PL25]
Sender: owner-indonesia-p@igc.apc.org
Precedence: bulk

INDONESIA-P

X-within-URL: http://www.surabayapost.co.id/96/10/17/16INZET.HTML

   UTAMA
   Kamis, 17 Oktober 1996
   Surabaya Post
   
   Cochran yang Berperan di Indonesia (1948-50)
       
       
       
         _____________________________________________________________
                                        
       oleh Rosihan Anwar
       [INLINE] Pada pertengahan 1948, wakil Amerika Serikat, Court
       Dubois, dalam Komisi Jasa-jasa Baik yang dibentuk Dewan Keamanan
       PBB untuk menengahi perundingan Belanda-Indonesia, terganggu
       kesehatannya dan harus kembali ke negerinya.
       [INLINE] Kementerian Luar Negeri AS mencari penggantinya yang
       dapat bekerja sama dengan Belanda, dan menemukannya dalam diri
       seorang diplomat yang orientasinya tertuju ke Eropa, serta tak
       punya pengalaman sama sekali di Indonesia. Namanya, Merle Cochran.
       
       [INLINE] Court Dubois, bersama wakil Australia Tom Critchley,
       merumuskan sebuah usul menyelesaikan sengketa Belanda-Indonesia
       yang kendati ada Persetujuan Renvile tampak berlarut-larut.
       [INLINE] Karena itu Dubois-Critchley mengusulkan diadakan
       pemilihan umum di Jawa dan Sumatera, sebelum membentuk
       pemerintahan sementara untuk seluruh Indonesia. Rencana
       Dubois-Critchley tak disenangi oleh Belanda yang mempunyai konsep
       sendiri tentang bentuk pemerintahan sementara tersebut.
       [INLINE] Kementerian Luar Negeri AS mengatur, agar Cochran singgah
       di Negeri Belanda sebelum melanjutkan perjalanan ke posnya yang
       baru di Jakarta. Cochran berkonsultasi dengan kedutaan besar AS di
       Den Haag, dan dengan para pembesar Belanda, untuk meninjau kembali
       usul Dubois-Critchley sehingga dapat diterima oleh pihak Belanda.
       [INLINE] Cochran memperoleh kesan, Belanda sungguh-sungguh mau
       memberikan kedaulatan kepada bangsa Indonesia, tapi Belanda tak
       setuju diadakan pemilu dan plebisit sebelum pembentukan
       pemerintahan sementara.
       [INLINE] Cochran tampaknya mengusulkan menghapuskan saja soal
       pemilu dan plebisit itu yang notabene disetujui oleh Republik
       Indonesia. Tanpa berkonsultasi dengan Kementerian Luar Negeri AS
       dan sebelum tiba di Jakarta, Cochran mengambil putusan mengubah
       suatu strategi yang telah disetujui. Begitulah cara bekerja
       Cochran.
       [INLINE] Dalam naskah buku tentang hubungan Amerika-Indonesia yang
       ditulis oleh Paul F. Gardner, mantan sekretaris politik pada
       kedutaan besar AS di Jakarta dan mantan Dubes AS di PNG, dapat
       dibaca beberapa data menarik tentang pribadi Cochran dan perannya
       di Indonesia 1948-1950.
       [INLINE] Di situ diceritakan tentang pertemuan pertama kali antara
       Cochran dengan anggota-anggota delegasi Amerika yang menjadi
       stafnya, setiba Cochran di Jakarta, bertempat di Hotel des Indes.
       [INLINE] Orang Sangat Kesepian
       [INLINE] Sebagaimana diingat oleh anggota delegasi AS Phil
       Trezise, dan diceritakannya kepada Paul Gardner, dalam pertemuan
       tersebut delegasi memberikan laporan kepada Cochran tentang
       situasi.
       [INLINE] Cochran duduk di kamar hotel dengan tak bergerak bagaikan
       seorang Budha. Matanya berwarna biru sekali, dan tampaknya tak
       pernah berkedip. Dia tidak mengajukan pertanyaan apa-apa. Dia cuma
       berkata "Ogburn, Anda dan Barco besok harus pulang".
       [INLINE] Charles Ogburn adalah pejabat ketua delegasi waktu itu,
       dan Barco seorang pengacara dari Biro PBB yang bersimpati dengan
       perjuangan bangsa Indonesia.
       [INLINE] Lalu dia menunjuk kepada Phil Trezise, "Anda harus
       tinggal, karena saya memerlukan seorang ekonom". Kemudian Phil
       mengetahui Cochran menginstruksikan kepada bagian komunikasi untuk
       tidak memberikan lagi tembusan telegram-telegramnya kepada Phil,
       tapi petugas sandi tetap memperlihatkannya kepada Phil.
       [INLINE] Pada suatu hari Phil menulis sebuah memorandum kepada
       Cochran. Berdasarkan pengalamannya selama beberapa bulan Phil
       menunjukkan, Belanda berunding dengan iktikad buruk, mereka tak
       bermaksud mencapai penyelesaian yang dapat diterima oleh
       orang-orang Indonesia, Belanda terlalu miskin untuk menempuh
       kebijakan ini secara tidak menentu dan tidak ada kemungkinan sama
       sekali Kongres AS akan memberikan lebih banyak dana untuk
       menyelamatkan Indonesia. Dua hari kemudian Cochran berkata kepada
       Phil, "Saya pikir Anda harus pulang sekarang".
       [INLINE] Trezise, Ogburn dan beberapa pejabat lain yang bekerja
       dengan Cochran mengatakan, Cochran tampaknya orang yang sangat
       kesepian (a very lonely man). Istrinya secara permanen telah
       dimasukkan ke rumah sakit jiwa dan dia tidak punya anak.
       [INLINE] Tambah pula tampaknya dia tidak dapat mempercayai
       stafnya. Laporannya dan telegram-telegramnya tidak
       diperlihatkannya kepada stafnya. Kecenderungannya memegang sendiri
       semua hal penting. Makin lama makin dia menganggap stafnya
       hanyalah sebagai sumber dukungan administratif dan teknis.
       [INLINE] Demikianlah dilukiskan pribadi diplomat Cochran yang pada
       awalnya bersikap pro pendirian Belanda. Ketika mengunjungi Yogya
       pada pertengahan Agustus 1948 Cochran mengatakan kepada Presiden
       Soekarno, tindakan Belanda mengganggu wakil-wakil Republik di
       Jakarta tak boleh sampai meracuni suasana untuk perundingan.
       [INLINE] Cochran menjelaskan dia mendapatkan PM Belanda yang baru
       Willem Drees dan Menteri Daerah Seberang Lautan Mr. Sassen
       mempunyai sikap yang istimewa simpatik.
       [INLINE] Kaget Politik Belanda
       [INLINE] Alangkah kagetnya Cochran waktu kembali ke Jakarta dan
       mengetahui Belanda telah melanggar janji. Belanda tak memberikan
       terlebih dulu kepada Cochran rencananya tentang suatu pemerintahan
       sementara untuk dikomentari, tapi langsung saja menyampaikan
       rencana itu kepada pertemuan BFO (Bijzonder Federaal Overleg),
       wakil-wakil daerah di luar Republik yang diadakan di Bandung.
       [INLINE] Lebih jauh Belanda menyita milik Republik di Jakarta dan
       mengusir para pemimpin Republik di sana ke pedalaman. Akibatnya
       Republik menarik diri dari perundingan. Khawatir kejadian-kejadian
       ini bisa menumbangkan pemerintah Mohammad Hatta, lalu digantikan
       oleh pemerintah kiri, maka Cochran mengambil inisiatif menyusun
       rencananya sendiri untuk perundingan Belanda-Indonesia.
       [INLINE] Pada 26 Agustus 1948 Cochran memberitahukan kepada
       pemerintahnya di Washington, dia menyangsikan apakah kabinet Hatta
       mampu bertahan terhadap tekanan-tekanan yang dihadapi.
       [INLINE] Waktu itu wakil Republik Indonesia untuk Eropa Timur,
       Suripno, kembali dari Praha dan membawa bersama dia pemimpin
       Partai Komunis Indonesia (PKI) Muso. Tanggal 29 Agustus Mr Amir
       Syarifuddin mengumumkan, dia anggota PKI sudah sejak 1935. Tanggal
       18 September meletus pemberontakan PKI di Madiun. Tanggal 20
       September Cochran bertemu dengan Hatta, tak lama sesudah kabinet
       membicarakan peristiwa Madiun dan menerima rencana Cochran untuk
       perundingan.
       [INLINE] Soekarno-Hatta berhasil memadamkan pemberontakan PKI.
       Pada akhir November PKI tidak lagi berkutik. Muso tewas ditembak.
       Amir Syarifuddin dan Suripno ditangkap, sebanyak 35.000 pasukan
       komunis ditawan.
       [INLINE] Republik Indonesia melenyapkan musuh utamanya, dan di
       mata Amerika Serikat gengsi Republik meningkat. Walau Republik
       bersedia berunding, Belanda sebaliknya berkepala batu melanjutkan
       persiapannya untuk melancarkan aksi militer kedua, 19 Desember
       1948, yang menyebabkan Yogya diduduki dan para pemimpin Republik
       ditawan oleh Belanda.
       [INLINE] Cochran yang pada saat Belanda menyerang itu berada di
       Jakarta sedangkan rekannya Tom Critchley dari Australia berada di
       Kaliurang bersama Hatta, menjadi marah karena tindakan Belanda
       yang menganggap sepi saja kehadiran Komisi Jasa-jasa Baik PBB di
       Indonesia.
       [INLINE] Ia melaporkan kepada Washington perbuatan-perbuatan
       Belanda yang tidak manusiawi, seperti menyekap Hatta dan para
       pemimpin Republik lainnya dalam ruangan yang sempit sekali di
       pulau Bangka (Soekarno dan Sjahrir ditahan di Prapat Brastagi),
       dan akibat laporan itu sikap politik Washington terhadap Belanda
       menjadi berubah.
       [INLINE] KMB dan RIS
       [INLINE] Reaksi pers Amerika terhadap aksi militer kedua Belanda
       sangat gencar menghukum Belanda. Di Senat waktu dibicarakan soal
       bantuan kepada Belanda, Senator Brester menentangnya.
       [INLINE] Sikap wakil AS di Dewan Keamanan PBB Philip Jessup
       memojokkan Belanda dan tanggal 28 Januari 1949 Dewan Keamanan
       menerima resolusi yang menyerukan dihentikannya permusuhan,
       dibebaskannya tawanan-tawanan dan dimulainya kembali perundingan.
       Komisi Jasa-jasa Baik diubah namanya menjadi United Nations
       Commission for Indonesia (UNCFI).
       [INLINE] Cochran yang berada di Washington tatkala Dewan Keamanan
       membicarakan masalah Indonesia kembali ke Jakarta via Den Haag di
       mana dia mendesak pemerintah Belanda agar melaksanakan resolusi
       Dewan Keamanan.
       [INLINE] Belanda tetap bersikap kaku terhadap Republik, tapi
       kemudian Menteri Luar Negeri AS Dean Acheson turun tangan dan
       mengirimkan pesan kepada Menlu Belanda Mr Udo Stikker, Belanda
       harus menarik tentaranya dari Yogyakarta dengan segera.
       [INLINE] Tanggal 14 April Belanda memulai lagi perundingan dengan
       Republik, dan pada 7 Mei tercapai persetujuan Van Roijen-Roem yang
       meratakan jalan akhirnya ke arah Konferensi Meja Bundar (KMB) di
       Den Haag untuk membicarakan soal penyerahan kedaulatan.
       [INLINE] Pada 6 Juli 1949, para pemimpin Republik kembali dari
       Bangka ke Yogyakarta. Cochran hadir di bandar udara Meguwo
       menyambut kedatangan Soekarno-Hatta. Cochran kemudian melaporkan
       "Kembalinya pemerintah Republik adalah ke sebuah kota yang bersih
       dan tertib yang penduduknya memberikan sambutan selamat datang.
       Upacaranya bermartabat dan mengesankan. Sikap terhadap saya sangat
       ramah tamah dan apresiatif".
       [INLINE] Ketika tanggal 23 Agustus dimulai KMB di Den Haag,
       Cochran hadir sebagai peninjau mengetuai UNCFI. Tapi Cochran aktif
       juga campur tangan ketika perundingan antara delegasi Belanda dan
       Indonesia menghadapi kesulitan mengenai masalah utang Hindia
       Belanda yang harus diambil oper oleh pemerintah Republik Indonesia
       Serikat (RIS). Kendati tercapai sepakat tentang jumlah utang yang
       harus dipikul Indonesia, namun beberapa anggota delegasi Indonesia
       menyalahkan Cochran karena memberikan beban utang begitu berat.
       [INLINE] Tanggal 27 Desember 1949 pada penyerahan kedaulatan dari
       Belanda kepada RIS, Presiden AS Harry Truman mengirim surat ucapan
       selamat kepada Presiden Soekarno disertai permintaan agar Merle
       Cochran dapat menyerahkan surat kepercayaannya sebagai duta besar
       Amerika yang pertama untuk Indonesia.
       [INLINE] RIS tak mampu bertahan lama, dan pada 17 Agustus 1950,
       RIS telah dibubarkan, dan RI kembali mengibarkan benderanya dengan
       jaya.
       [INLINE] Demikian cerita Paul Gardner tentang Cochran, diplomat
       Amerika yang memegang peran penting dalam percaturan politik di
       Indonesia 1948-1950.
       [INLINE] Berdansa di Harmonie
       [INLINE] Kendati pada masa itu saya sering melihat Cochran dari
       dekat seperti di Jakarta, di Meguwo atau di KMB, namun saya tak
       pernah dapat kesempatan bercakap-cakap dengan dia. Cochran
       tampaknya mengambil jarak dengan wartawan Indonesia.
       [INLINE] Pada suatu malam pertengahan 1950, saya berada di
       societeit Harmoni, Jakarta bersama para diplomat menghadiri sebuah
       resepsi. Kami semua berbusana resmi memakai black tie. Dubes
       Cochran juga ada di sana.
       [INLINE] Waktu tamu-tamu mulai berdansa, saya dan istri turun ke
       lantai, demikian pula Cochran yang bermitra dengan seorang wanita
       bukan istrinya. Meski di lantai dansa kami sangat dekat
       berpapasan, namun Cochran sambil memandang ke jurusan saya tidak
       mengucapkan sepatah kata pun, tidak ada Hallo, tiada sapaan How
       are you, padahal saya pernah diperkenalkan kepadanya sebagai
       editor harian Pedoman.
       [INLINE] Baru setelah membaca tulisan Paul Gardner tentang pribadi
       Cochran sebagai "orang yang sangat kesepian", dan "istrinya berada
       di rumah sakit jiwa" saya mengerti mengapa Cochran bersikap
       pendiam itu. (***)
         _____________________________________________________________