Area Studies: East Timor (r)

From: merdeka@clark.net
Date: Mon Nov 04 1996 - 06:09:00 EST


From: INDONESIA-L <merdeka@clark.net>
Received: (from merdeka@localhost) by clark.net (8.7.1/8.7.1) id KAA11988 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Mon, 4 Nov 1996 10:09:13 -0500 (EST)

Forwarded message:
From owner-indonesia-l@igc.org Mon Nov 4 06:26:33 1996
Content-Type: TEXT/PLAIN; charset=US-ASCII
Date: Mon, 4 Nov 1996 08:14:40 +1000 (EST)
From: indonesia-l@igc.apc.org
MIME-Version: 1.0
Message-ID: <Pine.BSF.3.91.961104081142.840E-100000@smople.thehub.com.au>
Subject: IN: Re - Nobel utk Horta
To: apakabar@clark.net
Sender: owner-indonesia-l@igc.apc.org
Precedence: bulk

INDONESIA-L

Date: Sun, 3 Nov 1996 10:12:34
From: Jusfiq Hadjar gelar Sutan Ma(ra)jo Lelo
To: apakabar@clark.net
Subject: Resending a message

> Date: Mon, 28 Oct 1996 21:07:34 -0500 (EST)
> From: indonesia-l@igc.apc.org
> Subject: IN: TEMPO - Dawam Rahardjo: Hadiah Nobel & Diplomasi
Indonesia
> To: apakabar@clark.net

> X-within-URL: http://www.tempo.co.id/mingguan/35/n_kolom1.htm
>
> [ISMAP]-[USEMAP] Edisi 35/01
> Kolom
>
> Dawam Rahardjo
> Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia
>
> Hadiah Nobel dan Diplomasi Indonesia
>

=================================================================

     Pengantar :

     Masih soal hadiah Nobel untuk Jose Ramos Horta.

     Atau persisnya tentang reaksi beberapa orang yang beragama
     Islam di Indonesia atas pemberian Hadiah Nobel untuk Jose Ramos
     Horta.

     Masaalahnya adalah: masih sebegitu banyak ketololan bin
     kegoblokan yang diucapkan oleh beberapa orang yang beragama
     Islam di Indonesia tentang masaalah ini.

     Ada saatnya saya berkesan bahwa banyak intelektuil Indonesia
     yang beragama Islam bersikap seperti anjing piaraan: bila
     majikannya memberikan aba-aba untuk menggonggong, maka
     anjing-anjing itupun serta merta berebut menggongong,
     kendatipun mereka tak tahu apa yang digonggongnya dan kenapa dia
     harus menggonggong.

     Pokoknya ada aba-aba dari majikan untuk menggonggong.

     Mari kita ingat, segera para penguasa berkata bahwa Horta tidak
     layak untuk dapat hadiah Nobel ('Kita tidak tahu kriterianya"
     kata Moerdiono), maka Nurcholis Madjid yang beragama Islam
     itupun pentang bacot. Dan kali ini Dawan Rahardjo yang adalah
     (anggota) Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia
     ikut berkoar.

     Saya tidak kenal Dawan Rahardjo secara pribadi. Saya hanya
     mendengar tentang orang ini dari sahabat-sahabat saya. Dan
     rata-rata komentar sahabat saya itu amat positif. Karena
     sahabat-sahabat saya itu adalah orang yang mengenal Dawan
     Rahardjo dengan baik, maka saya beri kredit omongan mereka itu.

     Ternyata sahabat-sahabat saya itu keliru: penilaian mereka
     ternyata tidak tepat sama sekali.

     Ya, saya betul-betul tak habisnya bertanya-tanya: kok otak orang
     ini begitu kosongnya.

     Ambil saja beberapa fakta yang dipakai sebagai argumen, seperti
     fakta yang disampaikan oleh Wendy Holland tentang Horta.

     Saya sebenarnya bisa berpendek kata dalam masaalah ini karena
     kita peserta Indonesia-l ini tahu belaka nilai omongan
     perempuan Australia ini: omong kosong.

     Atau tepatnya fitnah.

     Namun saya toh ingin berpanjang lebar.

     Saya tidak merasa heran dan tidak kaget ketika beberapa Tongki
     dan Rajagoblok di Indonesia-l ini bulak balik memamah biak
     pernyataan Wendy Holland ini. Itu sudah bahagian dari kerja
     Tongki dan Rajagoblok itu.

     Tapi anggota Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim
     se-Indonesia?

     Oke, Dawan Rahardjo belum tentu ikut Indonesia-l ini, jadi
     tidak tahu apa yang ditulis di Indonesia-l ini.

    Tapi mari kita kaji dari alif.

    Cerita Wendy Holland ini telah diedarkan di Indonesia.

     Betul.

     Tapi Horta tidak berkesempatan untuk menyatakan pendapatnya
     tentang omongan Wendy Holland itu di media Indonesia.

     Dalam situasi seperti ini orang yang tahu harga diri mestinya
     memasukkan berita itu ke keranjang sampah.

     Omongan yang menyangkut diri seseorang hanya bisa diterima -
     kalaupun itu perlu diurus - bila orang yag bersangkutan diberi
     kesempatan untuk memberikan versinya atas sebuah alegasi.

     Baru setelah kedua belah pihak dengan leluasa menyampaikan
     versinya orang luar dapat menarik kesimpulannya.

     Ini prinsip umum yang kudu dipegang orang yang punya harga diri,
     prinsip umum yang kudu dipegang orang yang menghargai kejujuran
     dan yang tidak mau menjadi tukang telan dusta dan fitnah.

     Ini saja tidak dilakukan oleh Dawam Rahardjo: ocehan Wendy
     Holland itu disinggungnya dan juga dijadikannya sandaran
     analisanya.

     Tapi ada aspek lain lagi, yang juga serius, yang juga kudu
     diingat:

     Cerita Wendy Holland ini disebarkan di Indonesia dengan
     diiringi gendang dan selompret penguasa.

     Dalam situasi begini orang-orang yang punya harga diri,
     orang-orang yang ogah dikibuli oleh tukang tindas seyogiyanya
     segera mengalihkan mukanya kearah lain dan segera
     bertanya-tanya: apa pula yang ingin disembunyikan oleh penguasa
     dengan omongan ini?

     Ini elementer.

     Tapi bukan sikap ini yang dipegang oleh Dawam Rahardjo, pakar
     anggota "Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia"
     ini: ocehan Wendy Holland yang diiringi gendang dan selompret
     tukang tindas itu disinggungnya dan dijadikannya pula sebagai
     sandaran analisanya.

     Harga diri pakar ini sungguh rendah nian.

     Tapi bukan masaalah referensinya terhadap omongan Wendy Holland
     ini saja yang membikin saya pusing dengan tulisan anggota "Dewan
     Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia" ini.

     Juga pertanyaan yang diajukannya (dan jawabnya yang kemudian
     dieka-rekanya) terhadap pemberian hadiah Nobel ini membikin
     perut saya mulas: "Mungkin juga Pemerintah Portugal sendiri ikut
     bermain di forum Eropa ?"

     Dan dengan beberapa 'mungkin' lainnya pakar Dewan Pakar Ikatan
     Cendekiawan Muslim sampai kekesimpulan: "Ramos Horta hanyalah
     boneka yang dimanfaatkan saja".

     Agar jelas: tidak ada bukti yang disertakannya untuk mendukung
     kesimpulannya itu.

     Dan memang tidak perlu dicari, karena yang penting buat orang
     ini bukan untuk mencari kebenaran, tapi menurutkan aba-aba
     tukang tindas: Horta harus digongong!

     Blaf!

     Blaf.

     Untuk itu logika tidak perlu dipergunakan.

     Saya sedih.

     Saya lemes.

     Begini.

     Yang kita bicarakan disini adalah masaalah perdamaian,
     pemecahan masaalah Timor -Timur secara damai.

     Masaalah yang amat serius.

     Saya harapkan sebenarnya agar intelektuil Islam Indonesia, yang
     saya yakin rajin tunggang tunggik mengucapkan
     assalamu'alaikum paling kurang lima kali sehari, untuk ikut
     mencari perdamaian, untuk ikut mendukung pemecahan masaalah ini
     dengan cara damai.

     Mari kita ingat (dan Dawam Rahardjo tahu):

     Horta telah menyatakan keingininannya untuk memecahkan
     masaalah Timor Timur dengan cara damai.

     Panitia Nobel telah menyatakan dukungan (moral) nya atas usaha
     Horta untuk mencari pemcecahan masalah ini secara damai.

     Orang Indonesia yang beragama Islam mestinya juga mempergunakan
     kesempatan itu untuk mendorong perdamaian dan bukan menolaknya.

     Sesungguhnya Al-Qur'an berbunyi (saya kutip terjemahan bahasa
     Inggerisnya):

     ..... do not say to those that offer peace: "You are not
     believers".

     (An-Nissa IV: 94)

     Agar jelas: dengan melecehkan uluran tangan Jose Ramos Horta
     atas nama CNRM ini, dengan mencari-cari cacat Horta, Dawan
     Rahardjo bukan saja telah bersikap seperti anjing piaraan
     serdadu tukang bunuh, tapi juga telah alpa menurutkan perintah
     Al-Qur'an.

     Ya, ada saaatnya saya ingin belajar sembahyang dan berdoa lagi.

Jusfiq Hadjar gelar Sutan Ma(ra)djo Lelo.

=============================================================

(Bahagian yang mengenai uskup Belo saya hapus)

> Pemberian hadiah Nobel bagi Ramos Horta, bukan saja menimbulkan
> tanda tanya, bahkan memicu kemarahan. Yang tidak bisa menerima
> keputusan Panitia Nobel itu bukan hanya pejabat Indonesia,
> tokoh-tokoh Timtim yang pro-integrasi atau anggota Komnas HAM,
> Marzuki Darusman. Tak kurang dari Dr. Abilio Araujo -- Presiden
> Fretelin yang masih diakui sebagai pimpinan warga Timtim di Lisbon
> --

     Abilio Araujo, kita tahu, adalah orang yang telah meninggalkan
     pendiriannya yang dulu.

     Haknya!

     Tapi pendapatnya tentang Horta seyogiyanya ditempatkan dalam
     perspektif itu.

     Artinya tidak bisa dimasukkan hitungan..

> dan mantan isteri Horta, Wendy Lea Holland yang selama 20 tahun dan
> ikut "berjuang" bersamanya, juga tidak memahami keputusan itu.

     Wendy Holland, kita tahu, mengaku agen dinas rahasia Australia.

     Ada dua kemungkinan.

     Kemungkinan pertama omongannya tentang hubungannya dengan dinas
     rahasia Australia itu benar. Dalam hipotese ini omongannya
     tentang Horta hanya pantas dijadikan kertas cebok, karena
     omongan itu adalah omongan pegawai dinas rahasia.

     Flush!

     Kemungkinan kedua omogannya tentang hubungannya dengan dinas
     rahasia Australia itu adalah omong kosong, artinya dusta. Kalau
     hipotese ini yang benar, maka omongannya tentang Horta juga
     hanya pantas dijadikan kertas cebok, karena omongan itu adalah
     omongan pendusta.

     Flush!

> Jika Ramos Horta memang "bajingan" dan "koruptor" seperti
> kata bekas isterinya, atau "penipu" seperti disebut oleh Araujo,
> mengapa dalam kenyataannya ia disejajarkan dengan Uskup Belo, yang
> menurut Marzuki Darusman pantas menerima hadiah itu atas dasar
> kemanusiaan. Ketidakmengertian dan protes itu dialamatkan kepada
> Komite Nobel. Apakah komite itu telah lalai dan salah informasi ?
> Mungkin juga Pemerintah Portugal sendiri ikut bermain di forum
> Eropa ? (.....) Dalam soal Timtim, Pemerintah Indonesia, harus
> diakui, telah berbuat banyak.

     Sepertiga penduduk Timor Timur telah kehilangan nyawa karenanya.

> Oleh karena itu sikap yang terbaik untuk diambil oleh Pemerintah
> RI adalah diam dalam soal Ramos Horta. Ini tidak berarti tinggal
> diam. Menurut hemat saya, bukan perjuangan diplomasi untuk melawan
> Ramos Horta yang penting. Tetapi membangun Timtim sendiri, terutama
> membangun masyarakatnya yang kebanyakan beragama Katholik itu.

     Dan ini semua tanpa mendengarkan apa yang dimaui oleh orang
     Timor-Timur sendiri.

     Bikin patung Yesus segede gajah bengkak misalnya yang mereka
     anggap sebagai penghinaan terhadap hak mereka: makanya Belo
     telah menolak untuk merestuinya.

> Tapi yang terlebih penting adalah memperbaiki kondisi HAM sendiri.
> Sebab faktor HAM ini memainkan peranan penting dalam diplomasi,
> antara lain karena di satu pihak, negara-negara sedang berkembang
> umumnya memang mengalami kesulitan dalam mengatasi masalah HAM ini,
> di pihak lain, negera-negara industri maju memanfaatkan isu HAM
> untuk kepentingan politik dan ekonominya.

     Inilah salah satu masaalahnya: buat orang ini: (...) negara-
     negara industri maju memanfaatkan isu HAM untuk kepentingan
     politik dan ekonominya.

     Ini yang dipentingkannya.

     Saya tidak membantah bahwa ada saatnya beberapa negara industri
     maju memanfaatkan isu HAM untuk kepentingan politik dan
     ekonominya.

     Oke, tapi apakah oleh karena itu kita menyalahkan ikut campur
     mereka itu?

     Saya teringat omongan Mandeville: Tukang roti itu bangun
     pagi-pagi untuk membuat roti bukan karena alasan karitatif,
     tapi karena mengejar untung.

     Tapi apakah karena itu saya menolak untuk membeli roti dari
     tukang roti itu?

     Dibalik itu, tidak semua negara maju itu mengurus masaalah HAM
     di negera berkembang karena alasan politik dan ekonomi. Berbagai
     pemimpin negara Skandinavia dan Benelux memasaalahkan
     pelanggaran HAM di berbagai negera berdasarkan keyakinan dan
     suara hati nurani mereka.

> Bertanggal 14 Maret 1994, Ramos Horta menulis surat, -- selaku
> CNRM Co-Chairman and Special Representative -- kepada Presiden
> Soeharto. Surat itu diungkap kembali melalui internet oleh kalangan
> tertentu di luar negeri.

     Ah, 'kalangan tertentu'!

     Seakan-akan sebuah fakta itu berubah nilainya hanya karena
     fakta itu disampaikan oleh 'kalangan tertentu'.

> Surat yang lebih dari dua tahun tak dikenal itu kini diungkapkan
> sebagai surat penting. Kali ini surat itu adalah surat dari seorang
> Nobel laurete dan karena itu harganya lebih tinggi.

     Bila surat itu tidak dikenal di Indonesia maka yang salah bukan
     Horta, tetapi pemeritah Indonesia.

     Mari kita ingat:

     surat itu telah dikirim oleh Horta tahun 1994 kepada jendral
     Soeharto yang seyogiyanya menjawabnya dan mengumumkan kepada
     orang Indonesia.

     Jadi Dawam Rahardjo mestinya menyalahkan jendral Soeharto yang
     telah merampas haknya - hak Dawam Rahardjo - sebagai orang
     Indonesia atas informasi mengenai masaalah yang menjadi
     urusannya, karena masaalah Timor Timur itu adalah juga urusan
     semua orang Indonesia.

     Sepanjang yang menyangkut Horta, Parlemen Eropa telah
     diberitahunya, berbagai pemerintah di luar Indoensia telah
     diberi tahunya.

     Orang-orang Timor-Timur telah diberi tahunya.

     Horta telah melakukan apa yang harus dilakukannya.

     Ingin saya tambahkan sekali lagi: bahwa sebelum surat itu
     dikirimkan langsung ke Soeharto, Horta juga telah berusaha
     mencari jalan yang diskret, yaitu menulis kepada Soeharto
     melalui kanal yang tidak kelihatan. Artinya Horta memberikan
     kesempatan kepada Soeharto untuk menyelamatkan mukanya.

     Saya ulangi kesaksian saya: bulan Agustus tahun 1993, Horta,
     Carmel Budiardjo, Poncke Princen dan saya bertukar pikiran di
     Jenewa untuk mencari jalan buat menghubungi jendral Soeharto.
     Poncke Princen berjanji untuk menulis kepada Soeharto, dan
     sepulangnya ke Indonesia aktivis HAM Indonesia itu telah menulis
     surat yang dititipkan kepada seorang yang dikenalnya dan
     mempunyai akses langsung ke Cendana.

     Tapi Soeharto tidak membalas surat Poncke Princen itu.

     Agar jelas, Horta telah melakukan apa saja yang perlu
     dilakukannya untuk mencari pemecahan masaalah Timor-Timur
     secara damai.

     Yang menolak uluran tangan itu adalah Soeharto.

     Yang bersalah adalah Soeharto.

     Orang inilah yang kudu disalahkan , orang inilah yang kudu
     dituding.

>
> Tetapi surat itu, menurut hemat saya, surat yang amat bagus
> ditulis. Bukan saja bahasa Inggrisnya yang sempurna, tetapi juga
> pemikirannya. Timbul pertanyaan, mungkinkah surat semacam itu
> ditulisnya sendiri? Hal itu mengingat pengakuan mantan isterinya,
> Wendy Lea Holland, bahwa "kemampuan bahasa Inggris saya
> dimanfaatkan Horta untuk membuat surat permohonan dana atau senjata
> kepada negara-negara komunis, seperti Kuba, Uni Soviet dan Angola".
> Sekarang ini, mungkin saja Horta memanfaatkan orang lain untuk
> menulis surat yang sangat tinggi nilai diplomasinya itu.

     Aneh, kok ini yang dimasaalahkan.

     Tentang bahasa Inggeris Horta:

     Hinakah, haramkah untuk menulis surat dalam bahasa Inggeris
     yang bagus?

     Haramkah, hinakah meminta bantuan orang lain untuk
     menyempurnakan bahasa Inggeris yang ditulis oleh orang yang
     tidak menguasai bahasa itu dengan sempurna?

     Siapa diantara kita yang tidak pernah bertanya, siapa diantara
     kita yang tidak memita bantuan orang lain untuk menyempurnakan
     bahasa Inggerisnya?

     Semua ini halal belaka, semua ini kasher belaka.

     Dan terpuji, karena dengan demikian segala kemungkinan salah
     paham bisa dihindarkan.

     Dan massalah isi surat yang menurut anggota Dewan Pakar Ikatan
     Cendekiawan Muslim se-Indonesia pakar itu sendiri 'amat bagus
     pemikirannya' dan 'sangat tinggi nilai diplomasinya' itu?

     Horta tidak pernah menyembunyikan bahwa dalam menyusun usul
     perdamaian itu dia di ilhami oleh rencana perdamaian di
     Palestina.

     Haramkah, hinakah menyauk ilham dari proses perdamaian yang
     sedang berlangsung dan dianggapnya baik?

     Semua ini halal belaka, semua ini kasher belaka .

     Yang penting adalah: apakah usul itu didukung oleh CNRM yang
     diatas namakan oleh Horta atau tidak?

     Dan dukungan itu diberikan.

     Inilah yang penting.

     Inilah yang mesti diperhatikan.

     Bukan bahasanya, bukan sumber pengilhamnya.

     Tapi taroklah, sekedar untuk meneruskan diskusi: yang menulis
     surat itu adalah pemerintah Portugal.

     Lalu apa salahnya?

     Ini hanya membuktikan bahwa pemerintah Portugal, seperti yang
     dikatakan oleh menteri luar negeri Boraso kepada Poncke Princen
     dan saya tahun 1993 ingin nian bersahabat dengan Indonesia.

(....)

> Dalam kaitan ini timbul pertanyaan, mungkinkah Komite Nobel
> mendapat informasi dari pemberitaan pers? Agaknya tidak, karena
> Horta tidak dikenal dalam pers di luar negeri.

     Darimana pula orang ini dapat mengambil kesimpulan ini?

     Saya dengan teratur mendengarkan radio BBC World Service, dan
     entah sudah berapa kali saya mendengar Horta di interview
     diacara News Hour atau acara yang serupa.

     Dan kalau dia berkunjung kenegeri Belanda koran Belanda juga
     sering menginterviewnya.

> Informasi mengenai "penemuan" Horta, hanya mungkin jika dipasok
> dari NGO-NGO, terutama yang berhaluan kiri. Karena itu terdapat
> kemungkinan, bahwa Horta hanya dimanfaatkan oleh NGO-NGO saja dalam
> memperjuangkan HAM, dalam forum internasional maupun di Indonesia,
> yang citranya memang tidak begitu bagus di luar negeri.

     Kalaupun ini benar, lalu dimana letak masaalahnya?

     Apakah kiri itu sinonim dengan salah?

> Saya sendiri tidak percaya bahwa Ramos Horta begitu hebat
> kemampuannya dalam diplomasi.

     Adalah hak orang ini untuk mempunyai pendapat tentang kemampuan
     diplomasi Horta, tapi untuk dianggap serius pendapat itu kudu
     ada argumennya!

     Lagi pula, yang penting itu kan bukan masaalah apakah Horta itu
     diplomat atau bukan, tapi esensi omongan Horta itu. Dan Horta
     menyatakan, dalam surat itu, hasratnya untuk menyelesaikan
     masaalah Timor-Timur secara damai.

     Inilah yang penting.

     Inilah yang seharus didengarkan.

     Sekali lagi: Al-Qur'an menyuruh umatnya untuk mengindahkan usul
     perdamian dari musuhnya.

     Dawam Rahardjo memilih untuk tidak menurutkan perintah Allah,
     dia memilih untuk menurutkan perintah tukang bunuh dan tukang
     tindas.

     Dawam Rahardjo tidak ingin mencari pemecahan masaalah Timor
     Timur dengan cara damai.

     Dihadapan usul perdamaian, dia mencari-cari cacat Jose Ramos
     Horta.

     Dan dia tunggang tungik tiap hari dan mengucapkan
     assalamu'alaikum kekiri dan kekanan.

     Kata assalamu'alaikaum yagnkeluar dari mulut Dawan rahaardjo
     itu hanyalah omongan hipokrit belaka.

> Saya juga tidak mau percaya bahwa keputusan Hadiah Nobel untuk
> Horta, adalah karena kelemahan diplomasi Indonesia di luar negeri.
> Peranan NGO dalam soal HAM ini juga dimanfaatkan oleh pemerintah
> negara-negara industri maju. Sebab pemerintah harus bersikap
> hati-hati dalam bersikap dan memberikan komentar. Hanya NGO yang
> berani bersikap blak-blakan. Karena itu pemerintah di luar negeri
> cenderung memanfaatkan NGO dalam menjalankan diplomasinya. Ramos
> Horta hanyalah boneka yang dimanfaatkan saja.

     Ya, ada saatnya saya ingin belajar sembahyang lagi, ada saatnya
     saya ingin belajar berdo'a kembali untuk meminta agar pemikir
     Islam Indonesia seperti Dawam Rahardjo ini diberi kesempatan
     kembali untuk mempergunakan sel-sel otaknya.

     Dan juga agar harga dirinya dikembalikan.

     Tapi bukan itu yang paling penting: saya ingin belajar berdoa
     kembali untuk menyampaikan harapkan agar orang ini memikul
     tanggung jawabnya sebagai orang Islam yang tunggak tunggik tiap
     hari dengan ucapan assalamualaikum.

     Sekali lagi, Al-Qur'an (An-Nissa IV: 94) berbunyi:

     ..... do not say to those that offer peace: "You are not
     believers".

 
Jusfiq Hadjar gelar Sutan Ma(ra)djo Lelo
GERAKAN DEMI HAK-HAK AZASI MANUSIA DAN DEMOKRASI
Leiden (Negeri Belanda)
Jusfiq Hadjar gelar Sutan Ma(ra)djo Lelo
GERAKAN DEMI HAK-HAK AZASI MANUSIA DAN DEMOKRASI
Leiden (Negeri Belanda)