IN: SBYP - Dwi Fungsi ABRI Tak Ide

From: indonesia-p@igc.apc.org
Date: Tue Nov 05 1996 - 17:09:00 EST


Subject: IN: SBYP - Dwi Fungsi ABRI Tak Identik dengan Kekaryaan

INDONESIA-P

X-within-URL: http://www.surabayapost.co.id/96/11/05/15ABRI.HTML

   NASIONAL
   Selasa, 5 November 1996
   Surabaya Post
   
   Rudini: Dwi Fungsi ABRI Tak Identik dengan Kekaryaan
       
       
       Bandung - Surabaya Post
         _____________________________________________________________
                                        
       
       [INLINE] Dwi Fungsi ABRI secara konseptual sangat ideal, namun
       implementasinya tidaklah identik dengan tugas kekaryaan. Karena
       itu, generasi muda ABRI yang kini memegang tampuk pimpinan harus
       mengembalikan pelaksanaan Dwi Fungsi ABRI ini kepada semangat awal
       penyusunannya dan orientasinya tidak pada kekaryaan personel ABRI
       semata.
       [INLINE] Demikian inti sari yang ditegaskan mantan Mendagri dan
       mantan KSAD Jenderal TNI (purn.) Rudini dan mantan Kassospol ABRI
       Letjen TNI (purn.) Harsudiono Hartas ketika ditanya wartawan, di
       sela-sela acara sarasehan aktualisasi nilai-nilai kejuangan dan
       Dwi Fungsi ABRI dalam memperjelas fungsi sosial politik ABRI di
       Markas Komando Sekolah Staf dan Komando ABRI (Sesko ABRI) Bandung,
       Senin (4/11). Acara sarasehan ini dibuka oleh Komandan Sesko ABRI
       Mayjen TNI Yunus Yosfiah dan dihadiri para pakar ABRI maupun
       pengamat militer dan sosial dari kalangan sipil.
       [INLINE] Menurut Rudini, semangat awal penyusunan konsep Dwi
       Fungsi ABRI didasarkan pada nilai kejuangan yang diemban setiap
       prajurit ABRI. "Sedangkan konsep kekaryaan personel ABRI pada
       awalnya adalah karena kebutuhan dan kondisi masyarakat saat itu.
       Misalnya pada periode 1965, di mana orang sipil tidak ada satu pun
       yang berani tampil sebagai bupati. Maka ditaruhlah personel ABRI
       di jabatan itu," tukasnya pula.
       [INLINE] Kesalahan implementasi ini misalnya dalam
       menginterpretasikan Dwi Fungsi ABRI identik dengan tugas
       kekaryaan. "Itu salah, nggak boleh, apalagi kalau kemudian main
       jatah-jatahan, jabatan bupati, walikota, gubernur di sini jatahnya
       ABRI. Zaman saya Pangdam dulu, di Sulawesi Tengah ada 4 kabupaten,
       dijatah 2 sipil, dan 2 ABRI. La yang menentukan itu rakyat.
       Pandangan itu harus diubah," papar Rudini.
       [INLINE] Jadi secara ringkas, kesalahan interpretasi ini adalah
       menempatkan tugas kekaryaan personel ABRI sebagai bagian tugas
       pembinaan karier. "Secara konseptual Dwi Fungsi ABRI itu tidak ada
       masalah, dan saya kira tetap relevan. Selama ABRI tetap
       melaksanakan tugas berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 yang
       tercakup dalam Sapta Marga, di situlah Dwi Fungsi ABRI juga
       melekat," tutur dia kemudian.
       [INLINE] Bahwa masih banyaknya peran militer yang duduk di
       jabatan-jabatan sipil dan pemerintahan, menurut Rudini menunjukkan
       satu kesalahan dalam pengkaderan di masyarakat. "Mestinya harus
       diperbanyak ilmu-ilmu tentang kepemimpinan ini kepada calon-calon
       pemimpin dari sipil," katanya.
       [INLINE] Di sisi lain pada organisasi ABRI, haruslah diadakan satu
       pembaruan terutama terhadap personel ABRI yang selesai meniti
       karier dan memasuki masa pensiun. "Kalau pensiun ya sudah,
       selesai. Jangan sampai ditumpuk-tumpuk, itu juga akan mengganggu
       kemajuan," katanya.
       [INLINE] Di negara lain hal semacam itu juga biasa terjadi.
       "Karena itu biasanya dijadikan semacam staf ahli. Kalau dipensiun
       belum waktunya, diberi jabatan mengganggu kemajuan," ujar Rudini.
       [INLINE] ABRI Seharusnya di MPR
       [INLINE] Secara makro, konsep dwifungsi ini menurut Rudini, adalah
       untuk turut membantu kelancaran dan kelangsungan hidup bernegara.
       Satu hal lagi yang disorotnya adalah penempatan personel ABRI di
       legislatif. Sebagai unsur golongan, semestinya personel ABRI
       tidaklah didudukkan pada kursi DPR namun pada kursi MPR. "Jadi
       mereka duduk sebagai utusan golongan profesi. Misalnya ulama ada
       wakil di MPR, ABRI kan juga satu profesi," papar dia lagi.
       [INLINE] UUD 1945 dan perundangan yang lain memang menjamin hak
       satu golongan dan profesi untuk duduk dalam MPR. "Kalau untuk
       duduk di DPR itu kan bergantung kepada rakyat yang memberikan
       haknya. ABRI duduk di MPR itu sebagai salah satu wujud konsep
       dwifungsinya," kata Rudini yang wanti-wanti memperingatkan agar
       tidak salah tulis kata DPR dan MPR.
       [INLINE] Sementara itu, Harsudiono Hartas, mantan Kassospol ABRI,
       dengan tegas menyatakan kesetujuannya dengan statemen Rudini
       ketika dikonfirmasikan oleh wartawan kemarin. "Saya sangat setuju
       sekali, justru konsep dwifungsi seperti itu yang benar. Kita
       bekerja tidak untuk golongan, melainkan untuk kepentingan bersama.
       Jadi tidak ada jatah-jatahan itu. Kita tidak boleh
       mendikotomisasikan ABRI dan sipil," kata Hartas lagi.
       [INLINE] Harsudiono Hartas mencoba menganalisis permasalahan
       aktual ABRI dengan pelaksanaan nilai-nilai dasar yang dimiliki
       seorang prajurit ABRI.
       [INLINE] Harsudiono Hartas menilai dengan adanya penyimpangan dari
       nilai-nilai dasar Dwi Fungsi ABRI seperti saat dirumuskannya,
       justru akan membuat instabilitas dari rongrongan terhadap
       nilai-nilai kejuangan ABRI. "Seharusnya nilai dasar dipegang,
       bahwa dia ditugaskan untuk kepentingan rakyat, mampu dan bertindak
       pada profesi itu dan diterima rakyat. Itu nilai-nilai dasarnya,"
       kata Harsudiono yang kini duduk sebagai Wakil Ketua DPA.
       [INLINE] Kadar penyimpangan nilai-nilai ini menurutnya belum
       terlalu parah. Meski demikian, hal-hal yang menyimpang ini tetap
       perlu diluruskan. "Inilah perlunya sarasehan semacam ini, untuk
       mempertemukan visi pendahulu-pendahulu dengan generasi muda yang
       akan melaksanakannya kelak," jelas Hartas. (ery)
         _____________________________________________________________