IN: RPK - Rizal Ramli: Bunga bisa T

From: indonesia-p@igc.apc.org
Date: Tue Nov 05 1996 - 19:02:00 EST


Subject: IN: RPK - Rizal Ramli: Bunga bisa Turun, Cuma Satu Persen

INDONESIA-P

http://www.republika.co.id/9611/06/06BUNGA.01X.html
Republika Online
Rabu, 6 Nopember 1996
                                      
  Didukung Tiga Faktor Sekaligus, Rizal Ramli: Bunga bisa Turun, Cuma Satu
                                   Persen
                                      
                                      
     JAKARTA -- Pengamat ekonomi Rizal Ramli melihat tingkat suku bunga
    bank memang sudah waktunya diturunkan walau tak harus sangat rendah.
   "Paling tidak, tingkat bunga dapat turun 100 basis point (satu persen
     --red)," katanya ketika mempresentasikan Economic Outlook 1997 di
                    Hotel Gran Melia, Jakarta, kemarin.
                                      
   Rizal yang juga direktur lembaga pengkajian Econit Advisory Group itu
    menjelaskan penurunan tingkat bunga dapat dilakukan karena didukung
                           tiga faktor sekaligus.
                                      
        Pertama, inflasi yang relatif lebih rendah tahun ini -- yang
     diramalkan hanya sekitar tujuh persen -- akibat deflasi tiga kali
     hingga September. Faktor kedua, kecenderungan makin berlebihannya
   likuiditas dalam sistem perbankan Indonesia, baik karena keberhasilan
     bank meredam laju ekspansi maupun lantaran iklim usaha yang mulai
       menurun (slow down). Dan faktor ketiga adalah merosotnya laju
       pertumbuhan impor tahun ini yang diproyeksikan cuma 12 persen.
                                      
      "Dengan dukungan ketiga faktor tersebut, sudah saatnya otoritas
   moneter melakukan beberapa langkah akomodasi untuk memberi ruang bagi
   penurunan bunga," kata Rizal. Langkah-langkah itu, menurutnya, antara
     lain melonggarkan kebijakan perbankan yang relatif ketat, terutama
     dalam bidang perkreditan, atau mengurangi volume lelang Sertifikat
                           Bank Indonesia (SBI).
                                      
    Meski begitu, Rizal menegaskan penurunan bunga diperkirakan tak akan
    terlalu besar. Paling banter hanya sekitar 100 basis point atau satu
                                  persen.
                                      
    Angka itu pulalah yang disodorkan Laksamana Sukardi, mantan direktur
   pengelola Bank Lippo yang kini dikenal sebagai chief executive officer
     ReFORM. Ditemui dalam acara yang sama ia mengatakan dalam kondisi
   perbankan nasional yang belum efisien seperti sekarang sulit memangkas
     bunga terlalu besar. "Itu sama saja dengan menyuruh mereka rugi,"
                                  katanya.
                                      
   Seruan agar suku bunga diturunkan, untuk kesekian kalinya, datang dari
    Menteri Negara Riset dan Teknologi BJ Habibie pekan lalu. Berbicara
     dalam seminar tentang kebijakan ekonomi makro, Habibie mengusulkan
   agar suku bunga diturunkan secara zig-zag. Maksudnya, pada suatu saat
       suku bunga diturunkan dan kemudian dinaikkan lagi jika keadaan
   menghendaki, tapi seluruhnya dengan kecenderungan yang terus menurun.
                                      
    Menurut Rizal, teknik atau skenario penurunan suku bunga serupa itu
     perlu diuji kebenarannya secara empirik. Pengujian makin penting,
     katanya, jika usulan Habibie diarahkan untuk mencapai posisi suku
           bunga sekitar dua kali tingkat yang berlaku di Jepang.
                                      
    Rizal menjelaskan kalau posisi itu yang diinginkan, berarti tingkat
   bunga di Indonesia dipatok antara 3,5-4 persen. Ini disebutnya sebagai
   tingkat bunga yang sangat rendah untuk ukuran Indonesia, bahkan lebih
    rendah dibanding bunga Singapore Inter-Bank Offered Rate (SIBOR) dan
      bunga pinjaman luar negeri pemerintah yang maksimal sekitar 6,25
    persen. Tingkat bunga rata-rata untuk nasabah besar (prime customer)
                        di Jepang adalah 1,6 persen.
                                      
     Rizal mengatakan "teori" Habibie perlu diuji dan dilakukan secara
        hati-hati karena kalau pelaksanaannya tak terkontrol, dapat
        menimbulkan gejolak di sektor keuangan dan finansial secara
      keseluruhan. Bahkan bukan tak mungkin dapat memicu instabilitas
                             ekonomi nasional.
                                      
     Bagi Rizal, situasi serupa itu harus diwaspadai mengingat saat ini
    stabilitas makro ekonomi Indonesia masih sangat bertumpu pada modal
      jangka pendek, baik melalui pasar uang maupun portofolio (pasar
      modal). Ia menyebutkan dana-dana itu masuk ke Indonesia lantaran
    perbedaan tingkat bunga deposito dan bunga SIBOR yang cukup tinggi.
                                      
    Rizal melihat jika suku bunga rendah terwujud, investor individu dan
   lembaga dari seluruh dunia akan berbondong-bondong masuk ke Indonesia.
     Dengan kata lain, Indonesia menyubsidi peminjam dari luar negeri.
     Sedangkan pemerintah akan mengalihkan pinjamannya ke dalam negeri
     karena bunga yang lebih murah dari bunga pinjaman di luar negeri.
                                      
      "Untuk mendukung kebijaksanaan bunga super-rendah tadi otoritas
     moneter harus mencetak uang dengan cara deficit financing," ungkap
      Rizal. Repotnya, katanya pula, pengalaman Indonesia pada 1960-an
     menunjukkan bahwa deficit financing justru memicu inflasi tinggi.
                                      
     Menurutnya, kemungkinan tersebut bisa diredam jika volume tabungan
    nasional cukup besar. Karenanya, kata Rizal, kalau skenario Habibie
     hendak dilaksanakan, harus dilakukan mobilisasi tabungan domestik
     sebanyak-banyaknya. Itu pun masih harus ditambah dengan memperkuat
                            efisiensi investasi.
                                      
    Rizal menambahkan tingkat bunga juga ditentukan oleh beberapa faktor
   lain. Misalnya, tingkat bunga internasional, laju inflasi, ekspektasi
    terhadap depresiasi rupiah, serta tingkat kompetisi serta efisiensi
                   industri perbankan nasional. &#127 end