IN: PMB - Habibie: Jangan Tanya Lag

From: indonesia-p@igc.apc.org
Date: Sat Nov 09 1996 - 14:22:00 EST


Subject: IN: PMB - Habibie: Jangan Tanya Lagi Masalah Penurunan Suku Bunga

INDONESIA-P

http://www.suarapembaruan.com/News/1996/11/091196/Headline/hl1/hl1.html
SUARA PEMBARUAN ONLINE
9 November 1996
     _________________________________________________________________
                                      
   
                         Masalah Penurunan Suku Bunga
                                       
BJ Habibie: Jangan Tanya Lagi

Nasution: Sehatkan Bank Dulu

   Jakarta, 9 November
   
   Menristek/Ketua BPPT BJ Habibie minta agar kepadanya tidak lagi
   ditanyakan tentang masalah suku bunga, karena pernyataannya didasarkan
   keyakinan dan pengalaman dalam melaksanakan pembangunan. Begawan
   ekonomi Sumitro Djojohadikusumo kembali mengatakan, perbedaan pendapat
   adalah sesuatu yang normal. Sementara Prof Dr Anwar Nasution
   menegaskan, bank-bank harus disehatkan dulu, baru suku bunga bisa
   turun.
   
   ''Jangan tanya Habibie lagi, karena saya telah banyak menjelaskan soal
   suku bunga dalam pembangunan dan dunia industri,'' ujar Menristek
   Prof. Dr B.J. Habibie, menjawab pertanyaan wartawan usai rapat Pansus
   RUU Ketenaganukliran di Jakarta, Jumat (8/11).
   
   Dalam kesempatan terpisah di Jakarta hari Jumat, pakar ekonomi senior
   Prof Sumitro Djojohadikusumo kembali menegaskan, komentarnya tentang
   usulan penurunan suku bunga, hanya sebagai pendapat terhadap usulan
   Habibie yang dinilai sebagai orang genius.
   
   Prof Dr Anwar Nasution mengatakan, suku bunga perbankan di Indonesia
   dalam waktu dekat ini masih sulit turun. Hal itu tidak hanya karena
   faktor makro-ekonomi, tetapi kondisi perbankan di Indonesia tidak
   mendukung di mana perbankan masih dalam tahap konsolidasi sehingga
   bunga sulit turun.
   
   Transparan
   
   Habibie juga mengatakan, pendapatnya mengenai usulan agar suku bunga
   diturunkan sudah dilakukan secara transparan. ''Saya sudah menjelaskan
   di muka pakar-pakar industri dan ekonomi soal itu. Jadi pendapat dari
   kami sudah transparan. Dan paling baik memang menanyakan komentar
   pakar-pakar yang lain,'' katanya.
   
   ''Beda pendapat itu normal. Harus berbeda pendapat, tapi jangan
   bermusuhan. Angkatan muda harus belajar bersikap seperti itu,'' kata
   Prof Sumitro ketika istirahat konferensi internasional yang membahas
   ekonomi makro Negara-negara anggota ASEAN.
   
   Sehari sebelumnya Sumitro mengatakan, jika tingkat bunga saat ini
   diturunkan, dikhawatirkan akan membuat perekonomian Indonesia
   bangkrut, karena tingkat inflasi masih cukup tinggi yang dipicu tidak
   efisiennya sektor dunia usaha (Pembaruan, Jumat 8/11).
   
   Tingkat bunga itu masih bisa diturunkan asal hambatan-hambatan dalam
   sektor dunia usaha itu dihilangkan sehingga terjadi efisiensi dalam
   sektor tersebut, katanya.
   
   Pekan lalu, Habibie kembali mengusulkan kepada Bank Indonesia (BI)
   untuk mengupayakan penurunan suku bunga karena dikhawatirkan akan
   menghambat perekonomian nasional.
   
   Ia mengusulkan cara zig-zag dalam menurunkan bunga itu serta
   memberikan bunga yang lebih rendah kepada dunia usaha yang
   berorientasi ekspor.
   
   Kalangan dunia usaha dalam berbagai kesempatan juga mengeluh atas
   tingginya suku bunga perbankan yang berkisar antara 17 hingga 21
   persen yang dinilai kurang mendukung kegiatan usaha mereka.
   
   Gubernur BI
   
   Sementara Gubernur Bank Indonesia (BI) J Soedradjad Djiwandono,
   mengatakan, suku bunga sekarang ini memang tinggi, namun penurunannya
   bergantung pada tingginya inflasi serta besarnya kredit.
   
   Gubernur BI juga mengatakan, BI memang terus memantau perkembangan
   suku bunga yang tinggi. Namun ada faktor-faktor yang berada di luar
   jangkauan otoritas moneter seperti masalah apresiasi mata uang asing.
   
   Dr Rizal Ramli, Ir Laksamana Sukardi dan Dr Arif Arryman juga
   mengemukakan, kalau suku bunga di Indonesia bisa diturunkan hingga
   cukup kecil, maka negara-negara yang membutuhkan dana akan ramai-ramai
   meminjam uang dari Indonesia. Namun hal itu tidak mungkin, karena kita
   sendiri tidak mempunyai uang banyak. (Pembaruan, Rabu 6/11).
   
   Sedangkan Direktur PDBI Christianto Wibisono, sependapat dengan Faisal
   Basri menegaskan, monopoli-oligopoli berperan serta dalam menaikkan
   suku bunga, karena membuat perekonomian menjadi tidak efisien.
   Proyek-protek Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS) yang diketuai
   Habibie sendiri, membuat ekonomi tidak efisien. (Pembaruan, Senin
   4/11).
   
   Menurut Anwar Nasution, bank-bank kita harus disehatkan dulu.
   ''Bagaimana bunga akan turun jika bank-bank masih menghadapi persoalan
   kredit macet yang hingga kini belum selesai juga. Sehatkan dulu
   banknya, baru suku bunga bisa turun,'' kata Anwar Nasution di
   sela-sela konferensi internasional yang diselenggarakan IMF dan BI di
   Jakarta Jumat.
   
   Menurut Anwar Nasution, tidaklah mungkin mengharapkan suku bunga di
   Indonesia dalam posisi yang rendah, jika kondisi makro ekonomi seperti
   inflasi masih tinggi. Selain itu, masalah yang dihadapi perbankan saat
   ini juga begitu banyak.
   
   Menutup Biaya Lain
   
   Dijelaskan, suku bunga pinjaman saat ini sangat tinggi, sekitar 20
   persen, karena harus menutup berbagai biayai lain yang sifatnya tidak
   produktif, seperti biaya penanganan kredit macet.
   
   Persoalan kredit macet bukan hanya karena masalah teknis, tetapi lebih
   banyak karena pemberian kredit tidak sesuai dengan prosedur, tanpa
   didasari kelayakan proyek yang memadai. Hal itu menyebabkan persoalan
   kredit macet menjadi berlarut-larut dan biaya penyelesaiannya juga
   besar.
   
   Menurut Anwar, kalau toh suku bunga dalam negeri saat ini diturunkan
   hal itu tidak menyelesaikan masalah produksi dan investasi yang banyak
   diperbincangkan saat ini.
   
   ''Orang bilang suku bunga tinggi menyebabkan investasi tak jalan.
   Pendapat itu menurut saya tak selalu benar, sebab pada waktu kredit
   murah banyak diobral, hasilnya toh seperti sekarang ini,'' ungkapnya.
   
   ''Saya sependapat dengan Pak Sumitro, kalau suku bunga diturunkan dan
   kredit banyak diobral, negara bisa bangkrut,'' tambah Anwar Nasution.
   
   Anwar mengakui, jika dilihat dari angka inflasi di Indonesia yang
   dalam 3 bulan terakhir ini mengalami deflasi, kecenderungan penurunan
   suku bunga di luar negeri serta turunnya nilai yen terhadap dolar,
   sebenarnya merupakan faktor penting untuk menurunkan suku bunga.
   
   ''Tetapi, ya kembali lagi, masih banyak yang harus dibenahi di
   perbankan, sehingga bunga sullit turun,'' katanya.
   
   Bagaimana jika BI melakukan intervensi, tanya wartawan. ''Kalau toh BI
   kendurkan likuiditas, bunga tetap sulit turun kalau banknya lagi
   sakit,'' jawab Anwar Nasution.
   
   Transaksi Berjalan
   
   Pada kesempatan itu Anwar Nasution mengingatkan agar pemerintah
   memperhatikan peringatan dari IMF dalam masalah defisit transaksi
   berjalan. Diungkapkan, kedatangan perwakilan IMF, Stanley Fisher, yang
   sampai dua kali datang ke Indonesia, menandakan makro-ekonomi
   Indonesia masih perlu banyak perbaikan.
   
   Dikatakan, negara-negara lain di ASEAN, seperti Malaysia dan Thailand,
   juga mengalami masalah dengan membesarnya defisit transaksi berjalan,
   namun kondisi kedua negara tersebut berbeda dari Indonesia. ''Di sana
   tak banyak bank bermasalah, dan tabungan domestiknya cukup besar,''
   jelasnya.
   
   Kondisi makro-ekonomi suatu negara saat ini begitu sangat penting
   karena tidak lagi mudah mencari pinjaman lunak dari luar negeri.
   ''Dulu kalau butuh dana tinggal kirim Pak Widjojo (Prof Dr Widjojo
   Nitisastro) ke luar negeri. Sekarang hal itu sulit dilakukan. Untuk
   mendapatkan dana, pemerintah harus jualan obligasi ke luar negeri.
   Obligasi bisa laku kalau ditunjang makro-ekonomi yang baik,''
   katanya.(L-6/Ant/M-10)
   
     _________________________________________________________________
                                      
   The CyberNews was brought to You by the OnLine Staff
     _________________________________________________________________
                                      
   Last modified: 11/9/96