IN: BP - 51 Tahun Si Baret Biru

From: indonesia-p@igc.apc.org
Date: Fri Nov 15 1996 - 02:44:00 EST


INDONESIA-P

http://bjm.mega.net.id/bpost/harini/opini/artikel1.htm
Banjarmasin Pos
14 November 1996

   51 Tahun Si Baret Biru
   oleh Maman S Tawie
   
   
   
   Satuan Brigade Mobil (Sat Brimob) atau Si Baret Biru adalah bagian
   dari Polri. Brimob merupakan satuan prajurit-prajurit pejuang yang
   selalu berperan aktif mengemban tugas-tugas negara baik di masa
   revolusi kemerdekaan maupun pada era Orde Baru.
   
   Masa revolusi ketika masih bernama Pasukan Polisi Istimewa, Brimob
   turut terlibat langsung dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya
   yang terkenal heroik itu. Dipimpin Inspektur Polisi I Moehammad Jasin
   (sekarang letjen pol (purn), Pasukan Polisi Istimewa memelopori
   pecahnya pertempuran 10 November melawan tentara sekutu. Kesaksian ini
   diakui Jenderal TNI (Purn) Sidarto bahwa tanpa peranan Pasukan Polisi
   Istimewa tidak akan ada 10 November 1945.
   
   Kesaksian ini seperti dimuat dalam tulisan H Moehammad Jasin, berjudul
   Dharma Bhakti Seorang Pejuang, dalam pidato pengukuhan gelar
   kehormatan Doktor Honoris Causa Universitas Sawergading, 27 November
   1986.
   
   Pada 14 November 1946 sebutan Pasukan Polisi Istimewa berganti menjadi
   Mobil Brigade (mobrig), di mana tanggal dan bulan tersebut ditetapkan
   sebagai hari jadinya. Kemudian sejak 1 Agustus 1947 mobrig
   dimiliterisasikan.
   Tugas pengabdian
   
   Mobil Brigade di bawah pimpinan Moehammad Jasin yang pada revolusi
   kemerdekaan bermarkas besar di Jawa Timur, selalu hadir dalam tiap
   tugas pengabdian terutama di bidang pertahanan dan keamanan negara
   (hankamneg).
   
   Lepas dari kancah revolusi, mobrig harus berhadapan dengan para
   pemberontak bangsa sendiri. Sebagai satuan penggempur dari polri,
   mobrig yang ketika itu dipimpin Moehammad Jasin dan Inspektur Polisi
   II Imam Bachri (mantan Kadapol XIII Kalra di Banjarmasin awal 1970-an
   dengan pangkat brigjen pol) pada tahun 1948 bersama pasukan TNI
   berhasil gemilang menumpas pemberontakan PKI-Musso di Madiun dan di
   Blitar Selatan dalam Operasi Trisula.
   
   Begitu pula tatkala gembong separatis DI/TII SM Kartosiwiryo
   memproklamirkan Negara Islam Indonesia pada 7 Agustus 1948,
   kompi-kompi tempur mobrig dikirim ke Jawa Tengah dan Jawa Barat. Tahun
   1953 di Sulawesi Selatan dan Aceh satuan mobrig juga menumpas habis
   DI/TII bentukan Khar Muzakar dan Daud Beureueh.
   
   Pemberontakan separatis DI/TII bertahan cukup lama. Baru setelah
   digelar Operasi RO, Operasi Bratayuda, Operasi Pamungkas dan Operasi
   Pertahanan Rakyat (Pagar Betis) pemberontakan tersebut berakhir dengan
   tertangkapnya Kartosuwiryo sekitar tahun 1962 dan tertembak matinya
   Kahar Muzakar pada 3 Februari 1965.
   
   Dalam situasi politik yang tidak stabil pada tahun 1950-an yang
   berpengaruh besar terhadap organisasi militer dan kemudian melahirkan
   kekacauan-kekacauan nasional oleh beberapa kelompok separatis
   bersenjata, satuan-satuan mobrig yang selalu setia kepada pemerintah
   yang sah secara aktif turut melakukan penumpasan dan pengamanan di
   berbagai daerah di tanah air.
   
   Misalnya awal tahun 1950 di mana pasukan APRA yang dipimpin Kapten
   Raymond Westerling menyerbu kota Bandung, empat kompi mobrig dikirim
   untuk menumpasnya. April 1950 manakala Andi Azis beserta pengikutnya
   dinyatakan sebagai pemberontak di Sulawesi Selatan, mobrig dan pasukan
   TNI diturunkan untuk menyelesaikannya. Kemudian ketika Soumokil
   memproklamirkan berdirinya RMS pada 23 April 1950, kompi-kompi tempur
   mobrig kembali ditugaskan menumpasnya.
   
   Pengabdian mobrig melaksanakan tugas negara tidak pernah surut.
   Sekitar 1953, di Kalimantan Selatan satuan mobrig dikerahkan untuk
   memadamkan pemberontakan rakyat pimpinan Ibnu Hajar. Dan ketika
   Sumatera dikejutkan oleh hadirnya PRRI pada 15 Februari 1958 dengan
   Syafruddin Prawiranegara sebagai gembongnya, pemerintah pusat melalui
   pasukan-pasukan tempurnya --termasuk Mobrig-- menggelar Operasi Tegas,
   Operasi Saptamarga dan Operasi 17 Agustus. Dalam operasi-operasi
   militer itu batalyon mobrig bersama pasukan-pasukan TNI berhasil
   membasmi pemberontakan PRRI di Sumatera Utara, Sumatera Barat,
   Sumatera Timur, Riau dan Bengkulu.
   
   Dalam Operasi Mena pada 11 Maret 1958 beberapa kompi tempur mobrig
   melakukan serangan ke kubu-kubu pertahanan Persemesta di Sulawesi
   Tengah dan Maluku. Kemudian pada 14 November 1961 bersamaan dengan
   diterimanya Pataka Nugraha Sukanti Yana Utama, satuan mobrig berubah
   menjadi Korps Brigade Mobil (korps brimob).
   
   Ketika perebutan kembali Irian Barat dari tangan Belanda sekitar tahun
   1962, di bawah Komando Mandala dengan Panglima Brigjen TNI Soeharto
   (sekarang Presiden RI) digelar Operasi Trikora di mana beberapa
   batalyon brimob yang tergabung dalam Resimen Pelopor (menpor)
   membentuk Resimen Team Pertempuran (RTP) dan salah seorang pimpinan
   Komandonya Ajun Komisaris Polisi Anton Sujarwo (Jenderal Pilisi
   Alm/mantan kapolri 1982-1986).
   
   Dan ketika Operasi Dwikora yaitu konfrontasi dengan Malaysia pada
   Oktober 1964, brimob membentuk Satgas Tempur dalam Brigade V/Mandau
   pimpinan Ajun Komisaris Besar Polisi Daryono Wasito dan tergabung
   dalam Komando Tempur IV/Siaga. Kemudian saat peristiwa G 30 S/PKI
   1965, brimob juga berperan memadamkan pemberontakan itu. Demikian pula
   manakala ABRI menggelar Operasi Seroja di Timor Timur, kompi-kompi
   tempur brimob silih berganti memperkuat pasukan TNI dalam penumpasan
   Fretilin.
   Kemampuan profesionalisme
   
   Menyusuri jejak tugas pengabdian brimob polri dari periode ke periode,
   jelaslah kehadiran Si Baret Biru dalam jajaran ABRI merupakan
   kontribusi besar bagi pertahanan dan keamanan negara. Kesistensi
   brimob memang tidak dapat dilepas begitu saja dari perjalanan
   sejarahnya sebagai prajurit-prajurit pejuang, pengawal/pengaman
   Pancasila dan UUD 45.
   
   Dalam usia ke 51 pada 14 Nopember 1996 ini brimob sudah dewasa dan
   cukup mempunyai pengalaman di medan-medan operasi tempur. Karena itu
   kemampuan profesionalisme brimob dalam mengatasi segala bentuk
   kekacauan di dalam negeri sudah tidak diragukan lagi.
   
   Selain itu sebagai kekuatan hankamneg dan sospol serta sesuai
   perkembangan tuntutan zaman, struktur kemampuan profesionalisme brimob
   mengalami perubahan pula. Di bawah direktorat samapta polri kemampuan
   profesionalisme brimob sekarang mengacu kepada kemampuan res/intel,
   jihandak, wan/terror, PHH, SAR dan wan/gerilya. Dengan
   kemampuan-kemampuan ini brimob mengemban tugas pokok menanggulangi
   gangguan-gangguan kamtibmas berintensitas tinggi sesuai peranannya
   selaku aparat penegak hukum.
   
   Melihat kenyataan bahwa brimob polri tidak dapat dipisahkan dari unsur
   kekuatan ABRI, tentu diharapkan di masa mendatang satuan Baret Biru
   tetap eksis dalam melakukan tugas-tugas negara. Dan, sewajarnya pula
   bila kita meletakkan kepercayaan kepadanya sebagai kekuatan inti polri
   untuk mengatasi jenis-jenis gangguan kamtibmas berkualitas tinggi dan
   dimensional.
   
   Dirgahayu Brigade Mobil.(Maman S Tawie, peminat masalah sejarah
   tinggal di Banjarmasin)