IN: GATRA - Kaki Langit Masuk Sekol

From: merdeka@clark.net
Date: Mon Nov 18 1996 - 05:33:00 EST


From: INDONESIA-L <merdeka@clark.net>
Received: (from merdeka@localhost) by clark.net (8.7.1/8.7.1) id JAA11408 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Mon, 18 Nov 1996 09:33:11 -0500 (EST)
Subject: IN: GATRA - Kaki Langit Masuk Sekolah

Forwarded message:
From owner-indonesia-l@igc.org Mon Nov 18 08:46:41 1996
Resent-From: owner-indonesia-l@igc.org
Resent-Date: Mon, 18 Nov 1996 12:15:41 GMT
Date: Sun, 17 Nov 1996 16:52:45 -0500 (EST)
From: indonesia-l@igc.apc.org
Subject: IN: GATRA - Kaki Langit Masuk Sekolah
Sender: owner-indonesia-l@igc.apc.org
Resent-to: owner-indonesia-l@igc.org
To: apakabar@clark.net
Resent-message-id: <01IBZQR3UYGQ000B3B@alf.fek.su.se>
Message-id: <199611172152.QAA23166@explorer2.clark.net>
X-VMS-To: IN%"apakabar@clark.net"
MIME-version: 1.0
X-Mailer: ELM [version 2.4 PL24alpha3]
Content-type: text/plain; charset=ISO-8859-1
Content-transfer-encoding: 8bit
Precedence: bulk

INDONESIA-L

[Logo GATRA]
Nomor 52/II, 9 November 1996

MAJALAH HORISON

Kaki Langit Masuk Sekolah

Majalah sastra Horison membuka lembaran Kaki Langit bagi siswa dan santri
untuk memperluas apresiasi sastra dan pasar.

DI belantara bisnis media cetak, majalah sastra Horison adalah ibarat
tanaman langka yang lemah dan terancam punah. Pada usianya yang 30 tahun,
nasib Horison masih senen-kemis. Majalah bulanan ini terbitnya sering tidak
berketentuan. Kadang sekali terbit dalam tiga bulan. Tirasnya pun cuma 3.000
eksemplar, dan tak semuanya laku.

Agar tetap bisa bertahan, mulai November ini Horison muncul dengan siasat
baru. Maka muncullah sisipan Kaki Langit yang diperuntukkan bagi pelajar
sekolah menengah umum (SMU) dan para santri di pesantren. Kehadiran Kaki
Langit itu diresmikan dengan acara khusus di Taman Ismail Marzuki, Jakarta,
Kamis pekan ini. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman Djojonegoro,
Menteri Agama Tarmizi Taher, dan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat
Azwar Anas memberikan kata sambutan.

Dalam sisipan itu ditampilkan puisi atau prosa para pelajar dan santri.
Diperkenalkan pula karya para sastrawan kondang, disertai ulasan ringkas
yang dikemas dengan bahasa populer. Sebelum terbitan terbaru ini, Horison
sebenarnya sudah menyediakan lembaran khusus bagi para remaja, yakni rubrik
Apresiasi. Tapi cuma dua halaman. Ini tak cukup untuk menampilkan
kreativitas remaja. Kaki Langit yang 16 halaman adalah pengembangan
Apresiasi.

Dalam Horison terbaru yang diedarkan pekan ini, 11 pelajar SMU 8 Jakarta
mendapat kesempatan pertama menampilkan puisi-puisi mereka. Maka tersajilah
syair-syair yang terasa polos, simpel, dan "remaja". Simak saja sepenggal
sajak Ratih Fitriani berikut ini: Bosnia/Kami tahu engkau bersedih/Kami tahu
engkau tersiksa/Karena kekejaman tangan setan.

Sasaran yang ingin dicapai Kaki Langit tak sulit ditebak. Pertama, untuk
meningkatkan apresiasi sastra di kalangan siswa-siswa SMU dan santri. Selama
ini kurikulum sekolah memang sudah memberi porsi pada kesusastraan. Tapi
baru sebatas sejarah sastra. Mereka tak diajak menikmati karya-karya seni.
"Jangankan diberi kesempatan bernikmat-nikmat berenang dalam lautan sastra,
cuci muka pun tidak," tulis Taufiq Ismail dalam "Catatan Kebudayaan" di
majalah itu. Salah seorang Redaktur Senior Horison itu dipercaya mengelola
Kaki Langit.

Tujuan kedua, berkaitan dengan upaya memperluas pasar agar majalah itu dapat
bertahan hidup. Sebagaimana dituturkan Hamsad Rangkuti, Pemimpin Redaksi
Horison, majalah sastra ini selalu dirundung malang. Hidupnya bergantung
pada lembaga lain, seperti PT Gramedia yang hingga kini masih menyumbang Rp
1,5 juta tiap bulan. Tapi itu tak cukup untuk menutupi ongkos produksi yang
mencapai Rp 15 juta per edisi. Hasil penjualan dan pemasukan iklan mepet.
Maka acapkali Horison tak bisa terbit rutin sebulan sekali. Gaji pegawai pun
tak rutin. "Kami cuma dibayar bila Horison terbit. Kalau tak terbit, ya
tidak dibayar," kata Hamsad Rangkuti, yang cuma menerima Rp 600.000 per
edisi. Minim untuk ukuran seorang pemimpin redaksi.

Berbagai upaya sudah ditempuh agar Horison tak gulung tikar. Pertengahan
1993, misalnya, Yayasan Indonesia - penerbit majalah ini - menjalin kerja
sama dengan Grafiti Pers, penerbit Majalah Tempo. Kedua pihak sempat
meluncurkan nomor perdana Horison versi kerja sama. Namun, karena terjadi
silang pendapat yang tak dapat diselesaikan, kerja sama itu bubar.

Pengasuh Horison kembali bekerja sendirian dan kembali bergantung pada
sumbangan donatur. Supaya laku, mereka menampilkan Horison wajah baru. Tata
letak diubah menjadi lebih "pop", dan kualitas kertas diganti, dari kertas
koran menjadi HVS yang putih bersih. Supaya pemasukan memadai, pengelola
menawarkan ruang iklan bagi PT Global Sarana Media Nusantara memasang iklan.
Tawaran itu diterima. Global Sarana bahkan bersedia memasarkan 1.000
eksemplar Horison - sisanya yang 2.000 eksemplar didistribusikan lewat PT
Gramedia.

Toh nasib Horison tak berubah, tetap dibayang-bayangi "kemiskinan". Tapi,
untuk mengundang investor baru, pihak Yayasan Indonesia mengaku harus
berpikir seribu kali. "Trauma pada pengalaman masa lalu," begitu menurut
Hamsad Rangkuti.

Maka ditempuhlah cara yang dianggap realistis: bekerja sama dengan
pemerintah. Niat itu rupanya mendapat dukungan dari Direktur Jenderal
Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Edi Sedyawati.
Dari situlah muncul ide membuka Kaki Langit. Dalam sambutan tertulis yang
dimuat Horison terbaru, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman
Djojonegoro dan Menteri Agama Tarmizi Taher mendukung sepenuhnya kehadiran
Kaki Langit.

Dukungan lembaga pemerintah itu tentu disertai tindakan. Departemen Agama
akan menganjurkan pesantren-pesantren membeli Horison. Sedangkan Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, selain meminta SMU-SMU berlangganan, juga akan
membentuk klub Kaki Langit di SMU-SMU favorit di 27 provinsi. "April tahun
depan, program ini akan didukung dana dari Badan Perencanaan Pembangunan
Nasional," kata Hamsad. Ia juga mengungkapkan, Horison terbaru dicetak 5.000
eksemplar, bukan 3.000 seperti biasa. Yang 2.500 akan dibagikan secara
cuma-cuma ke berbagai SMU dan pesantren sebagai nomor perkenalan. Terbitan
berikutnya, mereka diharapkan merogoh kocek untuk membeli.

Priyono B. Sumbogo dan Mauluddin Anwar