IN: PEMBEBASAN - Thdp Keluarga Petr

From: apakabar@clark.net
Date: Thu Dec 12 1996 - 10:42:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.4/8.7.1) id OAA13495; Thu, 12 Dec 1996 14:36:19 -0500 (EST)
Subject: IN: PEMBEBASAN - Thdp Keluarga Petrus, Rejim Makin Kejam ...

PARTAI RAKYAT DEMOKRATIK (PRD)
PEOPLE'S DEMOCRATIC PARTY OF INDONESIA
Overseas Office
E-mail : prdint1@peg.apc.org
======================================

                PEMBEBASAN NO. II/NOVEMBER 1996

        TERHADAP KELUARGA PETRUS H. HARYANTO (SEKJEN PRD):
        REJIM MAKIN KEJAM, MASYARAKAT MAKIN RAMAH

Bagaimanakah perasaan orang tua yang anaknya menjadi tahanan politik anggota
PRD? Ibu Petrus H. Haryanto - Sekretaris Jenderal PRD, yang dengan rela
hati meninggalkan kuliahnya di Fakultas Sastra Universitas Diponegoro,
Semarang, demi gerakan demokrasi ini-, menuturkan pengalamannya kepada salah
seorang agen PEMBEBASAN yang menemui beliau di rumahnya. Yang paling
mengesankan dari obrolan dengan janda mantan kepala sekolah sebuah SMEA
swasta di Ambarawa ini adalah: walaupun aparat rejim bersikap semakin kejam
terhadap keluarganya, ternyata masyarakat justeru semakin ramah. Indikasi
propaganda rejim tidak diterima rakyat?

        Ibu Petrus H. Haryanto sedikit terbata saat bercerita tentang kehidupan
anak tertuanya dari 4 bersaudara ini. Saat mendengar penangkapan, Ny. Lidya
Srihartuti, nama lengkapnya, sempat shock. Berat badannya pun turun banyak.
"Ya, sekarang saya sudah biasa, sehat. Lha kalau mikir, syaraf saya di leher
ini tegang dan muter-muter, he...he..he.." tutur ibu setengah baya ini
sambil tersenyum.
        Sejak Petrus di rumah tahanan Kejaksaan Agung, baru sekali ia bertemu. Dan
pertemuan itu meninggalkan kenangan yang indah, saat Petrus minta dicium.
"Memang sejak ayahnya meningggal tahun 1992, sikapnya berubah total..."
Begitulah, janda dari bapak S. Riyanto, pensiunan kepala sekolah sebuah SMEA
swasta di Ambarawa ini menceritakan pengalamannya saat menjenguk putra
sulungnya yang tertangkap bersama Budiman Sujatmiko serta kawan-kawannya di
Bekasi, karena difitnah oleh para jenderal sebagai dalang kerusuhan 27 Juli.
        Kemudian ibu itu bercerita tentang masa kecil Petrus. "Yanto (demikian
keluarganya memanggil Petrus Hari Haryanto ini-Red) anak nakal, mbeling
(Jawa, keras kepala-Red). Ia nggak mau ngalah, selain itu juga kreatif.
Menurut saya itu nakalnya anak kecil, nakal yang baik. Sampai tetangga
bilang, Bu itu anaknya kok nakal. Ya gimana ya.." Tinggal di Ambarawa,
bersama 3 adiknya yang sekarang sudah dewasa, menurut Bu Lidya Yanto
berpendidikan wajar. Dari SD sampai SMA pendidikan agamanya cukup kuat.
Selain ayahnya, ibunya juga rajin memberi pendidikan agama, dan rajin ke
gereja. Tidak heran jika semenjak SMA sampai mahasiswa ia adalah aktivis
kerokhanian. Bahkan ia pernah menjadi ketua Pemuda gereja di Gabungan Gereja
seluruh Ambarawa. Sewaktu mahasiswa ia lah yang memotori rekannya di
Persekutuan Mahasiswa Kristen Protestan (PMKP) Fakultas Sastra Universitas
Diponegoro "Memang dia senang berorganisasi. Kesannnya apa ya...pokoknya
ingin jadi pemimpin" tutur ibunya. Lalu Bu Lidya bercerita tentang prestasi
Petrus di sekolah.
        " Kelihatannya dia ini nggak pinter. Tapi dibandingkan adik-adiknya paling
bagus dia. Bahkan pernah menjelang ujian akhir kelas 3 di SMA I Salatiga, ia
sempat gegar otak. Tapi tetap bisa menggarap soal, hasilnya cukup bagus.
Rata-rata STTB-nya 7. Sedangkan waktu kuliah, kalau punya sedikit uang,
pasti untuk memberi buku-buku pelajaran dan ilmu pengetahuan." Kepribadian
Yanto, menurut penuturannya berubah total sejak ayahnya meninggal. Dia tidak
nakal lagi.
        "Kalau dulu dimarahi mbanggel (Jawa, membantah-Red), sekarang diam saja,
tidak membantah". Yang paling mengesankan ibunya sikap Yanto ini adalah
pengertian dan perhatian. " Terhadap saya dan adik-adiknya, kalau saya atau
adik-adiknya ada yang ulang tahun pasti diberi ucapan selamat. Meskipun dia
sibuk, pasti pulang untuk memberi ucapan selamat" Tuturnya. Paska peristiwa
27 Juli, berbagai teror menimpa keluarga Petrus H. Haryanto di Ambarawa.
Sebelum dia tertangkap, rumahnya selalu diganggu intel. Adik-adiknya bila
keluar rumah dikuntit. Rumahnya bahkan didatangi intel yang bersikap kasar
menginterogasi kuluarganya serta merebut foto Petrus. Sampai saat ini "yang
harus dimaklumi" keluarganya adalah penyensoran surat-suratnya. Salah
seorang adik Petrus sempat kecewa, misalnya, surat yang ia kirim kepada
temannya ke luar kota tidak pernah sampai. Surat ibunya kepada seorang
pengacara juga tidak pernah sampai. Tetapi yang membuat ibu Petrus tenang
adalah sikap masyarakat yang justeru baik kepadanya. Baik di gereja maupun
di pasar, banyak orang yang dulu
tidak kenal kini selalu menyapa dia dengan ramah.
        Menanggapi akan disidangkannya Petrus H. Haryanto ibu Petrus berkomentar
dengan kecut. "Kok bisa anak saya dituduh subversif. Wong anak saya tidak
punya senjata kok dituduh akan menngulingkan pemerintah. Ya, hanya bisa kita
serahkan saja semuanya kepada Tuhan".(Phi-2)

===========================================================================
PEMBEBASAN
DITERBITKAN OLEH : KOMITE PIMPINAN PUSAT-PARTAI RAKYAT DEMOKRATIK (KPP-PRD)
ALAMAT : PRD Internasional, PO Box 458, Broadway, NSW, Australia
PEMIMPIN REDAKSI : Muhammad Ma'ruf
TIM REDAKSI : J. Eko Haryanto, Mujahid, Mirah Mahardika, Nurhuda, Ayu
Anggrahini
REDAKSI MENERIMA SUMBANGAN BAIK TULISAN MAUPUN FINANSIAL.
PARA PEMBACA DIHARAP MEMBANTU MEMPERBANYAK BULETIN INI.
PEMIMPIN REDAKSI BERTANGGUNGJAWAB PENUH ATAS SEMUA ISI TULISAN INI
==========================================================================
=eof=