IN: D&R - Prospek Demokrasi Pasca-1

From: apakabar@clark.net
Date: Sun Dec 15 1996 - 17:44:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.4/8.7.1) id VAA22201; Sun, 15 Dec 1996 21:33:38 -0500 (EST)
Subject: IN: D&R - Prospek Demokrasi Pasca-1998

http://www.tempo.co.id/mingguan/42/f_kolom2.htm
                    -------------------------------------------------------
  [Foto Arief Budiman]
                    Prospek Demokrasi Pasca-1998*

   Arief Budiman
         Pengamat Baru-baru ini, saya berkesempatan berbicara dengan Gus
      Politik dan Dur di Jakarta. Kami membicarakan prospek demokrasi di
     Mantan Dosen Indonesia.
            UKSW
                    Menurut Gus Dur, prospek demokrasi pasca-1998 akan
                    ditentukan oleh siapa yang berkuasa di Indonesia.
                    Kalau tampuk kekuasaan tertinggi dipegang
                    perwira-perwira militer garis keras, demokrasi kurang
                    memiliki prospek yang baik. Sebaliknya, kalau
                    kekuasaan tertinggi negara dikendalikan
                    jenderal-jenderal yang lebih lunak, demokrasi akan
                    lebih memiliki kesempatan untuk tumbuh. Kemudian, Gus
                    Dur memberikan identifikasi perwira-perwira yang
                    dianggap garis keras dan garis lunak, yang tentunya
                    tidak bisa saya tuliskan di sini tanpa izin beliau.

                    Meskipun secara umum saya setuju dengan analisa Gus
                    Dur saya punya catatan mendasar. Analisanya itu
                    didasarkan pada teori tentang pentingnya peran manusia
                    dalam menentukan jalannya sejarah. Karena itu, dia
                    berbicara tentang siapa yang memegang tampuk kekuasaan
                    negara pada masa depan. Pemimpin-pemimpin itulah yang
                    akan menentukan jalannya sejarah, termasuk nasib
                    demokrasi.

                    Pandangan itu tampaknya banyak dianut di Indonesia.
                    Kita lihat, dalam membicarakan masa depan politik di
                    Indonesia, orang selalu bertanya apakah Pak Harto akan
                    mencalonkan diri lagi pada tahun 1998, siapakah yang
                    akan menjadi wakil presiden menggantikan Try Sutrisno,
                    dari sipil atau dari militer lagi, dan seterusnya.
                    Faktor manusia dianggap sebagai faktor yang paling
                    utama dalam menentukan perkembangan politik kita.

                    Akan tetapi, kalau kita memakai asumsi teori yang
                    lain, yakni bahwa peran manusia ditentukan kondisi
                    sosial-politik yang berkembang, barangkali kita akan
                    punya gambaran yang sedikit berlainan. Pada teori itu,
                    kita menekankan pada kondisi sosial-politik yang
                    berkembang sekarang, yang akan mempengaruhi
                    perkembangan demokrasi pasca -1998.

                    Bagaimanakah kondisi sosial-politik kita pada saat
                    ini? Kalau kita amati apa yang terjadi, sulit
                    dielakkan adanya kesan bahwa sejak permulaan tahun
                    ini, kita melihat berkembangnya kekuatan arus bawah
                    yang secara cepat makin menguat. Ada banyak kasus yang
                    memperkuat kesan itu.

                    Ambil saja contoh kasus pembunuhan Udin, wartawan
                    Bernas di Yogyakarta. Udin berusaha membongkar praktek
                    korupsi yang disangka dilakukan pemerintah daerah
                    setempat. Akibatnya, dia terbunuh secara brutal.

                    Namun, polisi tampaknya tidak memberikan perhatian
                    terhadap orang yang secara teoritis punya motivasi
                    kuat untuk melakukan pembunuhan itu, yakni sang bupati
                    yang menjadi sasaran tulisan Udin. Perhatian polisi
                    lebih ditujukan kepada orang lain, yang disangka punya
                    sengketa pribadi terhadap Udin. Tersangka itu bahkan
                    diimbau untuk mengaku, setelah diberi minuman alkohol
                    dan disodori perempuan, sambil diiming-imingi sejumlah
                    uang.

                    Terhadap skenario "dari atas" itu tampaknya arus bawah
                    bereaksi. Wartawan-wartawan rekan Udin membentuk tim
                    pencari fakta sendiri, didukung oleh Persatuan
                    Wartawan Indonesia, tetangga-tetangga Udin, dan juga
                    masyarakat luas. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia
                    membuat pernyataan yang cukup memojokkan polisi.
                    Dengan gigih, serta diperkuat dengan saksi-saksi,
                    mereka menolak arahan pihak kepolisian. Meskipun belum
                    jelas bagaimana akhir perkara itu, pada saat ini
                    tampak pihak kepolisian sudah mulai kewalahan
                    menghadapi tekanan arus bawah tersebut. Kalau tekanan
                    itu dianggap sepele, kemungkinan besar kasus tersebut
                    berakhir dengan pihak kepolisian yang menjadi babak
                    belur.

                    Kasus kedua yang menarik adalah kasus intervensi
                    pemerintah dalam masalah kepemimpinan di Partai
                    Demokrasi Indonesia (PDI). Cerita itu saya kira tidak
                    usah saya ulangi di sini. Yang jelas, pemerintah
                    dengan aparat militernya yang kukuh tampak berhasil
                    mencokolkan Soerjadi pada puncak kekuasaan partai itu
                    dan mengendalikan keadaan menjadi "tenang" kembali.
                    Skenario pemerintah yang dulu juga selalu dipakai,
                    baik terhadap PDI maupun Partai Persatuan Pembangunan,
                    dan berhasil, kini diulangi. Tampaknya, kali ini pun
                    pemerintah akan berhasil. Artinya, meskipun terjadi
                    keributan-keributan dan protes-protes, pada akhirnya
                    yang dijagokan pemerintah akan terus bercokol pada
                    pucuk pimpinan partai; dan pimpinan yang tidak disukai
                    akan perlahan-lahan hilang dari peredaran.

                    Akan tetapi, dalam kasus PDI yang sekarang tampaknya
                    cerita lama tidak berulang. Soerjadi tampaknya masih
                    sulit menduduki jabatannya, meskipun mendapat dukungan
                    kuat dari pemerintah dan aparat militer. Ketika dia
                    muncul di stadion Senayan dalam pertandingan sepak
                    bola Liga Dunhill, para penonton sepak bola
                    meneriakkan yel-yel "Hidup Megawati!" dan "Suryadi
                    Banteng Palsu!" secara berulang-ulang, sehingga
                    Soerjadi dengan wajah merah terpaksa meninggalkan
                    stadion. Ketika mencoba mengkonsolidasikan massa PDI
                    di beberapa kota di Jawa Barat dan Jawa Tengah, dia
                    didemo massa PDI pendukung Mega. Di Wonogiri, Jawa
                    Tengah, mobil yang disangka membawa Soerjadi dicegat
                    oleh massa yang pro-Mega; dan orang-orang yang ada di
                    mobil tersebut sempat dipukuli. Untung, Soerjadi tidak
                    ada di mobil tersebut.

                    Kedua kasus itu menunjukkan bahwa rakyat, yang
                    mewakili arus bawah, sekarang, dengan caranya sendiri,
                    telah berani menolak skenario politik yang disusun dan
                    mau dipaksakan pemerintah.

                    Satu kasus lagi yang menarik adalah kasus Gus Dur.

                    Sejak didirikannya Ikatan Cendekiawan Muslim
                    se-Indonesia (ICMI) pada tahun 1990 di Malang, Jawa
                    Timur, para pengamat politik tampaknya sepakat bahwa
                    ICMI merupakan alat pemerintah untuk mencari dukungan
                    dari masyarakat Islam. Usaha itu memang cukup
                    berhasil. ICMI dengan cepat menjadi organisasi besar,
                    didukung dana yang cukup serta fasilitas pemerintah
                    yang memadai. Tapi, keberhasilannya itu masih
                    mengalami hambatan karena sikap mandiri Gus Dur yang
                    memimpin ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul
                    Ulama (NU). Karena itu, konsekuensi logisnya: Gus Dur
                    harus disingkirkan dari tampuk kekuasaan NU.

                    Usaha tersebut dicoba dilaksanakan ketika Kongres NU
                    di Cipasung, Jawa Barat, tahun lalu, tapi gagal. Usaha
                    itu kemudian dicoba digolkan kembali melalui tokoh Abu
                    Hassan, yang menentang kepemimpinan Gus Dur. Sebelum
                    usaha itu membuahkan hasil, kasus PDI, yang bagi
                    pemerintah lebih urgen, tiba-tiba muncul. Hasilnya
                    adalah Peristiwa 27 Juli dengan segala akibatnya,
                    yakni bangkitnya perlawanan damai dari massa PDI
                    terhadap kebijakan pemerintah. Tampaknya, hal itu
                    merupakan sesuatu di luar perhitungan sehingga
                    pemerintah cukup dibuat kewalahan.

                    Maka, keadaannya menjadi seperti berikut. Di satu
                    pihak, ada massa PDI pro-Mega yang terus melawan; di
                    lain pihak, kasus Gus Dur dengan NU-nya belum rampung.
                    Pemerintah memiliki dua pilihan. Terus menjalankan
                    skenario untuk menyingkirkan Gus Dur, dengan
                    kemungkinan massa NU (yang mungkin juga didukung oleh
                    massa dari luar NU yang bersimpati kepada Gus Dur)
                    akan bergabung dengan massa PDI untuk menghadapi
                    pemerintah; atau mencoba berdamai dengan Gus Dur,
                    untuk memotong kemungkinan terjadi aliansi antara
                    massa NU dan massa PDI. Tampaknya, dengan terjadinya
                    jabat tangan antara Pak Harto dan Gus Dur di sebuah
                    kota kecil di Jawa Timur beberapa waktu lalu,
                    pemerintah memilih alternatif yang kedua. Saya kira,
                    itu memang pilihan yang paling tepat bagi pemerintah
                    kalau stabilitas politik mau terus dipertahankan.

                    Dari uraian di atas, sedikitnya ada dua hal penting
                    yang dapat kita simpulkan. Pertama, arus bawah makin
                    menguat dalam cakrawala politik Indonesia sekarang,
                    terutama setelah Peristiwa 27 Juli. Kedua, pemerintah
                    tampaknya tidak bisa mengabaikan lagi kekuatan arus
                    bawah itu. Jabat tangan Pak Harto dan Gus Dur
                    membuktikan hal tersebut.

                    Lalu, apa artinya uraian di atas terhadap persoalan
                    yang menjadi pokok dari tulisan ini, yakni prospek
                    demokrasi pasca- 1998. Menurut saya, menguatnya arus
                    bawah dalam kehidupan politik di Indonesia sekarang
                    merupakan kondisi sosial-politik yang harus
                    diperhitungkan oleh siapa pun yang berkuasa di
                    Indonesia sesudah tahun 1998, termasuk oleh Pak Harto
                    kalau dia dipilih lagi.

                    Pembicaraan tentang siapa yang akan menjadi presiden
                    dan wakil presiden, apakah mereka sipil atau militer,
                    kalau militer apakah mereka dari kubu garis keras atau
                    lunak, semua itu menjadi kurang berarti tanpa
                    memperhatikan kondisi sosial-politik yang sedang
                    terbentuk sekarang. Saya harap tidak terjadi salah
                    paham di sini. Saya tidak mengingkari pentingnya
                    faktor manusia yang akan memimpin negara ini nanti.
                    Tapi, bagi saya, kondisi sosial-politik yang akan
                    mewadahi pemimpin-pemimpin itu akan merupakan faktor
                    yang lebih penting.

                    Itu artinya, siapa pun yang berkuasa, sipil atau
                    militer, garis keras atau lunak, orang itu akan
                    berhadapan dengan gerakan arus bawah yang makin
                    menguat. Skenario politik pemerintah tidak bisa lagi
                    dengan begitu saja dipaksakan ke masyarakat. Skenario
                    yang akan dibuat harus selalu memperhitungkan kekuatan
                    arus bawah yang ada. Itu artinya, terbuka atau
                    tertutup, demokratisasi tanpa bisa dicegah sedang
                    terus berlangsung.

                    Karena itu, bagi orang-orang yang menginginkan supaya
                    demokrasi makin menguat di Indonesia, tugas utamanya
                    adalah memberdayakan arus bawah, bukan bersibuk diri
                    untuk mengusahakan orang-orang dari kubu garis lunak
                    menduduki jabatan tertinggi di negara ini. Dalam
                    sebuah negara yang masyarakat atau arus bawahnya
                    secara politis lemah, pemimpin garis lunak pun bisa
                    dengan mudah menjadi otoriter.

                    *)D&R, 14 Desember 1996